
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Four Seasons Hotel Seoul
Pagi hari pukul 06:00 WIB Vania terbangun karena ia merasa susah bernafas. Saat membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah wajah Varel yang sedang memeluknya erat
"Astaga"
pekik Vania terkejut
Cup.
"Good morning My Queen"
ucap Varel tersenyum manis
Tentu saja senyuman itu membuat Vania terpesona hingga beberapa detik kemudian ia tersadar dan menggelengkan kepalanya berkali-kali membuat Varel terkekeh pelan melihatnya
"Kenapa sayang?"
tanya Varel lembut seraya mengelus pelan wajah Vania
Astaga mengapa aku bergidik ngeri melihat perubahannya terlebih melihatnya memperlakukanku dengan lembut? Apa dia merencanakan sesuatu? Siapa tau saja dia memperlakukanku dengan lembut sebelum dia memberikan sianida di susu cokelat ku pagi ini.-Vania
"Kau kenapa?"
tanya Vania mengerutkan kening seraya lagi-lagi menempelkan tangannya di kening sang suami
"Aku tidak apa-apa sayang"
jawab Varel yang lagi-lagi menampilkan senyum manisnya
"Astaga aku takut sekali"
gumam Vania pelan
"Takut?"
ulang Varel mengerutkan kening
"Aku takut terhadap perubahan sikapmu"
Lagi-lagi Vania bergumam pelan
"Memangnya mengapa sayang?"
"Huh sudahlah. Kau kenapa bangun terlebih dahulu?"
"Jika aku bangun terlambat sepertimu, kita akan terlambat juga"
jawab Varel santai
"Terlambat? Memangnya kita mau kemana?"
"Kita akan pergi"
"Pergi? Kemana? Kita akan jalan-jalan?"
tanya Vania bersemangat
"Kita akan pergi ke Busan"
"Oh ke Busan. Apa? Busan? Astaga Busan? Benarkah? Di kota kelahiran Jimin dan Jungkook BTS? Busan? Busan Korea Selatan kan?"
tanya Vania beruntun yang membuat Varel tak bisa menahan tawa
"Yes baby"
jawab Varel terkekeh
"Kau serius?"
"Apa kau sedang meragukan suami kaya mu ini?"
bisik Varel seraya mencium daun telinga sang istri
"Sepertinya aku sekarang harus mandi dan bersiap agar kita tidak terlambat"
ucap Vania lalu beranjak dari tempatnya
"Ayo mandi"
Tiba-tiba Varel berjalan mendahuluinya
"A-apa maksudmu?"
"Kau pasti mengerti jika suamimu harus diberikan hadiah sayang"
ucap Varel mengedipkan matanya membuat Vania mendengus kesal.
*****
"Sayang kau serius kita akan pergi ke Busan?"
tanya Vania saat mereka baru saja meninggalkan hotel
"Tentu saja kita akan pergi ke Busan selama tiga hari setelah itu kita akan pergi berlibur ke Jeju Island"
jawab Varel santai
"Astaga, jadi kapan kita akan kembali ke Indonesia?"
__ADS_1
tanya Vania terkejut
"Saat sudah selesai berkeliling Korea Selatan"
"Sayang bagaimana dengan kuliahku? Toko roti ku? Dan pekerjaanmu?"
"Jangan memikirkan semuanya, Dimas bisa diandalkan"
jawab Varel lagi-lagi dengan santainya
"Anak-anak bagaimana?"
tanya Vania menatap Varel sedangkan Varel hanya tersenyum
"Jangan bilang anak-anak juga kau suruh sekretaris Dim yang mengurusnya?"
"Tentu saja"
jawab Varel santai
"Astaga, kau ingin sekretaris Dim belajar menjadi Ayah?"
ketus Vania dengan kesal sedangkan Varel hanya tersenyum
Ditempat Lain
"Om Dimas ayo main lagi"
ajak Lista dengan semangatnya
"Sayang apa kau tidak lelah?"
tanya sekretaris Dim berulang kali yang tentu saja dibalas gelengan kepala Varo dan Lista
"Oke baiklah kita lanjutkan sekali lagi setelah itu kita pergi ketempat lain oke?"
"Yah kok sekali lagi saja om?"
rengek Lista dengan manjanya
"Om Dimas ada pekerjaan Lista sayang, jadi setelah ini om Dimas akan mengantarkan Lista dan Varo ke rumah ya"
"Tapi Lista mau ikut om Dimas"
Astaga bagaimana caraku membujuknya? Oh oke baguslah aku ada ide.-Dimas
"Jika Lista ikut om Dimas lalu bagaimana dengan Echy? Apa Lista akan meninggalkan Echy yang main sendirian di rumah?"
"Astaga Lista melupakan Echy. Ayo om Dimas kita pulang saja. Oh iya beli permen gula kapas ya om"
pinta Lista yang membuat sekretaris Dim terkekeh pelan.
*****
Paraside Hotel Busan
ucap Vania berdecak kagum saat pertama kali sampai ke kamar mereka
"Apa kau suka?"
tanya Varel yang tiba-tiba memeluk Vania dari belakang
"Astaga sayang kau mengagetkanku. Iya aku benar-benar menyukainya dan ini sangat indah"
ucap Vania tersenyum senang
"Aku senang jika kau menyukainya"
"Tentu, tentu aku sangat senang, Korea Selatan adalah negara impian yang ingin aku kunjungi dan sekarang Tuhan memberikanku kesempatan berlibur bahkan berbulan madu disini bersama suamiku"
Vania pun berbalik menghadap sang suami dan menatap mata elang milik suaminya
"Terima kasih"
ucap Vania pelan lalu tersenyum kecil
"De cepat tumbuh ya Mommy dan Daddy selalu menunggu kehadiranmu"
ucap Varel tersenyum seraya tangannya mengelus pelan perut sang istri membuat Vania lagi-lagi memikirkan kesalahan fatal yang pernah ia perbuat
"Maaf"
lirih Vania pelan
"Aku tidak pernah memikirkannya lagi"
jawab Varel santai
"A-aku takut bagaimana jika-"
"Jangan mengatakan hal yang kau sendiri tidak mengerti"
ucap Varel tegas karena ia tau kemana arah pembicaraan sang istri
"Bagaimana jika kau menikah lagi saja?"
Tiba-tiba Vania melontarkan pertanyaan yang membuat Varel terkejut
"Kau bicara apa?"
ketus Varel dengan kesalnya
"A-aku hanya takut tidak bisa memberikanmu keturunan"
lirih Vania pelan dengan air mata yang lolos mengalir di wajah cantiknya
__ADS_1
Astaga lihatlah ternyata hari ini akhirnya dia mengucapkan hal yang selalu membuatnya termenung sejak dulu.-Varel
"Jangan menangis dan tatap aku"
ucap Varel lalu menangkup wajah sang istri
"Apa kau tidak mempercayakan Tuhan?"
Vania hanya diam membisu tanpa berani bersuara
"Apa aku terlihat sangat menginginkan kehadiran seorang anak?"
Perlahan Vania menganggukkan kepalanya
"Lalu mengapa sejak dulu aku tidak mencari wanita lain disaat aku benar-benar menginginkan seorang anak?"
Lagi-lagi Vania hanya bisa diam
"Itu karena aku menginginkan kehidupan yang tumbuh di rahimmu. Aku menginginkan anak darimu"
"Bagaimana jik-"
"Tuhan punya rencana yang luar biasa. Jangan pernah ragukan kuasa-Nya"
Plak
Ucapan Varel menampar keras hati dan pikiran Vania yang sejak dulu selalu ragu untuk urusan keturunan, membuat Vania terisak karena menyadari kebodohannya yang pernah meragukan kuasa Sang Pencipta
"Hei mengapa kau malah menangis kencang?"
"Maafkan aku"
lirih Vania disela-sela isak tangisnya
"Maaf? Untuk apa lagi? Aku sudah bilang aku tidak pernah memikirkannya lagi"
"Maaf jika aku belum menjadi istri yang baik untukmu"
"Maka dari itu ayo lakukan tugasmu sebagai istri agar kau bisa menjadi istri yang baik"
"Hah?"
Tiba-tiba Varel menggendong Vania dan membaringkannya dengan pelan di atas tempat tidur
"Sa-sayang"
"Kau ingin menjadi istri yang baik bukan?"
"Ta-tapi bukan begini-"
"Aku menginginkan ini. Menolak suami itu dosa"
"Hah?"
"Ayolah apa kau akan tega terhadap Varel kecil?"
rengek Varel dengan manjanya
"Varel kecil?"
gumam Vania mengerutkan kening
"Benda pusaka ku sayang"
bisik Varel pelan
"Astaga Varel mengapa kau mesum sekali?"
ketus Vania dengan kesalnya
Lihatlah tadi saja dia menangis sesenggukan dan sekarang wajahnya berubah menjadi kesal hanya dalam beberapa menit. Huh aku benar-benar tidak mengerti wanita.-Varel
"Jangan menyebut suami dengan nama"
"Astaga kau belajar dari mana? Apa kau sakit jiwa?"
"Sayang"
tegur Varel penuh penekanan
"Lalu bagaimana jika aku memanggilmu Mas Varel?"
"Apa? Mas? Aku bukan ikan mas dan aku bukan tukang ojek"
ketus Varel dengan wajah kesalnya
"Kang? Akang?"
"Kau kira aku akang galon? Akang gendang?"
Lagi-lagi Varel menatapnya dengan wajah kesal
"Lalu apa?"
Vania pun menatap Varel dengan tajam
"Panggil aku sayang seperti biasa"
"Baiklah Mas Varel eh sayang"
ucap Vania terkekeh pelan karena melihat wajah kesal sang suami.
*
*
__ADS_1
*