Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Indonesia


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


“Papa”


“Why Son?”


“Apa boleh Varo meminta sesuatu?”


“What is it?”


“Tolong berhenti di minimarket depan, Varo ingin membeli beberapa cokelat karena rasanya ingin muntah”


“Benarkah? Apa kau pusing, Nak? Ah, Mommy melupakan candy yang ada di lemari es”


ucap Vania khawatir


“Mom, don’t worry. Varo hanya sedikit mual jadi ingin memakan yang manis-manis. Atau jika Papa punya candy dan sebagainya, bisakah Varo minta sedikit?”


“Nope, Son. Papa tidak pernah menyediakan itu di mobil. Sebentar ya kita cari minimarket. Varo kuat, kan?”


tanya Daniel yang membuat Varo tersenyum tipis seraya mengangguk pelan


Setelah sampai di minimarket terdekat, Varo yang hendak membuka pintu mobil pun langsung dicegah oleh Daniel sehingga dirinya saja yang akan keluar membeli beberapa candy sekaligus membeli obat untuk jagoan kecilnya


“Nak, kemarilah Mommy akan memijat tengkuk mu”


ucap Vania hingga membuat Varo langsung memindahkan dirinya ke kursi pengemudi


“Mom, apa Varo menyusahkan Papa?”


tanya Varo tak enak hati


“No, kenapa berbicara seperti itu?”


“Hanya saja Varo takut menyusahkan Papa karena kita bahkan baru sampai setelah perjalanan panjang”


“Tidak, Sayang. Papa tidak merasa kesusahan”


ucap Vania yang membuat Varo mengangguk


“Mom, can i ask something with you?”


“What is it?”


“Apa Mommy merindukan Daddy?”


tanya Varo berhati-hati karena ia sadar bahwa orang-orang di Indonesia menjadi topik sensitif sekarang


“If you can’t answer, no problem, Mom. Jangan dipaksakan”


Vania tersenyum tipis lalu mengelus pucuk kepala sang anak


“Mommy merindukannya setiap saat”


Terdengar helaan nafas memenuhi mobil yang sunyi itu hingga Varo mulai membuka suara kembali


“Why u don’t call him? Or ask him okay?”


“He hate Mommy”


“No, this it not you’re mistake, Mom. Kenapa tidak mencoba untuk membicarakannya lagi?”


“Apa Daddy bisa percaya semudah itu?”

__ADS_1


“I know Daddy keras kepala and egois maybe? Tapi jika tidak diperbaiki akan semakin berjarak, kan? Sudah dua bulan berlalu dan bahkan hampir di ujung tanduk. Apa kalian hanya akan membiarkan ini terjadi tanpa melakukan sesuatu?”


Ucapan Varo benar-benar membuat Vania terdiam tanpa tau harus berkata apa


“Jika bisa menjelaskan kebenaran walaupun Daddy menolak ya why not? Setidaknya sudah ada usaha untuk menjelaskan kesalahpahaman yang pernah terjadi. Kedepannya terserah Daddy ingin mempercayai itu atau tidak karena kita tidak bisa memaksa Daddy untuk percaya”


Damn. Vania kalah telak


“I am sorry, Mom. Varo terlalu banyak bicara, tolong pikirkan saja apa yang Varo bicarakan. Bukan tentang harus berbaikan karena punya anak, bukan.. tolong jangan dulu mengutamakan anak, ini tentang perasaan Mommy dan Daddy..”


ucap Varo lalu kembali ke kursi belakang karena Daniel juga sudah selesai berbelanja


Tuhan, terima kasih sudah memberikan anak baik seperti Varo. Nak, maafkan Mommy.-Vania


“Terima kasih, Pa”


ucap Varo saat Daniel memberikan sekantong kresek berisi candy dan temannya


“Ada apa?”


tanya Daniel saat melihat Vania yang melamun bahkan tanpa menyadari bahwa sang kakak sudah kembali ke mobil


“Ah, tidak kak. Hanya deep talk sebentar bersama Varo”


Vania tersenyum tipis


“Kakak bertemu Alea”


Seketika baik Vania atau Varo langsung membulatkan mata


“Lalu bagaimana, kak?”


“Dia memukul kak El haha”


“Ya Tuhan. Apa kak El baik-baik saja?”


Flashback on


“Alea?”


Bughh


Tendangan keras mendarat sempurna di perut Daniel


“Alea, apa-“


“Dimana Vania?!”


“Kenap-“


“Saya tanya dimana Vania, Tuan Daniel?!”


ucap Alea dengan tegas


“Dimana anda menyembunyikan Vania?! Bagaimana bisa anda menculiknya disaat anda bahkan tau keadaan sedang tidak baik?! Dimana otak anda, Tuan?!”


Untung saja minimarket agak sepi sehingga tidak banyak orang yang menyaksikan perdebatan itu


“Jawab saya, Tuan!!”


“Shit. Bagaimana saya bisa berbicara jika kamu bahkan tidak memberi kesempatan untuk saya?”


tanya Daniel dengan wajah yang mengintimitasi membuat Alea sadar apa yang dilakukannya namun tidak membuatnya pergi dari sana


“Saya tidak menculik dan menyembunyikan Vania.”


“Lalu, dimana dia sekarang? Saya tau Tuan yang membawanya pergi saat itu”


“Untuk apa saya susah-susah mengatakannya kepadamu?”

__ADS_1


“Apa Tuan tau bahwa keadaan semakin kacau sejak dua bulan terakhir?”


tanya Alea menatap Daniel dengan tajam namun yang ditatap hanya diam tanpa ekspresi


“Bisakah Tuan tidak membuat keadaan semakin kacau dengan menyembunyikan keberadaan Vania? Biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka”


“Apa kau ingin saya membiarkan Vania bersama lelaki sepertinya?”


“Tapi-“


“Jika kau kemari hanya untuk membela lelaki itu, saya permisi”


Tanpa pikir panjang Daniel langsung pergi meninggalkan Alea yang meneriakkan namanya berkali-kali.


Flashback off


“Ya Tuhan..”


“Kak El tidak apa-apa, jangan khawatir. Hanya saja Kak El takut Alea akan memberitahukan kepada semua orang bahwa kita ada di Indonesia”


ucap Daniel yang membuat Vania diam tak berkutik


“Ada apa, Van?”


“Ah, tidak Kak”


“Yakin?”


tanya Daniel sekali lagi membuat Vania mengangguk pelan


“Yasudah kita lanjutkan perjalanan ya. Son, dibelakang aman?”


“Aman, Pa”


*****


Akhirnya setelah perjalanan yang lumayan lama, mereka sampai disebuah rumah peninggalan kakek yang tidak pernah diketahui oleh siapapun kecuali keluarga Airlangga.


Rumah yang hanya didalamnya ada asisten rumah tangga dan beberapa pengawal yang jumlahnya semakin banyak karena diperintahkan Papa Lyno agar tidak siapapun mengetahui keberadaan mereka di Indonesia


“Loh? Pengawalnya bertambah, Kak?”


“Iya, Papa meminta agar lebih banyak pengawal yang berjaga untuk keselamatan kita”


“Ah, begitu”


Ada nada kecewa yang Daniel dengar, entah apa yang dipikirkan oleh Vania sehingga raut wajahnya berubah seketika saat melihat rumah yang hampir disetiap sudutnya ada orang berjaga


Apa terlalu ketat?-Daniel


“Sayang?”


panggil Daniel pelan membuat Vania menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap sang Kakak


“Apa kau tidak suka dengan semuanya?”


“Maksudnya, Kak?”


tanya Vania mengerutkan kening


“Iya, semuanya. Pengawal dan rumah ini”


“Tidak, bukan begitu maksud Vania. Hanya saja sedikit terkejut melihat semua pengawal yang semakin bertambah”


“Jadi, apakah semuanya baik-baik saja?”


“Tentu”


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2