
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍..
Happy Reading Guys😘!!!!
*****
Berhentilah berbicara Kasih, aku tidak tau apa ada mata-mata Varel disini.-Vania
"Jaga ucapan anda Nona Kasih"
ucap seorang pria yang tiba-tiba berjalan mendekati Vania
"Kak El?"
ucap Vania saat melihat Daniel semakin mendekat
"Tu-tuan Daniel"
ucap Kasih gugup saat melihat sorot mata tajam Daniel yang menatapnya
"Ucapan mu sangat kasar dan kau menyakiti perasaan gadis kecil ku"
ucap Daniel seraya merangkul pinggang Vania
Sial, bagaimana bisa dia dikelilingi oleh orang-orang yang berpengaruh? Tuan Muda Varel memanggilnya sayang dan Tuan Daniel memanggilnya gadis kecil. Benar-benar memuakkan.-Kasih
"Dan perlu kau ketahui bahwa adikku bukan P.E.L.A.K.O.R"
Adik? Astaga, apa jangan-jangan dia Evivania, adik dari Tuan Daniel yang menjadi trending topik?-Kasih
"Ma-maafkan saya Tuan"
ucap Kasih menunduk ketakutan
"Vania kembalilah ke kelas mu setelah selesai kak El akan menjemputmu. Jika ada yang menyakiti perasaanmu beritahu kakak"
ucap Daniel tegas seraya mencium pucuk kepala Vania.
*****
Selama perkuliahan berlangsung, Kasih terus memperhatikan Vania sehingga membuat Clara, Daffa, dan Bimo menatapnya heran
"Vania, kenapa sih si Kasih liatin lo mulu?"
tanya Clara yang duduk tepat dibelakang Vania
"Entahlah"
jawab Vania singkat
"Mungkin dia kemasukan"
jawab Bimo ngasal yang membuat ketiga temannya terkekeh pelan
"Berhentilah bercanda Bimo"
ucap Vania tersenyum tipis
"Oh iya gue dengar tadi abang lo kesini ya?"
"Tuan Daniel?"
tebak Clara cepat
"Darimana lo tau Bim?"
"Vania sayang, kalau ada cowok tampan ke kampus ini berita tersebarnya gak akan lama"
"Jadi lo ikut cewek-cewek gosip juga Bim?"
"Engga lah bego, gue cuma dengar sekilas. Katanya dia juga cium lo didepan umum"
"Gue juga pengen deh jadi Tuan Daniel"
"Daffa bego"
"Mengkhayal dulu gapapa kan?"
"Serah lo deh"
"Vania tuh udah jadi milik Tuan Muda Varel"
"What? Tuan Muda Varel? Penguasa kota ini kan?"
"Gila parah beruntung banget lo Van"
"Lo pada ngomong apaan sih?"
"Yaelah Vania jangan main rahasia-rahasia an deh sama kita, gue dengar Tuan Muda Varel manggil lo sayang"
"Stop ghibah. Varel cuma anggap gue adiknya karena gue adik dari kak Daniel"
"Yah jadi lo bukan cewek yang dinikahi Tuan Muda Varel dong"
"Bukanlah gila aja, Varel itu nikah sama cewek lain dan cewek itu bukan gue. Jadi stop bilang kalo gue milik Varel"
"Eh tapi Van, lo dekat juga dengan Tuan Sebastian?"
"Oh Kak Bas? Ya dekat-dekat gitu aja sih"
"Lo kok bisa manggil Tuan Muda cuma dengan nama?"
__ADS_1
"Gue gak pernah manggil Varel dengan embel-embel Kak"
Sedangkan Varel yang sedang berada di ruangan Presdir
"Mengapa telingaku berdengung?"
tanya Varel mengerutkan kening seraya memegang telinganya
"Orang zaman dulu bilang, jika telinga berdengung pasti ada yang sedang membicarakan mu"
"Apa kau lahir di zaman batu Tuan Daniel?"
ketus Varel kesal karena sejak tadi Daniel selalu menjawab ucapannya
"Selesai kuliah nanti aku saja yang menjemput Vania"
"Kenapa begitu?"
"Tuan Muda Varel yang terhormat, apa kau ingin melewatkan rapat bersama Lucky?"
"Huh sebenarnya aku tidak ingin jadwalku padat hari ini tapi aku juga merindukan bocah itu"
"Dan jangan lupa siapkan makan malam mewah untuk menyambut keluarga Airlangga malam ini"
"Terserah kau saja"
ketus Varel kesal.
*****
"Astaga kak El benar-benar menjemput ku?"
ucap Vania saat melihat Daniel benar-benar menunggunya di parkiran
"Masuklah tuan putri"
"Berhenti bertingkah, apa kak El tidak melihat banyak perempuan yang menatap kakak dengan kagum?"
"Tidak, yang kak El lihat disini hanya kau little princess"
"Berhenti bertingkah kak El, kakak berhutang penjelasan padaku"
"Masuklah dan akan kakak jelaskan didalam"
"Baiklah dan tolong antar kan aku ke toko roti ya kak"
"Tentu saja tuan putri"
Vania pun tersenyum lalu masuk kedalam mobil diikuti oleh Daniel yang duduk di kursi pengemudi
"Mengapa kak El kemari dengan tiba-tiba?'
"Kak El berhentilah bermain rahasia denganku"
"Kakak tidak bisa memberitahukan mu apa alasan kakak kemari"
"Lalu apa kak El kemari dengan sesuatu hal yang penting?"
"Bahkan sangat penting"
"Apa kak El baru saja terbang dari Amerika?"
"Tidak gadis kecil, Kakak sudah ada di kota ini sejak dua hari yang lalu"
"Dan Kak El baru mendatangiku?"
"Kak El sibuk mengurus acara malam nanti"
"Apa kak El akan menikah?"
"Kau membicarakan apa? Memangnya siapa pasanganku?"
gerutu Daniel dengan kesal membuat Vania tertawa seketika
"Siapa tau saja kal El tergoda dengan perempuan barat"
ucap Vania yang senang menggoda kakak angkatnya
"Kau ini mengapa jadi senang menggoda kakak?"
Disela-sela gelak tawanya tiba-tiba ponsel Vania berdering menandakan sebuah panggilan masuk
"Varel menelfon ku kak"
"Angkatlah dan loud speaker, kak El tau dia pasti akan membicarakan ku"
"Baiklah"
ucap Vania terkekeh pelan lalu mengangkat panggilan dan tak lupa untuk men loudspeakerkan nya agar Daniel juga mendengarnya
"Sayang kau dimana?"
"Aku sedang dalam perjalanan menuju toko bersama kak El, ada apa sayang?"
"Ehm bisakah aku meminta tolong?"
"Mengapa kau sangat aneh, biasanya tidak pernah bertanya dahulu"
ucap Vania terkekeh
"Tolong bawakan untukku makanan, aku tidak berselera makan sejak tadi"
__ADS_1
"Astaga ini sudah lewat jam makan siang sayang, bagaimana kau bisa melewatkan makan siang mu?"
"Entahlah, saat mencium bau makanan aku selalu ingin muntah, tapi saat ini aku benar-benar ingin memakan masakan mu"
"Baiklah, kau ingin makan apa?"
"Chicken crispy ditabur daun jeruk yang banyak, jus jeruk dan jangan lupa buah jeruk sayang"
"Jeruk? Bukannya kau sangat membenci hal yang berbau jeruk?"
"Aku juga tidak mengerti tapi aku sangat menginginkannya"
"Penyakitmu benar-benar aneh"
"Oh ya pergi ke kantorku bersama Daniel setelah kau selesai menyiapkan nya"
"A-apa? Ke kantormu? Bi-bisakah aku menitip nya dengan kak El saja?"
"Tidak, aku ingin istriku yang mengantarnya kemari"
"Ta-tapi ba-"
"Berhentilah memikirkan ucapan orang-orang"
"Baiklah. Ehm sayang, apa kau tau ada hal penting apa nanti malam?"
tanya Vania yang membuat Daniel menoleh kearahnya
"Tidak, aku tidak tau"
"Oh ya? Bukankah Tuan Muda Varel mengetahui segalanya?"
cibir Vania dengan wajah ditekuk membuat Daniel terkekeh melihatnya
"Hanya satu hal yang tidak Varel ketahui"
"Hei mengapa kau ikut mendengar pembicaraan kami"
ketus Varel saat mendengar Daniel berbicara
"Varel tidak akan pernah tau dimana aku akan menyembunyikan Vania darinya"
"Kau bicara apa bodoh?"
"Ya kau harus menjaga sikapmu, jika kau menyakiti gadis kecilku maka aku akan menyembunyikannya jauh-jauh darimu dan bahkan kau tidak akan pernah menemukannya"
"Mengapa kau aneh sekali?"
"Dasar bodoh"
"Kau berani menyumpahi ku?"
"Siapa takut?"
"Bisakah kalian sehari saja tidak berdebat?"
"Sayangnya tidak bisa little princess, saat melihat wajah ketus suamimu rasanya kak El ingin meremasnya dan memasukkannya didalam mesin cuci"
"Kak El berhentilah"
"Kau dengar itu Tuan Daniel?"
"Dan sayang kau juga berhenti"
"Dan kau mendengarnya Tuan Muda Varel yang terhormat?"
"Astaga aku benar-benar sakit kepala mendengar perdebatan kalian"
sindir Vania yang menatap Daniel dengan tajam
"Rel, istrimu menatapku seperti singa yang lapar"
ucap Daniel yang mengadu kepada Varel
"Makan saja sayang, aku dengan senang hati memberikan sahabat terbaikku kepadamu"
jawab Varel terkekeh pelan
"Benar-benar tidak jelas"
keluh Vania mendengus kesal
"Oh ya kak El kita berhenti dahulu di supermarket untuk membeli bahan-bahan"
"Maaf merepotkan"
"Kau sungguh merepotkan"
"Kak El berhentilah. Tidak sayang itu tidak merepotkan"
"Baiklah aku tutup dahulu karena Lucky akan segera kemari"
"Baiklah"
Varel pun memutuskan panggilannya dan bertepatan dengan Lucky yang masuk ke ruangannya bersama sekretaris Dim.
*
*
*
__ADS_1