
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Melemparkannya jauh agar tidak bisa kembali kemari setelah kedua orang tuanya mendapatkan paket berharga yang ku kirimkan."
"Apa yang kau kirimkan pada mereka, Varo?!"
"Hanya beberapa skandal tentang putri kesayangan mereka dan beberapa bukti trik busuk ayahnya untuk bisa memimpin perusahaan juga beberapa bukti uang haram yang digunakan ibunya untuk berfoya-foya."
Bukan hanya Varel, Sekretaris Dim pun benar-benar terkejut mendengarnya. Mereka selama ini tidak tahu menahu tentang skandal yang dilakukan oleh keluarga Aurora karena mereka memang hanya berfokus pada wanita itu saja. Tanpa mereka sadari bahwa Varo sudah mendapat semua informasi berharga itu. Dia benar-benar ajaib.
"Bagaimana bisa kau melakukan semuanya?" tanya Varel dengan suara pelan.
Sungguh, ia tidak mengerti bagaimana bisa anaknya begitu ajaib.
Ketika melihat Daddy nya yang menunduk diam, akhirnya Varo melawan ego dengan berjalan mendekati Varel bahkan berlutut dihadapannya.
"I am sorry for everything I did. I know that my mistakes cannot be forgiven. But please, don't bring Uncle Dion and Uncle Mike into this matter. Let me be punished."
Jauh di dalam lubuk hatinya, Varo sadar bahwa apa yang ia lakukan sudah diluar batas yang bisa saja menyakiti siapapun. Maka dari itu, sebelum terlambat Varo ingin meminta maaf atas semua kejadian yang ia buat.
"Can i still call you Daddy..? I am sorry.."
Varel segera merengkuh tubuh mungil anaknya dan membawanya ke dalam pelukannya. "Daddy tidak marah denganmu. Hanya saja, Daddy tidak habis pikir bagaimana bisa kau melakukan semuanya sendirian. Daddy hanya terkejut lalu seolah tidak terima bahwa itu adalah perbuatan mu" ucap Varel pelan.
Mendengar hal itu, Varo mendongak seketika. "Tolong lepaskan Om Dion dan Om Mike" ucap Varo yang membuat Varel segera memerintahkan Sekretaris Dim untuk melepaskan kedua pengawalnya.
"Tidak, Tuan Muda. Saya pantas dihukum karena berkhianat di belakang Tuan Muda" ucap Dion yang segera berlutut di hadapan Varel.
Tentu saja hal itu membuat Varo terkejut sehingga ia dengan segera membantu Dion untuk kembali berdiri. "Aku tidak meminta Om Dion untuk berbicara. Kembali lah ke rumah dan bersihkan luka Om Dion juga Om Mike. Urusan ini, aku yang akan menyelesaikannya."
"Varo, ap—"
"Tidak ada sesi bicara."
__ADS_1
Dengan segera, Varo sedikit mendorong keduanya agar menjauh dari mereka. Dion dan Mike pun hanya bisa pasrah ketika melihat Varo yang kekeh meminta mereka untuk rida ikut campur. Entah apa hukuman yang ia dapatkan sendiri nantinya.
"Done. Please punish me now."
"Kau tau bukan bahwa setiap kesalahan pasti ada hukumannya?" tanya Varel yang membuat Varo mengangguk mantap.
"Daddy akan menyita iPad, laptop, dan komputer, dan PlayStation yang ada di kamar mu selama satu bulan. Kau akan berangkat ke sekolah hanya dengan menggunakan sepeda. Dan tidak ada uang jajan lebih untukmu. Selama itu, renungkan perbuatan mu."
Setelah mengatakan itu, Varel berjalan menjauh diikuti oleh Sekretaris Dim dan meninggalkan Varo yang hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan penuh arti.
"Apa Daddy masih menganggap ku sebagai anaknya?" gumam Varo pelan seraya mendudukkan dirinya di kursi yang telah disediakan.
Varo mengelus pelan gelang tangan yang dibuat oleh Vania khusus untuknya saat ia masih berada di panti asuhan dulu. "Ternyata, menjadi hacker itu susah juga" ucap Varo terkekeh pelan.
Ia benar-benar bangga dengan apa yang ia lakukan karena ia sudah bisa melindungi keluarganya walaupun usianya masih sangat muda. Ia juga bangga dengan dirinya sendiri karena bisa menghadapi musuh dengan berani.
Sepertinya, apa yang ia lakukan ini akan menjadi sejarah dalam hidupnya bagaimana seorang bocah berusia 6 tahun meneror wanita dewasa.
Ah, jika dipikir-pikir Varo sedikit lelah.
*****
Pelajaran sudah masuk ke jam kedua dan sejak tadi Lista belum mendengar kabar Varo sehingga ia segera berlari menuju Pak Adi dan Bu Ijah yang memang selalu menunggunya.
Untung saja sebelum kedatangan Lista, Sekretaris Dim sudah mengatakan bahwa Varo akan izin hari ini karena ada urusan mendadak.
"Tuan Kecil Varo sedang membantu Nona Muda untuk menjaga Tuan Kecil Al dan Tuan Kecil El, Nona Kecil" jawab Pak Adi sopan.
"Kenapa Koko harus membantu disaat jam pelajaran?"
"Sepertinya Nona Muda mendadak berhalangan sehingga tidak ada orang lain selain Tuan Kecil Varo untuk membantu."
"Dia tidak sekolah hari ini pasti karena pelajaran berhitung. Dasar payah!" gerutu lista sepanjang jalan setelah berpamitan untuk kembali ke kelasnya.
*****
Varo terbangun dari tidurnya dan menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 09:28 WIB membuatnya langsung menatap sekeliling dan bisa dipastikan bahwa ia sudah berada di kamar keluarga.
Baru saja ia hendak mendudukkan dirinya, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan masuknya dokter Hendra dengan raut wajah kesalnya.
"Hei, kau ini kenapa tidur di kursi koridor? Kenapa tidak tidur di kamar keluarga?" gerutu dokter Hendra dengan kesalnya membuat Varo terkekeh pelan.
__ADS_1
"Namanya juga tertidur, Om" jawab Varo santai.
Dokter Hendra hanya bisa mendengus kesal mendengar jawaban Varo yang singkat dan jelas.
"Om melihatmu tidur di kursi koridor saat ingin memeriksa bayi kembar. Karena khawatir jadi Om langsung membawa mu kemari dan memeriksa mu."
"Oh iya, apa Om Hendra ada melihat Om Dion dan Om Mike?"
"Hei, Om sedang mengkhawatirkan keadaan mu" ketus dokter Hendra yang membuat Varo terkekeh pelan.
"Aku tidak apa-apa hanya kelelahan saja."
"Baguslah kalau begitu. Oh ya, kau tanya siapa tadi? Dion dan Mike? Mereka itu yang mana? Aku lupa-lupa ingat karena pengawal Daddy mu sangat banyak."
"Yang selalu bersama ku."
"Lista juga selalu bersama dengan mu."
"Om, aku menanyakan pengawal" ucap Varo kesal.
Mendengar hal itu, dokter Hendra pun tertawa karena tau bahwa leluconnya tidak akan pernah ditanggapi oleh Varo.
"Aku tau, mereka yang menggendong mu kemari" jawab dokter Hendra santai.
Tentu saja hal itu membuat Varo terkejut seketika. "Loh?! Bukannya om Hendra mengatakan bahwa Om yang membawa ku?! Lalu dimana mereka sekarang?!"
"Hehehe aku kan hanya bercanda. Mereka yang panik ketika melihat mu tidur di kursi koridor dan berpapasan dengan ku saat ingin memeriksa bayi kembar. Karena mereka sangat khawatir, jadi mereka meminta ku untuk memeriksa keadaan mu lalu setelah itu mereka pulang."
Varo terdiam ketika mendengar penjelasan dokter Hendra. Ia tidak tau jika Dion dan Mike bahkan menunggunya dan tidak pulang saat ia menyuruh mereka untuk pulang dan membersihkan luka.
"Mereka pasti melakukan kesalahan dilihat dari wajahnya yang babak belur."
"Mengapa Om Hendra tidak mengobati mereka?"
Dokter Hendra menggeleng pelan. "Aku takut karena mereka lebih berotot dari pada tubuh ku."
"Oh iya, sepertinya mereka pulang dengan berjalan kaki."
"Apa?!"
*
__ADS_1
*
*