
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Rumah Sakit VA&F
Varel baru saja sampai di halaman rumah sakit dan langsung berlari mencari keberadaan sang istri setelah melempar kunci mobil ke Dika yang sudah menunggu nya di depan rumah sakit
Ruang UGD
"Varel?"
"Kak Varel?"
"Dimana Vania?"
"Masih di dalam nak"
"Mama"
panggil Varel lalu berjongkok di hadapan Mama Melinda dan Mama Kusuma yang sedang menangis
"Mama mengapa menangis? Mama semua tau kan Vania adalah wanita yang kuat"
ucap Varel seraya tersenyum untuk menenangkan Mama kandung dan Mama mertua nya
"Vania wanita yang hebat, wanita yang kuat, Varel beruntung memiliki nya"
lirih Varel pelan seraya menunduk
"Nak, duduk dan kemari lah"
Varel pun menuruti ucapan Mama Melinda dan duduk di sebelah sang Mama
"Ka-kak Varel?"
ucap Vandi pelan
"Kak, maafkan Vandi"
"Vandi, kemari lah"
Vandi pun ikut duduk di sebelah Varel namun tak berani menatap mata elang sang kakak
"Kak-"
"Sudah lah, kakak tidak ingin mendengar permintaan maaf mu, ini bukan salah mu dan berhenti menyalahkan diri sendiri"
"Ta-tapi Vandi benar-benar tidak bisa memaafkan diri Vandi jika terjadi sesuatu dengan kak Vania dan kedua calon keponakan Vandi"
lirih Vandi pelan seraya menunduk
"Hei jangan berbicara seperti itu, kau yang sudah lama mengenal Vania bukan? Kau pasti tau bahwa kakak ipar mu adalah wanita yang kuat. Berdoa untuk istri kakak dan calon bayi kakak"
__ADS_1
ucap Varel yang juga berusaha menenangkan dirinya
"Sekarang bisa kah kau jelaskan apa yang terjadi?"
"Setelah mengantar kak Vania ke kampus, Vandi pergi ke rumah sakit keluarga hanya untuk melihat perkembangan rumah sakit sebelum menjemput kak Vania lagi tapi sudah hampir dua jam kak Vania tidak menelfon Vandi dan Vandi berinisiatif untuk langsung menjemput kak Vania dan menunggu di kantin kampus karena dua jam sudah berlalu dan pastinya kelas kak Vania sudah selesai
Saat baru saja Vandi memarkirkan mobil di pinggir jalan depan gerbang kampus karena melihat kak Vania yang hendak menyeberang jalan, Vandi melihat mobil hitam yang berhenti lumayan jauh dari tempat kak Vania berdiri
Namun setelah kak Vania menyeberang jalan, tiba-tiba mobil hitam tersebut melaju dan seperti dengan sengaja menargetkan kak Vania untuk ditabrak nya, Vandi berusaha sekuat tenaga untuk berlari dan menarik kak Vania agar tidak tertabrak tapi Vandi kehilangan keseimbangan lalu terjatuh dengan kak Vania yang berada di atas Vandi, mungkin karena getaran hebat itulah kak Vania menjadi pingsan dan mengeluarkan banyak darah"
"Perlihatkan lenganmu"
"Eh-u-untuk apa kak?"
"Perlihatkan saja"
Dengan ragu-ragu Vandi pun memperlihatkan lengan nya yang terluka terkena bebatuan
"Mengapa kau tidak mengobati lengan mu?"
"Dia tidak ingin kemana-mana sebelum bertemu dan menjelaskan semuanya untuk mu Rel"
ucap Sebastian
"Hen, obati lah luka Vandi"
ucap Varel lalu menatap dokter Hendra yang berdiri tak jauh dari nya
"Baik Rel"
"Kak, Vandi tidak kenapa-kenapa"
"Tidak perlu kak, ka Varel di sini saja"
"Jangan membantah"
Mau tak mau Vandi berjalan mengikuti langkah Varel dan dokter Hendra untuk mengobati luka di lengan nya.
*****
Ruang Kepala Rumah Sakit
"Masuklah"
ucap dokter Hendra kepada Varel dan Vandi lalu masuk terlebih dahulu ke ruangan nya
"Kak Varel?"
panggil Vandi yang menghentikan langkah kaki Varel yang hendak masuk ke ruangan dokter Hendra
"Ada apa Van?"
"Kak, Vandi tau kak Varel berusaha menenangkan kami semua padahal kak Varel juga sangat khawatir dengan kak Vania"
ucap Vandi pelan seraya menatap lekat kakak kandung nya yang memang tidak terlalu dekat dengan nya selama ini
__ADS_1
"Berhenti lah menyembunyikan perasaan kak Varel yang sebenarnya, tidak ada siapa-siapa di sini kak, keluarkan saja semua rasa kekhawatiran dan ketakutan kak Varel
Vandi akan mendengarkan nya, walau pun kita tidak pernah sangat dekat selama ini tapi Vandi mengerti perasaan kak Varel. Berhenti lah menutupi perasaan kakak"
"Kau tau? Kakak sangat takut jika kakak ipar mu meninggalkan kakak sendirian disini"
lirih Varel pelan seraya menunduk tanpa sadar dengan air matanya yang hendak keluar
"Kau juga tau bukan? Bahwa kak Varel benar-benar membenci perpisahan. Kakak takut Van, kakak takut Vania pergi meninggalkan kakak"
"Kak, kita semua khawatir dengan keadaan kak Vania terlebih sejak tadi dokter Ryan tidak keluar-keluar dari ruangan tersebut. Seperti yang kak Varel katakan kepada Vandi tadi, kita hanya bisa berserah dan berdoa kepada Tuhan karena jika kita bersungguh-sungguh berdoa dan datang kepada-Nya, Ia akan mendengarkan dan menjawab doa kita kak
Bukan hanya kak Varel yang takut kehilangan kak Vania, Vandi, Mama, tante, om bahkan kita semua takut kehilangan kak Vania"
ucap Vandi yang sukses membuat Varel tak bisa berkata-kata
"Kak, boleh kah Vandi bertanya sesuatu?"
"Kau ingin menanyakan apa Van?"
"Apa kak Varel begitu mencintai kak Vania?"
tanya Vandi pelan
"Jangankan Vania, orang lain saja meragukan perasaan ku terhadap istri ku sendiri"
"Maafkan Vandi kak, buk-"
"Kakak mengerti jika orang lain bahkan Vania meragukan perasaan kakak karena yang selama ini kakak tak jarang memarahi dan membentaknya
Tapi apa kau tau Van? Kak Varel melakukan itu karena itulah sifat asli kakak egois, suka emosi, suka mengatur, ketus, dingin, cuek.
Kak Varel tidak pernah ingin menunjukkan sifat manis kakak yang hanya sementara untuk Vania karena yang kakak pikirkan bahwa kakak ipar mu lah yang mendampingi kakak di hidup ini jadi kakak ipar mu harus tau bagaimana sifat asli kakak agar Vania mencintai kakak apa adanya dengan sifat asli kakak yang buruk"
ucap Varel menjelaskan
"Kau pasti juga bertanya bukan mengapa kak Varel tidak pernah menyatakan cinta nya kepada Vania? Kau tau Van, kakak tidak bisa menjadi pria romantis seperti mu, kak Varel tidak bisa merangkai kata-kata indah untuk Vania, kak Varel hanya bisa menyampaikan perasaan kakak dengan perbuatan
Bukan kah perbuatan lebih penting dijadikan bukti dari pada hanya kata-kata tanpa pembuktian?"
"Tapi sepertinya kak Vania membutuhkan ungkapan cinta agar meyakinkan diri nya bahwa kak Varel benar-benar mencintai nya"
ucap Vandi menjelaskan
"Kau benar, kakak tau bahwa selama ini kakak ipar mu meragukan perasaan kakak kepadanya karena kakak tidak pernah menyatakan cinta
Tapi lihat lah sekarang, saat kakak sedang menyiapkan kejutan indah untuknya, untuk hari ulang tahunnya ada saja orang jahat yang mencoba menghancurkan semua rencana kakak"
"Kak, Vandi ben-"
"Berhenti lah meminta maaf dan ayo masuk lah sekarang. Kita sudah terlalu banyak bicara"
ucap Varel terkekeh pelan lalu mengajak Vandi untuk memasuki ruangan dokter Hendra dengan dokter Hendra yang sudah kesal menunggu mereka.
*
__ADS_1
*
*