
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Bagaimana rasanya mempunyai anak kembar?" tanya Cherry ketika ia baru saja membaringkan baby Bylan di tempat tidur.
"Rasanya menyenangkan sekaligus melelahkan, Kak."
"Pasti sangat melelahkan. Anak satu saja hampir tidak mempunyai waktu untuk istirahat" ucap Cherry seraya menatap baby Bylan yang sedang tertidur pulas.
Vania tersenyum tipis. "Aku bersyukur karena Varel bisa membantu untuk mengurus mereka. Aku benar-benar ingin melihat pertumbuhan anak-anak ku yang ku rawat dengan tangan ku sendiri."
"Kau benar-benar tidak mempekerjakan pengasuh?" tanya Cherry yang membuat Vania menggeleng pelan.
"Aku tidak mempunyai kesibukan lain jadi masih bisa mengurus mereka sendiri."
"Astaga, aku yang mengurus Bylan saja sangat lelah apalagi kau yang harus mengurus dua. Oh ya, bagaimana jika keduanya menangis?"
"Ah, Al jarang menangis. Jika keduanya menangis bersamaan pun, Varel akan mengurus yang satu saat aku sedang menyusui mereka. Aku tidak ingin memberikan dot pada mereka."
Cherry mengangguk setuju. "Kau benar, aku juga tidak pernah memberikan dot untuk anak-anak ku sampai umur tiga bulan. Karena, aku takut mempengaruhi mulut dan gusi nya."
"Benar, bahkan aku dianjurkan untuk memberikan dot atau empeng pada umur enam bulan karena saat-saat seperti ini sangat rentan resiko terhadap mulut dan telinga mereka."
"Kau tidak berkonsultasi dengan Hendra yang aneh itu, kan?"
Seketika, Vania tertawa. "Tidak, Kak. Dokter Hendra bukan dari bidang ini" ucap Vania disela-sela gelak tawanya.
"Jangan sampai kau bertanya apapun padanya. Aku pernah mengirim pesan padanya dan bertanya bagaimana melakukan program hamil yang sukses, jawabannya benar-benar membuatku naik darah" ucap Cherry dengan wajah kesalnya membuat Vania tertawa.
"Dokter Hendra mengatakan apa?" tanya Vania penasaran.
"Dia meminta ku untuk terus berhubungan agar anak ku bisa keluar banyak sekaligus. Dia benar-benar gila. Memangnya, melahirkan itu enak?!" gerutu Cherry dengan wajah kesalnya.
"Kak, bukan kah dokter Hendra memang seperti itu? Bryan dan Billy saja mengatakan bahwa dokter Hendra sangat o'on" ucap Vania yang membuat Cherry tertawa.
"Benar, kan?! Aku sangat kasihan dengan wanita yang akan menjadi pasangannya nanti."
"Sahabatku, Kak.."
"Apa?!"
Teriakan Cherry membangunkan ketiga bayi yang sedang pulas. Dengan segera keduanya kembali menepuk-nepuk pantat anak-anaknya lalu menidurkannya kembali.
__ADS_1
"Kau serius?! Astaga, sahabat mu sangat kasihan" bisik Cherry pelan yang membuat Vania terkekeh.
"Sepertinya mereka akan lanjut ke hubungan yang serius" ucap Vania yang juga berbisik.
"Hei, aku perlu memberikan wejangan pada sahabat mu itu. Kasihan sekali dia menghabiskan waktunya untuk menjadi istri Hendra yang tidak waras."
"Astaga."
*****
Sore ini, Bryan dan Billy mengajak Varo untuk berjalan-jalan sore seraya menikmati pemandangan yang sangat indah. Ah ralat, bukan mengajak tapi memaksa.
"Uncle Bry, aku tidak ingin berjalan-jalan" ucap Varo ketika Bryan mengajaknya.
Bryan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengajak mu, aku memaksa!"
Varo hanya bisa mendengus kesal ketika melawan Bryan si keras kepala yang tidak ada habisnya.
"Oke! Kita akan pergi kemana?" tanya Varo dengan malas.
Billy segera memberikan kunci sepeda kepada Varo. "Treptower Park" ucap Billy bersemangat.
Varo hanya bisa menghela nafas berat seraya menerima kunci sepeda yang diberikan kepadanya. Dalam hatinya, ia sungguh lebih tertarik dengan bermacam-macam buku yang ada di perpustakaan Bryan dari pada harus keluar berjalan-jalan.
"Ah, padahal lebih seru membaca buku Mein Kampf" gumam Varo pelan yang membuat Bryan dan Billy menghela nafas berat.
"Hei, otakmu terbuat dari apa?" gerutu Bryan kesal.
"Menurut North Western Medicine, 60 persen terbuat dari lemak" jawab Varo santai.
"You are really really crazy."
*****
Treptower Park
Bryan dan Billy benar-benar mengajak Varo ke taman yang sangat luas dan sangat indah. Bocah tersebut pun seakan lupa jika awalnya ia sangat menolak untuk diajak pergi jalan-jalan.
Varo yang sangat suka mengabadikan momen pun segera memotret pemandangan yang ada dihadapannya.
Alvrfrndzz "Dies ist die Ansicht."
Tak lama kemudian, tiba-tiba ada segerombolan anak yang sedang bersepeda menghampiri mereka.
"Bry, wo gehen wir hin?" (Bry, kita akan pergi kemana?) tanya salah satu diantara mereka.
Bryan menoleh. "Ich möchte mit den Nägeln meines Neffen spazieren gehen." (Aku ingin mengajak keponakan ku untuk berjalan-jalan) jawab Bryan.
__ADS_1
Lawan bicara Bryan pun menatap Varo seraya menjulurkan tangannya. "What's your name?"
"Varo" jawab Varo singkat tanpa bertanya kembali.
"Uncle, kita akan kemana?" tanya nya mengalihkan pembicaraan.
"Berburu makanan?" usul Bryan bersemangat.
Tiba-tiba lawan bicara Bryan kembali bersuara. "Bry, versteht er kein Deutsch?" (Bry, apakah dia tidak mengerti bahasa Jerman?)
Bryan menghela nafas berat. "Er versteht alle Sprachen." (Dia mengerti semua bahasa.)
"Sie müssen lügen. Beweis, dass es ihm egal ist." (Kau pasti berbohong. Buktinya dia tidak peduli.)
Varo yang mendengarnya pun mengerutkan kening. "Soll ich auch sprechen?" (Apa aku harus berbicara juga?)
Tentu saja, ketika mendengar Varo lancar berbahasa Jerman membuat teman-teman Bryan terkejut apalagi melihat Varo yang sepertinya masih sangat kecil untuk bisa mengerti bahasa Jerman.
*****
"Sayang" panggil Varel ketika masuk ke kamar tamu.
Vania hanya menoleh sebentar lalu kembali membacakan buku kepada anak-anaknya. Inilah kebiasaan Vania, walaupun anak-anaknya belum mengerti apa-apa, ia lebih suka juga harus membacakan dongeng kepada mereka dari pada membiarkan mereka menatap layar ponsel yang bisa mempengaruhi mata.
"Dongeng apa hari ini?" tanya Varel seraya mencium gemas pipi gembul kedua anaknya.
Vania tersenyum tipis lalu mengelus pucuk kepala Varel. "Cerita tentang Daniel yang ada di gua singa."
"Wow, anak-anak Daddy harus tumbuh seperti Daniel ya. Mempunyai pikiran yang cerdas dan dikarunia banyak anugerah" ucap Varel yang membuat Vania menatapnya penuh arti.
Tanpa sadar, air mata Vania kembali mengalir ketika melihat Varel yang sudah benar-benar berubah. Ia tidak lagi menjadi Varel yang kasar dan arogan. Bahkan, kalian saja tidak akan mengira jika ini adalah Varel yang pernah berlaku kasar pada Vania.
Vania tidak berhenti mengucap syukur atas semua hal yang terjadi dalam hidupnya sehingga ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dicintai oleh suami yang ia cintai, dipenuhi oleh cinta dari anak-anaknya yang tumbuh sangat baik, diperlakukan baik oleh Mama mertuanya, mempunyai orang tua angkat dan kakak angkat yang sangat menyayanginya, bahkan mempunyai teman-teman yang memperdulikannya.
"Sayang, mengapa menangis?" tanya Varel khawatir ketika menyadari istrinya sedang menangis.
Vania tersenyum tipis. "Tidak, hanya sangat kagum melihat suamiku yang tampan ini" ucap Vania mengedipkan matanya membuat Varel terkekeh pelan.
Cup.
"Daddy! Oh My God! My Eyes are Stained!"
*
*
*
__ADS_1