Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Penjelasan Bas


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


***


"Papi sudah jauh-jauh kesini untuk bertemu Daddy, jadi Daddy harus menemui nya atau-"


Karena tau anaknya akan mengancam, akhirnya Varel memotong pembicaraan Lista dan mengatakan kepada sekretaris Dim yang sedari tadi diam untuk menyuruh Sebastian dan Tika masuk ke ruangannya


"Begitu dong, harus jadi Daddy yang pintar."


Varel benar-benar melongo mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut sang anak, benar-benar anak itu dewasa sebelum umur


Pintu ruangan terbuka dan masuklah Sebastian dan Tika tak lupa dengan sekretaris Dim yang baru saja menutup pintu ruangan agar tidak mengganggu mereka


Lista yang melihat Sebastian masuk pun langsung berlari kearahnya dan mengambil bungkusan cilok ditangan Tika lalu meminta tolong kepada sekretaris Dim untuk membawakan piring kosong


"Ayo kita makan cilok"


ucap Lista bersemangat membuat semua orang yang ada di ruangan itu begitu terkejut


"Kenapa? Ini enak tau, ayo Daddy dan Papi coba, ini sangat enak"


ucap Lista lalu berjalan mendekati Varel dan Sebastian dan mengajak mereka menuju sofa untuk bersama-sama memakan cilok dan teman-temannya


"Sayang, Daddy tidak ingin memakannya"


"No, Daddy tadi terlihat ingin makan ini. Dan Papi tidak ada alasan untuk tidak memakannya juga"


"Dim, ini dari pedagang kaki lima?"


tanya Varel pelan lalu mendapat anggukan dari sekretaris Dim


"Cobalah cepat atau Lista akan marah"


Dengan cepat Varel dan Sebastian memakan cilok tersebut hingga membuat senyum indah terukir di wajah Lista


"Om Dimas tidak sayang Lista?"


Seketika sekretaris Dim pun memakan cilok agar Lista tidak memarahinya

__ADS_1


Lista menatap ketiganya dengan senyum merekah terlebih saat melihat raut wajah Varel yang mengatakan bahwa cilok itu enak dan Sebastian yang tanpa sadar memakannya berkali-kali


"Bagaimana bisa seenak ini?"


gumam Varel pelan seraya memakan cilok terakhir


"Daddy hidup berapa tahun? Bagaimana bisa tidak tau bahwa ada makanan seenak cilok?"


tanya Lista yang menatap Varel dengan heran sedangkan yang ditatap hanya diam


"Daddy mu tidak pernah jajan di luar"


ucap Sebastian tanpa sadar membuat Varel seketika menoleh kearahnya


"Lalu? Daddy makan apa?"


tanya Lista yang masih heran


"Makan Mommy mu"


jawab Sebastian yang lagi-lagi tanpa sadar bahwa Varel tengah menatapnya


"Dim"


"Nona Kecil-"


"Panggil Lista, Om"


"Baiklah, Lista sayang apakah Lista ingin ikut Om Dimas?"


"Kemana, Om?"


tanya Lista bersemangat


"Beli ice cream?"


usul sekretaris Dim dan tentu saja mendapatkan anggukan cepat dari bocah tersebut


"Pay pay Daddy, pay pay Papi, pay pay Mami"


ucap Lista berpamitan


Lalu sekretaris Dim mengajak Lista keluar dari ruangan Presdir menyisakan Varel, Sebastian, dan Tika yang masih sama-sama diam hingga akhirnya suara Varel membuyarkan lamunan mereka

__ADS_1


"Apa lagi yang kau inginkan?"


"Menjelaskan sesuatu yang tertahan sejak dua bulan yang lalu"


"Cih"


"Aku akan menjelaskan sekarang dan kau tidak diminta untuk berbicara. Hanya tetap diam dan bernafas sebelum aku menyelesaikan ucapan ku"


ucap Sebastian yang entah kenapa membuat Varel menurutinya sehingga Varel benar-benar hanya diam tanpa berbicara apapun


"Selama dua bulan terakhir, ini benar benar menyiksa ku, Rel. Aku seolah-olah menjadi pria brengsek yang tidak bisa menjelaskan apa-apa dan hanya membiarkan rumah tangga kalian menjadi seperti sekarang. Jadi tolong, izinkan aku untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.."


Ada jeda sebentar sebelum Sebastian melanjutkan ucapannya


"Sungguh, yang kau lihat itu benar-benar tidak benar. Saat itu aku sedang demam tinggi dan meminta Tika untuk mendatangiku di apartemen lalu aku mendengar suara Tika dan Vania yang berusaha membangunkan ku hingga aku membuka mata, aku mendengar Vania memerintahkan Dika untuk membeli obat-obatan dan Ziva yang menyusul untuk membeli alat kompres.


Tika meminta izin kepadaku agar ia menuju dapur karena ingin membuatkan ku bubur dan ku dengar Varo berpamitan kepada Vania karena ingin menemani Tika hingga setelah mereka pergi, aku mendengar Vania mengeluh perutnya kram lalu meminta izin kepadaku untuk membaringkan diri di sofa.


Siapa yang tega melihat perempuan yang sedang hamil muda kesakitan? Siapa yang tega membiarkan nya begitu saja? Aku memang bukan pria baik-baik, Rel. Tapi aku masih punya hati terlebih aku melihat istri sahabatku dan adik sahabatku sedang menahan sakit di perutnya.


Aku memaksakan diri untuk bangun dan membawa selimut lalu menyelimuti nya hingga membuat Vania terbangun dan saat itulah kau masuk lalu berpikir bahwa kami mengkhianati mu"


Ada getaran hebat dalam diri Varel saat ia mendengar jelas semua yang keluar dari mulut Sebastian, sahabatnya itu. Varel benar-benar tidak tau harus merespon bagaimana, yang dilakukannya hanya tetap diam menatap lurus kedepan namun tangannya mengepal hebat


“Rel, aku memang memiliki masa lalu yang sangat kelam bahkan kau tau itu. Aku Sebastian Alexandre, siapa yang tidak mengenalku? Tamu VVIP di hampir seluruh bar terkenal di Indonesia. Lelaki yang bercinta dengan wanita yang berbeda setiap harinya. Brengsek sekali, bukan?


Tapi satu yang harus kau tau, aku tidak akan pernah mengkhianatimu bahkan memikirkannya saja tidak ada waktu untukku. Aku tau setelah bertahun-tahun, aku melihat lagi senyum manis dan tatapan teduh sahabatku hanya karena gadis kecil yang polos yang ternyata adalah adik dari salah satu sahabatku. Aku bersyukur, aku berterima kasih kepada Vania karena dengan kehadirannya yang tanpa sengaja mengetuk kembali pintu hatimu dan menawarkan warna di hidupmu. Aku tidak akan pernah menjadi kurang ajar dengan menginginkan hak milik sahabatku, Rel.”


“Maaf, Tuan Muda.. Izinkan saya juga menjelaskan apa yang terjadi. Sebelum menuju ke apartemen Mas Bas, saya meminta izin kepada Mbak Vania karena ingin mengunjungi apartemen Mas Bas. Lalu Mbak Vania mengatakan bahwa ia akan mengantar saya sekalian ingin berjalan-jalan sebentar, kita pun pergi ke apartemen bersama kedua pengawal Mbak Vania biasanya. Seperti yang sudah dijelaskan Mas Bas, saat kami masuk ke dalam apartemen, Mas Bas masih terbaring lemah dengan badan yang sangat panas jadi saya meminta izin untuk menyiapkan bubur sebelum Mas Bas meminum obat dan Mbak Vania pergi mencari obat-obatan namun tidak ada satupun obat yang ada di apartemen jadi Mbak Vania meminta kedua pengawalnya untuk pergi membeli obat-obatan..


Maaf, Tuan.. Saya memang tidak tau apa yang terjadi di kamar tersebut selama saya berada di dapur bersama Varo. Tapi saya yakin dan benar-benar yakin bahwa mereka sungguh tidak melakukan apapun karena bodoh jika mereka berani berbuat bejat sedangkan di dapur ada anak Mbak Vania dan tunangan Mas Bas. Saya mengenal Mbak Vania cukup lama bahkan saat mendengar ia sudah menikah pun saya benar-benar terkejut karena selama ini Mbak Vania tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain dan hanya Tuan Vandi yang bertahun-tahun bersama Mbak Vania.”


“Bas..”


Terdengar Varel memanggil nama Sebastian dengan sedikit bergetar karena menahan keras air mata yang ingin jatuh


“Rel, sebelum terlambat carilah Vania atau kau akan menyesal seumur hidup”


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2