
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Sejak kejadian di meja makan tadi, hingga sekarang Vania masih mendiami Varel hingga membuat suaminya enggan untuk berangkat ke kantor. Vania benar-benar kesal karena suaminya menciumnya didepan orang banyak bahkan kejadian itu menjadi bahan ejekan semua orang terutama Bryan dan Billy yang membuat Vania semakin marah kepada suaminya.
“Sayang?”. Hening.
“Sayang, hei ayolah maafkan aku”. Hening.
Hei, kan dia juga menikmatinya kenapa memarahiku? Memangnya salah jika kami berciuman didepan banyak orang? Kan wajar karena sepasang suami istri.-Varel.
Varel tak habis pikir kenapa istrinya mendiaminya sejak tadi hingga membuatnya beberapa kali menghela nafas berat karena suasana kamar utama sungguh membuatnya merinding.
“Sayang?”
Lagi-lagi Varel berusaha untuk berbicara dengan sang istri namun Vania benar-benar tidak menghiraukannya dan asyik melihat kedua bayinya yang sedang tertidur pulas.
Karena mendengar sang suami sudah tidak mengeluarkan suara, Vania menoleh sebentar dan terlihat bahwa Varel sedang berbaring seraya menatap langit-langit.
“Apa dia bosan?” gumam Vania pelan membuat Varel menoleh seketika.
“Sayang, kau bosan? Mau jalan-jalan?” tanya Varel dengan raut wajah bahagia membuat Vania menatapnya tajam namun lagi-lagi tak mengeluarkan suara.
Terdengar helaan nafas berat yang membuat Vania tersenyum tipis melihat kelakuan suaminya. “Sayang, maafkan aku.”
“Sayang, ayolah jangan mendiami ku seperti ini.”
“Sayanggg” rengek Varel seraya menggulingkan tubuhnya ditempat tidur membuat sang istri seketika tergelak.
“Kau lupa umur?”
“Astaga, Sayang. Itu sangat tidak sopan.”
“Apanya? Aku hanya ingin mengingatkan umur mu” ucap Vania terkekeh pelan.
“Jadi bagaimana? Apa aku dimaafkan?” tanya Varel tersenyum.
Vania langsung menutup kembali mulutnya rapat-rapat saat sang suami meminta maaf.
Beberapa menit berlalu namun suasana kamar utama benar-benar masih menyeramkan karena Vania masih mendiami sang suami yang membuat Varel harus berdiam diri atau berguling di tempat tidur untuk mengurangi rasa bosannya.
Saat ia sedang melakukan aksinya, ia mendengar langkah kaki sang istri yang mendekat membuatnya segera bangun dan berlari menuntun Vania. “Hei, sudah ku katakan jangan jalan dulu” ucap Varel dengan raut wajah khawatir.
“Eum, Sayang?”
“Pasti ada maunya.”
Tentu saja hal itu membuat Vania seketika tertawa karena memang ia sedang menginginkan sesuatu dari sang suami.
“Ayo bercukur”
“Hei, tiba-tiba sekali. Ada apa?” tanya Varel terkejut saat mendengar ucapan istrinya.
Vania terkekeh pelan. “Hanya saja aku ingin mencoba. Saat menonton drama, aku melihat mereka melakukan scene bercukur.”
“Jadi, istriku ingin melakukannya?” tanya Varel seraya mengelus wajah sang istri dengan tangannya.
“Bagaimana?”
“Apapun untukmu, Sayang”
__ADS_1
Akhirnya, sepasang suami istri itu masuk ke kamar mandi meninggalkan kedua bayi kembarnya yang sedang tertidur pulas.
Vania dengan segera mengambil alat cukur dan handuk bersih. “Bagaimana caranya?” tanya nya dengan polos yang membuat Varel gemas.
Cup.
“Daripada bercukur lebih baik beri aku ciuman saja”.
“Tidak mau.”
“Hei, k—”
“Ayolah, aku ingin mencoba mencukur mu” rengek Vania yang membuat sang suami tertawa.
“Baiklah baiklah.”
Varel pun mulai mengajari istrinya untuk bercukur dengan diawali membasuh daerah dagu dengan air bersih lalu berikan busa cukur disekitar mulut dan mulai mencukur dari bagian leher ke dagu dan seterusnya. Vania pun membuka telinga lebar-lebar untuk mendengar penjelasan sang suami hingga ia benar-benar bisa melakukannya.
“Hei, jangan bergerak atau kau akan terluka” ucap Vania panik ketika suaminya tanpa sadar terkekeh melihat wajahnya yang sangat imut.
Cup.
“Varelll” gerutu Vania dengan kesalnya karena busa cukur mengenai wajahnya.
Setelah beberapa kali marah-marah akibat kelakuan usil sang suami, akhirnya Vania bisa menyelesaikan sesi bercukur tersebut.
“Sebentar, aku rasakan dulu jika ada yang tertinggal” ucap Vania seraya mengelus daerah dagu dan mulut sang suami dengan tangannya.
Cup.
“Sepertinya sudah selesai.”
“Oh, jadi istriku sekarang sudah berani hm?”
ooeekkk … ooeeekkkkk …. oooeeekkkkkk ……
Kemesraan itu terganggu oleh tangisan bayi.
“Astaga, anak siapa itu? Mengganggu saja.”
Plak
“Itu anakmu.”
“Aku bercanda, Sayang.”
*****
Saat ini Vania sedang duduk di kamar utama seraya menonton drama kesukaannya sembari menunggu sang suami membawa buah-buahan karena saat ia meminta izin untuk turun, Varel segera menghentikannya dengan mengatakan akan melakukannya untuk Vania.
Sebenarnya Vania tidak terlalu mempercayainya mengingat Varel memang jarang menginjakkan kaki di dapur tapi jika dirinya tidak mengiyakan pasti akan terjadi perdebatan untuk beberapa saat hingga membuatnya tidak jadi menonton drama.
Klekk
Pintu terbuka dan masuklah Bryan dan Billy serta Mama Melinda yang membuat Vania langsung beranjak dari tempat tidur.
“Tiduran saja, Kak” ucap Bryan tersenyum tipis.
“Apa cucu Mama sudah makan?” tanya Mama Melinda ketika melihat kedua cucunya masih tertidur pulas.
“Vania baru saja menyusui mereka, Ma.”
“Aunty, apa melahirkan itu sakit?”
Tiba-tiba Billy duduk disebelah Vania dan bertanya hal yang membuat Vania maupun Mama Melinda terkejut.
__ADS_1
“Tumben sekali, kenapa bertanya seperti itu?”
“Hanya saja setelah melihat Aunty mengeluarkan dua bayi sekaligus, aku jadi merindukan Mommy ku”
“Apa Kak Cherry akan melahirkan dalam beberapa minggu ini?”
Vania memang belum bertemu langsung dengan Cherry namun ia sering berkirim kabar terlebih melakukan panggilan video ketika Billy merindukan Varel.
“Rasanya memang sakit tapi semuanya menjadi bahagia ketika melihat bayi nya sendiri” ucap Mama Melinda menjawab pertanyaan Billy.
“Yup, Kak Cherry akan melahirkan sebentar lagi tapi anak tertuanya sangat jahat karena tidak mau menemani Mommy nya”
“Hei, aku kan pulang bersama Grandpa” ketus Billy kesal ketika dibilang jahat oleh Bryan.
“Lalu Bryan?”
“Aku tidak ingin pulang. Indonesia cocok denganku” ucapnya tersenyum.
Vania menatapnya penuh curiga. “Bukan karena kau akan mengganggu Varel?”
“Ya, itu salah satunya” jawab Bryan santai.
Seketika, suasana di kamar utama menjadi cukup berisik akibat ucapan Bryan yang mengundang tawa.
“Mereka bahkan berencana untuk berkuliah disini saja” ucap Mama Melinda disela-sela gelak tawanya.
“Bukannya di luar negeri jauh lebih bagus?” tanya Vania heran.
“Bosan.”
“Dan tidak ada Uncle Varel, jadi tidak seru.”
Ucap keduanya bergantian membuat Vania dan Mama Melinda kembali tertawa.
Tak berapa lama Bryan berjalan mendekati box bayi dan menatap lekat kedua keponakannya yang benar-benar tertidur pulas.
“Mereka benar-benar Kak Varel versi junior” ucap Bryan tersenyum.
“Apa mereka akan menjadi sangat menyebalkan seperti Uncle?”
Bryan seketika berdoa dalam hati membuat semua orang menatapnya heran.
“Apa yang kau doakan, Bry?” tanya Mama Melinda heran.
“Agar mereka tidak menjadi menyebalkan.”
“Astaga.”
“Hei, kalian akan menjadi partner Uncle Bry.”
“Apa setelah mereka besar, kita akan membuat aliansi?” tanya Billy yang juga berjalan mendekati box bayi.
“Aliansi? Aliansi apa?” tanya Vania mengerutkan kening.
“Aliansi Pembasmi Alien.”
“Dan Kak Varel akan menjadi alien nya.”
“Astaga, anak-anak ini.”
*
*
*
__ADS_1