
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_ 😘
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Ruangan Presdir
"Apa yang dia lakukan?"
gumam Varel pelan seraya menatap iPad ditangannya
"Ada apa dengan Dimas? Mengapa berlari ketakutan seperti itu? Astaga lihat wajah usilnya, sempat-sempatnya dia melambaikan tangan pada cctv"
ucap Varel mengerutkan kening saat melihat cctv dimana Vania sedang berbicara dan sekretaris Dim lalu sekretaris Dim berlari menuju tangga darurat
"Astaga, apa Dimas punya kekuatan super? Mengapa dia tidak lelah?"
Lagi-lagi Varel berbicara sendiri saat melihat cctv di tangga darurat dimana sekretaris Dim berlari terus hingga sampai ke lantai atas
"Tadi dia meminta ku melihat cctv dimana? Oh ruangan Anna.. Hah apa itu? Kenapa Dimas sangat ketakutan dan memegang tangan Anna? Sebenarnya apa yang Vania katakan hingga Dimas seperti orang gila?"
Tak berapa lama, Vania pun masuk ke ruangan Varel dengan wajah senang
"Apa yang kau katakan pada Dimas?"
"Kau menontonnya?"
tanya Vania bersemangat
"Sayang"
"Hahaha...Baiklah, aku hanya berbicara yang sebenarnya pada sekretaris Dim"
"Apa yang kau bicarakan hingga membuat Dimas ketakutan?"
"Sekretaris Dim ketakutan?"
"Sayang, jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga"
tegur Varel yang membuat Vania tertawa
"Aku hanya katakan bahwa Anna pindah lalu sekretaris Dim berlari seperti orang kerasukan dan yang paling konyol dia berlari menuju tangga darurat. Bukankah ada lift?"
"Astaga, mengapa istriku sangat jahil hem?"
bisik Varel lalu mencium pipi istrinya
"Aku tidak salah bicara, kan? Aku hanya bilang Anna pindah hari ini, bukankah Anna akan pindah ke ruangan sekretaris wanita mu?"
"Tapi Dimas salah paham, sayang. Kau lihat kan dia bahkan berlari mendatangi Anna dan mengira bahwa Anna akan pindah dari kantor ini"
"Ish, kenapa sekretaris Dim sangat o'on?"
gerutu Vania yang membuat Varel gemas
Cup.
"Kau ini suka sekali mengganggu Dimas"
"Wajah datarnya membuatku gemas, sayang. Ingin sekali ku remas wajahnya itu, astaga amit-amit anakku punya wajah datar seperti sekretaris Dim"
ucap Vania lalu mengelus perutnya membuat Varel terkekeh
Tok tok tok
"Pasti sekretaris Dim"
ucap Vania bersemangat
"Masuk"
ucap Varel datar seraya menekan remote yang ada disebelahnya
"Selamat siang Tuan Muda dan Nona Muda"
ucap sekretaris Dim sopan namun masih terdengar ngos-ngosan
"Duduk Dim"
perintah Varel yang tentu saja langsung membuat asistennya menurut
__ADS_1
"Apa kau tidak berisitirahat setelah berlari dari tangga darurat?"
tanya Varel menahan tawa melihat wajah terkejut sekretaris Dim
"Maaf, Tuan Muda"
"Apa yang Vania katakan padamu hingga kau berlari seperti orang gila?"
"Nona Muda mengatakan bahwa Anna pindah, Tuan"
"Dan kau berpikir bahwa Anna akan pindah dari kantor ini?"
tanya Varel yang membuat sekretaris Dim mengangguk pelan
"Sekretaris Dim, aku minta maaf ya sudah membuatmu kelelahan"
ucap Vania terkekeh pelan
"Dim, dari kejadian tadi sudah bisa ku pastikan bahwa kau memang masih mencintai Anna. Jadi kau mau menunggu apa lagi? Kau tidak mau bukan jika Anna benar-benar keluar dari kantor ini?"
"Tidak, Tuan Muda"
"Jika kau masih belum siap melangkah ke pernikahan, setidaknya berikan kejelasan dalam hubungan kalian dan ungkapkan perasaanmu karena jika kau terlambat maka semua akan menjadi penyesalan"
"Dengarkan majikan mu yang sangat bawel ini, sekretaris Dim"
celetuk Vania tiba-tiba yang membuat Varel menoleh kearahnya
"Baiklah Tuan Muda dan Nona Muda"
ucap sekretaris Dim singkat
"Pergilah dan ungkap perasaanmu sekarang"
"Ta-tapi-"
"Kenapa? Kau takut Anna akan menolak cintamu?"
tanya Varel yang membuat sekretaris Dim mengangguk pelan
"Cih, tidak majikan tidak asisten sama-sama o'on dalam percintaan"
*****
Ruangan Anna
"Ada apa Dim?"
"Eum, apa kau sibuk setelah ini?"
"Tidak, Tuan Muda memberikanku waktu istirahat setelah berkemas"
"Anna, bisakah aku berbicara serius?"
"Hei berbicara saja, kenapa wajahmu seperti itu?"
tanya Anna tertawa canggung karena dirinya sedang gugup melihat wajah sekretaris Dim yang begitu serius
"Aku mencintaimu"
Deg.
Anna benar-benar terkejut mendengarnya bahkan pen yang dipegangnya pun terjatuh dari tangan
"A-apa maksudmu?"
"Bisakah kita kembali menjalin hubungan?"
tanya sekretaris Dim yang membuat Anna langsung menoleh kearahnya
"Jangan bercanda, Dim"
"Aku tidak bercanda, Anna. Aku mencintaimu dan benar-benar mencintaimu, kesalahan yang pernah kulakukan dimasa lalu membuatku hidup dalam penyesalan. Tolong maafkan aku dan berikan aku kesempatan sekali saja"
lirih sekretaris Dim pelan yang membuat Anna menghela nafas sejenak
"Dim, aku akan menikah"
Bagai disambar petir siang bolong, sekretaris Dim hampir tak bisa menjaga keseimbangan lalu menatap Anna dengan tatapan sendu
"Anna, kau serius?"
"Tidak, hanya bercanda"
__ADS_1
ucap Anna terkekeh pelan
"Luka di masa lalu yang kau berikan sungguh membuatku jadi kehilangan separuh diriku yang sebenarnya hingga aku bahkan lari dari masalah saat itu. Dan masih sampai sekarang Dim, sampai sekarang aku masih mengingat segala ucapan mu bahkan kau tidak tau bukan bagaimana perjuanganku untuk mengembalikan senyumku"
"Anna, maafkan aku-"
"Aku sudah memaafkan mu, Dim. Dan untuk sekarang aku masih tidak mempercayai perasaanmu, jika kau benar-benar mencintaiku maka buktikanlah hingga aku akan menerima mu bukan sebagai kekasih lagi, tapi sebagai calon suami ku"
ucap Anna tersenyum tipis membuat sekretaris Dim refleks memeluknya bahkan mencium pucuk kepala mantan kekasihnya tersebut
"Anna, terima kasih, terima kasih"
ucap sekretaris Dim pelan
"Aw"
Tiba-tiba Anna mencubit keras perut sekretaris Dim
"Kenapa kau mencubit ku?"
"Dim, aku tidak bisa bernafas, kau memelukku dengan sangat erat"
gerutu Anna yang membuat sekretaris Dim terkekeh
"Hahaha...Baiklah aku tidak akan erat lagi memelukmu. Kemari lah"
pinta sekretaris Dim seraya merentangkan tangannya membuat Anna tersenyum tipis
"Ceh, kau kembali dengan kepribadian ganda lagi ya?"
"Ish kemari lah"
gerutu sekretaris Dim lalu menarik Anna dalam pelukannya
"Terima kasih, Anna"
"Terima kasih juga masih tetap mencintaiku, Dim"
"Apa kau juga mencintaiku?"
tanya sekretaris Dim pelan
"Eum, entahlah"
ucap Anna terkikik
Tiba-tiba
"Astaga, sekretaris Dim kiyut sekali"
Terdengar suara Vania diambang pintu membuat sekretaris Dim dan Anna gelagapan seperti kepergok berbuat hal yang tidak senonoh
"Nona Muda"
"Kiyut itu apa?"
tanya Varel yang tiba-tiba ada di sebelah istrinya
"Tuan Muda"
"Dim, apa itu kiyut?"
"Saya tidak tau, Tuan"
"Cih, apa yang kau tau? Oh ya, bagaimana? Apa berjalan lancar? Anna tidak menampar wajahmu, bukan?"
"Sayang, kenapa kau menanyakan itu?"
tanya Vania lalu memukul lengan Varel
"Lihat wajah Dimas memerah, kukira Anna memukulnya"
jawab Varel santai yang membuat Vania melongo sedangkan sekretaris Dim dan Anna hanya menunduk diam karena malu
"Hei, sekretaris Dim itu malu. Astaga kiyut sekali"
ucap Vania terkekeh pelan
"Kiyut itu apa sih?"
"Jangan kepo".
*
__ADS_1
*
*