
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Hei, biarkan aku menggendong yang satu" ucap Cherry lalu tangannya bergerak untuk menggendong baby Al.
"Kau melupakan anakmu sendiri" sindir Varel yang membuat Cherry tertawa.
"Tidak, aku hanya memberikan pada Daddy karena Daddy tidak punya kerjaan. Ayo, Sayang, kita masuk "
Cherry pun segera masuk ke rumah dengan baby Al yang ada di pelukannya sedangkan sang suami mengikutinya di belakang.
"Hei, Mom. Dimana Beo?" tanya Billy heran ketika melihat bayi yang ada di pelukan Mommy nya bukanlah sang Adik.
"Untuk apa kau mencari adikmu? Kau saja tidak mau mengurusnya" ketus Cherry kesal.
"Hei, Vania!" Cherry segera memeluk Vania yang sedang duduk menemani Lista.
"Kak Cherry" ucap Vania yang juga membalas pelukan Cherry.
"Hei, bagaimana kau bisa mengeluarkan bayi kembar? Katakan padaku bagaimana cara membuatnya" ucap Cherry dengan santainya.
Vania yang mendengarnya sedikit terkejut karena ucapan Cherry terlalu terbuka dihadapan anak-anak.
"Bersabarlah, Kak. Kak Cherry memang seperti itu" celetuk Bryan tiba-tiba.
"Aunty, kata Mommy, jika ingin mempunyai Adek berarti kita harus berdoa. Karena Lista berdoa bersama Koko, jadi Tuhan memberikan dua Adek. Karena Kak Billy hanya berdoa sendiri, jadi Tuhan memberikannya satu saja yaitu baby Dylan." ucap Lista yang membuat Cherry takjub.
"Bylan, bukan Dylan."
"Astaga, dia benar-benar pintar. Hei, Aunty melupakan kalian."
Cherry pun segera bersalaman dengan kdua keponakannya yang baru ia lihat. "Kau pasti Lisna" ucap Cherry tersenyum.
"Lista, Aunty. Not Lisna."
"Astaga, mengapa mereka sangat buruk dalam mengingat nama?" gumam Billy mengerutkan keningnya heran.
"Hei, kalian sudah datang."
Melia baru saja keluar dari dapur dengan membawa kue kering buatannya lalu duduk di sebelah Vania.
__ADS_1
Tak lama, Richard dan yang lainnya pun ikut berkumpul di ruang keluarga bersama.
"Umurnya sudah berapa hari, Kak?" tanya Vania ketika baby Bylan sedang menyusui.
"Dua minggu sekarang. Dia benar-benar rewel sekali" ucap Cherry.
"Apa Billy juga seperti itu dulu?"
"Tidak. Billy selalu tenang dan hanya menangis ketika pantatnya basah. Makanya aku sendiri tidak habis pikir melihatnya sekarang, benar-benar berubah."
"Itu karena Bylan mengikuti jejak mu" celetuk Varel yang berada di sebelah Vania.
"Heh, memangnya aku rewel? Tidak kan, Sayang?"
Arnold segera menggeleng pelan seraya tersenyum tipis.
"Kak Arnold takut mengatakan dengan jujur karena takut tidur di luar" ucap Bryan yang membuat semuanya tertawa kecuali Cherry yang sudah menatapnya dengan tajam.
"Ah, ayo makan buah dulu" ucap Melia setelah pelayannya mengantarkan buah di ruang keluarga.
"Mom, makan buah setelah makan besar. Buah kan sebagai makanan penutup" ucap Bryan mengerutkan keningnya heran.
Varo yang sedang membaca buku pun tertarik untuk menjawab. "No, Uncle. Makan buah sebelum makan besar adalah hal yang benar. Karena buah akan memperlancar pencernaan kita."
"Hei, bagaimana kau tau?" tanya Billy tiba-tiba.
Varo membenarkan tempat duduknya lalu kembali menatap Billy. "Buah harus dimakan sepuluh hingga dua puluh menit sebelum makan karena buah-buahan mengandung banyak gula sehingga butuh beberapa waktu untuk mencernanya. Jika makan buah setelah makan yang akan membutuhkan waktu lama untuk mencernanya, maka nutrisi penting yang ada pada buah terbuang percuma dan yang paling penting akan membuat penyerapan tubuh atau fruktosa menjadi lebih lambat" jawab Varo yang membuat Bryan dan Billy menatapnya kagum sekaligus heran.
"Your brain is really amazing!" ucap Bryan menepuk kedua tangannya.
Billy menghela nafas berat. "You make my brain insecure."
"Astaga, Van. Apa kau memberikannya sarapan sebuah buku yang digoreng setiap pagi?" tanya Cherry heran karena Varo benar-benar pintar.
Vania terkekeh pelan. "Dia terlalu rajin untuk belajar, Kak."
"Billy, lihat itu. Harusnya kau dan Bry malu disaat Varo sedang membaca buku, kalian malah asyik bermain PlayStation" ucap Richard yang membuat Bryan dan Billy hanya mendengus kesal.
"Makanya Daddy juga bermain agar tau bagaimana rasanya."
"Yup, benar-benar seru."
Varo mengangkat buku yang ia pinjam dari perpustakaan Bryan. "Lebih seru membaca ini."
"What?! Buku sejarah kekaisaran Jerman?!"
__ADS_1
"Kau mengerti? Semua tulisannya menggunakan bahasa Jerman."
"Untuk apa aku membacanya jika tidak mengerti?"
Varo kembali menatap Bryan dan Billy yang sedang menatapnya curiga. "Der Begriff Deutsches Kaiserreich bezieht sich im Allgemeinen auf Deutschland seit seiner Konsolidierung als einheitlicher Staat seit dem Sieg der norddeutschen Bundkoalition mit den süddeutschen Staaten (angeführt vom Königreich Baden, Königreich Württemberg und Königreich Bayern). über Frankreich im Deutsch-Französischen Krieg, 18. Januar 1871, bis zur Abdankung von Kaiser (Kaiser) Wilhelm II. am 9. November 1918. Deutsche, wenn sie sich auf das Reich während der Regierungszeit dieses Kaisers beziehen, verwenden normalerweise den Begriff Kaiserreich und dies Begriff wurde von nichtdeutschen Historikern häufig verwendet. Von diesem Regime aus wurde der Name "Deutschland" ursprünglich in seinem wahren modernen Sinn verwendet."
"Astaga, anak Uncle Varel."
"He's really crazy" gumam Bryan menggeleng kepalanya berkali-kali.
*****
Malam ini setelah makan malam bersama, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga terkecuali Lista yang sudah kembali ke kamar tamu untuk tidur karena kelelahan sedangkan Vania dan Cherry sedang berada di kamar Cherry untuk menidurkan anak-anak mereka.
"Koko tidak ingin menemani Cici?" tanya Varel kepada sang anak agar Varo bisa menemani Lista di kamar.
"Dia sudah besar, untuk apa ditemani?" gumam Varo pelan yang terdengar jelas di telinga Varel.
"Varo permisi" pamitnya seketika membuat semua orang tertawa melihatnya.
"Bagaimana rasanya menjadi orang tua?" tanya Richard kepada Varel.
Varel tersenyum tipis. "Benar-benar luar biasa" ucapnya pelan.
"Aunty kira, kau akan menjadi seperti Kak Hendrik yang tidak berani menggendong anaknya" ucap Melia tertawa.
Semua orang mengingat jelas bagaimana dulu Papa Hendrik yang benar-benar takut hanya sekedar menggendong baby Varel dan baby Vandi. Cerita tersebut turun menurun hingga sekarang. Kenangan yang tidak bisa diulang kembali.
"Aku ingat bagaimana Kak Hendrik bercerita ketika pertama kali menggendong Varel yang berumur satu bulan lebih. Katanya benar-benar menegangkan." Richard pun menanggapi.
"Kak Hendrik lebih takut menggendong kalian dari pada perusahaannya bangkrut. Ah, pasti dia sangat bahagia ketika melihat cucu-cucunya" ucap Melia yang membuat Varel hanya tersenyum tipis.
"Nak, jangan lupa untuk mengajak kedua anakmu menghampiri Kakek mereka."
Varel mengangguk pelan. "Akan ku lakukan saat sudah diizinkan, Aunty."
"Ah, benar. Jangan dulu mengajak mereka ke tempat yang seperti itu. Karena, bayi pasti sangat sensitive."
"Mama juga tidak mengizinkan untuk membawa mereka."
"Benar, Kak Melinda sangat cerewet."
*
*
__ADS_1
*