Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Keinginan Vania


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Vandi"


ucap Vania saat panggilan video tersambung


"Iya ada apa kak?"


jawab Vandi


"Van kau dimana?"


"Di rumah, kenapa?"


"Yeontan dimana? Dia baik-baik saja kan? Udah makan dan minum?"


"Sayang nanya nya satu-satu dong gimana Vandi mau jawab"


ucap Varel menggigit punggung tangan Vania gemas


"Aw-sayang"


ucap Vania pelan


"Tolong Tuan dan Nona Fernandez jangan mengumbar kemesraan karena panggilan masih berlangsung dan di sana rumah sakit bukan hotel"


sindir Vandi saat panggilan video masih tersambung


"Sirik aja"


ketus Varel kesal


"Yeontan baik-baik saja kak Vania, Pak San memeliharanya dengan baik, setiap sore Varo dan Lista juga selalu bermain bersamanya apalagi sekarang Varo dan Lista punya hewan peliharaan"


ucap Vandi menjelaskan


"Hewan peliharaan?"


ulang Vania


"Iya tepat hari dimana kak Daniel kembali ke Amerika, pagi-pagi sekali dia ke rumah pamitan terus memberikan sepasang kelinci dan sepasang hamster buat Varo dan Lista"


jelas Vandi


"Oh ya? Benarkah? Apa mereka senang?"


"Iya tentu saja Varo dan Lista senang banget, oh iya kak Varel kapan pulang?"


tanya Vandi mengerutkan kening


"Entahlah kakak sudah bosan di rumah sakit, besok kakak tanya Hendra"


jawab Varel mendengus kesal


"Yasudah Vandi tutup dulu ya mau bikin pudding buat anak-anak"


"Van jangan membiarkan Varo dan Lista makan pudding banyak-banyak ya, terus nanti sebelum tidur cuci kaki dan tangan dan gosok gigi"


ucap Vania mengingatkan


"Siap bos, duh berasa jadi Ayah beneran nih"


celetuk Vandi terkekeh


"Belajar dulu dong, itu juga masih belum seberapa, belum lagi kamu ganti popoknya, mandiin dia waktu masih bayi itu susah, tengah malam tiba-tiba bangun gara-gara dia nangis, dan banyak lagi"


ucap Vania yang membuat Varel tersenyum menatapnya


"Heh kak Varel ngapain senyam-senyum hayo?"


tanya Vandi menyelidik


"Siapa yang senyum"


ketus Varel kesal.


*****


"Kau ingin punya anak berapa?"


tanya Varel lalu menatap sang istri yang sedang berbaring disampingnya


"Tiga saja, dua laki-laki dan satu perempuan"


ucap Vania tersenyum


"Mengapa laki-laki nya harus dua?"


"Karena mereka harus menjaga adik perempuannya dari buaya darat diluar sana seperti contohnya kak Bas"


ucap Vania terkekeh


"Kau tau tidak-"


"Tidak"


potong Vania menggeleng cepat


"Hei aku belum selesai bicara, berani sekali kau memotongnya"


ucap Varel mendengus kesal membuat Vania terkekeh

__ADS_1


"Aku ingin punya anak sepuluh, wah pasti seru"


ucap Varel tersenyum


"APAA??!!"


Sepuluh anak? Ya Tuhan banyak sekali? Apa dia tidak memikirkan bagaimana rasa sakitnya?-Vania


"Kenapa tidak sebelas saja nanti jadi tim kesebelasan sepak bola"


ucap Vania mendengus kesal


"Boleh juga, yasudah sebelas saja"


ucap Varel tersenyum


"Kalau begitu kau saja yang melahirkannya sayang"


"Memangnya bisa?"


tanya Varel dengan polosnya


Ya Tuhan ingin sekali aku mencongkel mata polosnya.-Vania


*


Hahaha aku berhasil membuatmu kesal, kau kira aku mau melihatmu kesakitan melahirkan sebelas orang anak untukku?-Varel


"Tidak bisa"


gumam Vania pelan


"Mengapa kau ingin punya anak banyak sayang?"


tanya Vania lalu menatap sang suami


"Karena rumah pasti akan ramai"


jawab Varel tersenyum membuat Vania lagi-lagi menatapnya intens


"Hahaha kau mengapa selalu menatapku? Tenanglah aku tidak akan tega melihatmu kesakitan melahirkan sebelas orang anak, aku siap punya anak berapapun, berapa yang Tuhan titipkan dan percayakan kepada kita"


ucap Varel yang membuat Vania tersenyum


"Kau ingin tiga ya, berarti kita harus bekerja keras"


"Tidak perlu bekerja keras sayang, Varo dan Lista sudah ada berarti kita perlu menambah satu saja"


ucap Vania tersenyum


"Varo dan Lista tidak masuk di daftar"


jawab Varel menggeleng cepat.


*****


panggil Vania saat melihat suaminya sudah memejamkan mata


"Hem"


"Apa kau sudah ingin tidur?"


"Hem"


"Oh iya baiklah"


"Kenapa?"


tanya Varel masih memejamkan matanya


"Tidak ada"


"Katakan"


"A-apa boleh aku berkuliah?"


tanya Vania hati-hati


"Kau ingin berkuliah dimana?"


"Di sini saja, aku ingin berkuliah di jurusan manajemen kuliner, apa boleh?"


tanya Vania menatap lekat sang suami


"Boleh saja jika kau berniat"


jawab Varel singkat


"Aku akan mengambil pertemuan tiga sampai empat kali saja setiap hari dalam seminggu, agar waktu ku bersama anak-anak tidak terbuang sia-sia"


ucap Vania bersemangat


"Baiklah aku akan mengurusnya"


ucap Varel singkat


"Tapi sayang untuk uang kuliah biarkan aku saja yang membayarnya, tabunganku cukup untuk biaya kuliahku"


"Tidak, aku akan membiayai semuanya"


"Tapi-"


ucapan Vania terhenti saat Varel tiba-tiba membungkam mulutnya dengan ciuman membuat Vania melotot karena saking kagetnya


"Tabunganmu simpanlah untukmu membeli rumah Ayah dan Ibu"

__ADS_1


ucap Varel beberapa saat kemudian setelah ia melepaskan ciuman


Ayah dan Ibu? Ya Tuhan saat dia menyebut orang tuaku dengan sebutan Ayah dan Ibu pun aku bahagia.-Vania


"Ba-baiklah"


ucap Vania mengalah


Lalu Varel pun mengambil ponselnya dan menelfon seseorang yang tak lain adalah sekretaris Dim, asisten sekaligus sekretaris pribadi yang bisa diandalkan


"Dim, urus berkas Vania agar bisa berkuliah di universitas terbaik kota ini, di jurusan manajemen kuliner, pertemuannya hanya tiga sampai empat kali setiap pagi dalam seminggu"


"Baik Tuan Muda, Nona Muda sudah bisa berkuliah minggu depan"


"Kerja bagus Dim"


Panggilan pun terputus


"Kau sudah bisa masuk minggu depan"


"Apa?"


Huh aku lupa dia bisa melakukan segalanya. Untuk mengurus kuliahku saja secepat itu.-Vania


"Awas saja jika kau berani melirik pria lain saat kau berkuliah, aku akan mencongkel matamu"


ucap Varel dingin membuat Vania bergidik ngeri


Huh untuk apa aku melirik pria lain jika pria di depanku saja sudah tampan? Eh aku tadi bicara apa sih? Sial.-Vania


"Jaga tubuhmu yang berharga itu, jika ada pria yang menyentuhnya aku akan mematahkan tangan mereka"


lagi-lagi Varel mengancam


"Iya sayang"


ucap Vania tersenyum


"Mengapa kau tersenyum?"


ketus Varel kesal


"Apa aku harus menangis?"


tanya Vania


"Huh kau mulai berani denganku"


ketus Varel menendang pelan kaki Vania


"Apa kau perlu supir atau pengawal?"


Hah? Untuk apa? Aku hanya berkuliah tuan muda bukan untuk kabur darimu.-Vania


"Tidak sayang itu tidak perlu, seakan aku anak presiden saja"


ucap Vania terkekeh


"Kau memang bukan anak presiden tapi kau istri orang yang sangat berpengaruh di kota ini, kau juga dikenal sebagai anak dari pemilik perusahaan ternama"


"Tidak sayang, aku tidak membutuhkannya"


"Jangan bilang kau ingin kabur dariku?"


tanya Varel menatap Vania tajam


"Tidak-tidak, untuk apa aku kabur?"


tanya Vania mengerutkan kening


"Oh iya aku lupa, kau kan sudah jatuh cinta terhadap suami tampan mu ini"


goda Varel tersenyum membuat Vania malu


"Hei mengapa wajahmu merah sekali?"


lagi-lagi Varel tertawa puas saat menggoda istrinya


"Sayang aku tidur dulu"


ucap Vania lalu membalikkan tubuhnya


"Hei kau berani memunggungi ku?"


"Tidak-tidak"


ucap Vania menggeleng cepat


"Tidurkan aku"


Varel pun mendekat dan membenamkan wajahnya di dada sang istri


"Tidurlah sayang"


ucap Vania pelan seraya mengelus pucuk kepala Varel


Tak butuh waktu lama untuk Varel tidur saat di pelukan sang istri, ia pun tenggelam di alam bawah sadarnya


"Selamat tidur Tuan tampan"


ucap Vania terkekeh pelan lalu memejamkan mata mengikuti sang suami ke alam mimpi.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2