Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Wajar Jatuh Cinta


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


“Kalian saling mengenal?” tanya Vania heran.


“Kak, ini Nike yang selalu Dewi ceritakan”


“Loh?! Nike ini sudah lama tinggal bersama Kak Vania”


“Astaga, dunia memang benar-benar sempit”


“Apa Paman boleh menggendongnya?”


“Tentu saja. Nike, tolong berikan ke Paman”


Nike pun memberikan baby Al kepada Paman Bram.


“Ini siapa?”


“Al, yang paling tua”


Vania pun meminta agar bisa menggendong baby El namun suaminya melarang.


“Wow, mereka benar-benar mirip”


“Bagaimana cara membedakannya?” tanya Bibi Tya tanpa sadar karena menatap kagum baby Al dan baby El secara bergantian.


“Ah, maaf”. Bibi Tya langsung meminta maaf ketika ia sadar bahwa pertanyaan tiba-tiba keluar dari mulutnya.


Vania tersenyum tipis ketika Bibi nya menatap kagum kedua bayinya.


Tuhan, semoga dengan kehadiran baby Al dan baby El membuat hubunganku dengan Bibi Tya akan semakin membaik.-Vania


Doa yang tulus ia ucapkan dalam hatinya. “Jika yang sering menangis berarti itu baby El”


“Sayang” tegur Vania yang membuat Varel terkekeh pelan.


“Apa hanya melihat dengan rambut?”


Paman Bram yang penasaran pun ikut bertanya karena melihat rambut baby Al begitu lebat dibandingkan baby El.


“Baby Al mempunyai mata yang sangat sipit dengan rambut yang begitu lebat sedangkan baby El mempunyai mata yang mirip dengan Mommy nya dengan rambut yang sedikit tipis dari abangnya”


“Al yang tertua?”. Lagi, Bibi Tya bertanya tanpa sadar.


“Iya, Bi. Alvino yang tertua” ucap Vania tersenyum tipis.


“Lalu, bagaimana memanggil mereka, Kak?” tanya Dewi antusias.

__ADS_1


Vania terkekeh pelan melihat sang adik yang sangat antusias mengenai bayi kembarnya.


“Varo ingin dipanggil Koko dan Lista ingin dipanggil Cici, jadi Kak Vania berencana ingin memanggil Al dengan sebutan Abang dan El dengan sebutan Adek”


“Bukan bontot?”


Tiba-tiba Varo berjalan mendekat dan berdiri disebelah Vania setelah mencium pipi Mommy nya.


“Hei, ucapkan salam dahulu kepada Kakek Bram dan Nenek Tya” ucap Vania yang membuat Varo langsung menurutinya.


Bibi Tya benar-benar senang ketika melihat anak Vania yang begitu sopan terhadapnya terlebih ketika ia menatap wajah baby Al dan baby El membuatnya ingin sekali menggendong cucunya namun ia sangat malu mengingat perlakuan buruknya terhadap Vania selama ini.


“Apa Varo tidak ingin bersalaman dengan Aunty?” celetuk Dewi saat Varo tidak menghiraukan keadaannya.


“Varo kira Aunty Dewi sudah bosan bersalaman dengan Varo” ucapnya polos yang membuat semua orang tertawa mendengarnya.


Varo memang sering bertemu Dewi apalagi ketika ia mengambil ekskul basket dengan lapangan basket yang berada di dekat sekolah Dewi hingga ketika anak SMU pulang sekolah, ia selalu bertemu dengan Aunty nya tersebut.


“Nenek tidak ingin menggendong bontot?” tanya Varo ketika melihat hanya baby Al yang digendong oleh Paman Bram.


“Eh?”


“Sayang, berikan El kepada Bibi. Biarkan Bibi menggendongnya” ucap Vania tersenyum tipis.


Lalu Varel pun memberikan baby El ke Bibi Tya dan disambut dengan bahagia oleh sang Bibi bahkan Dita pun ikut senang ketika menatap wajah bayi kembar itu dari dekat.


“Ayo abadikan momen ini”


“Nice. Jika ingin membayar, silahkan ke depan” ucap Billy yang membuat semuanya tertawa.


“Kak Billy..”


“Why?”


“Mommy mengajari untuk tidak mencari kesempatan dalam kesempitan”


“Astaga, anak Uncle Varel tidak bisa diajak bercanda.”


*****


Vania saat ini sedang menemani Varel untuk menyapa beberapa tamu dan tetangga tak lupa juga dengan anak-anak panti yang saat ini sedang bermain bersama.


Baru saja Varel mendorong kursi roda Vania untuk mendekati keluarga besarnya yang sedang berkumpul bersama keluarga Paman Bram juga, tiba-tiba tangisan baby Al terdengar membuat semua orang terkejut lalu Varel mengambil baby Al dalam pelukan Papa Lyno dan memberikannya kepada Vania. Untung saja Varel selalu siaga dengan membawa kain untuk menutupi istrinya saat istrinya sedang menyusui anak-anaknya.


Saat Vania sedang menyusui sang anak, tiba-tiba


“Vania?”


Ada suara yang memanggilnya membuat Vania seketika menoleh. Ia benar-benar terkejut ketika melihat orang yang dihadapannya adalah keluarga Paman Tono yang pernah baik kepadanya saat ia kabur ketika ulang tahun Vandi. *Eps.53 Menghilang.


“Astaga, Bibi Merry?! Paman Tono?!” ucap Vania terkejut.


Sungguh, sangat lama sejak kejadian itu Vania belum mengunjungi Paman Tono dan Bibi Merry, hanya beberapa kali berkirim pesan.

__ADS_1


“Bagaimana kabar, Bibi dan Paman? Maaf, Vania belum sempat berkunjung lagi”


“Bibi dan Paman baik, Nak. Bagaimana denganmu? Bibi mendengar kabar kau hamil dan ternyata sudah melahirkan saja. Bibi benar-benar terkejut karena waktu ternyata sangat singkat”


“Maaf, Bi. Vania tidak sempat memberitahu Bibi dan Paman.”


“Selamat ya, Nak. Semoga anak-anakmu menjadi anak yang pintar”


“Dan juga selamat atasmu yang sudah menjadi seorang Ibu” ucap Paman Tono menanggapi.


“Terima kasih banyak Bibi dan Paman. Ah, iya dimana Gara?” tanya Vania saat melihat Gara tidak bersama mereka.


“Anakmu yang tertua langsung mengajaknya bermain saat bertemu didepan pintu tadi” ucap Paman Tono terkekeh.


Vania pun dengan segera mengenalkan Paman Tono dan Bibi Merry kepada seluruh keluarga yang sedang berkumpul dan mereka semua menyambut hangat kedatangan keluarga Paman Tono tersebut.


Tak lupa juga Varel kembali mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Paman Tono kepada istrinya dulu dan atas kebaikan keluarga Paman Tono yang mengizinkan istrinya menginap karena Varel memang belum mengucapkan terima kasih secara langsung.


Tak lama kemudian, Varo membawa Gara mendatangi mereka


“Kak Vania” ucap Gara seraya mencium tangan Vania yang sudah ia anggap sebagai Kakak perempuannya.


“Hai, bagaimana dengan sekolahmu?”


“Tidak ada perubahan”


“Mom, Koko berkenalan dengannya dan ternyata Uncle Gara kenal dengan Kak Nike”


“Oh ya? Dimana kau bisa mengenali Nike?” tanya Vania antusias seraya menatap Gara untuk mendapatkan jawaban.


“Kak Nike pernah menjadi Kakak kelasku saat menengah pertama”


“Ah, begitu”


“Dan Mommy tau? Kak Billy sepertinya cemburu” bisik Varo yang membuat Gara tertawa.


“Billy? Apa yang terjadi?”


“Kak Billy menolak ketika Koko meminta tolong untuk memotret kami lalu pergi dengan wajah dinginnya”


“Apa anak itu jatuh cinta terhadap Nike?” gumam Varel pelan yang membuat Vania memukul pelan lengannya.


“Hei, mereka masih anak-anak.”


“No, Mommy. Anak-anak juga wajar jatuh cinta.”


Astaga, dia benar-benar anak Varel.-Vania


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2