
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Varel dengan segera masuk ke dalam rumah utama seraya berlari kesana kemari untuk mencari istrinya.
“Sayanggg” teriak Varel keras.
Dengan tergesa-gesa Varel berlari menuju lantai atas karena ia mengira istrinya sedang berada di kamar utama. Namun, saat baru saja sampai ternyata istrinya tidak ada dimana-mana sehingga membuatnya sangat khawatir.
“Sayangggg”. Lagi, teriakan Varel memenuhi rumah yang membuat Pak San segera menghampirinya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?” tanya Pak San dengan sopan.
Varel menghela nafas sebelum berbicara karena ia sedikit lelah berlari tadi. “Dimana istriku, Pak?”
“Nona Muda sedang berada di halaman belakang bersama Tuan Kecil Al dan Tuan Kecil El” ucap Pak San memberitahu membuat Varel segera kembali berlari menuju halaman belakang dimana istrinya sedang berada.
Halaman Belakang
Varel menatap Vania yang sedang menikmati pemandangan seraya sesekali menaatap kedua anaknya yang tertidur di kereta membuat Varel tersenyum seraya memeluk Vania dari belakang membuat sang istri terkejut.
“Hei, mandilah” ucap Vania kesal karena ia tau Varel pasti bahkan belum berganti pakaian.
Varel seraya mendekati istrinya dan berjongkok dihadapan sang istri yang sedang duduk di kursi halaman belakang.
“Ada apa? Kenapa kau kesal?” tanya Varel pelan yang membuat Vania menghela nafas berat.
“Kau baru saja pulang dari kantor, Rel. Bahkan kau belum berganti pakaian”
Tentu saja hal itu membuat Varel terkejut. “Hei, Sayang..”
“Dan bukannya kau bilang akan pulang saat makan malam?”
“Tidak, aku pulang cepat karena kau tidak membalas pesanku. Sayang, ayolah ada apa denganmu?” rengek Varel seraya memeluk istrinya erat.
“Mandilah” ucap Vania melepaskan pelukannya.
Varel hanya bisa menuruti ucapan sang istri dengan helaan nafas berat.
*****
Sampai malam pun tiba, Vania masih enggan berbicara dengan suaminya membuat Varel benar-benar tidak tau harus melakukan apa lagi karena istrinya sungguh menyeramkan ketika marah.
“Anak itu, apa yang ia katakan pada Vania?” ketus Varel kesal mengingat adik sepupunya.
__ADS_1
Saat sedang berpikir keras, pintu kamar diketuk oleh Pak San.
“Makan malam sudah siap, Tuan Muda.”
Dengan segera, Varel turun ke lantai bawah menuju meja makan yang ternyata semuanya sudah berkumpul termasuk Lucky dan Sekretaris Dim.
“Hei, apa kau hanya menumpang makan di rumahku?” gerutu Varel dengan kesalnya karena ia tidak tau Lucky sudah berada di rumahnya bahkan di meja makan.
“Jangan begitu dengan tamu” ketus Mama Melinda menatap Varel dengan tajam.
“Loh? Anak-anak dimana, Sayang?” tanya Varel kepada Vania yang baru saja ikut bergabung karena mengambil sup dari dapur dahulu.
“Mereka sudah makan dan sedang belajar” jawab Vania singkat.
Bryan yang mengetahui bahwa Vania sedang kesal pun hanya tertawa.
“Apa yang lucu?” tanya Lucky heran.
“Kak, ingat tidak dengan wanita tawaran spesial tadi?” tanya Bryan kepada Lucky yang membuat Varel menatapnya kesal karena memulai pembahasan yang membuat istrinya kesal hingga sekarang.
“Apa Kakak ipar mu sedang cemburu?” tanya Lucky santai yang membuat Vania seketika menggeleng.
“Untuk apa cemburu dengan suami bodoh seperti Kak Varel? Cih, Kak Vania memang sangat kasihan harus berakhir dengan pria emosional sepertinya.”
Plak
Varel memukul kepala Bryan seraya menatapnya dengan tatapan tajam.
“Lagian, mulutnya benar-benar tidak bisa diam. Mengatakan hal yang tidak-tidak” ucap Varel seraya menatap Bryan dengan kesal.
“Loh? Salah ku dimana? Kak Lucky juga melihatnya” ucap Bryan tak terima yang membuat Lucky juga mengangguk.
“Kau menceritakannya dengan berlebihan, kan?”
“Oh itu, aku hanya bercanda. Silahkan saja tanyakan Mama” ucap Bryan santai.
Mama Melinda tertawa. “Oh, jadi itu alasan mu tiba-tiba pulang sore dan meninggalkan Lucky di kantor?”
Varel hanya tertawa canggung.
“Bucin tingkat dewa.”
*****
Hari berganti hari dan tak terasa sekarang tepat satu bulan umur baby kembar. Kehidupan Vania benar-benar berubah setelah kedua anaknya lahir, ia akan terjaga dalam tidurnya, kadang suka telat untuk makan, dan mulai berani memandikan kedua anaknya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Varel juga masih tetap mengingat tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah sehingga ia akan tetap membantu Vania mengurus anak-anaknya.
Saat ini Varel mengadakan pesta kecil-kecilan dengan mengundang keluarga Paman Bram dan keluarga Paman Tono karena mengingat bayi mereka sudah sampai umur satu bulan.
“Ah, rasanya baru kemarin mereka keluar. Bagaimana bisa sekarang sudah berumur satu bulan?” gumam Varo yang duduk di pojok ruangan.
__ADS_1
Varo memang anak yang tidak terlalu suka keramaian sehingga ia lebih memilih untuk menyendiri di sudut ruangan atau akan lengket bersama Vania. Karena ia melihat Mommy nya yang kesana kemari, akhirnya Varo memilih untuk menyendiri.
“Hei, kau sendiri?” tanya Bryan ketika ia berjalan mendekat.
Varo menghela nafas. “Apa Uncle Bry terganggu penglihatannya?”
“Astaga, bocah ini. Baiklah, kenapa kau sendirian disini?”
“Aku tidak suka keramaian” jawab Varo singkat.
“Bukannya itu hal yang seru? Kita akan bertemu banyak orang dan mengobrol bersama” ucap Bryan mengerutkan kening.
“Itu melelahkan.”
*****
Vania mengingat hadiah yang ia berikan kepada suaminya dan dengan segera ia mengecek tanggal pertandingan yang ternyata sepuluh hari lagi. Dirinya dan Varel memang belum membahas tentang keberangkatan mereka ke luar negeri hingga membuatnya sedikit panik.
“Ada apa, Mom?” tanya Lista yang melihat raut wajah bingung Mommy nya.
Vania tersenyum tipis. “Ah, tidak apa-apa. Bisa tolong ambilkan ponsel Mommy di dalam tas?”
Dengan segera Lista berdiri dan mengambil ponsel Vania lalu memberikannya kepada sang Mommy.
“Terima kasih, Cici.”
Vania pun mulai menelpon dokter Ryan. Sebenarnya, Vania tidak menyimpan kontak lelaki lain namun karena ia harus bertanya seputar bayi dengan dokter Ryan, jadilah ia mengambil nomor dokter tersebut dari riwayat pesannya.
“Halo, selamat pagi, dokter Ryan” ucap Vania tersenyum.
Dokter Ryan pun membuka suara. “Selamat pagi, Nona Muda. Bagaimana kabar bayi nya? Apa ada yang ingin ditanyakan?”
Dokter Ryan memang tau jika Vania menelponnya berarti akan membahas tentang perkembangan kedua anaknya. Jika bukan itu? Ingin membahas apa lagi? Bisa-bisa ia dibunuh oleh Tuan Muda.
“Dok, apa Al dan El sudah boleh menaiki pesawat?” tanya Vania hati-hati
Dokter Ryan segera memeriksa kalender yang ada di meja kerjanya. “Ah, hari ini sudah tepat satu bulan. Jika boleh tau, ingin bepergian kapan, Nona Muda?”
“Mungkin beberapa hari ke depan. Sepertinya memerlukan satu sampai dua hari penuh ke Spanyol” ucap Vania.
“Sebenarnya, sudah bisa dianggap stabil dengan usia satu bulan dan berat badan sudah mencapai 4kg. Apa Nona Muda mempunyai waktu luang besok pagi? Jika ada, bisa tolong ajak kedua bayi untuk kontrol karena kita akan melakukan pemeriksaan sebelum mereka diajak bepergian terlebih memakan waktu hingga dua hari.”
“Besok pagi? Baiklah, besok saya akan membawa mereka. Terima kasih banyak, dok”
“Terima kasih kembali, Nona Muda”
Panggilan pun terputus.
*
__ADS_1
*
*