
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Astaga!" Melia benar-benar terkejut ketika melihat Varel dan keluarganya berada di belakang Bryan dan Billy.
"Hei, mengapa kalian tidak mengabari?" tanya Melia kesal tak lupa untuk memeluk Vania.
"Kejutan kecil, Aunty" ucap Varel tertawa.
"Ayo masuk, dan Bry panggilkan Daddy mu."
Melia pun segera membawa Varel dan keluarganya ke ruang keluarga.
"Sebentar, Aunty meminta pelayan untuk membersihkan kamar untuk kalian. Van, bawa anak-anak mu ke kamar Bryan"
Billy pun segera mengambil alih untuk membawa Vania menuju kamar Bryan. "Aunty, ini kamar Bry" ucap Billy ketika mereka sudah sampai di depan kamar Bryan.
"Terima kasih banyak, Billy."
"Yup, aku akan mandi. Bye."
Vania membuka kamar Bryan yang cukup membuatnya terkesan. Kamar anak lelaki yang sangat bersih dengan berbagai macam miniature yang tertata rapi di lemari dan ada cukup banyak poster film dan cartoon menghiasi dinding, tak lupa juga dengan beberapa piala kemenangan yang sengaja ia pajang di sebuah meja besar.
"Wow, dia perenang yang hebat" ucap Vania ketika melihat banyak piala dan mendali emas yang Bryan dapatkan dari lomba berenang.
Vania pun segera meletakkan kasur lipat kedua bayi nya di atas tempat tidur Bryan dan membaringkan baby Al dan El diatasnya.
Vania memang tidak ingin kedua anaknya memakai popok karena dokter Ryan pun menyarankan penggunaan popok hanya bisa dilakukan diatas umur 6 bulan karena mengingat kulit bayi yang masih sangat halus dan rentan.
"Apa kalian lelah karena penerbangan?" tanya Vania terkekeh pelan ketika melihat kedua anaknya yang benar-benar tertidur pulas.
Saat ia sedang membereskan kereta bayi dengan beberapa peralatan bayi yang sedikit berantakan, tiba-tiba tangan kekar memeluknya dari belakang membuat Vania terkejut.
"Astaga, Sayang!"
Varel terkekeh pelan. "Ah, aku lelah sekali" ucapnya dengan manja.
"Tidurlah di dekat anak-anak. Koko dan Cici dimana?"
Varel segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur milik Bryan. "Kau tau anak lelaki mu akan pergi kemana. Kalau yang perempuan sudah pasti akan mengganggu Grandma nya" ucap Varel tersenyum.
"Astaga, apa mereka tidak lelah? Koko pasti akan menghabiskan waktunya di perpustakaan Bryan" ucap Vania pelan.
__ADS_1
Vania memang tidak melarang Varo untuk duduk sendirian menghabiskan waktunya hanya membaca buku dan belajar namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia juga sedikit merasa kasihan ketika anak lelaki seumurannya yang masih bermain-main namun ia memilih untuk belajar.
Hal-hal seperti liburan sementara inilah yang Vania inginkan agar anaknya bisa melupakan keinginan belajarnya sebentar saja namun ternyata sangat susah karena itulah keinginan Varo.
Tok tok tok
Saat Vania sedang memperbaiki posisi tidur Varel, mendengar ada suara ketukan dari luar sehingga ia segera membuka pintu.
"Ah, Bry. Buka saja, pintunya tidak terkunci"
Bryan terkekeh. "Aku takut jika tiba-tiba melihat Kak Vania dan Kak Varel berciuman."
"Hei, apa yang kau katakan?"
"Aku bercanda. Oh ya, Mommy mengatakan kamar tamu sudah siap tapi karena para bayi sudah tidur silahkan saja gunakan kasur ku. Jika terlalu sesak, tendang saja Kak Varel agar tidur di bawah" ucap Bryan yang membuat Vania tertawa.
"Kak Vania akan turun menemui Aunty" ucap Vania tersenyum.
"No, Mommy mengatakan untuk beristirahat saja."
"Tenang saja, Kak Vania tidak lelah."
Bryan menghela nafas berat. "Tidur saja jika ada kesempatan, Kak. Aku bisa menendang Kak Varel agar kasurnya tidak sesak."
"Tidak perlu, kasurnya muat kok. Kau lihat, kakak mu sudah nyenyak" ucap Vania disela-sela gelak tawanya.
Varel memang tidak akan merasakan apapun ketika ia sudah benar-benar tertidur nyenyak bahkan sepertinya jika ada kebakaran disekitarnya, ia tidak akan bisa bangun. Hanya Vania yang bisa membangunkan mayat hidup itu.
*****
Seperti yang disarankan Bryan, akhirnya Vania juga membaringkan tubuhnya disebelah kedua anak dan suaminya yang sudah tertidur pulas.
Namun, tentu saja tidurnya tidak berlangsung lama karena tiba-tiba baby El menangis hingga membuat Vania kembali bangun dan menyusuinya.
"Kenapa, Sayang? Adek mau mimi?" Vania memulai obrolannya dengan sang baby.
"Adek, kita sedang ada di rumah Grandma. Sebentar lagi, Adek bertemu dengan baby Bylan. Senang tidak?"
Vania tertawa ketika melihat mata baby El yang menatapnya seolah sadar bahwa dirinya sedang diajak berbicara.
"Anak Mommy yang tampan, sehat selalu, Sayang."
Tak lama baby El pun kembali tertidur hingga membuat Vania kembali membaringkannya diatas kasur bayi.
*****
Malam hari pun tiba, setelah bersih-bersih dan menyusun pakaian keluarganya, Vania keluar dari kamar tamu menghampiri Melia yang sedang sibuk di dapur.
__ADS_1
"Apa Vania bisa membantu, Aunty?" tanya Vania tersenyum tipis.
"Tidak, jangan membantu apapun. Aunty hanya sedang membuat camilan untuk anak-anak mu."
"Vania bisa membantu."
"Hei, kau itu tamu. Jangan membantah dan kembali ke ruang keluarga."
Astaga, Aunty benar-benar adik kandung Mama.-Vania.
Akhirnya, mau tidak mau Vania kembali ke ruang keluarga dimana semuanya sudah berkumpul bersama. Mereka sedang menunggu kedatangan baby Bylan karena rumah Cherry tidak terlalu jauh dari rumah Melia dan karena suaminya baru saja pulang bekerja maka mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari.
Tentu saja suasana ruang keluarga tidak akan damai ketika semuanya berkumpul. Dimana Bryan dan Billy sedang bermain PlayStation bersama dengan Varo yang malah membaca buku di sofa yang tak jauh darinya sedangkan Lista sedang melihat-lihat album foto yang ia pinjam dari Richard.
Varel dan Richard pun sedang duduk santai di teras rumah seraya menikmati kopi bersama dengan baby Al dan baby El yang diajak untuk bersantai bersama.
Tak lama kemudian, mobil Cherry pun tiba di halaman rumah.
"Apa itu mereka?" tanya Varel yang membuat Richard mengangguk.
"Wow, ini Varel?". Cherry berjalan mendekat seraya menggendong bayi nya yang masih sangat kecil dengan diikuti suami yang membawa beberapa tas.
"Astaga, kau semakin membesar."
Plak
"Kau ini. Apa kau ingat dulu kau jatuh cinta pada ku?" tanya Cherry tertawa.
Varel mendengus kesal. "Hei, berhenti bicara tentang masa lalu. Aku tidak tau mengapa aku sangat genit denganmu yang seperti dora."
Plak
Lagi. Cherry kembali memukul lengan Varel dengan cukup keras.
"Astaga, kalian berdua. Masuklah segera" ucap Richard melerai.
Cherry tertawa lalu matanya tertuju pada kedua bayi kembar yang sedang tidur dengan nyenyak. "Astaga, Daddy tolong pegang Bylan" ucap Cherry seraya memberikan Bylan pada Richard.
"Wow, mereka benar-benar tampan. Sayang, bagaimana bisa kau kalah dengan Varel? Tanyakan padanya bagaimana cara memproduksi anak kembar" ucap Cherry dengan santainya membuat Richard hanya bisa menghela nafas berat.
Anak perempuannya tersebut memang terlahir dengan mulut yang ceplas-ceplos. Ah tidak, jangan lupakan Bryan, kedua anaknya memang seperti itu sehingga menurun ke cucunya.
*
*
*
__ADS_1