Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Rumah Keluarga Richard


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Astaga, ada setan!" teriak Varel terkejut.


Bryan dan Billy menatap Varel dengan malas.


"Uncle, apa wajahku sangat menyeramkan?" tanya Billy mengerutkan keningnya heran.


Plak plak


Varel segera memukul kepala adik dan keponakannya dengan cukup keras yang membuat Vania terkejut.


"Sayang!"


"Bagaimana bisa kalian sampai disini juga?" tanya Varel dingin yang membuat Bryan dan Billy bergidik ngeri.


"Membeli tiket pertandingan, membeli tiket pesawat, memesan hotel, dan selesai" jawab Bryan santai walaupun dirinya sendiri sedikit takut ketika menjawab pertanyaan Varel terlebih ketika melihat Varel yang menatap mereka dengan tajam.


Varel menghela nafas berat. "Hanya berdua?"


Kali ini Billy mengangguk pelan.


"Bagaimana Uncle menyetujuinya?"


"Aku mengatakan ingin bertemu Kak Varel dan Daddy segera menyetujuinya. Tenang saja, aku pernah ke sini saat umur 5 tahun."


Plak


Varel kembali memukul kepala Bryan namun dengan pelan seraya menghela nafas berat.


Sungguh, Varel juga tidak mengerti jalan pikiran keduanya. Bagaimana bisa mereka dengan santainya pergi ke negara orang hanya untuk bertemu dengan Varel?


"Bagaimana jika kalian diculik? Astaga, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran kalian" ucap Varel pelan.


Billy mengangkat tangan seolah ingin menjawab pertanyaan Varel. "Uncle Varel tidak akan tinggal diam jika aku dan Bry diculik" jawabnya singkat.


Vania hanya tersenyum ketika melihat Varel yang sudah emosi menginterogasi adik dan keponakannya. Begitulah Varel, walaupun mungkin ucapan bahkan perlakuannya kasar namun itu menandakan bahwa ia sangat khawatir dan menyayangi adik dan keponakannya tersebut.


"Sudahlah. Cepat pesan makanan kalian" ucap Varel yang membuat kedua bocah itu benar-benar senang.


"Yes! Akhirnya uang jajan hari ini tidak berkurang" gumam Billy pelan lalu memesan makanannya diikuti oleh Bryan.


"Ah iya, aku bahkan lupa untuk menyapa Kakak ipar. Kak, bagaimana kabarnya?"


Vania terkekeh pelan. "Baik. Bagaimana dengan kalian?"

__ADS_1


"Seperti yang Kak Vania lihat, semakin tampan" jawab Bryan dengan santainya.


"Jadi, bagaimana Kak? Ingin berkunjung ke rumah?"


Varel terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Bryan. "Apa maksud mu?"


"Kak Vania sudah tau jika aku dan Billy ada disini. Aku mengajaknya untuk berkunjung ke rumah" jawab Bryan santai.


"Rumah Uncle Bry?" tanya Varo mengerutkan kening.


"Uncle mempunyai miniature luffy yang sangat besar. Kau ingin lihat?"


"Wow, keren. Apa ada perpustakaan disana?"


"Hei, mengapa kau malah bertanya tentang perpustakaan?" tanya Bryan mengerutkan keningnya.


"Hanya ingin membaca beberapa buku yang menarik."


"Astaga, anak ini benar-benar."


*****


Seperti yang diusulkan Bryan, akhirnya setelah dua hari yang lalu mereka sudah puas menonton pertandingan sepakbola, hari ini semuanya sudah berada di bandar udara untuk terbang ke Jerman.


Setelah pertemuan mereka di restoran, Varel sengaja menyewa satu kamar lagi khusus untuk Bryan dan Billy agar ia juga bisa memantau adik dan keponakannya tersebut.


"Harusnya sejak kita disini langsung mencari Uncle Varel" ucap Billy saat mereka sedang menunggu jadwal keberangkatan.


"Agar uang jajan ku tidak berkurang."


"Astaga."


Vania hanya tertawa mendengarnya. Ia juga merindukan kedua bocah ini, cukup lama sudah tidak bertemu dengan Billy kecuali Bryan yang baru dua minggu yang lalu tidak bertemu karena Bryan memang sempat menetap lama di Indonesia.


"Kau tidak memberitahukan kepada Grandma, kan?" tanya Billy menyelidik.


Bryan tersenyum tipis. "Santai, aku juga ingin memberikan kejutan pada mereka."


Karena kedatangan Varel sekeluarga yang tiba-tiba, kedua bocah tersebut memang merencanakan untuk tidak memberitahu semua orang yang ada dirumah. Jadi mereka hanya berpikir bahwa Bryan dan Billy saja yang pulang.


"Apa di rumah Uncle Bry ada temannya Yeontan?" tanya Lista mengerutkan keningnya.


"Tidak ada, yang ada temannya Al dan El" jawab Bryan.


"Ah iya, siapa yang menjuluki Bylan menjadi Beo?" tanya Varel heran ketika mendengar nama adik Billy dari Bylan menjadi Beo.


"Aku, dia sangat ribut sekali" ucap Billy mengeluh.


"Hei, kau belum mendengar saja Al dan El nangis. Aku bahkan berkali-kali mengelus dada saking nyaringnya tangis mereka" ucap Bryan.


Flashback on

__ADS_1


Saat itu Bryan baru saja pulang dari pesta pernikahan Clara dan Reza sehingga ia sungguh kelelahan. Baru saja rasanya ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk, tidurnya terganggu ketika mendengar baby Al dan baby El menangis bersamaan.


"Astaga, ada apa dengan mereka?" gumam Bryan namun matanya kembali tertutup karena sangat lelah.


Tangisan tersebut tidak berhenti yang membuat Bryan akhirnya mengalah untuk melihat keadaan mereka.


Betapa terkejutnya Bryan ketika melihat baby Al yang menangis hingga wajahnya memerah karena pinggir matanya terluka akibat kuku baby El lalu kemungkinan besar baby El ikut menangis karena sensitive terhadap suara tangisan baby Al.


Bryan yang tidak menemukan Vania dan Varel pun benar-benar panik hingga memberanikan diri untuk menggendong baby Al yang masih menangis keras.


"Astaga, ayo jangan menangis. Hei, apa kau menangis karena wajah tampan mu terluka? Ayolah, Kak Hendra akan mengobatinya dan kau akan kembali menjadi tampan lagi" ucap Bryan dengan panik.


Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka pintu membuat Bryan bisa menghela nafas lega namun saat melihat Varo yang berjalan mendekat, Bryan kembali panik.


"Hei, dimana Mommy dan Daddy mu?" tanya Bryan seraya sesekali menepuk-nepuk pantat baby Al.


Varo menggeleng pelan seolah mengatakan bahwa dirinya juga tidak mengetahui keberadaan kedua orang tuanya. "Aku akan mencoba untuk menggendong El."


"Hei, jangan. Kau tidak bisa menggendongnya" ucap Bryan panik.


Varo mendengus kesal lalu dengan hati-hati ia merengkuh baby El dalam pelukannya membuat sang bayi seketika terdiam. "Sepertinya Al memang membenci Uncle."


Flashback off


Billy tertawa ketika mendengar cerita Bryan yang seolah-olah ia sedang berada di medan perang.


"Hei, jangan mengingat kesalahan ku" ketus Varel kesal karena memang itu adalah kesalahannya.


Saat itu Vania memintanya untuk memasang sarung tangan baby El, ia tidak sempat memasangnya karena Lista tiba-tiba merengek untuk dibuatkan camilan. Varel yang hendak memasang sarung tangan pun dikejutkan oleh telepon Sekretaris Dim yang memberikan beberapa berkas untuk dilihat sehingga ia meninggalkan kedua bayi nya.


"Untung saja Kak Vania masih sabar menghadapi suami seperti ini" gumam Bryan yang terdengar jelas di telinga Varel.


"Heh."


"Hahahaha."


*****


Saat ini, semua orang sudah berada di dalam taksi yang akan membawa mereka menuju rumah keluarga Richard.


Varo dan Lista pun sangat senang karena ini pertama kalinya mereka berkunjung ke rumah Uncle Bryan apalagi mereka akan melihat baby Bylan yang baru saja beberapa hari yang lalu keluar.


Tak lama, taksi pun sampai di pekarangan rumah keluarga Richard membuat Varel dan keluarganya segera turun bersama dengan Bryan dan Billy.


"Hello, i am back!" teriak keduanya saat membuka pintu rumah.


"Astaga!"


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2