Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Honeymoon 12# (Sedikit Kecewa)


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Tuan Muda"


ucap Dika sopan saat sudah bertemu dengan Varel


"Dika ada apa? Dimana Vania?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Nona Muda memerintah kan saya untuk menyusul Tuan Muda dan Nona Muda sedang menunggu di dalam mobil bersama Ziva Tuan"


ucap Dika dengan sopan


"Apa dia lama sekali menungguku?"


gumam Varel pelan


"Apa ada kejadian tak terduga Tuan Muda?"


tanya Dika


"Tidak, hanya saya tadi aku sempat memberikan peringatan makanya lama"


jawab Varel acuh lalu berjalan diikuti Dika yang menatapnya heran seolah bertanya apa maksud dari ucapan Tuan nya.


*****


Di Dalam Mobil


"Sayang apa kau menunggu lama?"


tanya Varel saat mobil baru saja meninggalkan area restoran


"Tidak"


jawab Vania tersenyum kecil


"Mengapa wajahmu sangat pucat?"


tanya Varel mengerutkan kening


"Tidak apa-apa sayang. Dika bisakah kau percepat laju mobil ini agar cepat sampai di hotel?"


tanya Vania pelan seraya menatap Dika yang duduk di kursi kemudi


Apa dia marah karena aku membuatnya menunggu lama?-Varel


"Kau kenapa ingin cepat sampai di hotel? Apa kau marah?"


tanya Varel pelan seraya mengelus pucuk kepala sang istri


"Tidak, hanya saja aku sedikit mual-huekkk huekkk"


Vania pun berusaha mengeluarkan muntahannya namun tidak ada yang keluar hanya mual yang dirasakan


"Hei sayang kita ke rumah sakit ya"


pinta Varel seraya mengelus punggung istrinya dengan wajah khawatir


"Tidak perlu sayang aku hanya-huekkk huekkk"


Lagi-lagi Vania merasakan bahwa ada sesuatu yang hendak keluar dari mulutnya


"Kita kembali ke hotel saja ya aku hanya ingin beristirahat"


ucap Vania tersenyum lemah dengan wajah pucat nya


"Berbaringlah"


ucap Varel seraya menepuk pangkuannya dengan maksud agar Vania berbaring dan istirahat di pangkuannya


"Baiklah"


jawab Vania pelan seraya membaringkan kepalanya dipangkuan sang suami


"Apa masih sakit?"


tanya Varel seraya mengelus pucuk kepala istrinya


"Sekarang aku sudah tidak merasa mual lagi"


jawab Vania lemah

__ADS_1


"Jika kau merasakan mual dan tidak bisa menahannya lagi, muntah kan saja di kaki ku"


Lagi-lagi Varel memberikan perhatian dan kekhawatirannya membuat hati Vania semakin bimbang akan perasaan Varel terhadapnya


Apa kau mencintaiku?-Vania


Ingin rasanya Vania mengeluarkan ucapan itu namun lagi-lagi ia hanya memendamnya


"Apa kau tidak jijik dengan muntahan ku?"


tanya Vania ragu


"Tentu saja tidak, untuk apa aku jijik dengan istriku sendiri?"


tanya Varel balik


Lagi dan lagi kau membuat hatiku bimbang Rel-Vania


"Kau yakin sudah tidak merasa sakit?"


tanya Varel lagi


"Tidak sayang"


jawab Vania tersenyum lemah


Mengapa aku seperti orang hamil yang merasa mual? Apa aku harus memeriksanya malam ini? Tapi aku tidak ingin memberikan harapan kepada Varel, bagaimana caraku membeli test pack tanpa sepengetahuannya?


Aku punya ide, Ziva kau sangat kuharap kan malam ini dan semoga saja kau bisa bekerja sama denganku.-Vania


Vania terlalu larut dengan pikirannya sendiri hingga tiba-tiba ponsel Varel berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk dari siap lagi jika bukan dari sang kekasih Varel yang berada di Indonesia tempat yang jauh di sana, sekretaris Dim tentunya


"Ada apa Dim?"


"Kak, aku sudah membuat laporan bulanan yang harus kau periksa dan juga daftar nama serta profil calon wakil sekretaris di perusahaan kita"


ucap sekretaris Dim diseberang sana


"Kirimkan ke e-mail ku saja, setelah sampai hotel aku akan memeriksanya"


ucap Varel yang membuat Vania membulatkan mata


Dunia berpihak kepadaku malam ini, sepertinya Varel akan bekerja ketika sampai hotel nanti dan aku bisa menjalankan rencana ku.-Vania


"Kak, ada satu orang perempuan yang mendaftar menjadi wakil sekretaris, dia adalah sahabat masa kecil kak Vania"


tanya Varel acuh


"Anna kak"


Anna? Sepertinya aku pernah mendengar namanya, jangan bilang itu adalah Anna mantan kekasih Dimas?-Varel


"Aku memilihnya sebagai wakil sekretaris di perusahaan"


ucap Varel yang sepertinya membuat sekretaris Dim diseberang sana terkejut bukan main


"Apa kau tidak ingin melihat profilnya dahulu kak?"


tanya sekretaris Dim berusaha menutupi keterkejutannya


"Tidak, aku mengandalkan mu dan aku percaya"


jawab Varel lalu memutuskan panggilan.


*****


Sesampainya di hotel, Dika dan Ziva mengantarkan Vania dan Varel hingga ke depan kamar hotel dengan Vania yang masih memikirkan cara untuk menjalankan rencananya dan menemui Ziva


"Selamat beristirahat Tuan Muda dan Nona Muda"


ucap Dika dan Ziva secara bersamaan


"Dik ikut aku karena kita akan bekerja lembur malam ini dan sayang aku akan bekerja sebentar bersama Dika di balkon kamar kita"


ucap Varel seraya mengelus pucuk kepala Vania


"Ehem sayang bisakah aku berbicara sebentar bersama Ziva?"


tanya Vania ragu


"Kau ingin membicarakan apa? Bukankah kau harus beristirahat?"


tanya Varel dengan wajah khawatirnya


"Tidak, aku tidak merasa mual lagi dan aku janji hanya sebentar setelah itu aku akan kembali"


ucap Vania menggeleng cepat seraya mengangkat jari kelingkingnya membuat Varel merasa gemas karenanya

__ADS_1


"Jika kau lama dan mengingkari janjimu, kau tau kan apa hukumannya?"


ucap Varel pelan


"Baiklah Tuan Muda"


jawab Vania tersenyum kecil lalu pamit menuju kamar Ziva diikuti sang pemilik kamar.


*****


"A-apa?"


ucap Ziva terkejut saat Vania mengutarakan maksudnya


"Tolonglah Ziva, hanya kau yang bisa membantuku dan pastikan agar Varel tak mengetahuinya"


ucap Vania memohon


"Nona Muda tidak seharusnya Nona Muda memohon seperti ini dan saya bukannya tidak ingin melakukannya namun saya tidak bisa menjamin jika Tuan Muda tidak akan mengetahuinya"


ucap Ziva menunduk sopan


"Aku hanya tidak ingin Varel kecewa akan hasilnya jadi aku ingin memeriksanya diam-diam"


ucap Vania pelan


"Tapi apakah sebaiknya kita ke rumah sakit saja Nona Muda untuk memeriksanya? Karena di rumah sakit tentu hasilnya akan akurat"


ucap Ziva memberi saran


"Aku tidak ingin memberi harapan besar kepada Varel. Jadi aku mohon padamu Ziva"


pinta Vania yang membuat Ziva akhirnya mau tak mau menurutinya


"Baiklah Nona Muda, saya akan turun membeli test pack"


ucap Ziva lalu pamit pergi meninggalkan Vania yang sedang bimbang


Beberapa menit kemudian baru saja Ziva sampai ke kamar dengan satu kantong kresek ditangannya yang langsung disambar oleh sang majikan dengan sangat cepat


"Terima kasih banyak"


ucap Vania lalu berlari menuju kamar mandi yang membuat Ziva terkekeh pelan melihat tingkah majikannya


Semoga sesuai harapan anda Nona Muda.-Ziva


*****


Di Dalam Toilet


Vania sedang mondar-mandir seperti terlihat sangat gelisah dengan test pack yang berada ditangannya hingga akhirnya ia mencoba untuk melihat hasilnya


Apa ini? Mengapa sangat buram sekali? Ini terlihat seperti hanya satu garis saja berarti aku tidak sedang hamil disaat aku sangat mengharapkannya.-Vania


Dengan perasaan kecewa yang tak bisa ditutupi raut wajahnya Vania keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai


Seakan tau hasilnya Ziva hanya terdiam dan menatap sang majikan dengan tatapan sendu


"Aku akan kembali ke kamarku. Istirahatlah Ziva"


ucap Vania yang berusaha menampilkan senyumnya


"Saya akan mengantar Nona Muda"


"Tidak perlu lagian ini sudah larut malam. Tidurlah"


"Tidak Nona Muda, ini tugas saya sebagai pengawal anda"


ucap Ziva yang membuat Vania mau tak mau menurutinya


Saya juga tidak ingin anda melarikan diri setelah melihat hasil pemeriksaan anda Nona Muda.-Ziva


"Selamat beristirahat Nona Muda"


ucap Ziva pelan setelah mengantar Vania hingga ke depan pintu kamar mereka.


*


*


*


Maaf banget jarang update karena author lagi padat-padatnya kuliah..


Makasih banyak readers yang setia menunggu up Varel dan Vania😘..


*

__ADS_1


*


__ADS_2