Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Bersyukur


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


“Astaga, anak-anak ini” ucap Varel saat ia baru saja masuk membawakan nampan yang berisi buah-buahan dan jus buah untuk istrinya.


“Terima kasih, Sayang.”


“Berani sekali mereka bergosip didepan anak-anakku.”


“Hei, bukankah memang benar?”


“Setelah Uncle Varel, Uncle Dimas yang wajahnya seperti mayat hidup juga akan masuk.”


“Jangan lupakan Kak Daniel yang normal dan Kak Bas titisan dewa malam.”


“Bagaimana dengan Uncle Hendra yang o’on?” tanya Billy menatap Bryan dengan serius.


“Baiklah, masukkan saja. Mereka memang seperti alien dan Kak Varel ketua alien nya.”


“Heh.”


Seketika, ruangan dipenuhi gelak tawa Mama Melinda dan Vania ketika mendengar Bryan dan Billy yang sudah merencanakan hal yang sangat lucu menurut mereka.


“Apa hanya Uncle Daniel yang normal?” tanya Billy heran.


Bryan mengerutkan kening seolah berpikir keras. “Yup, siapa lagi? Kak Varel? Tidak, dia kan mempunyai gangguan emosional.”


“Ah, bagaimana dengan Uncle Vandi?”


“Dia akan menjadi ketua kita, ketua Aliansi Pembasmi Alien.”


“Hei, dengar itu, seru bukan? Jadi kalian harus menjadi partner ku dan Bry agar kita membasmi para alien yang nakal contohnya Daddy kalian” bisik Billy yang masih terdengar jelas ditelinga Varel.


“Aku benar-benar tidak sanggup lama-lama bersama mereka” gumam Varel mengelus dadanya membuat Vania terkekeh pelan.


“Mau bagaimana lagi? Aku enggan kembali ke Jerman” ucap Bryan yang seketika membuat Varel menatapnya tajam.


Mama Melinda pun ikut membuka suara. “Dia akan tinggal beberapa bulan disini.”


“Apa?! Tidak-tidak!”


“Kak Vania sudah mengizinkannya bahwa memintaku dan Billy untuk berkuliah disini” ucap Bryan berbohong.


“Hei, Sayang. Tidak, jangan lakukan itu. Bagaimana mungkin kita membawa monster disini? Astaga, perkembangan anak-anak kita dalam bahaya” ucap Varel panik.

__ADS_1


Plak


“Hei, mereka adik dan keponakanmu” ucap Vania setelah memukul pelan lengan sang suami.


Varel pun mendekatkan dirinya kepada sang istri lalu berbisik. “Mereka itu monster yang aneh”


“Masih terdengar, Kak.”


“Bagaimana jika Uncle mengucapkannya dengan toa yang ada di masjid? Percayalah, tidak akan terdengar.”


“Astaga, aku akan semakin menua jika bersama mereka.”


*****


“Mommy!”. Terdengar teriakan keras dari kamar anak yang membuat Vania yang sedang menyusui baby Al terkejut.


“Mommy, Lista memukul Koko!”


Lagi. Teriakan itu terdengar yang membuat Vania menghela nafas berat karena tau bahwa kedua anaknya sedang berkelahi.


“Kak, aku akan menunggu mereka. Kak Vania silahkan saja kesana” ucap Bryan yang sedang menonton televisi di kamar utama.


Seluruh keluarga besar sudah kembali ke tempatnya masing-masing termasuk Daniel yang masih harus kembali ke Amerika untuk menyelesaikan pekerjaannya disana. Sekarang, Bryan benar-benar menetap di rumah Varel dan enggan untuk pulang ke negara nya bahkan ia mengatakan malas melihat calon keponakannya.


Flashback on


Hari dimana keluarga Fernandez harus mengantar keluarga Richard dan Melia ke bandar udara.


Sebenarnya Billy juga ingin tinggal disana namun ia ingat bahwa Mommy nya akan segera melahirkan sehingga ia harus kembali ke Jerman bersama Richard dan Melia.


“Aku hanya pulang untuk menyelesaikan sekolahku” jawab Bryan enteng.


“Kau tidak ingin melihat calon adikku?”


“Pasti akan menyebalkan sepertimu”


“Sial.”


Ketika melihat keponakannya yang benar-benar kesal karena harus terbang, Bryan terkekeh pelan. “Hei, aku disini bekerja mengurus bayi. Kau juga harus mengurus adikmu disana.”


“Huh baiklah.”


Flashback off


“Terima kasih, Bry” ucap Vania seraya menidurkan kembali baby Al ke dalam box bayi dan ia segera berjalan menuju kamar anak.


Setelah lahirnya baby Al dan baby El, hari itu Varo meminta agar kamarnya dipisahkan dengan Lista karena alasannya ia sudah dewasa sehingga sekarang ia dan Lista benar-benar sudah berpisah kamar dan kamar yang sebelumnya mereka tempati sudah disulap menjadi kamar bayi karena memang Vania dan Varel berencana untuk meninggalkan baby Al dan baby El di kamar sendiri setelah umur 7-8 bulan tentu dengan penjagaan yang ketat.


Kamar Varo

__ADS_1


“Hei, ada apa ini?” tanya Vania ketika ia baru saja memasuki kamar anak lelakinya.


Varo segera berlari dan berdiri disebelah Vania meninggalkan Lista yang sudah menatapnya dengan tajam. “Lista memukul ku, Mom.”


“Siapa yang ingin dengan sukarela menjelaskannya?”


“Koko sedang bermain game dan dia datang mengganggu lalu Koko mengusirnya tapi dia malah memukul Koko dengan bantal” ucap Varo yang membuat Vania beranjak dan berjalan menuju anak perempuannya.


“Mom, Koko sangat nakal.”


“Heh.”


“Kenapa Cici harus berbicara seperti itu?”


“Karena selalu bermain game. Cici hanya memintanya untuk berhenti agar tidak masuk berita.”


Tentu saja hal itu membuat Vania mengerutkan keningnya. “Berita? Berita apa itu?”


“Yup, berita gangguan kejiwaan akibat terlalu sering bermain game.”


“Astaga.”


*****


Setelah memberi penjelasan dan pengertian kepada kedua anaknya walaupun sempat terjadi perdebatan yang cukup panjang, akhirnya baik Lista dan Varo sudah berbaikan dan saling meminta maaf.


Sebenarnya, tadi Vania sedikit mengancam karena mereka benar-benar keras kepala dan hendak tidak ingin saling memaafkan. Namun, setelah Vania mengancam dengan tidak memberikan iPad dan mengurangi jajan, akhirnya mereka langsung berbaikan.


“Kemari lah, Mommy ingin memeluk kalian” ucap Vania seraya merentangkan tangannya membuat Lista dan Varo segera memeluknya dengan erat.


Vania memang akhir-akhir ini kurang memperhatikan kedua anaknya terlebih saat pulang sekolah, mereka akan langsung tidur karena kelelahan ditambah dengan cerewetnya baby El yang membuatnya benar-benar tidak bisa sepenuhnya merawat kedua anaknya yang sudah besar.


Namun, Vania akan tetap berusaha memberikan waktu bagi mereka untuk bercerita, seperti saat selesai belajar maupun saat mereka hendak tidur, Vania akan menyempatkan waktu mengobrol bersama karena ia tidak mau jika kedua anaknya merasa tidak diperhatikan setelah kedua bayi kembar lahir.


Hal yang dilakukan Vania memang wajar dan itu bukan sama sekali untuk memanjakan mereka. Tapi, seorang anak baik lelaki maupun perempuan di usia yang masih sangat muda sedang membutuhkan orang sebagai pendengar dari semua cerita kesehariannya, entah ceritanya di sekolah, tentang nilainya, tentang pelajarannya, tentang teman-temannya, atau pun tentang gurunya.


Vania tidak mau jika kedua anaknya merasa kesepian dan sendirian yang akan mempengaruhi mental mereka sejak dini. Maka dari itulah, Vania akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik kepada kedua anaknya. Dan untunglah kedua anaknya bukan tipe anak yang mudah cemburu ketika Vania terlalu banyak waktu untuk mengurus kedua bayi kembar.


Vania benar-benar bersyukur karena dianugerahkan anak-anak yang luar biasa hebat. Walaupun umur mereka masih sangat muda, tetapi mereka memiliki pengertian dan perhatian yang sangat besar.


Mereka akan mengerti ketika Vania tidak menemani mereka belajar karena baby El cerewet, mereka akan mengerti ketika Vania tidak sempat membuatkan sarapan karena harus bergadang, mereka akan mengerti ketika Vania mengingkari janji untuk menjemput mereka karena kedua bayi kembar itu masih sedang berada di fase cerewet-cerewetnya.


Jika mereka ingin berbicara dan Vania tak punya waktu pun mereka akan datang dengan sendirinya ke kamar utama untuk bercerita sekalian untuk membantu menjaga kedua adiknya. Bahkan, mereka akan dengan terbukanya mengeluarkan pendapat dan apa yang mereka rasakan sehingga tak akan ada hal yang ditutup-tutupi dalam hubungan Ibu dan anak tersebut.


Sungguh, kali ini lagi-lagi Vania mengucap syukur atas semuanya.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2