
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah memakai masker yang diberikan Dika, Bryan pun berjalan santai masuk ke kantor lalu menuju meja resepsionis.
“Kak Varel ada?” tanya nya yang membuat kedua karyawan tersebut menatapnya heran.
“Maaf, atas nama siapa? Apa sudah membuat janji dengan Tuan Muda?”
Baru saja Bryan ingin membuka suara, tiba-tiba ia merasakan ada yang menepuk bahunya.
“Wow, Kak Lucky?!” teriak Bryan heboh ketika ia mengetahui siapa yang menepuk bahunya.
Lucky pun terkekeh pelan. “What’s up , Bro?”
“When are you coming to Indo?”
“Baru kemarin. Kau sedang apa disini?” tanya Lucky heran
Bryan tertawa. “Aku menjadi pengasuh baby.”
“****, are you crazy?! Aku belum bertemu dengan keponakanku, jangan kau buat mereka menjadi gila sepertimu” ucap Lucky dengan raut wajah khawatir.
“Hei, aku benar-benar mengasuh mereka dengan baik” ucap Bryan tak terima.
Lucky kembali tertawa. “Baiklah-baiklah. Kau ingin bertemu Varel?”
“Yup, tolong antarkan aku.”
Lucky pun membawa Bryan menuju lift khusus ke ruangan Presdir.
“Anyway, kenapa kau memakai masker?”
“Kak, wajah tampanku membuatku menderita.”
“Oh ****!”
*****
Pintu ruangan Presdir terbuka secara tiba-tiba tanpa ketukan membuat dua orang yang ada di dalam ruangan benar-benar terkejut.
“****! What are you guys doing here?! “ teriak Bryan ketika melihat Varel hanya berduaan dengan wanita seksi.
Pemandangan yang dilihat Bryan untuk pertama kalinya ketika ia membuka ruangan adalah Varel yang sedang memeriksa berkas dengan ditemani wanita seksi yang sedang menatapnya penuh nafsu.
Yang membuat Bryan benar-benar kesal adalah ketika mereka hanya berduaan diruangan dengan wanita seksi yang memakai dress tipis kurang bahan bahkan memperlihatkan dadanya yang menonjol.
“Bry, sedang apa disini?” tanya Varel saat ia mengangkat kepalanya menatap Bryan yang juga menatapnya dengan tatapan tajam.
“Is there a special offer from this woman?!”
Tentu saja ucapan itu membuat Varel bahkan Lucky benar-benar terkejut.
“Apa yang sedang kau bicarakan? Kak Varel hanya bekerja” jawab Varel santai karena memang dirinya hanya fokus melihat berkas kerja sama itu.
__ADS_1
“Rekan baru? Hi, babe, what’s your price? Don’t you have proper clothes to work in the office? Don't you have any shame?” tanya Bryan menatap wanita itu dengan tajam.
Wanita itu segera berdiri. “Kau siapa? Mengapa mulutmu sangat murahan sekali?” Apa ini Tuan Varel?”
Bryan terkekeh pelan. “Kau ingin bekerja sama sekaligus untuk menggoda Kak Varel? Apa kau punya cukup nyawa? Kakak ipar ku sudah membunuh beberapa orang karena menggoda suaminya”
Tentu saja perkataan Bryan membuat wanita itu benar-benar panik sehingga ia segera pergi dari ruangan Varel tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Are you crazy?!”
“Kak Varel yang gila. Ingin bekerja sama dengan wanita seperti itu. Apa Kak Varel tidak sadar bahwa dia sengaja memakai pakaian kurang bahan untuk menggoda Kak Varel? Terlebih hanya berduaan di ruangan.”
“Dimas sedang mencari berkas kerja sama yang lama, maka dari itu hanya berdua saja disini”
“Oh ****, harusnya Kak Varel tidak bodoh. Bagaimana jika itu menjadi kesalahpahaman lagi?”
Varel terdiam karena ia benar-benar tidak menyadari hal tersebut.
“Mommy selalu mengatakan bahwa jadikanlah pengalaman sebagai pelajaran. Huh, akan ku laporkan pada Kak Vania”
“Hei, jangan membuatku tidur di luar” gerutu Varel kesal.
Bryan menatapnya kesal. “Itu hukuman karena Kak Varel bersikap bodoh.”
Gelak tawa terdengar hingga membuat Varel terdiam seketika seraya menatap asal suara tersebut. “Kau bosan hidup?”
“Bryan benar-benar pintar sekali” ucap Lucky disela-sela gelak tawanya.
“Tentu saja, aku tidak mau bodoh seperti Kak Varel”
“Sial.”
*****
“Selamat dat—Bryan?” ucap Clara ketika melihat Bryan.
“Hai, Kak. Tolong buatkan hidangan penutup”
“Hidangan penutup yang mana, Bry? Ada banyak hidangan penutup disini”
Tentu saja hal itu membuat Bryan terkejut karena ia kira hanya ada satu hidangan penutup yang diinginkan Vania.
Astaga, apa aku harus membeli semuanya? Ah, bodo amat, uang Kak Varel juga.-Bryan.
“Tolong buatkan semuanya saja, Kak” ucap Bryan yang membuat Clara terkejut.
“Bry? Kau serius? Ada lebih dari 50 hidangan penutup.”
“Tenang saja, ini uang Kak Varel bukan uangku” ucap Bryan terkekeh pelan.
Setelah menunggu beberapa lama hingga menghabiskan dua menu best seller di restoran, akhirnya pesanan Bryan pun datang.
“Huh, akhirnya. Aku sampai kekenyangan karena menunggu lama.”
“Maaf membuatmu menunggu lama. Ini.”
“Terima kasih, Kak Clara. Ah iya, kapan pernikahannya? Segeralah ketika aku masih berada disini karena aku ingin menghadirinya lalu memamerkan pada Billy” ucap Bryan yang membuat Clara terkekeh pelan.
“Pestanya diadakan minggu depan. Datanglah bersama Vania.”
__ADS_1
“Yes! Kak, jangan lupa sertakan namaku agar Kak Varel mengajakku pergi.”
“Haha baiklah. Kenapa kau tidak ikut pulang dengan Billy? Keponakanmu pasti sendirian disana.”
“Tidak, adiknya akan segera keluar jadi dia akan sibuk mengurus adiknya. Dari pada aku tidak mempunyai teman, lebih baik aku tinggal disini menemani Kak Vania. Oh ya, Raja dimana?”
“Ah aku lupa bahwa kau sekarang pengasuh bayi. Bagaimana jika kau juga mengasuh Raja?” usul Clara seraya tertawa.
“Tidak, Raja sangat aktif dan aku pasti kelelahan menjaganya. Jika menjaga bayi kembar, aku masih punya banyak waktu untuk bersantai”
“Apa kau ingin memakan gaji buta?”
“Sepertinya begitu.”
Keduanya tertawa hingga Bryan teringat sesuatu.
“Kak, aku pergi dulu takutnya pembalap itu lama menunggu.”
“Ah kau bersama Dika? Baiklah hati-hati dijalan, Bry.”
“Jangan khawatir, aku membawa pembalap.”
“Kau ini.”
*****
Bryan masuk ke rumah utama dengan membawa beberapa paper bag yang membuat Vania juga Mama Melinda benar-benar terkejut.
“Astaga, Bry. Kau memborong hidangan penutup di restoran?” tanya Mama Melinda heran.
“Yes, that right! Aku tidak tau hidangan penutup yang mana kesukaan Kak Vania jadi aku membeli semuanya saja. Huh, cukup melelahkan menunggu mereka mempersiapkan semuanya.”
“Hei, kau bisa menelepon kakak untuk bertanya” ucap Vania yang masih tidak habis pikir dengan kelakuan adik suaminya.
“Kak, tenanglah. Aku hanya menghabiskan uang Kak Varel beberapa saja dan aku yakin Kak Varel tidak akan bangkrut seketika.”
Bryan seketika memamerkan atm yang diberikan Varel kepadanya selama ia berada di Indonesia.
“Astaga, anak ini.”
“Lalu, siapa yang menghabiskan semuanya?” tanya Mama Melinda menatap Bryan dengan heran.
“Jika tidak habis, aku akan membagikannya kepada para pelayan. Anggap saja hadiah dariku selama di Indo.”
Tentu saja hal itu membuat Mama Melinda dan Vania tertawa seketika.
“Oh iya, aku baru saja melakukan hal yang besar.”
“Apa itu?”
“Mengusir hama yang mendekati Kak Varel.”
“Apa?!”
*
*
*
__ADS_1