
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Hari berganti hari hingga tidak terasa dua bulan sudah Susan pergi meninggalkanku sendirian bersama dengan kenangan kami.
Diwaktu yang luang aku selalu mengunjungi makam Susan bersama dengan Vania yang selalu menemaniku.
Aku benar-benar bersyukur karena disaat-saat terpurukku hari terberat ku, Vania gadis kecil yang tidak memiliki hubungan darah denganku masih dengan setia selalu menemaniku
Vania selalu mengunjungi ku bahkan hampir setiap hari, Mama dan Papa juga selalu menyemangati ku dan menasehati ku, dan kedua sahabatku Varel dan Sebastian juga selalu menghiburku. Sekarang aku sudah lumayan membaik, aku selalu merespon ucapan orang-orang namun aku lebih banyak diam. Aku tidak akan berbicara jika orang lain tidak mengajakku berbicara
Saat ini Vania berkunjung ke rumah dan menemaniku makan siang. Mungkin karena melihatku yang selalu melamun saat makan, akhirnya Vania pun menasehati ku. Mengatakan padaku bahwa dunia tidak benar-benar berhenti, aku harus bangkit dari keterpurukan. Dia juga mengatakan bahwa Susan akan bersedih jika melihatku yang setiap hari semakin terlarut dalam kesedihan.
Entah mengapa kata-kata Vania selalu terngiang-ngiang di kepalaku, hingga malam itu aku bertemu Susan dalam mimpiku.
Ia juga mengatakan hal yang sama dengan Vania, ia menyemangati ku dan mengatakan bahwa ia sangat bersyukur bisa mengenalku.
Susan mengatakan banyak hal, ia mengatakan bahwa aku tidak perlu menyalahkan takdir karena tidak berpihak kepadaku, ia juga mengatakan bahwa aku harus percaya bahwa suatu saat Tuhan akan memberikan hal yang luar biasa untukku
Setelah aku bermimpi bahwa Susan ingin melihatku bangkit dari keterpurukan, malam berikutnya aku tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuaku saat aku hendak ke dapur
"Ada apa Pa?"
"Papa baru saja mendapatkan telfon dari sekretaris, dia mengatakan bahwa Papa harus pergi ke Amerika, Papa harus mengelola bisnis Ayah yang diambang kebangkrutan"
"Amerika? Jadi kita akan kembali ke Amerika? Lalu bagaimana dengan El?"
"Papa sebenarnya ingin menolak Ma, Papa lebih mementingkan anak kita, tapi bagaimana lagi? Hanya Papa anak kandung Ayah dan Papa harus mengelola perusahaan Ayah di sana. Papa juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan El disini dalam waktu yang sangat lama"
"Mama tidak mau Pa, tapi bagaimana El? Kita tau kan anak kita masih terpuruk"
__ADS_1
Tidak ingin mendengar lebih lanjut akhirnya aku memilih pergi ke kamarku dan merenungkannya.
Aku tidak bisa menyusahkan papa dan mama hanya karena keterpurukan ku. Tiba-tiba kata-kata Susan kembali teringat, awalnya aku sangat ragu untuk pergi meninggalkan semua kenangan disini namun tiba-tiba entah itu khayalan atau benar aku melihat Susan berdiri tak jauh dariku dan ia tersenyum seraya menganggukkan kepala seolah mengatakan bahwa hal yang aku ragukan itu akan menjadi baik-baik saja.
Akhirnya aku memutuskan untuk pindah ke Amerika mengikuti kedua orang tuaku, meninggalkan kenangan manis dan pahit bersama Susan, meninggalkan kedua sahabatku, terlebih meninggalkan gadis kecil yang sangat keras kepala
Keesokan harinya, Mama dan Papa mengajakku berbicara serius, mereka ingin aku menjadi pewaris perusahaan aku sangat menolak karena aku tidak pantas menerimanya, aku hanya anak yang diangkat oleh mereka
Dengan segala paksaan akhirnya aku menyetujui menjadi pewaris perusahaan Airlangga, Papa akan menyekolahkan ku di universitas terbaik di Indonesia namun aku menolak, aku mengatakan kepada Papa bahwa aku ingin berkuliah di Amerika.
Mama dan Papa awalnya sangat terkejut mendengarnya, lalu aku pun menceritakan bahwa aku tidak sengaja mendengar percakapan mereka malam itu. Setelah kembali meyakinkanku akhirnya Mama dan Papa memutuskan untuk pindah ke Amerika dan perusahaan Airlangga akan dikelola oleh orang kepercayaan Papa sementara aku berkuliah
Aku berpamitan kepada Vania dan kedua sahabatku, Vania awalnya sedih saat mendengar aku pindah ke luar negeri namun ia menutupi kesedihan itu dengan senyum palsunya, ia mengatakan bahwa aku harus memulai semuanya kembali dan pindah ke luar negeri sepertinya bukan ide yang buruk
Aku memulai kembali kehidupanku di Amerika, dengan Mama dan Papa yang selalu menyemangati ku, menyayangiku seperti anak kandung mereka sendiri. Hingga aku sekarang menjadi Daniel Efrata Airlangga yang dikenali banyak orang, seorang Wakil Direktur di perusahaan Knipshon Group.
Seorang pria yang sama sekali tidak percaya akan adanya cinta sejati. Ya, aku sangat tidak pernah mempercayai cinta, aku hanya percaya bahwa cinta sejati itu ada di kedua orang tua kandungku dan kedua orang tua angkat ku sekarang
Kota dimana menyimpan begitu banyak kenangan. Hingga akhirnya aku bertemu lagi dengan gadis kecilku walaupun secara tidak sengaja
Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa Varel sahabatku masuk rumah sakit, dengan segala kekhawatiran akhirnya aku sampai di rumah sakit milik sahabatku.
Sebenarnya aku tidak suka jika melangkah ke rumah sakit, karena yang ku tau jika aku di rumah sakit pasti ada berita buruk.
Dan benar saja, aku mendengar kabar bahwa Varel ditusuk oleh seorang pria asing, aku benar-benar sangat khawatir dengan keadaan sahabatku itu.
Namun rasa khawatirku berubah menjadi rasa terkejut sekaligus penasaran karena melihat sosok gadis kecil di ruangan Varel
Ini benar-benar takdir yang unik, ternyata gadis kecilku adalah istri dari Varel, sahabatku. Awalnya aku benar-benar marah karena aku sangat tau alasan bahwa Varel menikahi seorang gadis hanya ingin membuat model itu cemburu
Namun aku melihat ada mata yang berbinar saat melihat Vania, ya aku melihat Varel sangat memperhatikan Vania, semoga saja Varel mencintai gadis kecilku dengan tulus
Setelah mengobrol cukup lama, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dua bocah kecil yang berlari kearah Varel. Aku bertanya-tanya dan ingin rasanya melayangkan tinjuku di wajah Varel saat mendengar kedua bocah itu menyebutnya Daddy. Bagaimana bisa? Aku bahkan tau Varel menikahi gadis kecilku hanya beberapa bulan dan mereka sudah mempunyai dua bocah kecil yang umurnya kira-kira 4-5 tahun
__ADS_1
Namun setelah Vania menjelaskan bahwa itu adalah anak angkat mereka, aku merasa lega karena aku tidak perlu mengotori tanganku untuk meninju wajah Varel. Aku bisa melihat Varel sangat menyayangi kedua bocah itu.
Huh semoga saja Varel benar-benar berubah
Aku berpamitan kepada mereka karena asisten pribadiku menelfon dan mengatakan bahwa ada pekerjaan yang begitu penting.
Rasanya melelahkan juga menjalani kehidupan yang hanya itu-itu saja.
Pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, bekerja di perusahaan, dan pulang ke rumah
Hingga sehari sebelum aku kembali ke Amerika, aku menyempatkan diri mengunjungi makam Susan yang selama beberapa tahun ini tak pernah ku kunjungi lagi. Namun walau begitu, aku selalu menyuruh penjaga makam untuk meletakkan mawar merah setiap hari di atas makamnya
"Hai aku kembali lagi setelah beberapa tahun mencoba memulai hidupku kembali.
Kau tenang di sana ya, doakan aku disini semoga selalu bisa mengikhlaskan kepergian mu yang tiba-tiba."
Ucapan pertama yang aku ucapnya sebelum air mata kembali membasahi pipiku
"Kau tau? Aku tidak pernah percaya adanya cinta sejati. Karena cinta sejati ku saja sudah pergi meninggalkanku sendiri"
Aku terkekeh pelan setelah mengatakan itu
"Namun jika suatu saat aku bertemu dengannya, tenang saja sebelum aku menjalin hubungan dengan orang lain aku akan menceritakan kepadanya tentangmu dan aku juga akan membawanya kemari, memperkenalkannya kepadamu"
Walaupun aku tidak percaya itu, namun aku selalu percaya Tuhan akan menggantikannya dengan yang terbaik
Kau akan selalu ada diruang hatiku yang paling dalam. Selamat jalan sayang. Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu.-Daniel
*
*
*
__ADS_1