
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Bagaimana, Dim?"
tanya Mama Melinda saat sekretaris Dim sudah keluar dari villa meninggalkan Varel sendirian
"Masih sama, Nyonya"
"Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa tidak memberikan kesempatan untuk mereka menjelaskan kepadanya?"
"Tuan Muda mengatakan bahwa tidak ada kesempatan untuk pengkhianat"
"Astaga. Dim, tolong jangan sampai dari pihak Vania mengajukan perceraian karena sampai sekarang ini hanya salah paham"
"Baik, Nyonya"
"Aku akan membujuk Kusuma untuk berbicara dengan Vania"
"Apa saya harus melacak dimana keberadaan mereka?"
"Pasti di Amerika"
"Tidak ada, Nyonya. Tuan Daniel dan Tuan Lyno benar benar memutuskan komunikasi sehingga saya masih belum menemukan dimana mereka berada"
"Apa kau sudah meminta orang orang untuk memeriksa di rumah Lyno?"
"Sudah, Nyonya. Dan hasilnya nihil"
"Astaga"
"Maafkan saya, Nyonya"
"Tidak masalah, Dim. Kau sudah bekerja keras dan tolong pantau Varel disana"
"Tentu, Nyonya"
*****
Setelah mengatakan itu, Mama Melinda pun memutuskan panggilan tanpa mengetahui bahwa ada seorang anak kecil perempuan yang mendengar pembicaraannya dengan sekretaris Dim
Perceraian? Apa yang terjadi dan apa yang tidak ku ketahui?-Lista
Lista langsung berlari menuju kamarnya dan tak lupa untuk mengunci pintu lalu mengambil iPad yang ada di atas meja lalu mencari di kolom pencairan arti dari perceraian
"Mommy dan Daddy akan berpisah? Lalu, apa aku akan dibuang?"
lirih Lista pelan saat membaca iPad nya
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar membuat Lista cepat cepat membereskan tempat tidurnya dan berpura pura untuk tidur karena memang sejak saat Lista menangis mencari keberadaan Vania, Varo, dan Varel, saat itulah Lista memutuskan untuk tidak berbicara dengan siapa pun termasuk Mama Melinda.
*****
Pak San berkali kali mengetuk pintu kamar Lista hingga Mama Melinda datang mendekat
"Apa masih belum mau keluar, Pak?"
tanya Mama Melinda
"Belum, Nyonya"
ucap Pak San sopan
"Echy dan Nike bagaimana?"
"Nona Kecil bahkan memutuskan untuk tidak bermain dengan Nona Echy dan Nona Nike"
"Astaga. Apa yang harus kita lakukan?"
__ADS_1
"Membuka pintu secara paksa?"
usul Pak San karena memang mereka mempunyai kunci pintu cadangan
"Lista akan marah. Jadi kita bujuk saja hingga dia mau keluar kamar. Pergilah, Pak. Biarkan saya yang membujuknya"
"Baiklah, Nyonya"
ucap Pak San membungkuk lalu pamit pergi
Tok tok tok
"Sayang"
panggil Mama Melinda lembut
"Apa cucu Oma benar benar tidak mau berbicara dengan Oma?"
tanya Mama Melinda lagi
"Sayang, biarkan Oma masuk. Lista membuat Oma tidak mempunyai teman disini"
keluh Mama Melinda pelan
Klek
Pintu terbuka dan membuat Mama Melinda terkejut lalu menatap gadis kecil dihadapannya yang seolah olah menghindari tatapan matanya
"Mengapa cucu Oma kesal?"
tanya Mama Melinda lalu membungkuk dihadapan Lista
"Lista tidak apa-apa, Oma"
jawab Lista singkat tanpa menatap Mama Melinda membuat sang Oma menghela nafas berat
Dia benar benar keras kepala seperti Daddy nya.-Mama Melinda
"Benarkah bahwa Lista tidak apa-apa? Lalu mengapa Lista tidak mau keluar kamar?"
"Ingin tidur" jawabnya singkat
"Tidak lapar"
lagi dan lagi jawabannya sangat singkat juga menghindari tatapan sang Oma
Melihat perubahan cucunya, Mama Melinda pun sadar bahwa ada yang tidak beres
Ia pun lalu mengajak Lista untuk masuk ke kamar dan berbicara berdua dengan sang cucu secara lembut agar si kecil tersebut bisa mengatakan hal yang membuatnya kesal
"Ada apa, Sayang?"
tanya Mama Melinda lembut seraya mengelus pucuk kepala Lista sedangkan gadis kecil itu hanya menunduk menggigit bibit bawahnya agar tangisnya tidak meledak sekarang
Seolah tau apa yang terjadi, Mama Melinda merengkuh Lista ke dalam pelukannya dan mengelus punggung sang cucu dengan tujuan memberikan kekuatan agar Lista ingin berbicara dengannya
Dan terjadilah, isak tangis gadis kecil yang tadi tertahan kemudian mulai terdengar hingga tangisan tersebut semakin lama semakin keras
Hati siapa yang tidak sakit mendengarnya? Terlebih Mama Melinda sekarang diperhadapkan dengan sang cucu kecil yang menangis dengan keras, membuatnya pun ikut menangis karena merasakan kesedihan itu
"O-Oma.. Li-Lista mau.. hiks.. Lista mau Mommy.."
terdengar mulut kecil itu berbicara
Jantung Mama Melinda berdetak lebih cepat karena ia tidak tau harus mengatakan apa jika nantinya ada hal buruk yang terjadi pada pernikahan anak nya
"Sayang, Mommy sedang bekerja. Karena buru buru, Mommy tidak sempat berpamitan pada Lista. Jadi tunggu ya, tunggu disini bersama Oma"
ucap Mama Melinda memberikan kekuatan
Namun tiba tiba Lista berdiri dan menatapnya dengan tatapan tidak suka
"TIDAK!! Oma jahat!! Mommy tidak bekerja. Mommy dan Daddy ingin berpisah!!"
teriak Lista tak terkendali
__ADS_1
Deg.
Lagi, jantung tersebut berdetak lebih cepat
"Hei Sayang, dengarkan Oma sebentar. Lista tau darimana hal itu? Itu semua bohong, Mommy dan Daddy tidak berpisah"
ucap Mama Melinda berusaha mengontrol raut wajahnya
"Lista tidak sengaja mendengar Oma berbicara dengan Om Dim"
lirih Lista pelan
"Ya Tuhan, tidak Sayang itu tidak benar. Lista lapar karena belum makan jadi tidak fokus dan salah mendengar"
ucap Mama Melinda
"Lista bermimpi.."
Apa?-Mama Melinda
"Mommy.. Mommy dan Daddy berpisah.."
"Mommy sedang bersembunyi.. bersama Abang.. dan.. Lista ditinggalkan sendiri.."
Air mata mulai jatuh membasahi wajah mungil Lista juga wajah Mama Melinda yang terdiam mendengar ucapan sang cucu
"Daddy.. Daddy juga pergi.. Lista ditinggal.."
"Lista anak yang nakal ya, Oma?"
Mama Melinda menggeleng tanpa berani berbicara sebelum Lista menyampaikan apa yang ingin dikatakannya
"Kalau tidak nakal, lalu kenapa Mommy dan Daddy meninggalkan Lista sendirian?"
terlihat senyum tipis di wajah mungil nya
"Lista..Lista rindu-"
Belum sempat sang cucu menyelesaikan ucapannya, tubuh Lista ambruk seketika membuat Mama Melinda tersadar bahwa cucu nya pingsan
"Listaa.. Listaa.. Sayang, bangun Nak"
teriak Mama Melinda seraya membangunkan sang cucu dengan panik
Saat itu, Pak San dengan sigap menggendong Lista dan menidurkannya di atas tempat tidur lalu memencet telepon yang terhubung dengan rumah sakit dimana dokter Hendra bekerja sedangkan Mama Melinda hanya menangis menatap sang cucu yang terlihat sangat lemah
Sebelumnya, Pak San ingin bertemu Mama Melinda dan mengatakan bahwa sekretaris Dim sempat menelepon nya, untunglah bertepatan dengan ambruk nya tubuh mungil Lista hingga Pak San dengan cepat memberikan pertolongan
"Dok, kemarilah. Nona Kecil pingsan"
ucap Pak San yang membuat dokter Hendra diseberang sana panik seketika
Beberapa menit kemudian, dokter Hendra datang dengan alat medisnya yang siap memeriksa Lista
"Tolong periksa Lista"
lirih Mama Melinda yang masih menatap cucu nya dengan lemah
Dokter Hendra pun dengan sigap memeriksa gadis kecil itu hingga beberapa saat kemudian ia mengatakan bahwa Lista pingsan karena dehidrasi terlebih belum makan sejak tadi
"Akan ku pasang infus agar segera membaik lalu memberikan obat dan memantau kesehatannya"
ucap dokter Hendra segera
Dengan sigap dokter Hendra memasang infus dan memastikan bahwa Lista menerima cairan infus tersebut dengan baik
"Bagaimana Lista bisa menjadi seperti ini? Dimana Varel? Dimana kakak ipar?"
tanya dokter Hendra menatap Mama Melinda heran sedangkan yang ditatap hanya diam dan menggeleng pelan membuat dokter Hendra semakin yakin bahwa keluarga ini sedang ada masalah besar
"Vania.. Menghilang"
Deg.
*
__ADS_1
*
*