
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
“Rel, tenanglah dahulu jangan sakiti dirimu”
“Bagaimana? Bagaimana aku bisa tenang?”
lirih Varel dengan suara seraknya
Jika boleh jujur, Sebastian lebih suka jika Varel menjawab ucapannya dengan emosi dan membentak bukan seperti sekarang yang terlihat begitu rapuh dan bisa membuat semua orang menatapnya dengan tatapan iba
“Rel, kemari lah”
Sebastian menuntun kepala Varel agar bersandar dibahunya membuat Sebastian sekarang terlihat seperti kakak untuknya
Tangis Varel pecah seketika walaupun dengan suara yang masih ia tahan karena masih belum sepenuhnya terbuka dihadapan Sebastian dengan emosi yang ia rasakan saat ini
Sebastian berkali-kali menghela nafas berat apalagi saat ia mengelus pelan punggung yang bergetar hebat karena tangis itu membuat Sebastian ikut merasakan bagaimana sakit yang dirasakan oleh sahabatnya
Sebastian menatap lelaki dihadapannya yang masih menyandarkan kepala di bahunya dengan isak tangis yang masih terdengar. Bukan.. Bukan tatapan iba yang ia perlihatkan tetapi tatapan bangga karena Varel sudah sangat kuat melewati ini semua dengan hanya memendamnya sendiri
Kepingan memori saat hari-hari pemakaman Tuan Besar atau Papa Hendrik Fernandez, ayah kandung dari Varel yang meninggal beberapa tahun yang lalu akibat kecelakaan pesawat yang ia tumpangi saat bepergian ke luar negeri, Sebastian sangat ingat dimana Varel tidak pernah menunjukkan ekspresi apapun dan hanya menunjukkan wajah datar namun matanya menatap lekat pusara dihadapannya dengan kayu salib yang bertuliskan nama dan tanggal lahir juga tanggal kematian Papa Hendrik
Dulu, Sebastian mengira bahwa Varel memang anak yang tidak memiliki perasaan baik senang maupun sedih. Tapi seiring berjalannya waktu perkiraan akan pemikirannya itu salah besar karena Varel hanya menyimpan pada dirinya sendiri, perasaan bersalah, perasaan sedih, perasaan takut, bahkan perasaan kesepian hanya ia tunjukkan kepada dirinya sendiri
Mungkin, bersama para sahabatnya ia hanya mengajak bertemu di bar dan meneguk beberapa minuman keras hingga membuatnya mabuk dan melupakan semua. Namun, hari ini akan dicatat sebagai salah satu momen bersejarah dalam hidup Sebastian dimana ia melihat sisi rapuh sahabatnya yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun
Tatapan rapuh, penampilan kacau, tangan yang mengepal keras, hembusan nafas kasar, bahkan isak tangis yang terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya membuat Sebastian yakin bahwa hanya Vania yang bisa membuatnya seperti ini
“Rel, apa sudah sedikit lebih tenang? Aku ingin berbicara”
__ADS_1
“Katakanlah”
ucap Varel pelan seraya memposisikan duduknya seperti semula
“Kau tau dimana Daniel tinggal jika berada di sini?”
“Rumah mereka” jawab Varel singkat
“Bukan, aku curiga bahwa Daniel mempunyai apartemen atau semacamnya”
“Mengapa kau berkata seperti itu?”
“Aku pernah mencari Daniel di rumah mereka namun tidak ada tanda-tanda bahwa ia tidur atau bahkan berkunjung di sana”
Lalu Sebastian pun menceritakan dengan begitu detail kepada Varel
Flashback on
Saat itu Sebastian dengan berada di restoran yang tak jauh dari rumah keluarga Airlangga yang berada di Indonesia. Setelah bertemu klien dan membahas pekerjaan, entah kenapa Sebastian saat pulang ingin sekali berkunjung ke rumah mereka hingga ia meminta sekretarisnya pulang sendiri dan dirinya mengendarai mobil menuju ke kediaman Airlangga
Namun, saat dirinya baru saja keluar dari mobil, tiba-tiba ia menyadari bahwa rumah itu seperti jarang dikunjungi. Terlihat dengan jendela yang tertutup, lampu yang menyala dimana-mana, bahkan pagar rumah yang sedikit berdebu padahal saat itu Daniel masih berada di Indonesia
Sepanjang perjalanan pulang, Sebastian berpikir keras dimana Daniel tinggal selama ini, sehingga ia merepotkan sekretaris dan meminta orang suruhannya untuk mencari apakah Daniel ada di hotel atau penginapan kota tersebut
Sekitar kurang lebih satu jam, akhirnya sekretaris Sebastian melapor bahwa tidak ada tamu yang memesan penginapan atau kamar hotel atas nama Daniel Airlangga bahkan orang suruhannya sudah diminta untuk mengecek cctv namun tetap hasilnya nihil
Dari situlah muncul kecurigaan Sebastian bahwa Daniel mungkin mempunyai apartemen atau tempat tinggal rahasia yang memang tidak ingin diketahui oleh orang lain
Flashback off
“Lalu? Apa kau menemukan bukti atau tanda bahwa dirinya punya rumah rahasia?”
“Tidak, tapi aku yakin karena cobalah berpikir dengan logika saja dimana ia tinggal selama disini jika tidak mencari penginapan? Rumah teman? Teman yang mana selain kita? Bahkan dirumah kalian pun tidak ada”
“Bagaimana jika memang benar Daniel mempunyai rumah rahasia?”
__ADS_1
“Maka disitulah ia menyembunyikan Vania agar kau tidak bisa bertemu dengannya”
“Aku akan meminta Dimas untuk mencari tau ini”
“Pencarian harap dilakukan di tempat yang sedikit jauh dari penduduk seperti villa dan semacamnya. Lalu aku juga akan meminta orang suruhanku untuk mencari di tengah kota yang padat penduduk.”
*****
Bandar Udara
Terima kasih Tuhan Yesus, akhirnya aku kembali lagi ke tanah kelahiranku dengan selamat. Berkatilah baby twins ku yang akan lahir bulan depan.-Vania
“Bagaimana rasanya?”
“Vania senang sekali, kak”
“Syukurlah jika kau senang. Ayo kita pergi ke rumah”
Daniel pun mengajak sang adik untuk kembali ke rumah mereka bersama dengan Varo yang benar-benar bersemangat sejak saat pesawat mendarat hingga kakinya menginjak lagi tanah Indonesia
Di perjalanan
“Papa, apa Varo bisa makan bakso lagi?”
“Tentu, bersama Papa dan juga Mommy ya”
“Yes!!”
Sebenarnya, merindukan bakso hanya alasan lain untuk Varo karena baginya merindukan adik kecil yang setiap hari mengganggunya jauh lebih dari alasan ia berada di Indonesia.
Varo tidak pernah berani untuk sekedar berbicara atau mengobrol berdua dengan sang Mommy untuk membahas Lista dan orang-orang di Indonesia karena dari yang Varo lihat selama berada di Amerika kurang lebih dua bulan, saat menceritakan orang-orang Indonesia terutama Lista dan Daddy nya membuat hati Vania sedikit perih hingga Varo tidak akan pernah tega untuk menyakiti sang Mommy baik sengaja maupun tidak sengaja.
Huh, bagaimana kabarmu, dek? Aku rindu, lebih dari rasa rindu makan bakso.-Varo
*
__ADS_1
*
*