
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Kenapa? Aku kan hanya berbicara apa adanya" ucap Varel dengan wajah sok polosnya membuat Vania benar-benar kesal dibuatnya.
"Kau ingin membunuhku? Si kembar saja usianya baru menginjak dua bulan dan kau ingin menambah anak lagi?!" gerutu Vania dengan wajah kesal.
Melihat sang istri yang kesal, Varel pun tertawa. "Sayang, rezeki itu jangan ditolak."
"Aku mengerti, tapi jika seperti itu aku bisa saja meninggal. Jarak kehamilan yang terlalu dekat dengan usia bayi itu mempunyai resiko yang sangat tinggi."
Mampus kau Varel, sedang diberikan pengetahuan oleh Vania.
"Oke, Sayang. Aku diam" ucap Varel dengan cepat menutup mulutnya rapat-rapat.
"Nah begitu dong. Kalau kau diam kan imut juga" ucap Vania seraya kembali melanjutkan kegiatannya.
Ah, ia tidak sadar bahwa ucapannya membangunkan singa yang sedang tidur.
"Heh, aku tidak imut!" ucap Varel dengan suara meninggi membuat Vania terkejut.
Vania menatap suaminya dengan heran. "Lalu? Jika tidak imut apa?"
"Aku ini kekar tau! Lihat otot suami mu ini."
Sungguh, Vania sangat ingin tertawa sekarang melihat raut wajah Varel yang benar-benar lucu seperti anak kecil.
"Oh kekar ya? Lalu siapa yang setiap harinya merengek seperti anak kecil karena tidak dipeluk?" tanya Vania seraya seolah-olah berpikir keras.
"Sayangggg" rengek Varel dengan manjanya.
"Ah, seperti itu. Suami siapa ya kira-kira?"
Karena tak bisa menahan tawa, gelak tawa Vania pun sampai terdengar memenuhi ruangan.
"Baiklah-baiklah, kemari suami kekar ku" ucap Vania seraya merentangkan tangannya membuat Varel segera berlari kecil kearahnya lalu memeluknya dengan sangat erat.
Vania terkekeh pelan. "Dasar bayi besar" ucap Vania yang membuat Varel mendongak menatap kearahnya.
"Biarkan saja, aku kan manja dengan istriku" ucap Varel tidak terima.
Vania tertawa. "Oh jadi ini yang disebut kekar? Manja sekali."
"Sayang, dari pada aku manja dengan wanita lain lebih baik aku manja dengan mu."
"Aw—Sayanggg, sakittt" rengek Varel karena merasakan tangan Vania mencubit lengannya.
"Sana, manja saja dengan wanita lain. Dasar tidak sadar, sudah tua juga" gerutu Vania seraya mendorong tubuh suaminya agar menjauh.
Varel tertawa melihat istrinya yang cemburu. "Untuk apa aku manja dengan wanita lain? Istriku saja sangat cantik" ucap Varel seraya mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Ceh, berhenti bertingkah, ingat umur mu."
"Astaga, Sayang."
*****
Mobil Varel terparkir tepat di depan pintu masuk rumah utama membuatnya segera keluar dari mobil dan membuka pintu penumpang.
"Terima kasih suami kekar ku" ucap Vania seraya mengedipkan matanya.
Varel mendengus kesal. "Sayang, berhentilah" ucap Varel dengan wajah kesalnya.
Bagaimana tidak? Sejak kejadian di rumah sakit tadi, sampai sekarang pun Vania masih selalu menggodanya.
"Baiklah-baiklah" ucap Vania disela-sela gelak tawanya.
"Sayang, bawalah mereka masuk. Aku akan segera menyusul setelah mengambil tas mereka" ucap Varel seraya mengelus pucuk kepala istrinya.
Vania pun dengan segera mendorong kereta si kembar dan membawanya masuk sedangkan sang suami segera berlari kecil ke arah jok belakang untuk mengambil beberapa tas perlengkapan sang anak.
*****
Kamar Varo
Tok tok tok
Lista berkali-kali mengetuk pintu kamar Varo hingga akhirnya sang pemilik kamar keluar dengan wajah kesal.
"Ada apa lagi kau mengganggu ku?" gerutu Varo menatap sang adik dengan tatapan tajam.
Varo terdiam mendengar ucapan sang adik. Sebenarnya, ia sangat ingin menyambut kepulangan kedua adik kembarnya, namun sekarang ia sadar bahwa dirinya telah melakukan hal jahat sehingga untuk berhadapan dengan seluruh keluarga nya pun ia tidak pantas.
Varo menggeleng pelan. "Aku harus belajar, titip salam saja untuk mereka."
Setelah mengatakan hal itu, Varo segera menutup pintu kamarnya sebelum Lista menjawab ucapannya.
"Ada apa dengannya?" gumam Lista heran seraya beranjak ke lantai bawah.
Lista memang sudah menaruh curiga kepada Varo sejak beberapa hari terakhir mengingat kelakuan abangnya tersebut sangat aneh.
*****
"Mommy!" teriak Lista lalu berlari memeluk Vania ketika melihat Mommy dan adik-adiknya baru saja masuk ke dalam rumah.
Vania terkekeh pelan. "Bagaimana kabarnya, Sayang? Oh ya, Koko dimana?"
Lista memang jarang ke rumah sakit karena memang Vania melarangnya. Anak perempuan itu sedikit sensitive apalagi ditambah ketika ia sedang terkena batuk pilek kemarin membuat Vania tidak mengijinkannya untuk menjenguk kedua adiknya di rumah sakit.
"Huh, Koko sangat aneh!" ucap Lista mengadu.
"Sebentar, Mommy akan membawa adik-adik mu kembali ke kamar. Bisa kah kau membantu Daddy membawa tas perlengkapan si kembar?"
Tanpa dimintai tolong dua kali, Lista pun segera berlari menghampiri Varel yang masih mengeluarkan beberapa tas.
"Hei, Girl. Dimana Koko?"
__ADS_1
Lista menggeleng pelan. "Jangan ditanya, Koko kan mayat hidup" ucap Lista dengan kesal.
"Ada apa?"
"Daddy, Cici merasa aneh dengan Koko. Apakah pria bisa hamil?"
Tentu saja pertanyaan yang keluar dari mulut Lista membuat Varel sedikit terkejut.
"No. Mengapa bertanya seperti itu? Pria tidak bisa hamil dan melahirkan karena itu hanya kodrat untuk wanita."
"Yup, Daddy benar. Tapi ketika melihat Koko yang sering marah-marah seperti Mommy saat hamil si kembar dulu, membuat Cici berpikir siapa tau saja Koko juga hamil" ucap Lista dengan santainya yang mengundang gelak tawa Varel.
"Hei, mengapa kau berpikir seperti itu? Dan Koko juga kenapa sering marah-marah?"
"Entahlah. Dia memang aneh sejak lahir."
"Astaga."
*****
Vania baru saja kembali menidurkan kedua bayi kembarnya ke box bayi. Saat ini ia sedang membuka tirai jendela dan tatapannya tertuju pada sang suami dan anak perempuannya yang sedang mengobrol di bawah sana seraya mengangkat beberapa tas perlengkapan.
Ada senyum tipis di wajah Vania mengingat sebelumnya hubungan Varel dan Lista sedikit renggang sejak kepulangan mereka dari Jerman.
"Syukurlah mereka akhirnya lupa bahwa pernah saling diam" ucap Vania terkekeh pelan.
"Ah iya, bagaimana dengan Varo?"
Dengan segera Vania menekan sebuah tombol di remote yang ada diatas meja.
"Koko bisa minta tolong ke kamar Mommy sekarang?"
Setelah mengatakan itu, Vania kembali membereskan beberapa barang si kembar seraya menunggu kedatangan anaknya.
Varel memang sengaja meletakkan remote yang terhubung dengan kamar kedua anaknya di kamar utama karena jika ada hal yang mendesak, mereka akan cepat saling mengabari satu sama lain.
Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk oleh seseorang. Lalu masuklah Varo dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
"Hei, bagaimana kabarnya?" tanya Vania basa basi.
Varo mengangguk pelan. "Mom, bagaimana dengan si kembar?"
Dia benar-benar hebat mengubah topik karena pasti tau jika Vania akan menanyakannya tentang hal itu.
Vania menepuk pelan tempat tidur yang ada disebelahnya seolah meminta Varo untuk duduk disebelahnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Vania pelan seraya mengelus pucuk kepala sang anak.
Hal itu malah membuat air mata Varo tiba-tiba keluar tanpa permisi.
"Maaf, Mom.."
*
*
__ADS_1
*