
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Ada apa, Dim?"
"K-kak.. baby Al dan El dibawa ke rumah sakit sekarang."
Deg.
"APA YANG KAU BICARAKAN?!"
Sekretaris Dim bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinganya ketika mendengar teriakan Varel yang tiba-tiba.
"Kak Varel harus ke rumah sakit sekarang."
Tidak butuh waktu lama, Varel segera membanting setir mobil untuk melaju ke arah yang berlawanan dari jalan menuju rumah utama.
Dalam hatinya, ia benar-benar takut mendengar bahwa kedua anak kembarnya tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit sesaat setelah kekacauan di rumahnya terjadi.
Varel berjanji bahwa ia tidak akan memaafkan siapapun yang terlibat dan ikut campur dalam masalah ini. Ia bahkan yakin bahwa ada orang dalam yang berkhianat karena bagaimana bisa teror masuk ke rumah utama milik Tuan Muda yang penjagaannya sangat ketat jika tidak ada orang dalam yang terlibat.
*****
"S-sayang.." lirih Vania pelan ketika melihat suaminya berjalan mendekat.
Varel yang melihat sang istri terlihat sangat kacau pun dengan segera merengkuh tubuh mungil istrinya.
Sebenarnya, jauh dalam lubuk hati Varel ingin mengeluarkan semua pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya, ia bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan kedua anaknya yang tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit. Namun, ketika melihat istrinya yang sudah sangat terpukul membuat lidahnya kaku sehingga ia hanya memeluk sang istri dengan sangat erat tanpa mengucapkan apapun.
Setelah beberapa saat kemudian ketika merasakan bahwa Vania sudah sedikit tenang, Varel segera mengajaknya untuk duduk di bangku yang ada di ruang tunggu ditemani oleh begitu banyak pengawal termasuk Dika dan Ziva.
Vania yang masih sangat sedih pun enggan melepaskan genggaman tangan sang suami sehingga ketika ia mulai membuka suara, tangannya masih menggenggam erat.
"M-maafkan aku.. Aku tidak bisa menjadi ibu yang baik.."
Varel kembali memeluk istrinya ketika Vania mulai membuka suara.
"Hei, kenapa berbicara seperti itu?" tanya Varel dengan suara yang cukup khawatir.
Vania mulai menjelaskan apa yang terjadi di rumah utama sehingga kejadian tersebut menimpa kedua bayi kembar mereka. Ketika menjelaskan, tangan tersebut tidak berhenti bergetar sehingga membuat Varel sangat takut akan terjadi sesuatu kepada istrinya.
__ADS_1
Dengan segera, Varel meminta Vania untuk berhenti berbicara karena ia takut jika istrinya akan semakin menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang terjadi.
Dalam hatinya, Varel bersumpah akan mencari dan membalaskan siapapun yang berani mengusik keluarganya hingga membuat kedua bayi kecilnya masuk rumah sakit.
Tak lama kemudian, dokter Hendra keluar dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak.
"Bagaimana? Apa yang terjadi pada anak-anak ku?"
Terdengar helaan nafas berat. "Al dan El keracunan ASI. Sepertinya ada yang sengaja mencampurkan sesuatu pada ASI yang biasa diberikan kepada mereka."
Ucapan dokter Hendra membuat suami istri tersebut saling tatap. Sepertinya, mereka memikirkan hal yang sama.
"Minta Dimas untuk memeriksa ini. Hal seperti ini sudah sangat kurang ajar. Bagaimana bisa ada penyusup yang masuk dan mencelakakan dua bayi yang masih kecil?"
Terlihat bahwa dokter Hendra pun sangat emosi ketika mendengar kabar buruk tersebut.
Vania hanya diam tanpa tau harus melakukan apa, namun jauh dalam lubuk hatinya bahwa ia benar-benar sakit ketika melihat anak-anaknya yang masih kecil malah menjadi korban atas tindakan yang tidak pernah mereka lakukan.
"Al dan El perlu perawatan intensif dan pemulihan yang mengharuskan mereka untuk tetap tinggal di rumah sakit hingga benar-benar pulih. Aku akan segera memindahkan mereka."
Setelah mengatakan hal itu, dokter Hendra kembali masuk ke dalam ruangan dan meminta para perawat untuk membantunya memindahkan kedua bayi Tuan Muda ke dalam kamar rawat inap.
"Aku akan menghubungi Dimas sebentar. Apa kau bisa menemani mereka?"
Vania menggeleng. Ia tau jika suaminya akan balas dendam dan meminta Sekretaris Dim untuk mencari kemana pun orang tersebut bersembunyi.
"Baiklah, kita akan menemani anak kita" jawab Varel tersenyum tipis.
*****
Varo dan Lista yang saat itu baru saja keluar dari ruang kelas begitu terkejut melihat ada beberapa pengawal tambahan yang memang diutus oleh Pak Alex untuk mengawasi mereka.
Seolah tau bahwa sesuatu pasti telah terjadi, Varo kembali meminjam ponsel Pak Adi dengan alasan untuk menelepon Varel padahal sudah jelas bahwa ia akan menghubungi Dion.
"Ada apa, Pak?"
"Om, sesuatu telah terjadi, bukan? Apa masih berhubungan dengan wanita menjijikkan itu?" tanya Varo to the point.
Dion yang diseberang sana pun tidak terkejut lagi mendengar tebakan Varo yang tepat sasaran. "Om akan menyelesaikannya."
"Tidak, aku yang akan menyelesaikannya. Tolong bantu aku, Om."
Dengan segera, Varo memutuskan panggilan sebelum Dion menjawab ucapannya.
"Apa lagi yang dia rencanakan?" gumam Dion menghela nafas berat.
__ADS_1
*****
Setelah pulang dari sekolah, Varo segera meminta Mike untuk menjemputnya dengan alasan bahwa ia akan pergi ke rumah sakit bersama salah satu pengawal Tuan Muda tersebut.
Memang, benar saja jika Varo sempat berkunjung ke rumah sakit untuk melihat kedua adiknya. Namun setelah itu, ia pamit kepada kedua orang tuanya dengan tidak memberikan alasan yang pasti.
Varo meminta Mike untuk mengantarkannya ke salah satu gudang kosong yang cukup jauh dari tengah kota. Entah apa yang direncanakan oleh anak itu.
"Kemari lah dalam sepuluh menit atau hidup mu akan hancur."
Ah, dia sedang menelepon seseorang.
Terdengar tawa yang nyaring dari seberang. "Bocah gila sedang mengancam ku? Apa kejadian itu sudah sampai di telinga mu?"
Varo tersenyum tipis seraya menatap layar monitor yang ada di hadapannya. "Sepertinya kau sudah tidak memikirkan lagi bagaimana hidup mu kedepannya."
"Aku tidak akan termakan dengan ancaman mu."
"Alright. Let's see who will beg to stop it all" ucap Varo seraya mengetik sesuatu pada komputer yang menyala.
Tiga.
Dua.
Satu.
Boom.
Seperti bom waktu yang kapan saja akan menghancurkan hidupnya. Beredar berita-berita panas tentang semua kejadian buruk yang pernah dilakukan oleh Aurora.
Bukan hanya itu saja, hastag #aurorasimpanan #simpananpengusaha dan masih banyak lagi sudah trending di semua media sosial hanya dalam hitungan detik.
Varo benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Gila. Anak ini benar-benar akan menjadi pewaris geng mafia.
Ponselnya berdering beberapa kali menandakan ada panggilan masuk terutama dari Aurora.
"What the ****! What are you doing now?!" teriak Aurora menjadi-jadi ketika Varo mengangkat panggilannya.
Varo tertawa kecil mendengarnya. "Aku yakin bahwa telinga mu masih berfungsi dengan baik."
"****! Hapus semuanya sekarang!"
"Aku menunggu mu."
*
__ADS_1
*
*