
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Dion yang melihat semua kelakuan Varo pun hanya bisa menggeleng seraya menghela nafas berat. Ia tau bahwa dirinya tidak akan bisa menghentikan amarah bocah itu.
Berkali-kali dalam hatinya Dion berdoa dan meminta agar Varo tidak tumbuh menjadi seperti Varel kecil. Ia tidak ingin jika Varo di usia yang masih sangat muda sudah mengerti tentang apa yang dilakukan oleh geng mafia milik Daddy nya.
"Apa dia belum tiba, Om?" tanya Varo santai seraya memakan jelly yang sudah disiapkannya.
Mike menggeleng pelan. "Aku tidak mengajarimu seperti ini. Tolong berhentilah atau kau akan tertangkap oleh Daddy mu" ucap Mike sedikit memohon.
"Om Mike dan Om Dion tenang saja. Aku akan bertanggung jawab penuh atas apa yang aku lakukan tanpa melibatkan nama Om Mike dan Om Dion. And one more, Om Mike dan Om Dion memang tidak pernah mengajariku menjadi menyeramkan seperti sekarang, namun ini ajaran ku sendiri. Aku yang menginginkannya! Aku akan melakukan apapun agar menjaga Mommy ku!" ucap Varo dengan raut wajah serius membuat Dion dan Mike lagi-lagi hanya bisa menghela nafas berat.
"Om juga akan bertanggung jawab atas semuanya" ucap Dion yang membuat Varo segera menatap kearahnya.
"No! Aku akan berbicara kepada Daddy untuk tidak melibatkan Om Dion dan Om Mike dalam hal ini. Sebelum melakukan semuanya, aku sudah memikirkan resiko apa yang akan terjadi dan aku tidak ingin mengajak Om Dion juga Om Mike ikut dihukum bersama ku."
"Hei, k—"
"Aku tidak membuka sesi bantahan."
Oke, dia benar-benar anak Varel.
Mike bahkan ingin meremas mulutnya yang dengan santainya memotong ucapan orang lain.
"Aku tidak habis pikir bagaimana bisa bocah sepertimu mempunyai otak yang sangat genius?" tanya Mike heran.
Varo menatap Mike dengan tatapan penuh tanda tanya. "Apakah Om Mike tidak pernah belajar di sekolah?"
"Aku tidak akan pernah menang melawan anak ajaib sepertimu" gumam Mike pelan membuat Varo tertawa.
Tak lama kemudian, pintu gudang tiba-tiba terbuka membuat Varo sontak berdiri.
__ADS_1
Sosok yang ditunggu-tunggu ternyata sudah berdiri dihadapannya bersama dengan beberapa pengawal yang memang diutus oleh Dion untuk mengantar Aurora bertemu dengan Varo.
"What?! Turns out you're just a kid" ucap Aurora dengan nada merendahkan.
Varo terkekeh pelan. "The little boy who can ruin your life."
Ketika menangkap mata yang dipenuhi dengan amarah, Varo pun berjalan mendekati Aurora yang sudah dipenuhi dengan emosi.
"Dari awal aku sudah memperingati mu untuk tidak mengganggu Mommy ku. Dan lihat apa yang kau lakukan sekarang? Kau bermain-main dengan kedua adikku! Kau kira aku akan diam saja? Sudah ku katakan bahwa kau salah memilih musuh."
Aurora tertawa ketika mendengar Varo berbicara serius. Ia masih menganggap bocah dihadapannya bukan lawan yang pantas ia ajak bertarung. Ia tidak sadar bahwa Varo adalah anak genius yang merencanakan sendiri semua teror yang dikirimkan untuk Aurora.
"Bukankah aku juga sudah mengatakan bahwa kau bukan sainganku? Berkacalah anak kecil!"
Varo tertawa melihat Aurora yang masih terlihat tidak takut walaupun tangannya bergetar hebat. "Kau ingin mendapat kejutan lagi dariku? Bagaimana dengan mengirim skandal mu kepada kedua orang tua mu yang ada di London? I heard your father has just been appointed head of the company and your mother lives a luxurious life. Apa kau tau trik busuk yang dilakukan your father untuk menjadi pemimpin perusahaan? Atau, apa kau tau uang yang digunakan oleh your mother adalah uang haram?"
Tidak hanya Aurora, bahkan Dion dan Mike pun terkejut mendengar kalimat yang keluar dari mulut kecil Varo. Mereka tidak pernah menyangka jika Varo benar-benar menyelidiki hingga ke akarnya.
Dion berjalan mendekati Varo dan menepuk pelan bahunya membuat bocah itu menatapnya. "Jangan gegabah" ucap Dion pelan.
Varo hany tersenyum tipis namun senyum itu malah semakin membuat Dion khawatir.
"****! Jangan bermain-main denganku bocah sialan! Aku tidak akan percaya denganmu karena kau hanya mengancam saja. Kau kira aku takut? Hahaha aku tidak pernah takut dengan bocah sepertimu!"
Ucapan Aurora hanya seperti angin lalu bagi Varo yang sudah tertawa dengan tawa yang menyeramkan. "Aku rasa, hadiah yang baru saja kau dapat bukan hanya sekedar ancaman."
"Kau salah berurusan dengan bocah ajaib" gumam Mike menanggapi.
"Aku tidak peduli. Bocah seperti ini tidak akan membuatku takut."
"Ah, kau ternyata masih ingin bermain-main denganku rupanya. Baiklah kalau begitu."
Varo menekan sebuah remote yang ada di genggamannya hingga membuat sebuah layar monitor muncul menampilkan sebuah video cctv dimana kedua orang tua Aurora sedang berada.
"Mereka terlihat sangat bahagia tanpa tau bahwa anak mereka disini sedang menanggung malu" ucap Varo terkekeh pelan.
Aurora benar-benar terkejut ketika menatap layar dihadapannya. Ia tau betul bahwa ini adalah cctv dari rumah mereka yang ada di London dan Varo meretasnya.
__ADS_1
"Aku yang berurusan denganmu, bukan kedua orang tuaku!"
"Begitu juga dengan keluargaku. Kau berurusan hanya dengan Daddy ku karena Daddy ku mantan kekasih dari saudara kembar mu. Tapi mengapa kau malah menyerang Mommy dan kedua adikku yang masih kecil? Mereka bahkan tidak mengenal siapa kau! Aku tidak akan bertindak jauh jika tindakan mu juga tidak jauh. Aku hanya belajar darimu."
"****! Bocah sialan! Berhenti bermain-main denganku."
Varo hanya tertawa hingga membuat seisi ruangan dipenuhi dengan gelak tawanya. Tak lama kemudian, beberapa pengawal yang berjaga menarik paksa Aurora agar didudukkan di kursi dan kaki tangannya diikat. Ia dipaksa untuk menatap layar monitor yang masih memperlihatkan keadaan di rumahnya.
*****
Saat ini Sekretaris Dim sedang sangat sibuk berkutik dengan beberapa laporan yang ada di atas mejanya. Matanya sudah sangat sakit menatap layar komputer dihadapannya dan kepalanya sudah cukup pusing menelaah kalimat-kalimat yang ada di laporan tersebut.
Entah apa yang sedang dilakukan oleh Sekretaris Dim, namun sangat terlihat bahwa ia benar-benar fokus sekarang. Tidak ada yang bisa mengganggunya hingga tiba-tiba pintu ruangannya dibuka paksa oleh seseorang.
"Bram?! Apa yang kau lakukan?" tanya Sekretaris Dim heran ketika melihat tangan kiri Tuan Muda sudah ada dihadapannya.
Sekretaris Dim ingat betul bahwa hari ini Bram masih dibebastugaskan karena ia akan mempersiapkan pernikahannya. Bagaimana bisa Sekretaris Dim tidak terkejut melihatnya disini? Terlebih ketika mendengar nafas Bram yang cukup berat. Bisa dipastikan bahwa ia pasti berlari menuju kemari.
"Apa yang terjadi?" tanya Sekretaris Dim heran.
Bram tidak membuka suara namun tangannya bergerak untuk memberikan sebuah berkas yang ia bawa.
"Apa ini?"
Sekretaris Dim pun dengan segera mengambil alih berkas tersebut dan mulai membukanya.
Raut wajah Sekretaris Dim berubah total ketika membaca berkas penting yang dibawa oleh Bram.
Dalam berkas tersebut berisi biodata pelaku teror yang terjadi pada Aurora.
"Varo?!"
Deg.
*
*
__ADS_1
*