Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Aku Mencintaimu Varel


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


"Nona Muda silahkan ikut saya ke kamar keluarga" ucap Sekretaris Dim setelah mendapat pesan bahwa kamar keluarga Fernandez sudah dibersihkan


"Apa aku benar-benar tidak bisa melihat Varel?" tanya Vania menunduk lalu mengeluarkan air mata


"Nona Muda maafkan saya, saya tidak bisa membantah ucapan dokter demi kebaikan dan kesembuhan Tuan Muda. Nona Muda saya juga benar-benar meminta maaf atas kejadian ini" ucap Sekretaris Dim menunduk


"Tidak tidak, kau tidak salah Sekretaris Dim, aku lah yang salah disini, aku membuat Varel marah dan aku juga membuat Varel terluka sampai harus berada di rumah sakit" lirih Vania disela-sela tangisnya


"Nona Muda jangan salahkan diri Nona, saya sudah mengerahkan semua pengawal untuk mencari keberadaan orang yang sudah berani menyentuh Tuan Muda, saya akan membuatnya menebus kesalahan fatal yang diperbuatnya bahkan saya akan membuatnya hidup dalam rasa takut" ucap sekretaris Dim menahan amarah


"Nona Muda, mari saya antar ke kamar"


Lalu Vania dan Casandra pun berjalan mengikuti sekretaris Dim menuju ruang kamar keluarga Fernandez di lantai khusus


*****


Kamar Keluarga Fernandez


"Selamat beristirahat Nona Muda, Nona Sandra" ucap Sekretaris Dim lalu berpamitan dan pergi


"Van, Kak Varel udah tau?" tanya Casandra hati-hati


Vania pun mengangguk lalu tanpa permisi air matanya kembali keluar dengan derasnya sehingga Casandra berjalan kearahnya dan memeluknya erat


"Ini salah gue, gara-gara gue Varel jadi terluka" lirih Vania yang berada di dalam pelukan Casandra


"Van ini bukan salah lo, semua ini karena takdir Tuhan, ini rencana Tuhan" ucap Casandra berusaha menenangkan


"Gue boleh tanya satu hal sama lo?" tanya Casandra seraya mengelus punggung sahabatnya


Vania pun mengangguk tanda setuju


"Gimana perasaan lo buat Kak Varel?"


"Perasaan? Gue nggak tau pasti San, tapi setiap didekat Varel gue selalu tenang, selalu ngerasa nyaman tapi gue nggak pernah percaya dan selalu menyangkal kalo gue cinta sama Varel. Selama pernikahan, gue selalu meyakinkan hati gue supaya jangan pernah terbawa perasaan apalagi berharap sama orang hebat seperti Varel, tapi nyatanya? Hati sama mulut memang berbeda" lirih Vania tersenyum lemah


"Kalau lo memang udah menyadari perasaan lo buat kak Varel harusnya lo berjuang Van, apalagi sekarang lo dan kak Varel udah nikah, lo harus jaga baik-baik rumah tangga lo, terlebih sekarang udah ada Varo dan Lista" ucap Casandra


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Vania dan Casandra pun memutuskan untuk tidur. Namun Vania tetap terjaga, ia tidak bisa tidur karena pikirannya tertuju kepada sang suami yang sedang berada di ruang ICU.


Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah Vandi


"Loh Kak Vania belum tidur?" tanya Vandi terkejut


"Aku tidak bisa tidur" jawab Vania tersenyum lemah


"Kak Vania harus tidur agar besok pagi Kak Vania bisa ketemu Kak Varel"


"Aku sudah mencoba sejak tadi Van tapi aku memang tidak bisa tidur nyenyak sebelum melihat bagaimana keadaan Varel" ucap Vania menunduk


"Kak Vania, Kak Varel baik-baik saja dan besok pagi Vandi yakin Kak Varel sudah sadar, Kak Varel kan pria yang kuat" jawab Vandi tersenyum berusaha menenangkan kakak iparnya


"Iya Van, kau istirahat lah sana nanti aku juga tidur" ucap Vania tersenyum

__ADS_1


"Kak Vania janji ya harus tidur, Vandi juga mau istirahat nih ngantuk banget" ucap Vandi yang berjalan mendekati tempat tidur lalu merebahkan dirinya


Jam menunjukkan pukul 01:00 WIB namun Vania belum juga bisa memejamkan matanya, setiap kali ia ingin memejamkan mata ia selalu gelisah dan takut jika nantinya ia mendapatkan kabar buruk tentang suaminya.


Vania memang tidak pernah menyukai rumah sakit, menurutnya karena di rumah sakit lah kita semua mendapatkan kabar buruk, di rumah sakit juga lah banyak suara tangisan, teriakan penyesalan, dan kesedihan. Vania benar-benar tidak pernah menyukai itu, ia sangat membenci kesedihan maka dari itu ia juga tidak pernah menyukai hal-hal yang berbau rumah sakit.


*****


Jam menunjukkan pukul 05:00 WIB, setelah hanya tertidur 2 jam akhirnya Vania kembali terbangun karena ia benar-benar gelisah. Ia pun berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena untunglah sekretaris Dim sudah menyiapkan beberapa pakaiannya.


Tak lama setelah itu Vania berjalan menuju ruang ICU hanya untuk memastikan bahwa keadaan Varel benar-benar stabil dan bisa dipindahkan ke ruang intensif


"Nona Muda?" panggil Sekretaris Dim terkejut saat ia melihat Vania sedang duduk di kursi yang tak jauh dari ruang ICU


"Sekretaris Dim" panggil Vania tersenyum lemah


"Ada apa Nona Muda pagi-pagi berada disini?" tanya Sekretaris Dim


"Hanya memastikan Varel baik-baik saja. Sekretaris Dim, apa Varel akan dipindahkan pagi ini?" tanya Vania ragu


"Saya sudah menanyakan hal itu kepada dokter Hendra dan sekarang dokter Hendra sedang menuju ke mari" ucap sekretaris Dim sopan


Tak lama kemudian datanglah seorang dokter pria bertubuh tinggi berwajah tampan dan berhenti tepat di depan sekretaris Dim


"Apakah dia kakak ipar?" bisik nya kepada sekretaris Dim seraya menatap Vania intens


"Iya dokter" jawab sekretaris Dim singkat


Wow pilihan Varel memang tepat, bagaimana ia bisa menemui seorang wanita secantik dan sepolos kakak ipar ini? Bahkan Dinda saja kalah walaupun seorang model.-Hendra


Lalu dokter Hendra pun berjalan mendekati Vania


"Hai kakak ipar, aku dokter Hendra sahabatnya Varel dan juga kepala rumah sakit di rumah sakit milik suamimu" ucap dokter Hendra memperkenalkan diri


Lalu mereka pun berjabat tangan


"Apa Varel bisa dipindahkan sekarang?" tanya Vania ragu


"Aku harus memeriksanya terlebih dahulu, jika kondisi Varel stabil maka ia akan dipindahkan pagi ini" jawab dokter Hendra ramah


Lalu dokter Hendra pun permisi untuk masuk dan memeriksa keadaan Varel.


*****


Ruang VVIP no.1


"Nona Muda, masuklah" ucap sekretaris Dim mempersilahkan Vania untuk masuk dan menemui Varel


Lalu Vania pun masuk kedalam ruangan Varel dan mendekat hingga ia duduk di kursi samping tempat tidur tersebut


"Varel" ucap Vania mengeluarkan air mata


"Maafkan aku" lirihnya lalu mencium punggung tangan Varel berkali-kali


Itu, itu suara Vania. Sial, ia sedang menangis. Mengapa aku susah sekali untuk hanya membuka mata?-Varel


"Aku tau ini memang kesalahanku, aku benar-benar ingin meminta maaf padamu, kumohon bangunlah"


Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Varel pun membuka mata namun ia tidak mengatakan apapun karena ia ingin mendengar semua ucapan Vania.

__ADS_1


Sedangkan Vania yang menunduk tidak mengetahui bahwa suaminya sudah sadar


"Mengapa kau tidak bertanya alasanku melakukannya?"


Jadi dia menyalahkan ku?-Varel


"Kau tau? Aku benar-benar tidak sanggup, aku tau bahwa akhirnya kau akan kembali bersama Nona Dinda, jadi untuk apa aku hamil dan melahirkan anakmu?"


Mengapa kau masih memikirkan Dinda hah?-Varel


"Aku takut, aku benar-benar tidak ingin jika akhirnya kau akan membuang ku dan anakku, aku tidak ingin anakku kurang kasih sayang dari ayahnya. Aku tidak ingin anakku nantinya akan terluka juga, cukup aku saja yang terluka saat kau membuang ku, karena sekarang aku sudah benar-benar terjebak dengan perasaanku sendiri."


Ayolah katakan bahwa kau mencintaiku.-Varel


"Aku sudah berkali-kali menyangkalnya, namun hatiku tetap tidak bisa diajak kerja sama, ia malah terbawa perasaan hingga aku sadar aku telah mencintaimu. Aku mencintaimu Varel, benar-benar mencintaimu. Aku berjanji akan membuang perasaanku karena aku terlalu berani memiliki perasaan terhadapmu. Maafkan aku, aku hanya ingin mengeluarkan semua yang ada di hatiku walaupun kau tidak mendengarkannya. Kumohon sadarlah dan aku berjanji akan pergi dari kehidupanmu setelah ini"


Aku sudah menduganya bahwa kau yang duluan mencintaiku ya walaupun aku yang terlebih dahulu berdebar saat di dekatmu.-Varel


"Dasar bodoh"


Vania pun mengangkat wajahnya saat mendengar suara yang sangat ia kenali


"Sayang" ucap Vania terkejut lalu tanpa permisi air matanya keluar lagi dan lagi


"Mengapa kau bodoh sekali hah? Kau selalu saja mengungkit tentang Dinda bahkan aku sudah melupakannya" ketus Varel menatap Vania tajam


"Ja-jadi kau mendengar semuanya?" tanya Vania menunduk malu


"Aku bahkan mendengar pengakuan cintamu" ucap Varel terkekeh


"Ma-maafkan aku yang sudah lancang terbawa perasaan terhadapmu, aku janji akan membuangnya" ucap Vania menunduk


"Aku bahkan tidak akan memaafkan mu jika kau berani membuang perasaanmu" ketus Varel dingin


"Kemari lah, aku ingin memelukmu" ucapnya lalu menarik tangan Vania dan memeluknya erat sedangkan Vania semakin terisak di pelukan sang suami


"Hei mengapa kau menangis?" tanya Varel khawatir


"Ma-maafkan aku, karena aku, kau jadi terluka" lirih Vania menunduk


"Jika kau ingin aku memaafkan mu, bersiaplah hamil dan memiliki anak dariku"


"Ba-bagaimana dengan Nona Dinda?" tanya Vania menatap Varel


"Aku sudah melupakannya" jawab Varel santai


"Katakan"


Kau ingin aku mengatakan apa?-Vania


"Hei mengapa kau melamun? Katakan bahwa kau mencintaiku"


Apa? Kau mendengarnya diam-diam saja aku sudah malu, apalagi saat aku bertatapan denganmu.-Vania


"Cepat"


"A-aku mencintaimu".


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2