
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Bagaimana bisa takdir mempermainkan perasaanku? Yang dulunya untuk menatapmu saja aku tidak mau namun sekarang aku selalu ingin menatap wajah cantikmu. Dulunya seorang gadis yang selalu memperhatikanku bahkan disaat aku membentaknya, memarahinya, dan bermain kasar sekarang menjadi seorang wanita yang sangat-sangat ku jaga, wanita yang benar-benar mengubah kehidupan dan kepribadianku selama ini
Terima kasih sayang untuk semuanya, untuk ketulusan hatimu, untuk kesabaran dan kebaikanmu, kau berhasil membuat seorang yang berhati dingin ini menaruh cinta yang begitu besar padamu, pada gadis kecil yang disayang semua orang"
ucap Varel yang mencurahkan semua isi hatinya selama ini
Tanpa menyadari bahwa Vania sudah sadar dan mencoba untuk menggerakkan jari-jari tangannya. Untunglah tangan Varel tak melepas genggaman itu sehingga sedikit pergerakan Vania langsung disadari olehnya
"Sayang? Sayang, kau sudah sadar?"
tanya Varel dengan raut wajah khawatir
Dengan berhati-hati Vania membuka matanya dan menatap sekeliling lalu sesaat ia menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit
Varel dengan sigap menekan tombol yang ada di dekat ranjang rumah sakit yang terhubung langsung dengan dokter Hendra
"Sayang, apa ada yang sakit? Tunggulah sebentar, Hendra akan kemari"
ucap Varel yang lagi-lagi menampilkan raut wajah khawatir seraya mencium punggung tangan sang istri berkali-kali
"Ke-kemari lah"
ucap Vania pelan seraya tersenyum tipis dan merentangkan tangannya membuat Varel mendekat dan memeluknya erat
"Ma-maafkan a-aku"
lirih Vania pelan tanpa sadar bahwa air mata sudah berhasil lolos membasahi wajah pucat nya
Belum sempat Varel berbicara, tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dokter Hendra, dokter Ryan, dan beberapa perawat lainnya
"Sayang, dokter akan memeriksa mu sebentar ya"
ucap Varel lalu mencium pucuk kepala sang istri namun tidak ingin menjauhi ranjang rumah sakit
Dokter Ryan dan perawat wanita pun mulai memeriksa keadaan Vania yang hampir 10 jam tak sadarkan diri
"Keadaan Nona Muda sudah membaik Tuan, Nona Muda hanya butuh istirahat total"
"Bagaimana dengan kedua janinnya?"
"Kedua janin Nona Muda baik-baik saja Tuan Muda. Nona Muda jangan lupa minum obat agar cepat pulih. Saya permisi Tuan"
"Terima kasih dok"
ucap Vania pelan seraya tersenyum tipis
"Kakak ipar, cepatlah sembuh jika tidak suami mu akan membunuhku"
ucap dokter Hendra tiba-tiba
"Hen, keluarlah sekarang Elin menunggumu"
ucap Varel dingin membuat dokter Hendra gelagapan
"Hei apa yang kau katakan?"
ketus dokter Hendra kesal
"Sayang, apa yang terjadi?"
tanya Vania mengerutkan kening
__ADS_1
"Keluar sana, aku ingin berduaan dengan istriku"
ketus Varel menatap dokter Hendra tajam
Dokter Hendra pun berpamitan dan keluar dengan mulut yang tak bisa diam karena sedang menyumpahi sahabatnya itu
Setelah kepergian dokter Hendra, Vania pun menatap Varel dengan penuh tanda tanya sedangkan yang ditatap hanya berpura-pura tidak tau dan sibuk mengambil sesuatu didalam kulkas
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan? Sekarang kau berhutang penjelasan padaku"
ucap Vania sedikit jengkel karena sang suami tidak menghiraukannya
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday my wife"
"Selamat ulang tahun ke-23 tahun sayang"
ucap Varel tersenyum seraya membawa kue ulang tahun dan berjalan mendekati ranjang istrinya
"Astaga sayang, aku bahkan lupa bahwa aku hari ini berulang tahun"
ucap Vania lalu kembali meneteskan air matanya
"Hei berhentilah menangis. Make a wish dulu"
Setelah berdoa dan meminta kepada Sang Pencipta yang hanya ia sendiri tau apa yang sedang ia inginkan, Vania pun meniup lilin yang berangka 23 di atas kue ulang tahun yang sangat cantik
"Terima kasih sayang. Aku bahkan tidak menyadari dekorasi ruangan ini"
ucap Vania tersenyum hangat
Cup.
"Selamat ulang tahun istriku"
ucap Varel tersenyum setelah mencium bibir sang istri
"Aku yang seharusnya minta maaf sayang, aku gagal menjaga bayi kita"
"Hei berhentilah menyalahkan dirimu. Kau tidak gagal, lihat kan bayi kita benar-benar kuat seperti Mommy nya"
ucap Varel terkekeh pelan
"Sekarang seperti perintah anak-anak, buka lah hadiah dari mereka"
"Anak-anak dimana sayang?"
"Mereka sedang berada di rumah dan besok akan kemari. Mereka berpesan agar saat kau sadar nanti hadiah pertama yang kau buka harus dari mereka"
"Oh ya? Aku semakin penasaran apa hadiah mereka"
"Biar aku membantumu membukanya"
ucap Varel lalu mengambil hadiah dari kedua anaknya
"Terima kasih sayang"
Varel pun mulai membuka hadiah pemberian Varo dan Lista ditemani oleh Vania yang tak henti-hentinya menatap hadiah tersebut
"Sabarlah sayang, aku tidak akan merebutnya"
ucap Varel terkekeh pelan saat melihat Vania sangat tidak sabar melihat isi hadiahnya
"Astaga ini indah sekali"
ucap Vania senang
Hadiah yang diberikan Varo dan Lista adalah sebuah gambar yang sangat indah didalamnya ada Vania, Varel, Varo, Lista, dan kedua bayi kembar yang sedang tertidur di kereta bayi
__ADS_1
"Anak-anakmu sangat pintar"
ucap Varel tersenyum
Mereka sudah mengetahui bahwa gambar itu dibuat oleh Varo dan yang mewarnai nya Lista karena jika untuk urusan menggambar, keduanya selalu kompak untuk menutupi kekurangan satu sama lain
"Kau menyukainya?"
"Sangat suka, setelah pulang dari rumah sakit kita pajang di ruang keluarga ya"
"Tentu saja Ibu Negara"
ucap Varel terkekeh pelan lalu kembali berjalan menuju meja dan mengambil sebuah kotak kecil
"Bukalah"
"Ini apa sayang? Kau tidak berniat untuk melamar ku kan?"
tanya Vania terkekeh
"Bisa, jika kau menginginkannya"
"Hei aku hanya bercanda"
ucap Vania lalu membuka kotak tersebut
"Wow"
"Ada apa? Apa kau tidak suka?"
"Sangat indah, sederhana namun menyimpan kesan yang elegan"
"Kemari kan, akan ku pasangkan untukmu"
ucap Varel lalu memasangkan kalung pemberiannya
"Cantik sekali" gumamnya pelan
"Tentu saja, kalung yang cantik diberikan kepada wanita yang cantik"
ucap Vania yang membuat Varel gemas melihatnya
"Apa ibu hamil menyukainya?"
"Aku selalu menyukai apapun yang diberikan suamiku"
"Astaga, kau menjadi sangat pandai bicara ya sekarang. Siapa yang mengajarimu?"
"Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Varel, yang mengakui dirinya sebagai the real of king di kota ini"
"Hahaha...Kau masih mengingatnya"
"Aku tidak pernah melupakan segala hal tentangmu"
ucap Vania mengedipkan sebelah matanya
"Hei mengapa Nona Muda ini sudah sangat berani menggodaku sekarang hem?"
tanya Varel lalu mencium pucuk kepala sang istri
"Hormon kehamilan"
jawab Vania terkekeh pelan.
*
*
__ADS_1
*