
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Masih di Ruangan Presdir
"Sudah berapa lama dia bekerja sebagai sekretaris mu?"
tanya Vania saat Eva sudah keluar dari ruangan suaminya
"Aku tidak menghitungnya"
jawab Varel santai yang membuat Vania mendengus kesal
"Hei berhentilah cemburu"
goda Varel menatap Vania lalu terkekeh pelan
"Siapa yang cemburu?"
tanya Vania tak mau kalah
"Apa kau sudah tidak mencintaiku?"
Tiba-tiba Varel berbicara serius membuat Vania terkejut mendengarnya
"A-apa maksudmu?"
"Jawab pertanyaan ku. Apa kau memiliki lelaki lain?"
"Kau berbicara apa sayang?"
"Jika kau mencintaiku maka cemburu lah"
ketus Varel dengan kesal hingga membuat Vania tak bisa menahan tawa
"Hahaha...Apa sekarang suami ku sudah berubah menjadi bucin?"
"Awas saja jika berani untuk berhenti mencintaiku bahkan untuk memikirkannya saja aku akan menghukum mu"
"Astaga aku takut sekali mendengarnya"
ucap Vania yang berpura-pura ketakutan
Entahlah ia merasa bahwa menggoda Varel hari ini benar-benar menyenangkan
"Sayang kau tidak ingin kan jika kita melakukannya disini?"
"Hei kau berbicara apa?"
ketus Vania yang sudah memerah karena malu
"Astaga aku ingin pulang sekarang"
"Selesaikan pekerjaan anda Tuan"
ucap Vania tegas yang membuat Varel menurutinya dan berjalan menuju meja kerjanya tentu saja dengan mulut yang mengomel.
*****
Saat keadaan masih setengah sadar, Vania merasakan tangan seseorang yang mencubit-cubit pipinya
"Hei bangun Tuan Putri"
Untuk kesekian kalinya Varel membangunkan Vania yang tertidur di sofa
"Aku mengantuk sekali"
ucap Vania dengan suara khas bangun tidur seraya menggeliat dan dengan sengaja terkena kepala Varel
"Sayang"
rengek Varel dengan wajah memelasnya membuat Vania tertawa seketika
"Ayo kita pulang"
"Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah Tuan Putri"
"Baiklah ayo pulang"
Mereka pun keluar ruangan dengan sekretaris Dim yang sudah menunggu didepan
"Mari Tuan Muda dan Nona Muda"
ucap sekretaris Dim setelah membuka pintu mobil.
*****
Di Dalam Mobil
"Sekretaris Dim, bisakah kita pergi ke rumah sakit?"
"Kau kenapa sayang?"
tanya Varel dengan raut wajah khawatir
"Kita pergi memeriksa keadaan mu, lihat wajahmu kembali pucat"
"Astaga aku tidak apa-apa"
"Sekretaris Dim pergilah ke rumah sakit Varel"
"Pergi saja Dim"
__ADS_1
"Baik Tuan Muda".
*****
Rumah Sakit VA&F
Baru saja rasanya sekretaris Dim menghentikan mobil tepat di halaman rumah sakit, terlihat banyak orang-orang yang memakai jas putih berlari dengan tergesa-gesa agar sampai terlebih dahulu di halaman rumah sakit untuk apa lagi kalau bukan untuk menyambut kedatangan Tuan Muda yang datang tanpa pemberitahuan
Bahkan dokter Hendra pun harus berlari dari kamar mandi setelah diberitahukan oleh staffnya jika mobil Fernandez Group ada dihalaman depan rumah sakit
"Sial, apa Varel dengan sengaja membuat kami tergesa-gesa seperti ini?"
gerutu Hendra saat baru saja sampai dihalaman rumah sakit untuk menyambut si Tuan Muda, pemilik rumah sakit tersebut
"Apa yang mereka lakukan?"
tanya Vania mengerutkan kening saat melihat begitu banyak dokter dan perawat yang berjajar dihalaman rumah sakit
"Entahlah, sepertinya sudah tidak waras lagi"
jawab Varel santai yang sukses membuat Vania mencubit keras perutnya
"Aku bercanda sayang"
ucap Varel terkekeh pelan
"Kau yang sudah tidak waras lagi. Apa harus ada penyambutan setiap kau kemari? Seperti Raja saja"
"Aku kan memang the real king di kota ini. Bahkan banyak wanita yang ingin bersanding denganku"
ucap Varel membanggakan diri
"Dan kau bangga dengan hal itu? Mengapa kau tidak jadi the real **** boy se-Indonesia saja?"
ketus Vania lalu keluar dari mobil tanpa menunggu Varel
"Sayang tunggu aku kan hanya bercanda"
ucap Varel lalu mengikuti istrinya untuk keluar dan merangkul pinggang Vania
"Jangan merangkul ku"
ketus Vania menepis kasar tangan Varel yang berada di pinggang nya
"Sayang kau tidak ingin kan aku mencium mu didepan banyak orang sekarang?"
tanya Varel pelan seraya memajukan wajahnya
"Dasar gila"
ketus Vania kesal sedangkan Varel hanya terkekeh lalu dengan sengaja mencium pucuk kepala istrinya membuat Vania menatapnya tajam
"Selamat datang Tuan Muda dan Nona Muda"
ucap semua orang saat melihat Varel dan Vania bahkan sekretaris Dim berjalan mendekat
Hanya satu kata yang sukses membuat dokter Hendra mendekat
"Kami ingin ke ruangan mu"
"Baik Tuan Muda"
ucap dokter Hendra menunduk sopan padahal didalam hatinya ia ingin mengutuk Varel
Mereka pun berjalan menuju ruangan khusus kepala rumah sakit.
*****
Ruangan Kepala Rumah Sakit
"Kau ingin membuat semua dokter dan perawat jantungan hah?"
ketus dokter Hendra saat mereka sudah sampai di ruangannya
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak punya mata Tuan Muda? Dokter dan perawat bahkan harus berlarian untuk menyambut kedatangan mu"
"Siapa yang menyuruh mereka menyambut ku?"
tanya Varel dengan santai nya membuat dokter Hendra mendengus kesal
"Baiklah Tuan Muda, apa keluhan mu?"
"Istriku yang akan menjelaskannya"
"Apa setelah menikah kau sudah tidak mempunyai mulut?"
sindir dokter Hendra yang membuat Varel menatapnya tajam
"Begini dok, sejak tadi pagi Varel mual dan tidak berselera makan bahkan ia selalu ingin memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar bahkan saat ini pun wajahnya masih pucat. Selera makannya mulai aneh, ia bersemangat memakan makanan yang tidak ia sukai dan muntah saat mencium bau makanan biasanya"
"Itu bukan Varel yang harus diperiksa tapi kakak ipar"
"Aku? Mengapa aku yang harus diperiksa? Aku baik-baik saja"
ucap Vania mengerutkan kening
"Sebaiknya kita mendatangi ruangan dokter Ryan"
"Mengapa kau berani memerintahkan istriku hah?"
"Varel jika kau ingin tau apa penyebab mu seperti ini, maka ikutilah"
ucap dokter Hendra yang sudah tidak tau lagi harus mengatakan apa kepada manusia aneh yang dihadapannya.
*****
__ADS_1
Ruangan Dokter Ryan
Setelah berbicara cukup lama, akhirnya dokter Ryan mengajak Vania untuk periksa di ruangan khusus
Vania pun dengan sengaja melarang Varel untuk mengikutinya karena ia ingin mengetahuinya sendiri
Namun karena Varel tidak sabar dan tidak ingin Vania berlama-lama berduaan bersama dokter Ryan akhirnya Varel pun menyusul dan melihat dokter Ryan sedang mengoles sesuatu diperut istrinya
"Apa yang kau lakukan hah?"
teriak Varel saat melihat dokter Ryan membuka gaun istrinya dan mengoles sebuah gel
"Sa-saya a-akan memeriksa Nona Muda Tuan"
ucap dokter Ryan gugup
"Sayang, dokter Ryan hanya memeriksaku"
ucap Vania menengahi
"Hen apa tidak ada dokter wanita lainnya?"
ketus Varel menatap dokter Hendra dengan tajam
"Hanya dokter Ryan lah yang kerjanya sangat baik di bidang ini"
jawab dokter Hendra santai sedangkan dokter Ryan sudah ingin mengompol karena saking takutnya berhadapan dengan Tuan Muda
"Cih, pergilah keluar Hen aku tidak ingin kau melihat perut istriku"
ucap Varel tegas lalu dokter Hendra pun keluar menunggu di luar bersama dengan sekretaris Dim
"Sayang diam lah, dokter Ryan tidak bisa memeriksaku jika kau tidak bisa diam"
"Kau suka dipegang-pegang lelaki lain hah?"
ketus Varel dengan kesalnya
"Kemari lah"
Walau pun masih marah, Varel pun mendekat dan berdiri disebelah sang istri
"Dokter Ryan silahkan dilanjutkan"
ucap Vania sopan seraya tangannya menggenggam erat tangan Varel membuat Varel menatapnya penuh tanda tanya
Dokter Ryan pun melanjutkan pemeriksaannya dengan mengoleskan gel diperut Vania dan mengambil sebuah alat lalu meletakkannya di atas perut Vania yang sudah basah terkena gel, kemudian ia putar ke kiri dan ke kanan secara bergantian lalu maju mundur maju mundur cantik
"Mengapa ia memutar alat itu maju mundur maju mundur cantik?"
bisik Varel yang membuat Vania terkekeh pelan
"Selamat Tuan Muda, anda sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Nona Muda sedang hamil 8 minggu"
"A-apa? Kau berbicara apa dokter? Vania hamil? Istriku hamil?"
tanya Varel tidak percaya
"Ya Tuan Muda, Nona Muda sedang hamil 8 minggu dan berita baiknya lain Nona Muda mengandung bayi kembar"
"Astaga terima kasih Tuhan"
ucap Vania pelan seraya mengelus perutnya dan menatap Varel tak percaya
"Terima kasih sayang terima kasih"
ucap Varel lalu mencium pucuk kepala Vania berkali-kali
"Bisa dilihat di layar, ini adalah janin Nona Muda"
"Mengapa kecil sekali?"
tanya Varel mengerutkan kening seraya berpaku menatap layar monitor yang memperlihatkan gambar hitam putih
"Benar Tuan Muda, ini terlihat kecil karena kandungan Nona Muda masih berusia 8 minggu"
ucap dokter Ryan menjelaskan
Lalu dokter Ryan pun mulai memainkan tombol di mesin, kemudian menggeser alat USG dan menaiki volume. Terdengarlah suara dentuman detak jantung yang berirama dengan merdunya masuk di telinga Varel dan Vania yang mendengarnya
Vania berdecak takjub, suara jantung kedua janin nya membuat air matanya kembali lolos membasahi wajahnya bahkan Varel yang mendengarnya pun tak kalah takjub dengan mata yang berkaca-kaca menatap istrinya penuh haru
Seperti ini kah suara surga? Dari seorang perempuan yang dulunya hanya ingin ku permainkan?-Varel
"Mengapa saya tidak merasakan gejala apapun ya dok? Bahkan saya tidak mengetahui bahwa saya sedang hamil 8 minggu?"
tanya Vania lagi saat mereka kembali ke meja dokter Ryan
"Gejala hamil dirasakan berbeda-beda setiap orangnya Nona Muda, seperti Nona Muda yang gejala hamil nya dirasakan oleh Tuan Muda. Hal itu memang wajar bahkan ada yang lebih parah dari Tuan Muda ngidam nya"
ucap dokter Ryan menjelaskan
"Jadi jika Tuan Muda kembali merasakan mual atau pun berkeinginan memakan sesuatu yang tidak ia suka, cobalah untuk dituruti karena itu bukan kemauan Tuan, tetapi kemauan kedua janin yang ada di rahim Nona Muda. Biasanya ini berlaku hingga kandungan berumur tiga bulan"
"Baik dokter terima kasih banyak. Setelah ini cek rekening mu"
"Terima kasih banyak Tuan Muda dan Nona Muda"
Varel dan Vania pun keluar dari ruangan dokter Ryan dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya membawa sebuah amplop yang berisikan foto USG.
*
Nih author kasih bocoran ya🤭setelah ini Tuan Muda Varel bakalan bucin banget🤫dan pastinya ada acara mewah untuk mempublikasi kan kehamilan istri Tuan Muda🤫🤭..
*
*
__ADS_1
*