Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Bertemu Istriku


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Varel tidak tau bagaimana kehidupannya kedepan nanti jika istrinya pergi meninggalkannya seperti ini. Banyak pikiran yang melintas sehingga ia tidak sanggup untuk memikirkan apa-apa. Hanya kosong dan hampa seperti ruangan bersalin tanpa ranjang rumah sakit. Begitulah yang Varel rasakan saat ini. Untuk menangis pun rasanya ia tidak sanggup, hanya bisa mengeluarkan helaan nafas yang berat yang menandakan bahwa dirinya sekarang tidak baik-baik saja.


Mengapa kau pergi meninggalkanku?-Varel


Karena terlalu tenggelam dalam pikirannya masing-masing, Varel bahkan Daniel tidak sadar jika pintu ruangan bersalin terbuka dan masuklah seorang pria bertubuh tinggi


“Rel”. Hanya dengan mendengar suaranya, mereka tau yang datang adalah Sebastian.


Varel hanya bisa mengangkat kepalanya sejenak untuk menatap sahabatnya tersebut lalu kembali menundukkan kepala membuat Sebastian menghela nafas berat.


“Rel, kemarilah” ucap Sebastian meminta Varel untuk menundukkan kepalanya pada bahunya


Varel yang tidak memiliki kekuatan bahkan untuk berdiri pun hanya bisa pasrah saat Sebastian menuntun kepalanya agar bersandar pada bahunya.


Sebastian memang yang paling gila dan brengsek diantara ketiganya, namun ia akan menjadi seorang kakak yang bertanggung jawab jika diantara Daniel dan Varel sedang mengalami masalah dan musibah karena ia merasa dirinya yang paling tua diantara ketiganya walaupun hanya berjarak satu tahun.


Sebastian akan bersikap sangat serius dan kalian pasti tidak pernah menyangka jika dibalik wajah yang serius tersebut tumbuh sifat jahil dan brengsek. Ya, seperti itulah Sebastian menempatkan dirinya diantara mereka bertiga.


Jika kau ingin mempunyai suami yang bisa diandalkan dalam urusan apapun termasuk urusan ranjang, Sebastian lah orangnya. Namun, tidak dalam urusan cinta. Ia akan menjadi sangat amat bodoh seperti halnya Varel jika sudah memasuki urusan cinta. Dan, kembali lagi bahwa hanya Daniel, pria paling normal diantara ketiganya.


Perlahan, tangan Sebastian mengelus pelan punggung Varel yang bersandar kepadanya. Memang Varel tidak mengatakan apa-apa tapi Sebastian merasakan bahwa ada air mata yang jatuh membasahi bahunya. Air mata yang semakin lama semakin banyak ia rasakan.


Sebastian hanya diam karena ia ingin Varel menangis sepuasnya dalam diam. Ia hanya akan mengelus dan menepuk pelan punggung sahabatnya itu ditambah dengan Daniel yang juga mengelus pelan rambut Varel.


Ada bahu yang bergetar hebat dan ada suara tangis yang mati-matian ia tahan di dalam ruangan tersebut. Hal itu membuat siapapun yang melihatnya akan menangis termasuk Sebastian dan Daniel yang menatap Varel dengan tatapan iba.


Ingatan Sebastian kembali pada beberapa tahun yang lalu bagaimana ia melihat secara langsung pengaruh besar dari kehilangan yang membuat hidup Varel berubah total. Bahu yang dahulu sangat bergetar hebat karena menahan tangis kini harus ia lihat lagi sekarang.

__ADS_1


“Rel..” panggil Sebastian pelan sedangkan yang dipanggil hanya diam tidak menjawab


Daniel yang merasakan jika Varel sudah berhenti menangis pun ikut membuka suara. “Lampiaskan semuanya, Rel”


“Aku ingin bertemu dengan istriku..” lirih Varel pelan


“Vania tidak akan senang melihat suaminya yang sangat kacau seperti ini” ucap Sebastian menepuk pelan bahu sahabatnya


“Bas, katakan padaku bahwa Vania baik-baik saja”


Baik Sebastian maupun Daniel hanya bisa diam karena tidak tau harus mengatakan apa


“Tolong.. katakan padaku bahwa semuanya hanya mimpi buruk..”


“Rel..-“


Dengan segera Varel memotong pembicaraan Daniel. “El, bagaimana bisa kau mempercayakan semuanya? Vania adikmu dan istriku baik-baik saja sekarang”


“Rel, aku pun sungguh tidak bisa mengikhlaskan semuanya. Namun, aku harus bagaimana lagi? Vania akan sedih jika kita terlalu terpuruk”


“Kau gila, El..”


“Sama seperti mereka yang percaya bahwa istriku sudah pergi..”


“Tidak.. Istriku tidak kemana-mana..”


“Vania baik-baik saja..”


“Sungguh..”


“Aku merindukannya..”


“Vania..”


*****

__ADS_1


Berulang kali dijelaskan pun Varel tak akan pernah bisa menerima apapun ucapan orang-orang. Ia hanya percaya pada pendapatnya sendiri yang mengatakan Vania masih hidup dan baik-baik saja. Sebastian yang melihat itu pun tidak berani membawa Varel menuju ruang mayat karena ia tau sahabatnya akan mengacau disana. Di dalam ruangan bersalin saja Varel sudah kacau, apalagi jika diperhadapkan dengan tubuh istrinya yang terbujur kaku. Bisa ditebak bagaimana kacaunya Varel melihat itu semua nantinya.


Dan disinilah mereka berada, masih enggan beranjak dari ruang bersalin karena mereka masih belum bisa menenangkan Varel yang semakin meracau dan menyebut-nyebutkan nama istrinya membuat Sebastian dan Daniel tidak tega mendengarnya.


Sungguh, mereka tidak tau harus melakukan apalagi sekarang. Semua upaya sudah mereka lakukan namun tak ada satu pun yang berhasil, bahkan Varel terlihat semakin kacau. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan lagi sekarang adalah dengan hanya diam dan mendengarkan semua ucapan yang keluar dari mulut Varel walaupun hampir semuanya tidak masuk akal, seperti ia akan rela jika Tuhan lebih dahulu mencabut nyawanya dan digantikan dengan nyawa istrinya agar Vania bisa tetap hidup dan mengurus anak-anak mereka.


Benar-benar sudah gila menurut Daniel, apalagi saat Varel dengan tatapan rapuhnya meminta kepada mereka untuk menggantikan semua kebahagiaannya dengan nyawa Vania. Bagaimana bisa Varel berpikir seperti itu? Daniel dan Sebastian bukan malaikat pencabut nyawa terlebih mereka bukan Tuhan yang bisa dan mampu dalam hal hidup dan mati.


“Jika kau seperti ini terus, aku tidak akan pernah membawamu untuk bertemu dengan istrimu”. Ancaman yang Sebastian lontarkan beberapa kali namun tidak membuahkan hasil karena Varel seolah menutup mata dan telinga akan keadaan disekitarnya. Ia hanya selalu meracau dengan menyebut nama Vania berulang kali membuat Sebastian dan Daniel hanya bisa menghela nafas berat hingga tiba-tiba


“Apa kau tega melihat istrimu yang sedang kedinginan disana?”. Ucapan Daniel yang berhasil membuat Varel menoleh kearahnya


Berhasil.-Daniel


“Ya, istrimu. Vania sedang berada di ruangan yang sangat gelap dan dingin sekarang dan kau berada disini seperti orang gila. Apa kau tega membiarkan istrimu sendirian disana padahal ia pasti sudah berkali-kali berdoa agar kau cepat menemui dan memeluknya”


Ucapan Daniel membuat Varel terdiam namun tetap tatapannya yang penuh arti tidak lepas dari Daniel


“Kita akan menemui Vania tapi dengan satu syarat”


“Apa?”. Dengan cepat Varel memotong pembicaraan Daniel karena setelah mendengar semua kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu, entah kenapa hati Varel tiba-tiba tergerak untuk cepat menemui istrinya


“Berjanjilah bahwa kau bisa mengontrol emosi dan tidak mengacau disana. Vania tidak suka melihatmu dipenuhi amarah, bukan? Apa kau ingin melakukan sesuatu yang tidak disukai oleh istrimu?”


Perlahan, terlihat bahwa Varel menggeleng pelan lalu kembali menatap Daniel dengan tatapan rapuhnya


“Ayo, antarkan aku bertemu dengan istriku”. Seolah perasaan semangat jatuh dari langit dan menimpa Varel, ia seperti anak kecil yang langsung bersemangat jika hendak dibelikan mainan baru.


Dan seperti itulah Varel ketika ia mendengar bahwa kedua sahabatnya ingin mengantarkannya bertemu dengan sang istri yang sangat ia cintai.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2