Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Gudang Kosong


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Gudang Kosong


Byurrrrr....


"APA YANG KAU LAKUKAN?"


teriak seorang pria saat orang itu menyiram Vania dengan air minum


"Tenanglah, aku akan bermain-main sebentar"


ucap orang itu menyeringai


"Kau berjanji untuk tidak menyakitinya"


"Cih, cinta bertepuk sebelah tangan yang benar-benar menjijikkan"


Byurrrrrrrr....


Lagi dan lagi orang itu menyiram Vania dengan air minum yang dipegangnya


Plakkkkkkk....


"BRENGSEK!!!"


teriak pria itu menahan amarah


Tamparan keras di pipi Vania membuat wanita tersebut sadarkan diri dengan wajah yang memerah dan memanas karena tamparan tersebut namun Vania tak berani untuk sekedar mengelusnya


"Si-siapa kau?"


tanya Vania dengan tangan yang sudah bergetar mengelus perut buncitnya


"Kau tidak mengenalku? Aku sahabat suamimu hahahaha"


Tawa orang itu menggema saat melihat wajah ketakutan Vania, seperti sesuatu yang benar-benar menggemaskan menurutnya


Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi? Dan dimana aku?-Vania


"Apa pipi mu sakit?"


tanya orang itu lalu mengelus pelan pipi Vania membuat Vania menatapnya dengan penuh ketakutan


"Aaarrrggghhhh"


teriak Vania saat orang itu menarik keras rambutnya


"Sakit mu tidak seberapa seperti saat aku mendengar bahwa Dinda masih menyukai suamimu"


teriak orang itu lalu melepaskan tangannya secara kasar hingga tanpa sengaja kepala Vania terbentur di dinding dengan mengeluarkan suara yang cukup keras


"Kau benar-benar tidak mengenalku? Apa Varel tidak pernah menceritakannya? Pengkhianatan Dinda dan sahabat baiknya?"


Pertanyaan beruntun dari orang itu membuat Vania berpikir keras sehingga tak berapa lama ia memberanikan diri untuk mengeluarkan suara


"A-apa kau adalah sahabat baiknya?"


"Ya, kau benar sekali. Aku sahabat baik Varel yang berhasil merebut Dinda dan membuat trauma yang begitu besar untuknya"


Tawa orang itu kembali menggema hingga ia menghentikan tawanya dan menatap Vania tajam sedangkan yang ditatap hanya menunduk karena takut seraya sesekali mengelus perut buncitnya


"Kau adalah sumber kebahagiaan Varel"


ucapnya menyeringai


"A-apa yang kau inginkan?"


"Jika aku tidak bisa membunuh Varel dengan tanganku sendiri, maka aku akan membuatnya hidup seperti di neraka dengan mengambil dan menghancurkan sumber kebahagiaannya"

__ADS_1


"Kau lihat wanita dan anak kecil disana?"


tanya orang itu lalu mencengkeram dagu Vania dengan keras dan menuntun tatapan Vania kepada wanita yang tak sadarkan diri tak jauh dari tempatnya bersama seorang anak kecil


"Cla-Clara?"


"Sahabatmu bukan?"


"Mengapa kau membawanya ke dalam perangkap mu?"


"Dia hanya akan menjadi jembatan untuk pertemuan ku dengan Varel. Jika Varel tau aku membawa korban lain maka dirinya akan cepat sampai kemari. Entah sampai dengan selamat atau menghembuskan nyawa nya didepan sana"


"Apa maksudmu? Varel tidak akan kalah melawan mu"


"Ya, kau benar. Varel tidak akan kalah melawanku tapi dia akan meninggal jika dia berani membuka pintu utama karena aku menempatkan bom disana yang akan membuatnya hancur berkeping-keping. Kau ingin menyaksikannya?"


"Kau gila, benar-benar psikopat"


ucap Vania menatap orang itu dengan tatapan tajamnya


"Bagaimana jika kita menelfon Varel agar dia cepat sampai kemari?"


"Tidak, aku mohon jangan. Ini bukan salah Varel, Nona Dinda lah yang pantas kau salahkan, Tuan. Gara-gara Nona Dinda, kau menjadi seperti ini"


"Varel yang salah. Jika dia tidak hidup dan menjadi pria idaman semua wanita, Dinda tidak akan kembali ke Indonesia dan mengemis cintanya"


"Tuan, aku mohon lepaskan Clara dan anak kecil itu. Mereka tidak berdosa"


"Hei, kau belum menyaksikan pertunjukan hebat, bersabarlah sebentar lagi. Setelah kita menelfon Varel, kau akan melihatnya"


ucap orang itu lalu mengambil ponsel dari dalam sakunya dan menelfon ke nomor Varel


Saat panggilan tersambung, tak lupa orang itu men loudspeakerkan nya agar Vania juga mendengar suara Varel


"Siapa ini?"


tanya Varel diseberang sana


"Halo Tuan Muda, lama tidak bertemu"


teriak Varel dengan penuh amarah


"Tenanglah kawan, aku tidak akan menyakitinya. Kemari lah, kita berbicara seperti dua sahabat yang lama tak bertemu"


"Tidak, jangan Varel jangan kemari"


teriak Vania yang membuat Varel diseberang sana benar-benar terkejut


"Sayang? Sayang, kau mendengarkan ku? Dimana kau sekarang sayang?"


"Hei diam lah"


ucap Jashon lalu menatap Vania tajam


"Kemari lah Rel, kita minum teh bersama"


"SHIT!!! Apa kau benar-benar bosan hidup, Jashon?"


"Kau benar, aku akan mati bersama wanita dan calon bayimu"


ucap Jashon terkekeh pelan membuat amarah Tuan Muda semakin meningkat


"Jika kau berani menyentuh istriku bahkan sehelai rambut pun aku tidak akan memaafkan mu"


"Huh kau terlambat Rel, aku bahkan sempat menamparnya karena dia tidak bangun-bangun"


jawab Jashon lalu tertawa kencang


"Brengsek kau"


teriak Varel dengan penuh amarah


"Ku tunggu kedatangan mu. Entah kau masih selamat bertemu istri mu atau tubuhmu sudah hancur berkeping-keping karena bom yang menantimu"

__ADS_1


ucap Jashon tertawa kencang lalu memutuskan panggilan membuat Varel yang berada diseberang sana benar-benar emosi dan mengepalkan tangannya kuat.


*****


Didalam Mobil


"Bawa ambulance dan polisi, Dim"


ucap Varel saat Jashon memutuskan panggilan


"Baik Tuan Muda"


jawab sekretaris Dim sopan lalu menelfon seseorang


"Rel, sabarlah. Kita sedang menuju kesana, tahan amarahmu"


ucap Daniel menenangkan


"Vandi, bersiaplah jika ambulance terlambat datang"


"Aku menyiapkan semuanya, jadi tenanglah, Kak"


jawab Vandi menatap Varel intens


Ya, sebelum menuju ke desa, hal pertama yang Vandi siapkan adalah alat medisnya karena untuk berjaga-jaga siapa tau Kakak iparnya terluka


"Pa, maafkan Varel"


lirih Varel pelan karena Papa Lyno yang duduk disebelahnya hanya diam seraya menghela nafas berat


"Tidak, Nak. Papa sudah katakan bahwa ini bukan salahmu"


ucap Papa Lyno lalu mengelus punggung Varel


"Varel memang bukan suami yang baik, Varel tidak bisa menjaga istri dan calon buah hati kami, Varel selalu membuat istri Varel terkena bahaya"


"Berhenti menyalahkan dirimu Rel"


ucap Daniel pelan


"Daniel benar. Kita tidak tau apa yang akan terjadi, tindakan yang kau lakukan sekarang sudah benar. Kau melindungi kedua anakmu yang menuju ke kota dengan kau sendiri yang akan berjuang mencari istrimu"


jawab Sebastian menimpali.


*****


Kembali ke Gudang Kosong


"Sekarang nikmatilah pertunjukannya"


ucap Jashon lalu menatap Vania


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak penasaran dengan dua orang diujung sana?"


tanya Jashon lalu menunjuk dua orang pria yang wajahnya ditutupi topeng sehingga Vania tidak bisa melihat wajah mereka


"Apa mereka anak buah mu?"


"Ya, ku rasa kau akan jantungan jika melihat mereka. Orang terdekat yang berkhianat"


ucap Jashon terkekeh lalu beberapa pria bertubuh besar mendorong paksa dua pria itu untuk mendekati Jashon dan Vania


"Tunjukanlah wajah kalian"


ucap Jashon menyeringai lalu dua pria itu mulai melepaskan topengnya dan menatap Vania


Deg


"Daffa? Bimo?"


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2