Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Dinda Kembali


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Akhirnya setelah melewati perjalanan yang panjang, pesawat pun mendarat di bandar udara yang membuat Varel dan keluarganya segera keluar dari dalam pesawat.


Saat ini, semuanya sedang berjalan santai seraya menikmati pemandangan malam di bandar udara dengan Varo dan Lista masing-masing membawa koper mereka dan Varel yang membawa koper miliknya dan istri juga kedua bayi mereka, sedangkan Vania mendorong kereta kedua bayi kembar.


Sebelum mendarat, Varel sudah memberi kabar kepada Sekretaris Dim untuk menjemput mereka di bandar udara sehingga mereka sedang mencari keberadaan sang asisten.


Varel yang sedang menatap sekelilingnya, tidak menyadari bahwa dirinya tertinggal tidak terlalu jauh dari istri dan kedua anaknya sehingga ia segera menyusul mereka, namun langkahnya terhenti ketika ia merasakan bahwa lengannya dipegang oleh seseorang.


"What are you doing?!" ketus Varel dengan kesal ketika melihat seorang wanita yang menahan lengannya.


Wanita tersebut segera melepaskan tangannya pada lengan Varel lalu membuka kacamata nya. "I want to take a picture with you because you look so handsome" ucap wanita tersebut dengan santainya.


Saat mata keduanya saling bertemu, lidah Varel seketika kaku dan kakinya seketika lemas karena ia sangat mengenali mata tersebut. Manik mata milik seseorang yang pernah sangat ia cintai pada masanya.


"D-dinda?!"


Deg.


Vania benar-benar terkejut ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut sang suami.

__ADS_1


Saat itu, ia yang menyadari bahwa suaminya sedikit tertinggal pun kembali menyusul, namun ketika melihat Varel sedang berbicara pada seorang wanita, Vania berdiam diri di tempat yang tidak terlalu jauh sehingga ia bisa mendengar dengan jelas apa yang suaminya dan wanita asing tersebut bicarakan.


Sungguh, Vania saat terkejut ketika mendengar sang suami yang kembali menyebut nama mantan kekasihnya setelah sekian lama semenjak kejadian itu. Ia benar-benar tidak tau harus merespon bagaimana sehingga tanpa sadar, tas kecil yang ia pegang jatuh seketika membuat Varel tersadar dari lamunannya.


Saat tatapannya terpaku pada sang suami, Vania segera berbalik pergi meninggalkan Varel yang berusaha untuk mengejarnya.


Dalam perjalanan, Vania tidak tau apa yang ia rasakan namun ia cukup terkejut ketika mendengar nama yang hampir saja ia lupakan. Seseorang yang pernah menyakiti dirinya dan seseorang yang pernah hampir membuat rumah tangganya hancur.


Vania dengan segera mendorong kereta bayi dan membawanya keluar dari bandar udara dimana Sekretaris Dim sudah menunggu.


Ketika melihat Mommy nya yang sedikit aneh, Varo menyadari ada yang tidak beres terlebih ketika ia melihat Varel yang sedikit berlari menghampiri mereka.


"Koko dan Cici duduklah di belakang" ucap Vania kepada kedua anaknya. Dengan segera, Varo dan Lista menurutinya, mereka pun duduk di kursi belakang dan Vania duduk di kursi tengah bersama kedua anaknya.


Saat melihat Vania dengan sengaja membuat kursi di sebelahnya penuh dengan tas dan peralatan bayi, akhirnya Varel mengalah dengan duduk di sebelah Sekretaris Dim karena ia tau bahwa istrinya pasti sedang marah padanya.


Apa mereka ada masalah?-Sekretaris Dim.


Vania hanya bisa diam, entah apa yang ia pikirkan saat ini, hingga tanpa sadar saat menutup mata, air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya.


Pikiran Vania sangat kacau dengan banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, apalagi saat melihat suaminya yang hanya diam dan tidak membuka suara membuatnya semakin takut.


Tuhan, tolong aku.-Vania.


Vania hanya bisa memasrahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa atas rumah tangganya dan semuanya yang akan atau mungkin terjadi nanti. Ia tidak tau pasti, ada kejadian apa yang akan terjadi namun ia harus bisa menyiapkan diri untuk segala kemungkinan.


Saat sedang fokus dengan pikirannya, tanpa sadar ternyata mobil yang dibawa oleh Sekretaris Dim sudah berhenti dan sampai di halaman rumah utama.

__ADS_1


Vania pun segera keluar dengan membawa kdua bayinya dan tas perlengkapan juga tak lupa untuk membangunkan kedua anaknya yang tertidur di kursi belakang. Ia mendorong kereta bayi dengan hati-hati juga membawa tas perlengkapan milik kedua bayi kembarnya yang cukup berat tanpa bantuan Varel.


Karena jam sudah menunjukkan pukul 22.03 WIB, akhirnya Vania segera membawa kedua bayinya menuju kamar utama dengan tidak membangunkan Mama Melinda yang pasti sudah tertidur.


Vania membaringkan kedua anaknya pada box bayi dengan hati-hati agar tidak membangunkan keduanya karena mereka baru saja tertidur nyenyak saat pesawat hendak mendarat tadi.


Setelah berhasil menidurkan mereka, Vania pun segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur karena ia sudah sangat kelelahan walaupun ia sangat ingin mendengar kalimat penjelasan yang keluar dari mulut sang suami.


Di dalam kamar mandi, Vania menatap wajahnya di cermin dengan tatapan sendu. "Ah, mau bagaimana pun kau tidak akan pernah bisa bersaing dengan semua orang. Jangan lupakan status mu" ucapnya terkekeh pelan namun tanpa sadar air matanya kembali keluar membasahi wajahnya.


Vania tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Namun, sungguh ia hanya ingin beristirahat dan melupakan semuanya walaupun sejenak. Pikirannya sudah hampir pecah memikirkan semua hal.


Tak lama kemudian, ia pun keluar dari kamar mandi dan menatap kamar utama yang sepi tanpa kehadiran sang suami. Dengan segera, Vania berjalan menuju walk in closet untuk memasangkan piyama tidur dan segera membaringkan dirinya di tepat tidur. Tak lupa juga untuk mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.


Saat ini yang ia inginkan hanyalah tidur karena ia sangat amat kelelahan setelah perjalanan yang memakan waktu cukup lama. Dalam pesawat pun, ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena kedua anaknya benar-benar rewel sehingga ia tidak mempunyai waktu istirahat yang cukup.


Varel yang saat itu baru saja masuk ke kamar hanya bisa menghela nafas berat ketika melihat lampu kamar sudah padam dan sang istri sudah tidur tanpa menunggunya.


Dengan segera, Varel berjalan mendekati sang istri dan mengelus pucuk kepalanya dengan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya yang cukup sensitive dengan gerakan.


"Pasti dia akan mendiami ku" gumam Varel pelan.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2