
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
“Brengsek”
Sayang, kemari lah..anak kita.-Varel
Tangan Varel mengepal hingga tanpa sadar menggenggam erat tangan Lista. Melihat itu, dokter Hendra mendekat dan mulai melepaskan tangan Varel yang menggenggam tangan Lista
“Kau akan menyakitinya, Rel”
ucap dokter Hendra pelan
“Hen..”
“Mari ke ruangan ku”
“Tidak, disini saja”
“Rel, akan sangat berat bagi dokter berbicara kepada wali pasien dihadapan pasien”
Setelah memaksa berkali-kali, akhirnya Varel pun ingin keluar bersamaan dengan dokter Hendra sedangkan Bi Ijah dan Nike tetap diruangan untuk menunggu Lista dan sekretaris Dim mengikuti kemanapun langkah Varel pergi.
Ruang Kepala Rumah Sakit
“Minumlah dahulu”
Dokter Hendra pun memberikan air putih kepada Varel namun langsung ditolak oleh pria itu
“Katakan sekarang”
Dokter Hendra menghela nafas berat sebelum berbicara karena ia sangat takut jika salah ucap terlebih didepannya sedang duduk manusia setengah singa
“Kau sudah melihat, bukan?”
tanya Dokter Hendra yang mendapat anggukan pelan dari Varel
“Dia melukai dirinya sendiri dengan menggigit tangannya. Aku sempat bertanya kepada Bi Ijah dan ia mengatakan bahwa baru kali ini ia melihat bekas luka itu. Apa Lista dirumah selalu menggunakan pakaian yang menutupi tangannya?”
Varel hanya diam tanpa menjawab apapun
“Kau diam berarti kau tidak pernah memperhatikannya lagi”
Bahkan sekretaris Dim pun terkejut mendengar dokter Hendra yang berbicara seperti itu
“Apa dalam sehari kau ada berbicara kepadanya? Sekedar menanyakan tugas sekolah?”. Hening
Lagi-lagi Varel hanya diam tanpa berani menjawab
“Atau apa kau pernah saat weekend mengajaknya jalan-jalan? Atau weekend kau habiskan untuk bekerja saja?”
Lagi. Untuk kesekian kalinya Varel terdiam menatap lantai dengan tatapan kosong
“Apa kau sudah menyadari betapa hebat pengaruh kepergiaan Kakak ipar?”
__ADS_1
Seketika, Varel mengangkat kepalanya menatap dokter Hendra.
Namun, tatapan itu hanya kosong
“Apa harus menunggu sampai Lista menyakiti diri dulu, baru kau sadar akan apa yang kau lakukan?”
Varel kembali menunduk dengan mulut yang tertutup rapat
“Jawab aku, Tuan Muda!!”
Amarah dokter Hendra sudah diujung tanduk, namun yang dimarahi hanya diam
“Apa yang kau lakukan, Rel? Kau membuat anakmu sendiri menderita. Aku tau, aku tau jika dia bukan anak kandungmu-“
“Dia anakku” ucap Varel dingin
“Lalu? Jika memang kau menganggapnya anak kandungmu, apa kau sadar dengan semua yang kau lakukan? Anak perempuan berumur 4 tahun harus menderita akibat keegoisan Daddy nya sendiri. Anak yang tidak tau apa-apa harus menyakiti dirinya karena melihat tak ada satu pun orang yang peduli padanya. Apa kau baru sadar sekarang?”
“Hen”
“Lista menyakiti dirinya sendiri dengan kemungkinan besar bahwa ia merasa ia sendirian, tak ada siapa pun yang menemaninya, ia merindukan sosok Kakak ipar, ia merindukan sosok orang yang mendengar ceritanya, menemaninya tidur, memperhatikannya.
Apa selama kepergian Kakak ipar, kau menggantikan posisinya? Apa kau selalu ada disaat Lista membutuhkanmu? Apa kau akan menemaninya tidur dan membacakan dongeng untuknya?”
Tidak ada yang berbicara kecuali dokter Hendra bahkan sekretaris Dim hanya diam karena sungguh ini pertama kali baginya melihat dokter Hendra berani berbicara seperti ini dihadapan Varel
“Aku tidak meminta kau harus menemaninya 24 jam, Rel. Cukup dengan kau mendengarnya bercerita saja akan membuatnya merasa bahwa ia masih mempunyai seseorang.
Anak kecil sepertinya akan trauma dengan hal seperti ini. Akibatnya? Dia akan selalu menyalahkan diri sendiri bahkan yang terparah akan menyakiti dirinya”
Lista, maafkan Daddy.-Varel
“Hen..
Aku mencintai Vania”
Baik dokter Hendra maupun sekretaris Dim benar-benar terkejut mendengar apa yang Varel ucapkan karena sejak kepergian Vania, taka da satu pun orang yang berani menyebut namanya didepan Varel. Namun, saat ini nama itu keluar dari mulut Varel sendiri
“Aku mencintai Vania. Sungguh..”
Ada jeda sebentar sebelum Varel kembali berbicara dengan mengangkat kepalanya menatap dokter Hendra
“Aku seperti orang gila setiap hari merindukan sosoknya. Aku terlalu egois sehingga saat melihat wajah Lista, aku benar-benar tidak sanggup. Aku tidak bisa menghidupi anakku sendirian, aku butuh sosok istriku, Hen. Aku..aku butuh Vania”
Ucapan Varel yang benar-benar menyayat hati siapapun yang mendengarnya bahkan sekretaris Dim yang terkenal angkuh dan dingin pun menatap Varel dengan tatapan iba
“Setiap melihat Lista, aku selalu merasa bersalah karena aku tidak bisa menjaganya dengan baik. Aku selalu sakit jika melihat tatapan putri ku yang seolah bertanya where my mom?..Itu benar-benar menyakitkan, Hen”
“Kak”
Sekretaris Dim berjalan mendekati Varel yang sudah menunduk dengan bahu yang bergetar hebat
“Saat melihat putriku terbaring sekarang, aku sungguh tidak mengerti apa yang harus kulakukan. Seolah semesta menginginkan ku terluka”
Terdengar helaan nafas berat dokter Hendra
“Aku tidak tau dosa apa yang sudah kulakukan. Kenapa putriku juga ikut menjadi korban? Kenapa putriku juga terluka? Kenapa, Hen? Kenapa?!”
“Tolong, selamatkan putriku. Aku tidak ingin melihatnya terluka, apalagi sampai melukai dirinya sendiri lagi. Tolong..”
__ADS_1
Van, kembalilah.-Varel
*****
Vania tiba-tiba merasakan bahwa dadanya sesak dan susah untuk bernafas sehingga Varo yang berada didekatnya pun melihat pergerakan Mommy nya yang memukul dadanya berkali-kali
“Mommy, what are you doing?”
tanya Varo khawatir
“Sesak..Mommy susah bernafas”
“Mom, ada apa? Kenapa tiba-tiba seperti ini?”
“Mommy..tidak tau, nak”
“Mommy please listen to me, pelan-pelan atur nafas”
Varo berusaha untuk tetap tenang dan mulai mengatur nafas dan diikuti oleh Vania
Hingga beberapa saat Vania merasa kembali tenang, lalu Varo memberikan segelas air putih untuk Mommy nya
“Why, Mom?”
tanya Varo saat melihat Vania sudah selesai minum
“Mommy tiba-tiba memikirkan Lista”
“Kenapa?”
“Entahlah, perasaan Mommy tidak enak”
“Mom, semuanya baik-baik saja. Percayalah pada Varo”
Vania hanya diam seraya mengelus dada
Melihat hal itu, Varo kembali mengeluarkan suara
“Apa Mommy ingin menelpon Lista?”
tanya Varo yang membuat Vania benar-benar terkejut
“Jika itu yang membuat Mommy kembali tenang, coba saja. Untuk urusan Papa, Opa, dan Oma, biarkan Varo yang berbicara”
“Tidak perlu, Sayang. Mommy-“
“No, Varo sudah besar jadi sudah menjadi tanggung jawab Varo untuk melindungi Mommy. Telpon saja jika Mommy merindukannya, Varo akan bertanggung jawab”
Setelah dibujuk berkali-kali oleh sang anak, akhirnya Vania memberanikan diri untuk memanggil nomor iPad Lista menggunakan iPad Varo karena jika ia mengaktifkan ponselnya, Varel akan melacak lokasi mereka
IPad Varo menggunakan nomor yang tidak bisa dilacak oleh apapun sehingga ia tidak takut untuk memanggil nomor putrinya
Sudah dua kali memanggil, namun tak ada satu pun panggilan yang diangkat, bahkan iPad Lista mati.
Semoga kau baik-baik saja, Sayang.-Vania
*
*
__ADS_1
*