
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Setelah berbincang-bincang dengan Vandi dan Yeontan, Varel dan Vania pun pamit untuk kembali ke kamar utama.
******
Kamar Utama
Setelah sampai di kamar, tiba-tiba Varel melepaskan baju tidurnya yang membuat langkah Vania terhenti
"Hei pijat aku" ucapnya lalu berbaring telungkup
"Sayang, kau belum mencuci tangan setelah menggendong Yeontan" ucap Vania memperingatkan
"Oh iya aku lupa" ucap Varel singkat lalu berjalan menuju kamar mandi
"Jangan lupa gosok gigi" goda Vania
"Mengapa kau cerewet sekali?" ketus Varel yang membuat sang istri tersenyum.
*****
Sepeninggalnya Varel, Vania pun pergi ke walk in closet untuk mengganti pakaian santainya dengan piyama tidur
"Mengapa aku sudah terbiasa dengan kehadirannya? Bagaimana jika suatu saat ia akan membuang ku?" lirih Vania menatap bayangannya di cermin.
*****
"Naiklah" ucap Varel saat ia sudah berbaring dan melihat Vania yang juga sudah selesai mencuci tangannya
"Na-naik kemana, Sayang?" tanya Vania bingung
"Naik dan duduklah di sampingku, pijat punggungku. Jika kau ingin menaiki ku nanti saja setelah kau memijat punggungku" ucap Varel tersenyum penuh arti
Lalu Vania pun bergegas naik ke atas tempat tidur dan mulai memijat punggung sang suami
"Ceritakan lah"
Cerita? Apa dia ingin aku mendongeng?-Vania
"Cerita? Kau ingin aku mendongeng untukmu, Sayang?" tanya Vania dengan polosnya
"Hei kau kira aku anak kecil yang harus di dongeng kan?" ketus Varel yang membuat Vania cengengesan
"Ceritakan tentang anak asuh mu itu" ketus Varel kesal
"Oh itu" jawab Vania terkekeh
__ADS_1
"Namanya Varo, Aditya Alvaro anak kecil berumur 6 tahun yang ditinggal kedua orang tuanya saat dia berumur 2 tahun. Kedua orang tuanya meninggal karena sebuah kecelakaan dan dia tidak memiliki satu keluarga pun. Pihak rumah sakit membawanya ke salah satu panti asuhan dan selama 4 tahun lah panti asuhan merawatnya, selama 4 tahun juga aku selalu mengunjunginya.
Aku sangat mengetahui bagaimana rasanya tidak memiliki keluarga terlebih tidak memiliki orang tua, maka dari itu saat waktu luang aku selalu mengunjungi dan menemaninya, mendengarkan semua keluh kesahnya dan ceritanya tentang teman-temannya. Dan tentang Vandi, saat itu aku sedang belanja untuk kebutuhan anak-anak di panti dan Vandi membantu ku dan menemani ku ke panti asuhan sehingga ia bertemu dengan Varo dan juga menganggapnya sebagai anak asuh juga" ucap Vania tersenyum menjelaskan semua kepada sang suami
"Apa kau tidak pernah berfikir untuk mengadopsinya?" tanya Varel mengerutkan kening
"Pasti, aku sangat ingin sekali mengadopsinya, merawat dan menjaganya dengan tanganku sendiri, menemaninya bermain, mengajarinya belajar, bahkan menidurkannya. Namun saat itu aku sedang tidak mempunyai apa-apa, aku mulai berjuang untuk membangun toko roti, mencari penghasilan untukku tabung agar aku bisa memberinya makan dan menyekolahkannya. Dulu aku pernah berjanji akan membawanya bersamaku jika aku telah berhasil membeli rumah ayah dan ibu" jelas Vania meneteskan air mata
"Mengapa tidak kau adopsi saja sekarang?" tanya Varel heran
"Tidak, aku tidak punya keberanian Sayang, untuk menceritakannya kepadamu saja aku tidak berani apalagi harus meminta ijin mengadopsi anak kecil" lirih Vania menunduk
"Bodoh, kau boleh mengadopsinya" ucap Varel lalu membalikkan badannya
"Hei, jadi kau menangis dari tadi?" tanya Varel khawatir lalu menghapus sisa air mata di pipi sang istri
"Aku hanya sedih jika Varo harus merasakan bagaimana susahnya hidup tanpa kedua orang tua" ucap Vania tersenyum lemah
"Kau boleh mengadopsinya" ucap Varel
"Maksudmu? Jadi Varo boleh tinggal disini, Sayang?" tanya Vania bahagia dan Varel tersenyum lalu mengangguk
Semoga saja kehadiran Varo tidak membuatmu berfikir untuk kabur lagi dariku.-Varel
"Benarkah? Terima kasih Sayang" ucap Vania yang tanpa sadar memeluk erat sang suami
"Tapi kau harus memberikanku hadiah" ucap Varel lalu membaringkan sang istri dan menindihnya
"A-apa yang kau lakukan Sayang?" tanya Vania gugup
Bilang saja jika kau meminta jatah, sok-sokan bilang aku menggoda mu padahal aku hanya memelukmu. Huh aku salah membangunkan singa yang lapar.-Vania
Lalu malam itu mereka melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh pasangan suami istri.
*****
"Berbaringlah disini" ucap Varel menepuk pelan lengannya
Vania pun mulai mendekati sang suami dan berbaring di lengan Varel
"Apa kau tau—"
"Tidak" potong Vania tersenyum
"Beraninya kau memotong ucapan ku" ketus Varel menatap tajam istrinya
Tiba-tiba Vania memeluk erat sang suami
"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu, kau sudah mengijinkan ku untuk mengadopsi Varo" lirih Vania melepas pelukannya dan tersenyum kepada Varel
"Aku juga punya anak asuh" ucap Varel menatap langit-langit
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Vania terkejut
"Iya, namanya Evalista 2 tahun lebih muda dari Varo, gadis kecil yang tinggal di panti asuhan yang aku kelola" ucap Varel tersenyum membayangkan wajah gadis kecilnya
"Orang tuanya kemana?" tanya Vania antusias
"Ayahnya meninggal 3 bulan sebelum ia lahir karena kecelakaan saat bekerja, ibunya meninggal saat melahirkannya. Setelah beberapa minggu di rumah sakit, aku mengantarnya ke panti asuhan yang aku kelola" jelas Varel
"Mengapa tidak kau adopsi Sayang?" tanya Vania mengerutkan kening
"Aku sangat sibuk dan pasti tidak ada waktu untuknya, aku tidak ingin mengabaikannya jadi saat itu aku membawanya ke panti asuhan dan rencananya aku juga akan mengadopsinya segera. Apa kau mau jika aku mengadopsi Lista?" tanya Varel menatap sang istri
"Sayang, itu hak mu karena dia anak asuh mu, mengapa kau menanyakannya kepadaku?" tanya Vania balik
"Tentu saja kedepannya kau yang lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, aku hanya ingin menanyakannya apa kau mau merawat Lista seperti kau merawat Varo juga nantinya" ucap Varel menjelaskan
"Tentu, tentu saja aku sangat menginginkannya, betapa menyenangkannya merawat kedua anak kecil yang menggemaskan" ucap Vania tersenyum
"Baiklah besok siang kita akan menjemput mereka, untuk urusan berkas sekretaris Dim akan menyelesaikannya tenang saja besok mereka sudah resmi menjadi anak kita dan keluarga dari Fernandez" ucap Varel mengelus pucuk kepala Vania
"Terima kasih Sayang" ucap Vania tersenyum
"Sekarang tidurlah jika tidak ingin aku kembali memakan mu" ucap Varel mencium pucuk kepala sang istri.
*****
Baru saja rasanya Vania terlelap di pelukan sang suami, tiba-tiba ponsel Varel berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk. Vania enggan untuk membuka mata karena ia sangat mengantuk, sedetik kemudian ia merasakan Varel melepas pelukannya dan berjalan untuk menerima telfon
"Ada apa, Bas?" Ucapan Varel yang masih terdengar di pendengaran Vania
".............."
"Kau bahkan tau alasanku menikahinya, aku hanya ingin membuat Dinda cemburu" ucap Varel yang membuat Vania refleks membuka mata lalu menutupnya kembali seakan ia tertidur pulas
Vania bahkan sudah mengetahui bahwa itulah alasan Varel menikahinya, namun mendengarnya kembali membuat hati Vania sakit terlebih ucapan itu keluar dari mulut sang suaminya sendiri
Kau bodoh, tolonglah jangan menaruh harapan kepadanya.-Vania
Karena tenggelam dalam pikiran, Vania tidak mendengar lagi ucapan Varel dengan si penelepon bahkan ia tidak menyadari bahwa suaminya sudah berjalan lalu berbaring disampingnya.
Sesaat kemudian Vania menyadari bahwa Varel memeluknya erat
Setelah kau menjadikanku pelarian, beraninya kau memelukku?-Vania
"Selamat tidur my wife" bisik Varel lalu mencium pucuk kepala sang istri
Apa itu? Apa aku tidak salah dengar? Huh mungkin cuma khayalanku, tidak mungkin dia mengatakannya.-Vania
*
*
__ADS_1
Jangan lupa di like, vote, dan comment ya😘..
*