
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Ruangan Presdir
"Sayang mengapa kau membawaku kesini?"
tanya Vania mengerutkan kening saat Varel mengajaknya ke lantai atas tepatnya di ruangan presdir
"Aku lapar dan ingin makan"
rengek Varel dengan wajah memelas nya
"Lalu mengapa kita ke ruangan mu? Bukannya ke kantin atau ke restoran?"
tanya Vania yang lagi-lagi mengerutkan kening heran melihat sikap sang suami yang semakin hari semakin manja
"Aku kan ingin memakan mu"
ucap Varel seraya tangannya menarik cepat lengan Vania sehingga Vania kehilangan keseimbangan dan terduduk tepat dipangkuan suaminya
"Hei mengapa bayi besar semakin hari semakin manja?"
tanya Vania lalu mengelus pelan wajah Varel
"Ayolah"
rengek Varel manja
"Tidak sebelum kau memakan makanan"
ucap Vania tegas
"Selera makan ku sudah hilang"
ucap Varel pelan seraya memegang perutnya
"Minta tolong sekretaris Dim untuk mengantarkan ku ke dapur umum, aku akan memasak untukmu"
"Suruh sekretaris ku saja"
"Bukankah Dimas sekretaris mu?"
"Tidak sayang, aku mempekerjakan sekretaris baru"
"Oh ya? Ehm apakah dia perempuan?"
"Ya, dia perempuan single"
ucap Varel tersenyum manis yang membuat raut wajah Vania berubah tiba-tiba
"Ehm sepertinya aku meninggalkan pekerjaanku di toko, aku akan kembali. Minta tolong sekretaris mu saja memasak sesuatu untukmu"
ucap Vania lalu berbalik dan berjalan menuju pintu
Dia bahkan tidak menahan ku pergi.-Vania
Baru saja Vania ingin membuka pintu, tiba-tiba pintu sudah terbuka dan masuklah sekretaris Dim menghadang Vania untuk keluar
"Dim bawa dia kemari"
ucap Varel lalu berjalan dan berdiri tepat disebelah sang istri tak lupa dengan tangan yang merangkul pinggangnya
Tiba-tiba seorang perempuan berjalan dengan menundukkan kepala mendekati Vania dan berdiri tepat disebelah sekretaris Dim
"Selamat siang Tuan Muda dan Nona Muda"
"Anna? Kau kah itu?"
__ADS_1
tanya Vania seraya menatap lekat perempuan yang menunduk dihadapannya hingga perempuan tersebut menoleh
"Vania?"
"Astaga aku benar-benar merindukanmu Anna"
ucap Vania lalu berlari dan memeluk Anna
"Aku sudah merindukanmu sahabat kecilku"
ucap Anna yang tak kalah kuat memeluk Vania, sahabat masa kecilnya
"Astaga maaf Nona Muda saya lancang memeluk anda"
ucap Anna lalu mundur beberapa langkah
Hal itu membuat Vania, Varel, bahkan sekretaris Dim terkekeh melihatnya
"Jangan sok formal denganku. Kau tetap sahabatku"
ucap Vania lalu menggandeng lengan Anna sedangkan Anna hanya diam tak berani berbuat apa-apa karena ia takut Varel akan memarahinya jika lancang terhadap Nona Muda mereka
"Jangan terlalu canggung Anna santai saja"
ucap Varel saat melihat raut wajah Anna
"Itu karena kau dan sekretaris Dim menunjukkan wajah datar"
ketus Vania lalu mencubit keras perut sang suami
"Sayang"
rengek Varel dengan wajah memelas nya
"Anna tolong jelaskan kepadaku bagaimana bisa kau kerja disini? Apa Varel mengancam mu?"
"Kau selalu berpikiran buruk tentang ku"
keluh Varel dengan ekspresi sedih yang dibuat-buatnya
"Anna berhentilah canggung, aku tidak memarahi mu jika kau bersikap santai dengan istriku karena aku tau kau adalah sahabat masa kecilnya, tapi jika ditempat formal kau harus memanggilnya Nona Muda"
"Bukankah ini tempat formal juga?"
ketus Vania dengan kesalnya
"Sayang disini aku Presdir nya jadi tidak akan ada yang memarahinya"
"Terserah kau Tuan sombong. Anna ayo pergi ke dapur umum dan tinggalkan kedua lelaki tua ini"
ucap Vania lalu menggandeng lengan Anna dan keluar dari ruangan Varel
"Dim apakah seperti itu jika perempuan sedang berkumpul? Bahkan pergi pun tidak pamitan"
ucap Varel seraya menatap kepergian istrinya dan dibalas anggukan sekretaris Dim yang juga menatap kepergian Anna, mantan kekasih yang bekerja sebagai wakil sekretaris di Fernandez Group.
*****
Dapur Umum
"Jadi sekarang jelaskan padaku bagaimana kau bisa bekerja disini?"
Flashback On
Setelah pertemuan tidak sengaja dengan Dimas sejak hari itu, Anna setiap hari semakin terbayang wajah Dimas, wajah lelaki yang hingga saat ini masih ia cintai
Hingga suatu hari, Eki kakak sepupu Anna yang ia kenalkan kepada Dimas sebagai kekasihnya pun memberikan berita bagus bahwa Fernandez Group sedang mencari wakil sekretaris dan pekerjaan itu pasti cocok dengan Anna
Saat itu Anna benar-benar bimbang karena ia tau Dimas bekerja sebagai tangan kanan Tuan Muda dan bisa dipastikan mereka akan sering bertemu. Namun dengan segala cara Eki membujuknya dan mengatakan jika Anna dengan sengaja menghindar Dimas, Anna pasti masih mencintainya
Bukan berarti Eki memaksa Anna untuk banting tulang mencari nafkah tapi Anna benar-benar membutuhkan pekerjaan untuk menebus rumah orangtuanya yang dijual oleh keluarganya
__ADS_1
"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk membantumu An"
"Baiklah aku akan coba mendaftar Ki, siapa tau saja rezeki berpihak kepadaku. Terima kasih banyak untuk bantuannya"
"Hei kau berbicara terlalu formal"
ketus Eki yang membuat Anna terkekeh pelan
Keesokan harinya, Anna pun memberanikan diri untuk mendaftar di Fernandez Group, entah kebetulan atau apa saat itu Dimas lah yang menerima berkas-berkas dari calon wakil sekretaris. Saat melihat Anna berjalan mendekat, tentu hal itu membuat Dimas terkejut bercampur senang karena kemungkinan Varel akan menerima Anna dan Dimas akan sering bertemu dengannya setelah ini.
Flashback Off
Anna menceritakan semuanya tentu saja tidak dengan hubungan masa lalunya dengan Dimas
"Lalu? Bagaimana dengan hubunganmu dan sekretaris Dim?"
tanya Vania to the point yang membuat Anna kala itu sedang minum pun ter batuk-batuk
"A-apa maksudmu Vania?"
tanya Anna terbata
"Jangan membohongiku Anna, aku melihat jelas tatapan sekretaris Dim yang teduh melihatmu"
"Vania berhentilah bergosip jika tidak masakan mu akan gosong"
"Jangan mengalihkan pembicaraan cantik, aku menunggu penjelasan mu"
"Astaga kau benar-benar keras kepala"
ucap Anna terkekeh pelan
"Dulu, saat masih SMA aku menjadi hubungan dengan Dimas selama beberapa tahun, namun akhirnya kandas karena sebuah permasalahan"
"Masalah? Bisakah kau tidak menggantung cerita?"
ketus Vania dengan kesal
"Kau yang memotong pembicaraan ku sayang"
ucap Anna terkekeh pelan
"Dimas percaya dengan omongan salah satu perempuan yang ingin merusak hubungan kami dengan mengatakan bahwa aku berselingkuh dengan musuh terbesar Dimas. Aku tau bahwa Rangga, musuh Dimas memang menaruh harapan padaku tapi aku selalu berusaha menjaga jarak dengannya dan Rangga juga mengerti bahwa dia tidak bisa memaksakan ku. Tapi Dimas tidak mempercayakan penjelasan ku hingga akhirnya aku pindah dari kota ini dan pergi meninggalkan semuanya"
"Dan bagaimana dengan Rangga sekarang?"
"Setelah aku kembali, orang pertama yang kutemui adalah Rangga. Kau pasti bertanya mengapa Rangga? Jawabannya karena dulu Rangga selalu ada untukku, selalu membantuku jika aku kesusahan, bahkan jika aku membutuhkan bahu Dimas pun Rangga siap memberikan bahunya sebagai pengganti. Saat ini Rangga sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang cantik berumur sekitar satu tahun lebih, ia dan istrinya menetap di Singapura"
"Sekretaris Dim benar-benar gila"
ketus Vania yang terbawa suasana mendengar cerita Anna
"Semua sudah berlalu Vania, buanglah kemarahan mu karena itu tidak mengubah apapun"
ucap Anna terkekeh pelan
"Kau hebat menyembunyikan kesedihanmu tapi masih terbaca olehku. Aku tau Anna bahwa kau masih mencintai sekretaris Dim, bahkan kalian saling mencintai namun ego kalian lebih besar"
"Kau membicarakan apa Vania?"
tanya Anna berpura-pura tidak menyimak
"Berhenti berpura-pura, jika kau masih mencintai sekretaris Dim tidak masalah. Tapi jika sekretaris Dim nanti menyatakan cintanya untukmu, kau jahili saja dan suruh dia menunggu sampai kapan dia bosan digantungi olehmu"
ucap Vania lalu tertawa kencang membayangkan wajah murung sekretaris Dim saat cintanya digantung oleh Anna
"Benar-benar gila"
gumam Anna pelan.
*
__ADS_1
*
*