Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Korban Selanjutnya


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Disebuah Tempat Yang Sangat Jauh


Vania dan beberapa pria yang menculiknya baru saja sampai di gudang kosong dan disambut oleh beberapa pengawal yang menjaga tempat itu


"Bagaimana kita membawanya masuk?"


tanya seorang pria lalu menatap Vania yang masih dalam keadaan pingsan akibat obat bius


"Gendong saja dan ingat jangan sampai menyakitinya atau pun calon bayinya"


"Ceh, apa kau begitu mencintainya? Kau tidak lupa bukan bahwa dia seseorang yang sangat berpengaruh, putri dari Airlangga dan istri seorang Fernandez. Apa kau hanya ingin memanfaatkan kekuasaannya dengan berpura-pura mencintainya dengan tulus?"


"Jaga ucapan mu bodoh. Aku mencintainya tanpa memandang siapa dirinya dan dari keluarga mana dia berasal. Bahkan aku mencintainya sebelum mengetahui bahwa dia putri dari Airlangga bahkan istri dari Fernandez"


"Termasuk fakta bahwa dirinya istri orang yang sedang hamil?"


Pria itu hanya mengangguk pelan seraya menatap hangat kearah Vania yang masih berada didalam mobil dalam keadaan pingsan


"Aku menuruti ucapan orang itu hanya karena aku ingin hidup berdua dengannya selamanya. Orang itu sudah berjanji jika aku membawa Vania dihadapannya maka dia menjamin tidak akan ada yang mengganggu kehidupan kami setelahnya. Aku akan menerima anak yang dikandungnya walaupun itu bukan darah daging ku. Setulus itu perasaanku padanya namun dia bahkan tidak pernah menatap kearahku"


Orang itu, dalang dari semua permasalahan ini, musuh terbesar Varel yang memanfaatkan cinta tulus seorang pria terhadap Vania sehingga dengan mudah baginya untuk mengusik kehidupan Varel dengan jembatannya adalah Vania terlebih wanita yang sedang hamil besar


"Cinta memang bisa membutakan semuanya".


*****


Rumah Ayah dan Ibu


"Tuan Muda, makanlah dahulu"


ucap Dion pelan seraya memberikan makanan yang ia beli dari warung depan gang


"Apa kau bisa melihatku makan dengan tenang sementara istri dan calon bayiku kelaparan?"


bentak Varel dengan raut wajah penuh amarah


"Aku bahkan tidak tau bagaimana keadaan mereka. Apa bayiku akan menyusahkan Mommy nya? Apa istriku sedang lapar dan menginginkan sesuatu?"


lirih Varel pelan dengan air mata yang sukses menetes keluar membasahi wajahnya


"Setidaknya jika Tuan Muda tidak makan, beristirahatlah sebentar. Kami akan segera mengabari jika ada petunjuk dari pengawal"


ucap Dion bersikeras


"Tidak. Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini terus. Aku akan mencari istriku sendiri"


ucap Varel yang hendak berdiri namun Dion dan Mike bergegas menahannya


"Tuan Muda maafkan kami jika kami melawan. Tapi setidaknya tunggulah Tuan Dimas dan yang lain, sebentar lagi mereka akan sampai"

__ADS_1


ucap Mike sopan


"Bagaimana bisa aku menunggu? Sedangkan istriku saja tidak ku ketahui dimana bahkan bagaimana keadaannya. Bagaimana jika- aaarrrggghhhh akan ku balas dengan tanganku sendiri dan tak akan kubiarkan Jashon hidup dengan tenang"


ucap Varel penuh amarah dengan tangan yang mengepal dan wajah yang memerah menatap tajam lurus ke depan


Belum sempat Dion dan Mike menanggapi kemarahan Tuan Muda, sekretaris Dim dan yang lainnya sudah masuk ke dalam rumah dengan raut wajah khawatir


"Bagaimana Dim?"


tanya Varel dingin


"Semua sedang mencari Kak, bahkan lebih dari 50 orang yang sedang berpencar memeriksa desa"


"Nak"


ucap Papa Lyno pelan lalu berjalan mendekati Varel yang sudah sangat berantakan


"Maaf Pa, maafkan Varel"


lirih Varel pelan


"Tidak Nak, bukan salahmu. Ini takdir Tuhan dan kita harus menerimanya. Berdoalah dan meminta petunjuk-Nya. Kau percaya bukan bahwa Vania adalah wanita yang kuat?"


ucap Papa Lyno yang membuat Varel mengangguk pelan tanpa tau harus menjawab apa


Padahal didalam hati Papa Lyno juga khawatir dan takut jika anak perempuannya kenapa-kenapa terlebih Vania yang sedang hamil besar. Namun lagi-lagi Papa Lyno hanya bisa diam dan memendamkannya sendiri di hati karena ia tidak ingin menantunya tambah khawatir


"Aku mendapat petunjuk"


"Lanjutkan"


ucap Varel dingin


"Sebelum kemari kami berhenti di pos jaga dan aku turun untuk bertanya jalan kemari kepada seorang Bapak-Bapak. Saat kutanyakan apa ada sesuatu yang mencurigakan, Bapak tersebut mengatakan bahwa ada sebuah mobil yang dicurigai mereka berhenti didepan rumah ini, saat mereka yang ronda malam mendekat tiba-tiba mobil tersebut melaju menuju ke ujung desa tepatnya di atas bukit melewati warung makan yang kalian datangi tadi"


"Apa ada yang mencurigakan di atas bukit?"


tanya Vandi mengerutkan kening


"Ada banyak gudang kosong disana dan yang menjadi kecurigaan ku adalah satu gudang kosong yang berada di atas bukit dengan jalan yang susah dilalui"


"Pasti disalah satu gudang itu Vania disembunyikan"


ucap Sebastian menyimpulkan


"Dim, kabari para pengawal untuk menuju ujung desa di atas bukit"


ucap Papa Lyno memerintah sekretaris Dim


Lalu tanpa disuruh dua kali, sekretaris Dim pun menelfon Pak Alex dan Bram untuk mengabari kecurigaan mereka terhadap gedung kosong di atas bukit


Beberapa menit kemudian, baru saja sekretaris Dim menyimpan kembali ponselnya di saku jas, tiba-tiba ponsel kembali berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal


"Kenapa tidak diangkat, Dim?"

__ADS_1


tanya Daniel heran


"Nomor tidak dikenal Kak"


jawab sekretaris Dim sopan


"Angkat saja"


ucap Varel dingin


Lalu sekretaris Dim pun mengangkat panggilan itu dan tak lupa untuk men loudspeakerkan nya


"Tuan Dimas?"


"Ya?"


"Tuan, ini aku Reza kekasih Clara sahabatnya Vania. Aku mengirimkan sebuah foto yang kudapat dari nomor tidak dikenal, foto Clara dan Vania yang disekap disebuah gudang kosong. Bisakah Tuan Dimas memberikanku alamat dimana kalian sekarang? Tolonglah, kekasihku juga menjadi korban penculikan"


"Baiklah Tuan Reza. Saya akan mengirimkan lokasi kami sekarang"


"Akan ku bawakan juga pengawal ku"


Panggilan terputus.


"Tuan Muda, lihatlah"


ucap sekretaris Dim lalu memberikan ponselnya kepada Varel


Terlihatlah disana sebuah foto dimana Clara dan Vania yang sedang tak sadarkan diri dengan tangan yang diikat yang dikirimkan nomor tak dikenal kepada Reza


Bahkan Reza juga mengirim pesan singkat yang dikirimkan dari orang misterius tersebut


Tenanglah, kekasihmu dan anak kecil ini tidak terluka. Mereka hanya jadi jembatan untukku bertemu dengan Varel.-Nomor Tidak Dikenal


"JASHON BRENGSEK!!! Bagaimana bisa dia membawa Clara dan anak kecil itu ke dalam perangkapnya?"


"Apa kau belum menemukan orang dalam, Dim?"


tanya Sebastian lalu menatap sekretaris Dim


"Aku mencurigai kedua sahabat Nona Muda di kampus, Kak"


"Dua pria itu?"


tanya Varel menatap sekretaris Dim


"Ini hanya kecurigaan saya, Tuan Muda. Semua akan terungkap setelah kita ke sana"


"Kita ke sana sekarang"


Mereka pun bersiap-siap untuk menuju gudang kosong yang ada di atas bukit dan tak lupa sekretaris Dim memberikan lokasinya kepada Reza.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2