Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Obrolan Pagi


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


Baru saja rasanya pasangan suami istri itu terlelap dengan nyenyak, terdengar suara tangisan bayi yang membuat sang suami terbangun namun tidak ingin membangunkan istrinya yang masih harus beristirahat.


Varel menatap jam dinding yang ada di kamarnya, terlihat pukul 02.47 WIB membuatnya menyadarkan diri dan berjalan menuju box bayi.


Bisa ditebak yang menangis adalah baby El, ternyata pantatnya basah hingga membuatnya terbangun dari tidurnya. Dan bagaimana dengan baby Al? Sungguh, bayi itu benar-benar ajaib. Bagaimana ia bisa sangat tenang bahkan ketika adiknya menangis disampingnya? Membuat Varel lagi-lagi mengagumi telinga sang anak.


Varel dengan segera mengangkat tubuh baby El lalu membaringkannya pada tempat tidur yang memang sudah disediakan disebelah box bayi. Begitu telaten sang Daddy melepaskan pakaian baby El yang sudah basah dan menggantikannya dengan yang baru tanpa membangunkan sang istri yang sudah tertidur nyenyak.


Ketika baby El masih menangis, Varel pun menggendongnya dan membawanya berjalan-jalan disekitar balkon kamar tanpa membukanya karena takut angin malam membuat bayinya semakin menangis.


Cukup lama ia menggendong baby El hingga bayi tersebut kembali tidur dan Varel dengan segera menidurkannya kembali di box bayi yang sudah ia ganti alasnya. Setelah menidurkan baby El, Varel menatap lekat kedua anaknya yang benar-benar hasil dari Varel junior yang membuatnya tersenyum haru.


“Tumbuhlah menjadi anak yang hebat, Sayang. Mommy dan Daddy akan merawat kalian dengan baik bersama Koko dan Cici”. Ada air mata yang jatuh membasahi wajah pria yang tidak menyadarinya.


Terima kasih, Tuhan. Sungguh, ini adalah balasan-Mu karena aku pernah meragukan mereka. Kau menjadikan mereka benar-benar mirip denganku.-Varel.


Saat sedang larut dalam pikirannya, Varel tidak menyadari bahwa istrinya terbangun. “Sayang?” panggil Vania pelan membuat Varel berbalik dan mendekati sang istri.


“Hei, mengapa kau bangun?” tanya Varel tersenyum tipis.


Vania melihat jejak air mata itu sehingga ia mengangkat tangannya untuk menghapus jejak air mata sang suami dengan jari tangannya. “Ada apa, Sayang?” tanya Vania khawatir.


“Hanya saja El mengompol dan menangis karena merasakan pantatnya basah” ucap Varel seraya mencium pucuk kepala istrinya.


“Astaga, maafkan aku. Aku bahkan tidak bangun saat mereka menangis”


Vania benar-benar merasa bersalah karena ketika anaknya menangis, ia malah tidur dengan nyenyak.


“Hei, yang membuat anak kan kita bersama jadi untuk mengurusnya juga harus bersama. Jika kau masih tertidur dan aku yang terbangun ketika mendengar mereka menangis, apa aku harus membangunkanmu jika aku saja bisa menidurkan mereka kembali?”


Sungguh, Vania benar-benar mengucap syukur karena suaminya benar-benar perhatian dan mau membantunya mengurus anak-anak.


“Kemari lah, aku ingin memelukmu” ucap Vania merentangkan tangannya membuat Varel terkekeh lalu naik keatas tempat tidur.

__ADS_1


Dengan segera ia memeluk erat sang istri seraya mencium pucuk kepalanya berkali-kali. “Terima kasih sudah mengerti”


“Hei, kau ini berterima kasih terus. Andai saja bisa diganti dengan uang sepertinya aku akan bertambah kaya” ucap Varel terkekeh pelan.


“Bukankah Tuhan selalu mengajarkan kita untuk bersyukur dan berterima kasih atas segala hal?”


Vania selalu mempunyai cara untuk membuat Varel kalah telak.


“Baiklah, istriku menang. Sekarang tidurlah”


*****


Pagi hari yang cerah dengan matahari yang sudah berhasil menembus jendela dan tangisan pagi kedua bayi kembar itu membuat sang pemilik kamar menggeliat seraya menepuk pelan ruang disebelahnya yang kosong.


Sedetik kemudian matanya segera melotot bahkan dirinya langsung tersadar bahwa istrinya tidak ada disampingnya. Karena mendengar tangisan kedua anaknya, ia mengurungkan niat untuk mencari istrinya dan beralih mendekati box bayi.


“Mommy datang”


Baru saja ia hendak mengangkat salah satu diantara mereka, sang istri mendorong kursi rodanya mendekat membuat senyum langsung terukir jelas diwajah suaminya.


“Sayang, mengapa tidak membangunkan ku?” tanya Varel ketika ia melihat istrinya yang baru tiba dengan dipastikan bahwa Vania baru saja selesai mandi.


Vania tersenyum tipis. “Kau sudah begadang kemarin”


“Good morning anak bontot Daddy. Adek bagaimana tidurnya? Nyenyak, Nak?”


Vania tersenyum tipis ketika mendengar suaminya berbicara kepada bayinya yang hanya berumur kurang dari seminggu.


“Kita pagi ini mau kemana, Nak? Mau melihat Koko dan Cici berangkat ke sekolah hem?”


Sesekali, Varel mencium gemas pipi gembul baby El yang saat ini sudah terdiam sebelum minum ASI.


“Sayang, mengapa Adek berhenti menangis? Padahal kan belum minum” tanya Varel heran membuat Vania terkekeh mendengarnya.


“Mungkin dia ingin mengobrol dengan Daddy nya”


“Hem benarkah? Ayo sini kita bergosip, jangan dekat Mommy” ucap Varel seraya membawa baby El menuju tempat tidur dan membaringkannya.


“Hei, jangan mengajaknya mengobrol yang aneh-aneh ya”


“Tentu saja, Sayangku” ucap Varel terkekeh pelan.

__ADS_1


Vania yang masih menyusui baby Al hanya bisa sesekali melirik kearah Varel yang sedang mengajak baby El mengobrol pagi seperti kebiasaan yang ia lakukan sejak di rumah sakit jika salah satu diantara mereka sedang menunggu giliran untuk meminum ASI.


“Tenanglah, Sayang. Aku tidak membawanya bergosip yang tidak-tidak”. Varel terkekeh ketika melihat istrinya yang mencemaskan nya.


“Nama mu Elvano dan kau harus menjadi anak yang kuat yang bisa menjaga Mommy mu” ucap Varel yang kembali fokus ke acara obrolan paginya sedangkan Vania hanya terkekeh mendengarnya.


“Kau tidak dengar apa yang Daddy ucapkan? Kau harus menjadi anak yang kuat. Apa kau mengerti, jagoan?”


“Sayang, bisakah aku meminta tolong?” tanya Vania tiba-tiba saat dirinya sudah selesai menyusui baby Al.


“Ada apa, Sayang?”


“Tolong panggilkan Bi Ijah untuk memandikan baby Al karena aku akan menyusui baby El”


Tak menunggu waktu lama, Varel pun segera menekan remote yang terhubung langsung dengan Pak San . “Pak San, tolong minta Bi Ijah kemari untuk memandikan Al”


“Sekarang giliran Adek minum ASI agar cepat kuat” ucap Varel seraya menggendong baby El dan memberikannya kepada Vania yang baru saja membaringkan baby Al kembali ke box bayi.


Varel pun langsung menggendong baby Al dan membawanya keatas tempat tidur.


“Sesi obrolan pagi belum selesai” gumam Vania terkekeh pelan ketika melihat suaminya yang sangat bersemangat.


“Wah kalau dengan si Kakak, Daddy yakin tidak akan mendengar. Jangankan ucapan Daddy, tangisan Adeknya saja tidak didengar” ucap Varel yang membuat Vania langsung menatapnya tajam.


“Heh”


“Aku bercanda, Sayang”


Lalu Varel kembali fokus kepada baby Al yang sesekali membuka mata menatapnya.


“Wow, dia merespon ku” ucap Varel heboh ketika melihat baby Al membuka mata membuat Vania terkekeh pelan.


“Jadilah anak yang kuat, oke? Awas saja jika kau menjadi seperti Daddy, Mommy mu akan memarahi kita” ucap Varel memelankan suaranya walaupun Vania masih bisa mendengar.


“Tidak masalah jika Al akan menjadi dingin, yang terpenting dia sehat dan jadi anak yang berbakti” ucap Vania tersenyum tipis seraya mengelus rambut baby El yang masih belum selesai menyusui.


“Hei, kata Mommy tidak masalah. Ayo jadilah anak yang dingin.”


“Heh”


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2