Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Jas Basah


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


“Astaga, Tuhan.”


Vania benar-benar terkejut ketika melihat suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya menatapnya kesal.


“Hei, ada apa?” tanya Vania mengerutkan kening.


Dengan segera, Varel memeluk Vania dengan erat. “Sayang, jangan berbicara dengan pria lain” gerutu Varel kesal.


“Astaga, mulai lagi” gumam Vania seraya menggeleng pelan.


“Terima kasih banyak, dok” ucap Varel yang menirukan Vania membuat wanita itu benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa suaminya seperti ini.


“Ada apa denganmu?” tanya Vania heran.


“Sudah ku katakan jangan berbicara dengan pria lain.”


“Yasudah sana, aku juga tidak ingin berbicara denganmu”


Tentu saja hal itu membuat Varel benar-benar terkejut. “Loh?! Sayang?! Bukan seperti itu maksud ku.”


Vania kembali mengerutkan kening. “Bukan kah kau juga pria?”


“Astaga.”


*****


Pagi ini Varel bersikeras ingin mengantarkan Vania ke rumah sakit namun Vania menolak karena ia tau bahwa suaminya tidak akan pergi bekerja lagi hari ini hanya karena ingin mengantarnya. Walaupun ia pemilik perusahaan besar, Vania tidak ingin jika Varel selalu bolos dari pekerjaannya hingga membut reputasi Presdir maupun perusahaan hancur dan lagi-lagi Sekretaris Dim harus membereskan semuanya. Ah, kasihan sekali dia hingga tidak mempunyai waktu untuk menikah.


“Sayang, hei bangunlah” ucap Vania yang sudah berkali-kali membangunkan Varel namun pria itu tidak ingin sekedar membuka mata apalagi beranjak dari tempat tidur.


“Astaga, ada apa denganmu? Aku tidak mungkin hamil lagi, kan?” gumam Vania kesal membuat Varel seketika membuka matanya.


“Memangnya bisa?” tanya Varel dengan polosnya


Plak


“Kau ingin membunuhku?” tanya Vania seraya menatap Varel dengan tajam.


Varel tertawa seketika karena ia mengerti bahwa 40 hari setelah melahirkan saja rahim wanita masih belum kering, istilahnya masih belum mengalami masa subur. Varel juga tidak akan rela jika istrinya kembali hamil karena kedua bayinya masih sangat kecil. Varel memang pintar, hanya saja bodoh dalam urusan cinta.


Bagaimana bisa dulu Dinda bertahan menjalin hubungan dengannya? Ah, ngomong-ngomong tentang Dinda, apa kabarnya sekarang? *author senyum jahat.


“Mandilah segera” ucap Vania yang membuat Varel kembali menyembunyikan tubuh hingga kepalanya di dalam selimut.

__ADS_1


“Kau sejak tadi mengusirku agar cepat berangkat ke kantor, ada apa?”


“Astaga, Varel. Aku be—”


“Sayang, berhenti menyebut suami mu dengan nama karena itu sangat tidak sopan” tegur Varel yang membuat Vania terkekeh.


“Loh, kan memang namamu Varel.”


“Sayang..”


“Ada apa, Rel?” tanya Vania tertawa karena ia berhasil membuat suaminya kesal pagi ini.


“Ah, sepertinya kau sangat ingin berduaan denganku di kamar seharian, ya?”


Tentu saja ancaman itu membuat Vania bergidik ngeri sehingga ia melemparkan bantal baby Al hingga mengenai perut Varel yang membuat suaminya tertawa.


“Hei, itu mobil Sekretaris Dim” ucap Vania yang memang sedang bersantai di balkon kamar bersama kedua anaknya.


“Hm”. Varel hanya bergumam lalu kembali menutup matanya dengan malas.


“Cepat mandilah dan jangan membuat Sekretaris Dim menunggu lama. Kau tidak ingin kan perusahaan mu bangkrut?”


“Astaga, Sayang. Mengapa kau mengatakan hal itu?” tanya Varel bergidik ngeri membayangkan jika semua yang diucapkan sang istri benar.


“Mandilah. Aku akan ke bawah sekarang”


“Hei, suami mu masih di kamar” ucap Varel yang membuat alasan agar Vania tidak meninggalkannya di kamar sendirian.


“Sayangggg” rengek Varel menatap istrinya yang tidak menghiraukannya sama sekali.


Huh, lebih baik aku mandi dari pada menjadi santapan singa betina.-Varel.


*****


Vania mendorong kereta bayi menuju lantai bawah dan berjalan mendekati Sekretaris Dim yang sedang sibuk sendiri dengan iPad di tangannya. Jangan heran bagaimana Vania bisa dengan santai mendorong kereta bayi kemana saja karena kereta bayi tersebut mempunyai ban yang bisa didorong ketika hendak menaiki atau menuruni tangga.


“Sekretaris Dim” panggil Vania yang membuat Sekretaris Dim segera berdiri dan menunduk dengan hormat.


“Selamat pagi, Nona Muda” ucap Sekretaris Dim sopan.


Vania terkekeh karena memang ia tidak biasa jika Sekretaris Dim memperlakukannya seperti ini. “Bagaimana kabar, Anna? Ah, aku merindukan wanita itu”


“Baik, Nona Muda. Saya akan memintanya untuk berkunjung kemari”. Lagi-lagi Sekretaris Dim berkata dengan sopan.


“Hei, santai saja. Kau membuat suasana menjadi canggung.”


“Maafkan saya, Nona Muda”


“Astaga” gumam Vania pelan.


“Oh ya, kapan kau merencanakan pernikahan? Ku dengar Bram juga sudah ingin menikah dan Dika juga hendak melamar Ziva”

__ADS_1


“Saya belum memikirkannya, Nona Muda” jawab Sekretaris Dim singkat


Vania mengerutkan keningnya heran. “Kau tidak ingin menikah? Semuanya sudah mulai mempersiapkan pernikahan kecuali Kak El dan Kak Lucky yang masih jomblo. Vandi saja yang masih menjadi mahasiswa ingin sekali menikah, lalu bagaimana denganmu? Kau tidak ingin menjadi bujang lapuk, kan?”


Sekretaris Dim terdiam melihat Vania yang sudah tertawa karena ucapannya sendiri.


Ah, Nona Muda memang masih receh seperti biasanya.-Sekretaris Dim.


Saat Vania hendak kembali membuka suara, tiba-tiba baby Al mengoceh yang membuat Vania segera menatapnya dengan senang sedangkan Sekretaris Dim seketika mematung karena benar-benar terkejut.


Apa itu tadi?! Tuan Kecil sudah bisa berbicara?! Berapa umurnya?!-Sekretaris Dim.


“Hei, kau dengar kan Sekretaris Dim?” tanya Vania dengan senang.


Sekretaris Dim mengangguk. “A-apa mereka memang sudah bisa berbicara?” tanya Sekretaris Dim yang masih heran.


Tentu saja hal itu membuat Vania tertawa seketika. “Satu sampai dua bulan memang wajar jika mereka berceloteh seperti itu. Kau ingin menggendongnya?” tawar Vania yang langsung dibalas dengan tatapan tajam oleh Sekretaris Dim.


“Nona Muda, saya tidak berani menggendongnya” ucap Sekretaris Dim jujur.


“Tidak apa-apa, jangan takut. Lihat, mereka sudah gembul jadi kau tidak perlu takut”


Dengan segera, Vania membawa baby Al ke pelukan Sekretaris Dim yang masih terlihat kaku.


“Hei, santai saja dan tidak perlu tegang seperti itu. Anggap saja kau sedang belajar, astaga bagaimana jika kau merawat anakmu nanti?” ucap Vania santai yang membuat Sekretaris Dim tersenyum canggung.


Ada senyum tipis yang terukir jelas di wajah Sekretaris Dim ketika ia melihat mata baby Al yang berbinar juga sedang menatapnya membuat Vania tersenyum karena akhirnya bisa membuat Sekretaris Dim tersenyum walaupun hanya senyum tipis.


“Tangan kiri mu letakkan saja di lengannya dan tangan kanan mu di pantatnya”


Sekretaris Dim pun melakukan apa yang dikatakan oleh Vania. Sepertinya, pagi ini terjadi kebalikan sifat karena baby El sejak tadi tidur dengan nyenyak sedangkan baby Al sudah bangun sejak tadi.


“Ajaklah Al berbicara.”


Sekretaris Dim berdehem pelan. “Selamat pagi, Tuan Kecil Al”


Astaga, Sekretaris Dim.-Vania


“Hei, bukan begitu maksud ku. Ajak saja berbincang-bincang tentang apapun. Astaga, Nak, Uncle mu si bujang lapuk tidak bisa diajak mengobrol”


Tiba-tiba Sekretaris Dim merasakan bagian perutnya hangat dan ternyata


“Tuan Kecil Al mengompol, Nona Muda”


Hahaha rasakan itu Sekretaris Dim.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2