
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Varel segera melajukan mobilnya menuju restoran sang istri. Setelah sampai, tanpa memarkirkan dengan baik, Varel segera berlari masuk ke dalam restoran dengan raut wajah khawatir.
Vania yang melihat sang suami berlari mendekat hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca karena ia sungguh takut akan apa yang menimpa nya baru saja.
Tak butuh waktu lama untuk Varel merengkuh tubuh mungil istrinya seraya mengelus punggung istrinya dengan sesekali mencium pucuk kepalanya.
Vania memang tidak berbicara apapun namun Varel merasakan pelukannya semakin mengerat hingga Varel sadar bahwa istrinya benar-benar sangat ketakutan.
"Sayang.." panggil Varel pelan namun Vania hanya diam.
"Jangan takut, aku akan melindungi mu dan keluarga kita."
Ketika mendengar itu, Vania hanya bisa mengangguk pelan namun tanpa membuka suara.
"Sekarang, kita kembali ke rumah ya? Al dan El pasti merindukan Mommy nya" ucap Varel yang membuat Vania seketika tersadar dengan anak-anaknya yang ada di rumah.
"Ayo kita pulang" ucap Vania pelan.
Setelah berpamitan dengan yang lainnya, Varel pun menuntun sang istri untuk masuk ke dalam mobilnya bersamaan dengan kedatangan Dion dan beberapa pengawal yang akan membawa mobil Vania serta melihat-lihat lemari, tempat diletakkannya foto kebersamaan Varel dan Dinda tersebut.
"Cari tau apa yang terjadi. Aku tidak akan memaafkan orang yang meneror istriku" ucap Varel dingin.
"Baik, Tuan Muda" jawab mereka bersamaan.
Sepanjang perjalanan, mobil benar-benar hening karena Vania hanya diam tanpa ingin membuka suara.
"Sayang?" panggil Varel seraya menggenggam tangan sang istri.
Vania hanya menoleh.
"Aku akan membuatnya menerima hukuman yang sangat berat karena sudah berani mengganggu apa yang menjadi milik ku. Aku tidak akan membiarkan mu dan anak-anak kita dalam bahaya. Apapun yang terjadi, aku akan melindungi kalian" ucap Varel tegas yang membuat Vania hanya tersenyum tipis namun membalas genggaman tangan sang suami.
*****
Saat ini Varo dan Lista baru saja keluar dari kelas dan menghampiri Pak Adi dan juga Bi Ijah yang sedang menunggu mereka.
"Kakek, Nenek" panggil Lista bersemangat.
__ADS_1
Semuanya pun masuk ke dalam mobil bersama-sama namun langkah Pak Adi terhenti ketika mendengar ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
"Halo, Pak?"
"............."
"Tuan Kecil dan Nona Kecil baru saja keluar dari kelas, Pak"
"................................"
"Apa?! Nona Muda diteror?!"
Saat sudah sadar bahwa ia sedang bersama anak-anak, Pak Adi segera menutup mulutnya agar tidak ada yang mendengar ucapannya.
"......................."
"Baik, Pak."
Panggilan pun terputus.
Varo yang saat itu tidak jadi masuk ke dalam mobil karena baru saja membuang sampah, tiba-tiba berhenti dan mendengar semua yang diucapkan oleh Pak Adi.
Tangan mungilnya mencengkeram kuat tas punggung yang ia pakai dan tatapannya benar-benar tajam seolah-olah hendak memangsa seseorang.
"Kakek, apa Varo boleh meminjam ponsel untuk menelepon Daddy?" tanya Varo yang berjalan mendekat.
Setelah mendapat ponsel Pak Adi, Varo segera berjalan sedikit menjauh untuk menelepon Dion, pengawal Daddy nya yang sangat dekat dengannya.
"Halo, ada apa, Pak?"
"Om, ini Varo. Apa yang terjadi dengan Mommy?" tanya Varo to the point.
Dion yang ada di seberang sana sedikit terkejut. "Apa maksud Varo?"
"Varo mendengar Om Alex menelepon Kakek Adi mengatakan bahwa Mommy diteror. Jelaskan yang terjadi pada Varo, Om."
Dion menghela nafas berat sebelum membuka suara. Ia tak bisa mengelak karena anak yang berbicara dengannya ini sangat pintar. "Benar, Mommy Varo diteror. Kemungkinan besarnya itu perbuatan saudara kembar mantan kekasih Daddy Varo dulu. Om sedang mencari tau apa yang terjadi sekarang."
"Diteror bagaimana?"
"Mobil Mommy Varo dibuat hancur dan Mommy Varo dikirim foto-foto kebersamaan Daddy Varo dulu dengan mantan kekasihnya" jawab Dion menjelaskan.
"Om, kirimkan foto-foto mobil Mommy dan foto-foto itu ke iPad Varo sekarang."
"Apa yang ingin Varo lakukan?" tanya Dion curiga.
__ADS_1
"Om Dion pasti tau. Sudah dulu ya."
Segera, Varo memutuskan panggilan agar Dion tidak menolak permintaannya.
*****
Setelah pulang dari restoran, perubahan Vania cukup terlihat oleh semua orang dimana tidak ada lagi Vania yang ceria dan akan selalu menyapa siapapun yang ia temui, yang ada hanyalah Vania yang diam dengan tatapan kosongnya membuat semua orang bertanya-tanya apa ada sesuatu yang terjadi sebelum ia kembali ke rumah utama.
Mama Melinda yang mendengar bahwa menantunya diteror pun segera memerintahkan Pak San untuk meminta semua orang yang ada di rumah utama berjaga-jaga terhadap siapapun yang terlihat asing dan mencurigakan agar tidak ada teror yang memasuki rumah mereka.
Para pelayan dan pengawal pun segera berbaris rapi ketika tiba-tiba dipanggil untuk berkumpul pada siang itu.
"Selamat siang semuanya. Kalian pasti bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga saya meminta kalian untuk berkumpul di siang hari seperti ini. Mungkin kalian sudah menebak bahwa ada hal buruk yang sudah terjadi. Benar, ada hal buruk yang menimpa Nona Muda sehingga kita semua yang ada di rumah ini harus berjaga-jaga terutama dari orang-orang yang terlibat mencurigakan. Tingkatkan lagi pengawasan dari gerbang utama, pintu utama, halaman belakang, dan dari mana saja yang memungkinkan orang asing untuk masuk ke rumah tanpa sepengetahuan kita. Lakukan jaga malam secara bergantian hingga beberapa hari ke depan dan tolong, jangan sampai lengah."
Semua pengawal dan pelayan mengangguk setuju setelah mendengar penjelasan dari Pak San.
Mungkin mereka sangat penasaran akan apa yang terjadi, namun mereka sudah sering mendapat perintah tanpa dijelaskan apa yang terjadi sehingga mereka tidak perlu bertanya lagi. Mereka hanya tau jika ada perintah seperti itu berarti keluarga Fernandez sedang dalam masalah buruk.
*****
Baru saja Pak Adi memarkirkan mobilnya di halaman rumah utama, Varo segera berlari masuk tanpa berpamitan membuat Pak Adi dan Bu Ijah juga Lista menatapnya heran.
Varo berlari masuk ke kamarnya lalu mengunci pintu tanpa menyapa orang-orang yang ia lewati. Saat sudah sampai di kamarnya, Varo segera mencari iPad nya dan membuka laptop dan komputer.
Cukup lama ia berkutik di hadapan kedua alat tersebut hingga tanpa sadar matahari sudah tenggelam dengan penampilan Varo yang masih seperti saat ia pulang dari sekolah.
"Yes!"
Satu kata yang muncul setelah sekian lama dengan wajah yang berbinar seketika membuat Varo akhirnya bisa menghela nafas lega.
Tangannya bergerak mengambil iPad lalu menelepon seseorang.
"Om, apa Varo bisa meminta tolong?"
"Ada apa?"
"Perintahkan seseorang untuk mengirimkan sesuatu pada alamat yang akan Varo kirimkan ke Om Dion."
"Mengirimkan apa?"
"Akan Varo kirim."
Entah apa yang direncanakan oleh bocah tersebut.
*
__ADS_1
*
"