
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Varo menatap Vania dengan raut wajah serius. "Dalam mimpi Koko, Uncle Bry menjadi zombie jelek. Bagaimana bisa Koko memimpikan hal itu? Wajah Uncle Bry saja sudah cukup jelek, ditambah menjadi zombie lagi, apa tidak semakin menyeramkan?"
Vania hanya bisa menggeleng pelan mendengar ucapan Varo yang benar-benar blak-blakan. Sepertinya, ia mendapat pengaruh ketika berteman dengan Bryan dan Billy.
"Dan Mommy harus lihat ini" ucap Varo seraya mengambil iPad nya lalu memberikannya pada Vania.
"Astaga!"
Vania benar-benar terkejut ketika melihat berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Bryan sejak tengah malam. Bukan hanya panggilan, Bryan pun mengirimkan hampir seribu pesan yang isinya hanya mengatakan bahwa ia merindukan Varel. Ia hanya mengirimkan pesan itu berkali-kali.
"Dia benar-benar aneh" gumam Varo pelan.
Vania terkekeh pelan. "Sudah, jangan bergosip pagi-pagi. Sekarang Koko mandi dan bersiap ke sekolah" ucap Vania seraya berpamitan untuk membangunkan anak perempuannya.
*****
Vania berjalan menuju kamar anak perempuannya dan benar saja, Lista masih terlelap dalam tidur sehingga membuat Vania harus membangunkannya beberapa kali.
Anak-anak Vania sedikit berbeda dari anak-anak pada umumnya dimana biasanya anak lelaki yang sulit untuk dibangunkan namun dalam keluarga Vania, Lista lah yang sangat susah untuk bangun.
Vania berjalan mendekati jendela lalu membuka tirai agar sinar matahari pagi menyinari kamar sang anak. Benar saja, Lista langsung menggeliat ketika sinar matahari terkena wajahnya.
"Sayang, ayo bangun" ucap Vania membuka suara.
Bukannya bangun, anak itu malah menyelimuti seluruh tubuhnya membuat Vania terkekeh pelan lalu tangannya bergerak untuk mematikan AC kamar.
"Hei, ayo bangun sekarang. Cici akan terlambat ke sekolah."
Setelah beberapa kali dibangunkan, akhirnya Lista terbangun juga. "Ah, Mommy. Cici sedang bermimpi Om Dimas" ucap Lista mengerucutkan bibirnya.
Vania tertawa. "Dari pada bertemu di mimpi, lebih baik secara langsung, kan? Om Dimas sudah menunggu mu di meja makan" ucap Vania disela-sela gelak tawanya.
Ucapan Vania seketika mengumpulkan semua kesadaran Lista. "What?! Om Dimas menginap?!" tanya Lista dengan heboh.
Vania tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.
"Oke, Cici mandi sekarang. Anyway, good morning, Mommy."
Cup.
__ADS_1
Setelah mencium pipi Vania, Lista pun segera berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bertemu dengan pujaan hatinya.
Melihat hal itu, Vania segera merapikan tempat tidur anak perempuannya lalu kembali ke kamar utama untuk memandikan kedua bayinya dan mungkin untuk membangunkan suaminya lagi.
Ucapan Vania benar, bukan? Suaminya tertidur lagi dengan membawa kedua bayinya di tempat tidur.
"Astaga" ucap Vania terkekeh pelan.
Tentu saja hal itu tidak ingin ia sia-siakan sehingga ia sempat mengabadikan momen dimana bukannya si Daddy yang menjaga bayi namun kedua bayi lah yang menjaga Daddy mereka.
"Hello anak-anak Mommy, mandi dulu ya, Nak" ucap Vania seraya menggendong baby Al yang sudah membuka mata.
Vania sedikit menjauhkan baby Al dari Varel yang masih tertidur nyenyak sehingga mudah baginya untuk melepaskan pakaian sang anak.
Butuh beberapa waktu lama untuk Vania memandikan kedua anaknya tanpa bantuan oleh siapapun karena semuanya ia siapkan sendiri seperti bak mandi, pakaian, minyak wangi, dan sebagainya.
Ia pun tidak begitu tega untuk membangunkan suaminya karena tau bahwa Varel pasti masih kelelahan akibat perjalanan yang panjang.
Setelah kembali menidurkan kedua anaknya, Vania pun membaringkan tubuhnya disebelah kedua anaknya yang ada di tengah-tengah dirinya dan suami.
"Wah, bagus sekali" ucap Vania tersenyum senang ketika melihat foto yang ia abadikan.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Vania memberanikan diri untuk memposting foto suami dan kedua bayinya.
Evvna.Amnd "❤️ @Fernndzz.Vrll_"
*****
"Wow, they seem so happy" ucapnya tersenyum penuh arti.
"Alright, let's start the game."
*****
"Sayang, tolong pasangkan dasi" ucap Varel yang sedang berdiri di meja rias membuat Vania yang saat itu sedang membersihkan tempat tidur harus menghentikan kegiatannya sebentar.
"Tumben sekali" gumam Vania pelan.
"Ah, aku malas bekerja" ucap Varel mengeluh.
Vania mengerutkan kening. "Ada apa denganmu?"
"Aku merindukan kita" gumam Varel seraya menghela nafas berat.
Benar saja, Vania juga menyadari bahwa akhir-akhir ini ia jarang menghabiskan waktu berdua bersama suaminya bahkan mereka pun hampir tidak pernah lagi bercerita panjang lebar. Setiap ada waktu bersama, selalu mereka habiskan untuk merawat kedua anaknya.
Vania tersenyum tipis seraya mengelus pipi suaminya. "Maaf" ucap Vania pelan.
__ADS_1
"Hei, tidak bukan seperti itu, Sayang. Aku tidak meminta mu untuk meminta maaf" ucap Varel panik.
Vania merasa bahwa ini adalah kesalahannya karena terlalu sibuk dengan anak-anaknya sehingga ia melupakan suaminya sendiri.
"Sayang, kau sudah melakukan hal yang luar biasa. Mengurus empat anak sekaligus itu sangat tidak mudah ditambah dengan suami yang selalu merepotkan mu ini. Aku hanya merindukan kebersamaan kita saat menghabiskan waktu bersama hanya sekedar untuk menceritakan semua hal" ucap Varel memberikan penjelasan.
Vania tersenyum tipis. "Ingin menghabiskan waktu malam ini?" tawar Vania yang membuat Varel sangat terkejut.
"Hei, apa sudah bisa?" tanya Varel seraya mengerutkan keningnya heran.
Plak
"Dasar mesum!" ketus Vania dengan kesalnya membuat sang suami tertawa seketika.
"Aku harus berpuasa sampai kapan?" gumam Varel yang terdengar jelas di telinga Vania.
"Hei, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak dihadapan anak-anak" gerutu Vania kesal.
Varel tertawa. "Baiklah, apa kita harus bergadang malam ini? Sepertinya istriku mempunyai banyak topik gosip" ucapnya disela-sela gelak tawa.
"No, sebelum itu kau harus menghabiskan waktu berdua dengan Lista."
Raut wajah Varel berubah seketika ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vania.
Ketika melihat suaminya yang hanya diam, Vania kembali membuka suara. "Sayang, aku mengerti bahwa kau memang harus memberikan nasihat kepada Lista agar ia bisa mengerti dengan apa yang terjadi. Namun, mengapa harus sampai tidak saling bertegur sapa setelah memberikan nasihat? Bukankah itu malah semakin membuat hubungan menjadi renggang?"
Varel hanya diam namun ia menatap lekat sang istri.
"Aku tidak mempermasalahkan hal itu, namun jika setelah hari itu malah semakin berjarak, apa aku harus membiarkannya begitu saja? Lista tidak berani berbicara denganmu" ucap Vania jujur.
Flashback on
Setelah malam dimana Varel menegur Lista, bocah perempuan itu segera mengirimkan pesan pada Vania.
Mommy ku❤️
Mommy, maafkan Cici. Cici salah karena memaksa untuk berjalan keluar padahal cuaca sedang dingin dan Mommy tidak mungkin membawa Al dan El untuk ikut bersama. Mommy, maafkan Cici🥺.-Lista
Dengan air mata yang sudah mengalir di wajahnya, Lista mengirimkan pesan permintaan maaf untuk Vania karena ia takut meminta maaf secara langsung, takut akan bertemu dengan Varel. Lista sadar bahwa Daddy nya sangat marah karena hal ini.
Flashback off.
*
*
*
__ADS_1