
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
*****
"Abang"
panggil Lista saat mendatangi Varo yang duduk di balkon kamar seraya memainkan game online
"Apa?"
ketus Varo yang tetap fokus menatap layar ponsel
"Hei ada apa denganmu? Mengapa marah-marah?"
tanya Lista mengerutkan kening
"Kau bisa tidak jangan memanggilku abang?"
"Memangnya kenapa?"
"Aku bukan abang tukang bakso, jadi stop memanggilku dengan sebutan itu"
"Mommy menyuruhku untuk memanggilmu seperti itu"
ucap Lista tak mau kalah
"Kau bisa memanggilku dengan sebutan lain tapi tidak dengan abang"
ketus Varo yang sudah kesal dengan sang adik
"Lalu? Aku harus memanggilmu apa?"
tanya Lista mengerutkan kening
"Oppa"
jawab Varo singkat
Seketika ruangan tersebut menjadi hening dan tak berapa lama terdengar suara gelak tawa Lista yang memenuhi ruangan
"Ada apa denganmu? Kau sudah tidak waras?"
tanya Varo menatap sang adik seraya tangannya memeriksa dahi Lista
"Apa kau ingin menikahi Oma?"
tanya Lista yang sukses membuat Varo menghentikan aktivitasnya
"Apa maksudmu?"
tanya Varo menatap Lista heran
"Kau bersikeras menyuruhku untuk memanggilmu Opa, kau tidak tau bahwa Opa itu pasangan dari Oma?"
ucap Lista hati-hati
"Kau benar-benar sudah tidak waras. Aku menyuruhmu memanggilku Oppa, kakak laki-laki dalam bahasa Korea bukannya Opa pasangan dari Oma bodoh"
ketus Varo kesal
"Jangan menyebutku bodoh"
ucap Lista tak mau kalah
"Buktinya kau bahkan tidak bisa berpikir dengan baik"
jawab Varo santai.
*****
"Echy mengapa kau pucat sekali? Apa kau sedang sakit?"
tanya Lista saat Echy menemaninya dikamar
"Tidak Lista"
jawab Echy tersenyum pelan
Lista pun penasaran dan mencoba untuk menyentuh dahi Echy
"Kau panas sekali. Aku akan menyuruh Pak San untuk memanggil om Hendra kemari"
"Tidak perlu Lista"
ucap Echy yang membuat langkah Lista terhenti
"Berhenti menolak permintaanku dan ayo kembali ke kamarmu"
*****
"Om apa Echy sakit?"
tanya Lista cepat saat dokter Hendra baru saja selesai memeriksa Echy
"Sahabatmu sakit demam sayang, tapi tidak masalah om Hendra sudah memberikannya obat dan vitamin"
ucap dokter Hendra tersenyum
"Syukurlah kalau begitu. Om bisakah untuk tidak selalu menyebutku sayang?"
tanya Lista yang sukses membuat dokter Hendra, Mama Melinda, dan Nike mengerutkan kening
"Memangnya kenapa cucu Oma?"
tanya Mama Melinda mengelus pucuk kepala sang cucu
"Karena kata sayang akan Lista dengar dari mulut kekasih Lista nanti Oma"
jawab Lista santai membuat ruangan tersebut dipenuhi gelak tawa.
*****
"Ada apa dengan sahabatmu?"
tanya Varo saat Lista kembali ke kamar mereka
__ADS_1
Ya, sepertinya sifat dingin dan acuh Varel sedikit demi sedikit tumbuh di diri Varo. Lihat saja sekarang, saat Echy sedang diperiksa oleh dokter Hendra pun Varo masih tetap berada di kamarnya
"Kata om Hendra, Echy hanya sakit demam"
jawab Lista sekenanya yang membuat Varo membulatkan mulutnya
"Abang, kapan ya Mommy dan Daddy pulang?"
"Entahlah"
"Apa Daddy menepati janjinya?"
"Membelikan mu merchandise BTS official?"
tebak Varo yang membuat Lista menganggukkan kepala tanda setuju
"Apa kau segila itu dengan mereka?"
"Aku hanya menyukai karakter yang mereka buat, BT21 lucu sekali"
"Kau bahkan tau betul dengan karakter mereka"
"Mama Yin menceritakannya kepadaku. Dia bilang bahwa di Korea ada House of BTS"
"Lalu?"
"Andai Daddy membawa kita liburan ke sana"
"Kau ingin punya adik kan? Jadi turuti saja kata Daddy"
"Apa Tuhan sudah menjawab doa ku? Dengan memberikan adik di perut Mommy?"
"Kita lihat saja nanti setelah kepulangan mereka"
*****
"Sayang apa tidak mengabari anak-anak dulu?"
"Tidak perlu, aku akan memberikan kejutan untuk mereka"
"Bagaimana jika mereka marah?"
"Itu solusinya"
ucap Varel tersenyum seraya menunjuk satu koper besar yang ada didepannya membuat Vania mendengus pelan.
*****
"Berhentilah menyebutku bodoh"
teriak Lista dengan kesalnya seraya berlari mengejar Varo yang sudah turun ke lantai bawah
"Lista hati-hati dan jangan berlari nanti kau bisa jatuh"
ucap Nike yang melihat Lista berlari
"Kak Nike bantu Lista menangkap abang"
ucap Lista tersengal-sengal
"Hei istirahatlah dahulu, apa yang membuatmu mengejar Varo?"
"Dia mengatai ku bodoh kak"
ketus Lista dengan kesalnya
"Itu kenyataan"
jawab Varo dengan sedikit meninggikan suara
"Berhenti mengatai ku bodoh"
teriak Lista menatapnya tajam
Tiba-tiba
*T*ing tong ting tong
Suara bel pun berbunyi sepertinya ada tamu yang datang dan entah mengapa baik Varo maupun Lista bersama-sama berlari berlomba untuk membuka pintu tersebut
Saat Varo hendak membuka, tiba-tiba Lista menahan tangannya
"Aku ingin membukanya abang"
"Kau kalah, siapa yang cepat dia yang dapat"
ucap Varo tak mau kalah
"Mengapa kau tak bisa mengalah saja"
ketus Lista dengan kesal
"Aku-"
Belum selesai Varo berbicara, tiba-tiba pintu terbuka dan
"Mommy Daddy"
teriak Lista kegirangan seraya berlari memeluk kedua orang tuanya
"Daddy mendengar keributan, apa yang terjadi?"
tanya Varel seraya mengelus pucuk kepala putrinya
"Abang selalu mengejekku Dad"
adu Lista dengan wajah ditekuk
"Apa benar sayang?"
tanya Vania menatap Varo
"Tidak Mom, dia saja yang membesar-besarkan masalah"
ucap Varo dengan santainya membuat Varel dan Vania menggeleng kepala melihat kelakuan putra mereka yang semakin hari semakin dingin dan acuh
"Daddy ayolah ke kamar dan beristirahat, Daddy pasti lelah"
ucap Lista tersenyum seraya menarik Varel agar naik ke lantai atas
__ADS_1
"Dia menginginkan sesuatu Daddy"
teriak Varo yang membuat Lista menatapnya tajam
"Berhentilah menggoda adikmu dan ayo kita ke kamar, Mommy lelah sekali"
ucap Vania lalu mereka pun berjalan menuju kamar utama.
*****
Kamar Utama
Pintu kamar terbuka lalu masuklah Vania dan Varo kedalam kamar namun langkah mereka terhenti saat melihat Varel sedang tertidur di atas tempat tidur dengan Lista yang duduk disebelahnya
"Mommy mengapa Daddy cepat sekali tidurnya? Lista kan belum meminta oleh-oleh"
rengek Lista dengan suara pelan yang tiba-tiba membuat bibir Varel melengkung sempurna dan Vania sempat melihatnya
"Sepertinya Daddy lelah sayang"
ucap Vania mengelus pucuk kepala Lista
"Aww mengapa perutku sakit sekali"
Tiba-tiba Vania meringis dan menahan perutnya
"Sayang ada apa? Apa yang sakit?"
Varel bangun dan berlari mendekati sang istri
"Sayang bukankah kau tadi tertidur?"
tanya Vania seraya menahan senyum sedangkan Varel menggaruk tengkuknya tidak gatal
"Daddy berbohong"
ketus Lista lalu mencubit perut Varel
"Sebagai permintaan maaf, Daddy punya sesuatu untuk kalian tapi sebelum itu tolong dorong koper yang berwarna hitam kemari"
ucap Varel memerintahkan kedua anaknya membuat Lista maupun Varo berjalan dengan malas
"Sekarang bukalah"
Mereka pun membuka koper besar tersebut tanpa menyadari bahwa didalamnya penuh dengan oleh-oleh khusus untuk mereka
"Itu oleh-oleh untuk kedua anak Daddy dan Mommy yang pintar"
"Astaga apa Daddy bercanda?"
"Ini banyak sekali Dad"
"Tidak sayang, Daddy tidak bercanda dan kalian pantas menerima semuanya"
"Terima kasih banyak Daddy, Mommy"
ucap Lista dan Varo yang sama-sama berlari untuk memeluk kedua orang tua mereka
"Lista sayang, tolong antar kan paper bag itu untuk kak Nike dan katakan bahwa Daddy dan Mommy sedang beristirahat jadi tidak bisa mengantar oleh-oleh untuknya dan Echy"
'Baiklah Daddy"
ucap Lista bersemangat lalu keluar dari kamar diikuti oleh Varo dibelakangnya
"Aku tidak yakin jika akan beristirahat sekarang"
ucap Vania mewanti-wanti gelagat aneh sang suami
"Tidak sayang, aku tidak akan memakan mu kali ini. Aku hanya ingin bermain game online dan merasakan kau mengelus kepalaku"
ucap Varel cengengesan lalu berbaring dipangkuan sang istri
"Dasar manja"
cibir Vania yang membuat Varel terkekeh pelan.
*****
Sudah hampir tiga puluh menit berlalu, namun Varel masih sibuk dan berfokus dengan game online nya membuat Vania mendengus kesal melihat sang suami yang sibuk sendiri
Hingga akhirnya Vania mendapat ide untuk mengerjai suaminya
"Sayang"
"Hem"
"Aku ingin bercerita"
"Cerita lah"
"Kau tau ada seorang istri yang membunuh suaminya"
"Oh ya? Kasihan sekali"
"Ya, kau benar sang istrinya kasihan sekali"
"Istri? Mengapa jadi istrinya yang kau kasihani?"
tanya Varel mengerutkan kening
"Kau tidak ingin tau alasan sang istri membunuh suaminya?"
"Perselingkuhan?"
"Tidak, lebih parah dari itu"
"Apa?"
"Sang suami sibuk sendiri dengan ponselnya"
ketus Vania kesal yang membuat Varel sontak melempar ponsel dan memeluk sang istri dengan erat
"Sayang"
rengek Varel dengan manja dan membuat Vania menahan tawanya.
*
*
__ADS_1
*