
Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...
Follow Juga IG Author : @d.octrayin_
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
Varel yang masih terdiam di tempat duduknya membuat Sekretaris Dim menegur sehingga ia sadar bahwa istri dan anak-anaknya sudah keluar dari mobil.
"Apa ada masalah, Kak?" tanya Sekretaris Dim pelan.
Varel menghela nafas berat sebelum membuka suara. "Aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan Dinda" ucap Varel pelan.
Sekretaris Dim terdiam sejenak lalu kembali membuka suara. "Dinda mempunyai saudara kembar."
Deg.
Ucapan Sekretaris Dim sungguh membuat Varel benar-benar terkejut karena selama ini ia tidak tau bahwa Dinda mempunyai saudara.
"Apa yang kau katakan, Dim?" tanya Varel mengerutkan keningnya heran.
Sekretaris Dim menghela nafas berat. "Aku mengetahuinya sejak lama saat Kak Varel membagikan perintah terakhir untukku menghukum Dinda. Saat itu, aku benar-benar terkejut mengetahui fakta bahwa dirinya mempunyai saudara kembar karena seperti yang kita ketahui bahwa Dinda tidak mempunyai siapa-siapa disini. Ternyata ia dan saudara kembarnya terpisah sejak lahir" ucap Sekretaris Dim menjelaskan.
Varel benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa Sekretaris Dim menyembunyikan fakta yang besar darinya.
Karena melihat Varel yang hanya diam, Sekretaris Dim seolah mengerti keadaan dan kembali membuka suara. "Aku menyembunyikan fakta itu karena aku ingin memantaunya sendiri. Jika ia berani muncul dihadapan Kak Varel, aku tidak akan tinggal diam. Aku memang mendengar kabar bahwa dia ada di kota ini namun aku tidak tau bahwa dia ada di bandara" ucap Sekretaris Dim.
"Kira-kira, apa dia mengenalku?" tanya Varel pelan.
Sebenarnya, Varel tidak ingin ikut campur masalah Dinda dan saudara kembarnya lagi karena itu bukan urusannya. Namun, jika itu menyangkut rumah tangganya dan membuat istrinya sakit hati, maka ia pun tidak akan tinggal diam.
"Wajah Kak Varel sudah terkenal dimana-mana ketika kabar percintaan dengan Dinda tersebar. Mungkin saja dia mengenal Kak Varel namun aku ragu jika dia mengetahui bahwa dirinya saudara kembar Dinda. Aku akan mencari tau lebih lanjut" ucap Sekretaris Dim sopan.
Varel mengangguk pelan. "Mulai sekarang, katakan semuanya padaku. Aku tidak ingin istriku salah paham lagi dan kau pasti tau bagaimana sifat Vania jika ia salah paham dengan keadaan" ucap Varel seraya keluar dari mobil diikuti oleh Sekretaris Dim.
"Jangan menyetir. Tidurlah disini."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Varel pergi ke lantai atas dimana istri dan anak-anaknya sudah tidur. Varel membuka pintu kamarnya dan menatap istrinya yang tertidur entah pura-pura atau memang sudah tidur.
Varel berjalan mendekati sang istri. "Pasti dia akan mendiami ku" gumam Varel pelan.
Setelah mengatakan hal itu, Varel segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lama kemudian, ia pun sudah selesai dan berjalan mendekati box bayi dimana kedua bayinya terlihat tidur dengan sangat nyenyak.
"Selamat tidur jagoan Daddy" ucap Varel pelan seraya mengelus pucuk kepala kedua anaknya.
Ia pun segera berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan dirinya disebelah sang istri. "Selamat tidur istriku" bisik Varel pelan lalu memeluk Vania dengan erat.
*****
Pagi harinya Vania terbangun pukul 05:13 WIB ketika ia merasakan bahwa ada yang memeluknya dengan sangat erat. Ia mengangkat kepala dan menatap Varel yang tertidur dengan sangat nyenyak bahkan terdengar dengkuran halus yang keluar.
Cukup lama Vania menatap wajah suaminya sehingga kejadian kemarin kembali terekam di memorinya. Vania memberanikan diri untuk mengelus pipi sang suami.
"Aku harap tidak ada hal buruk yang akan terjadi" gumam Vania pelan.
Jujur saja, sebenarnya setelah melahirkan, Vania sedikit sensitive terhadap segala hal. Entah itu pengaruh lelahnya karena mengurus dua bayi sekaligus, ia akan menjadi lebih mudah menangis dan lebih mudah sakit hati juga selalu berpikir keras sehingga terkadang membuatnya merasakan sakit kepala.
Vania segera beranjak dari tempat tidur untuk kembali memulai rutinitas paginya dimana ia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum kedua bayinya bangun karena jika kedua anaknya sudah bangun, maka Vania akan susah melakukan pekerjaan apapun.
Dan benar saja, baru saja rasanya ia memasang pakaian, terdengar tangisan bayi yang membuatnya tergesa-gesa untuk memasang pakaiannya.
Saat keluar, Vania melihat Varel yang sudah sigap menggendong baby El yang menangis pagi ini. Tidak bisa ia pungkiri bahwa suaminya memang banyak berperan membantunya mengurus kedua anaknya.
"Sayang, sepertinya El lapar" ucap Varel namun tidak menoleh kearah sang istri.
Vania segera berjalan mendekat dan mengambil alih baby El dari sang suami. "Tumben sekali kau sudah bangun" ucap Vania yang membuat Varel terkekeh pelan.
Memang, jika kedua anaknya menangis pagi, Varel jarang sekali terbangun karena ia terlalu sering bergadang. Namun, jika kedua anaknya menangis pada tengah malam, Varel akan terbangun dengan mudahnya karena mungkin ia masih belum tidur terlalu nyenyak.
"Aku menggeliat dan merasakan tidak ada orang di sisi ku lalu El menangis" jawab Varel.
Dalam hati, ia sangat bersyukur karena istrinya tidak mendiaminya saat ini. Ah, walaupun begitu juga ia harus tetap hati-hati karena marahnya Vania akan selalu dipendam dengan berakhir tidak saling berbicara membuat Varel terkadang bergidik ngeri. Mau bagaimana pun juga, ia lebih suka istrinya yang akan memarahinya dengan wajah kesal dari pada mendiaminya dan berusaha untuk menghindar.
"Sayang, bisakah kau menemani El sebentar? Aku harus membangunkan Koko dan Cici" ucap Vania yang membuat lamunan Varel buyar seketika.
__ADS_1
"Berikan aku morning kiss dulu" ucap Varel tersenyum.
"Hei, kau itu sudah tua masih saja ingin romantis" gumam Vania heran.
Varel tertawa seketika.
Cup.
"Semakin bertambah usia itu kita harus semakin romantis agar selalu awet muda, Sayang."
"Astaga, terserah kau saja" ucap Vania menghela nafas berat.
Jika dipikir-pikir, Vania harus bisa memaklumi sifat Varo yang semakin hari semakin menurun dari Varel. Ah, kasihan sekali Vania jika baby Al dan baby El juga menuruni sifat Daddy nya.
*****
Vania berjalan menuju kamar Varo dan hendak membangunkan sang anak yang ternyata sudah bangun dan sedang membaca buku.
Vania tidak akan heran lagi jika dimana saja ia akan menemukan Varo dan bukunya seperti waktu itu saat sedang buang air pun ia akan membawa bukunya.
"Hei, Koko sudah bangun rupanya" ucap Vania tersenyum.
Varo segera menghampiri Mommy nya dan mencium pipinya.
"Morning, Mom."
"Morning, Sayang. Koko bangun tidur pukul berapa?"
"Sekitar pukul 4 tadi. Koko terganggu gara-gara Uncle Bry" jawab Varo malas.
"Bry? Ada apa dengan Uncle mu?" tanya Vania mengerutkan keningnya heran.
"Tiba-tiba masuk ke mimpi Koko. Ah, wajahnya benar-benar menyeramkan."
"Astaga."
*
__ADS_1
*
*