
Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...
Happy Reading Guys🥰😘!!!!
*****
"Varel?" panggil Dinda yang tiba-tiba berjalan dan duduk di tengah-tengah Varel dan mama Melinda
"Dinda?" panggil Mama Melinda terkejut
"Mama, apa kabar?" ucap Dinda lalu mencium kedua pipi sang Mama dari mantan kekasihnya
"Mama, baik" jawab Mama Melinda tersenyum
"Vandi, kau apa kabar?" tanya Dinda basa-basi
"Baik" jawab Vandi dingin
"Ini siapa, kekasihmu?" tanya Dinda dengan senangnya
"Iya, dia kekasihku" lagi-lagi Vandi hanya menjawabnya dingin
"Hai, aku Dinda kekasihnya Varel"
Dinda pun mulai memperkenalkan diri kepada kekasih Vandi yang membuat semua orang terkejut
"Sandra" ucap Sandra memperkenalkan diri
"Varel kau disini rupanya, aku mencari mu di kantormu tadi" ucap Dinda manja lalu memegang lengan Varel
Kantor? Dia bahkan bisa keluar masuk kantor Varel seenaknya, sedangkan aku?-Vania
"Vandi, pesanlah makanan kalian" ucap Mama Melinda menatap sang putranya
"Tidak, Vandi tidak nafsu makan Ma" ketus Vandi menatap tajam Dinda
"Sayang kau lapar?" tanya Vandi lalu menatap kekasihnya sedangkan Casandra hanya menggeleng pelan
"Dinda, pesanlah makananmu" ucap Mama Melinda lalu menatap mantan kekasih putranya
"Varel kau ingin makan apa? Apa kau masih menyukai seafood?" tanya Dinda yang masih memegang lengan Varel
"Maaf, Vania permisi ke toilet sebentar" pamit Vania hendak pergi namun Varel menahannya
"Aku ikut" ucap Varel menatap sang istri
"Sayang, tidak perlu" tolak Vania halus
"Ayo" ajak Varel lalu menarik Vania dan pergi
"Biasa lah pengantin baru masih hangatnya tidak mau berpisah" cibir Vandi yang membuat Dinda menunduk.
*****
Toilet
__ADS_1
"Ya Tuhan mengapa hatiku sakit melihatnya?" lirih Vania lalu mengeluarkan air mata
"Apa ini? Aku bahkan tidak bisa menahannya lagi"
Beberapa menit kemudian setelah merasa lumayan tenang, akhirnya Vania pun keluar dari toilet dan mendatangi sang suami yang telah menunggunya di depan
"Mengapa lama sekali?" ketus Varel lalu menatap sang istri sedangkan Vania hanya menunduk diam tanpa menjawab ucapan suaminya
"Hei kau kenapa?" tanya Varel lalu menangkup wajah Vania agar mata mereka bertemu
"Kau menangis?" tanya Varel khawatir seraya menghapus sisa air mata di ujung mata istrinya sedangkan Vania hanya menggeleng pelan
"Dasar bodoh mengapa kau selalu memendamnya sendiri hah?" bentak Varel lalu memeluk erat sang istri
Disitulah pertahanan Vania runtuh, ia menangis dalam diam di pelukan suaminya.
"Hei aku menenangkan mu tapi mengapa kau semakin menangis?" tanya Varel khawatir seraya mengelus pucuk kepala Vania
"Kau ini bodoh sekali, jika kau tidak suka mengapa kau tidak memarahinya?"
"Sudahlah jangan menangis, kau sedang cemburu membuatku ingin tertawa" ejek Varel terkekeh
"Tidak, aku tidak cemburu" kilah Vania cepat lalu melepaskan pelukannya
"Huh kau sudah jatuh cinta terhadapku tapi masih tidak menyadarinya" cibir Varel lalu menghapus sisa air mata Vania
Jatuh cinta? Apa semudah itu? Aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak menaruh harapan tapi mengapa hatiku tidak menurutinya?-Vania
**
Hahaha lihatlah, kau duluan yang jatuh cinta padaku walaupun aku yang selalu berdebar di dekatmu.-Varel
"Yasudah kita kembali ke sana dan pamit pergi, aku tidak kuat untuk tidak tertawa jika melihatmu cemburu lagi" ejek Varel membuat Vania kesal
"Aku tidak cemburu" ketus Vania lalu berjalan mendahului sang suami yang membuat Varel tertawa melihatnya
"Hei kau tidak ingin menjaga suamimu? Bagaimana jika ada yang menggodaku?" teriak Varel disela-sela gelak tawanya.
*****
Di Meja Makan
"Sayang, Varel mana?" tanya Mama Melinda heran saat melihat Vania hanya kembali sendiri
"Vania tidak tau Ma, mungkin saja terkunci di dalam toilet" ucap Vania berusaha menahan kesal terhadap suaminya
"Sayang mengapa kau meninggalkanku?" tiba-tiba Varel datang lalu duduk di samping sang istri
"Loh? Kak Vania kenapa Kak?" tanya Vandi heran
"Kakak ipar mu tad--"
"Sayang" potong Vania lalu menatap Varel tajam
"Maaf Vandi, kakak ipar mu melarang kakak memberitahunya" ejek Varel lalu menatap sang istri
__ADS_1
"Ma, sepertinya Varel pamit pergi karena istri Varel tidak nyaman ada orang lain ditengah-tengah keluarga kita" ucap Varel penuh penekanan
"Varel" lirih Dinda lalu menunduk
"Ayo sayang kita pergi" ucap Varel memegang tangan sang istri dan hendak pergi namun Dinda menghalanginya
"Tidak, aku saja yang pergi, maaf membuat kalian tidak nyaman" ucap Dinda lalu pamit pergi seraya menahan malu
"Sayang aku tidak pernah mengatakan kepadamu bahwa aku tidak nyaman ada Nona Dinda" ucap Vania yang merasa bersalah
"Tapi kau cemburu" jawab Varel santai
"Oh jadi itu alasannya Kak Vania meninggalkan Kak Varel di toilet?" ejek Vandi tertawa
"Sayang, maafkan Mama tidak menyadari bahwa kau tidak nyaman ada Dinda" ucap Mama Melinda lalu menatap menantunya
"Tidak Ma, Vania minta maaf karena ucapan Varel yang mengusir Nona Dinda" ucap Vania menunduk
"Vandi, kau tidak lihat saja bagaimana raut wajah Kakak ipar mu saat ia cemburu" ejek Varel yang membuat Vania menatapnya tajam
Entah kenapa Vania bisa berani memelototi sang suaminya, mungkin karena ia sedang cemburu ditambah sang suami yang selalu mengejeknya
"Jadi Kak Vania bisa cemburu juga ya?"
Vandi pun ikut-ikutan mengejek Vania
"Jelas saja Vania cemburu apalagi ada wanita yang mengaku sebagai kekasih dari suaminya, aku saja jika menjadi Vania akan mencakar wajahnya yang sok cantik itu" timpal Casandra geram
"Vandi, kau harus berhati-hati jika bertemu mantan kekasihmu, jika tidak Sandra akan menghabisinya" ucap Mama Melinda tertawa
"Sepertinya kau harus belajar dengan Sandra sayang" ucap Varel menatap Vania
"Sayang, aku tidak cemburu" kilah Vania lalu membuang muka
"Nak kau cemburu pun tidak masalah itu wajar kok di dalam hubungan pernikahan. Jika kau tidak suka katakanlah jangan memendamnya sendiri, kau harus selalu terbuka kepada suamimu agar suamimu bisa lebih memperhatikanmu dan menjaga perasaanmu" tegur Mama Melinda membuat Vania menunduk diam
"Varel jika kau berani menyakiti menantu Mama atau pun membuatnya menangis, Mama akan menjauhkan Vania darimu" ancam Maka Melinda
"Tidak, Mama mengapa selalu mengancam ku?" ketus Varel
"Karena kau tidak bisa menjaga sikap, kau itu sudah berkeluarga jagalah perasaan istrimu. Berani sekali kau membiarkan wanita lain menyentuhmu didepan istrimu" ketus Mama Melinda lalu menjewer telinga Varel
"Mama, sakit" ringis Varel lalu Mama Melinda pun melepaskan jeweran nya
"Aku tadi hanya ingin melihat respon Vania" jawab Varel santai
"Kau sudah lihat kan istrimu cemburu? Jadi jangan pernah melakukannya lagi" ucap Mama Melinda penuh penekanan
"Jika dibelakang Vania apa Varel boleh melakukannya? Mama tadi hanya melarang di depan Vania" dengan isengnya Varel menanyakan itu
"Lakukan saja jika kau ingin melihat istrimu menikah dengan Bas atau Daniel atau pun Hendra" ancam Mama Melinda menatap tajam sang putranya
"Tidak, aku tidak akan melakukannya" jawab Varel cepat.
*
__ADS_1
*
*