Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Permintaan Maaf


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


Jam menunjukkan pukul 03.06 WIB dan semuanya masih belum beranjak dari ruangan Vania dimana semua orang sedang mengobrol dan berkumpul bersama sedangkan Varel masih tidak ingin jauh dari istrinya.


“Apa kak Varel sangat takut kehilangan kak Vania hingga tidak ingin berjauhan dengan istrinya?”. Vandi yang melihat kakaknya yang tidak ingin pergi dari tempat tidur pun kesal


“Kau bosan hidup?” ketus Varel yang mendengar jelas pertanyaan Vandi


“Biasa, Van. Lama tidak bertemu makanya harus melepaskan rindu dulu” ucap Daniel yang seolah mengejek Varel


“Siapa suruh kau menyembunyikan istriku?”


“Dan siapa suruh kau bersikap sangat bodoh?” celetuk Sebastian yang membuat semua orang tersenyum tipis karena sudah lama tidak mendengar ocehan dari ketiga pria tua ini


“Bas, pulanglah. Kasihan istrimu”


“Kenapa Papa yang peka? Padahal aku menunggu diusir sejak tadi” gumam Sebastian yang membuat Tika mencubit pelan lengannya


“Kau kira aku akan menyuruhmu pulang? Bermimpi saja”


“Hei, aku belum malam pertama”


Pletak


“Masih ada anak-anak disini” ketus Daniel dengan kesalnya


Sebastian hanya mendengus kesal karena Daniel tidak sopan menjitak kepalanya namun ia tidak berani membantah karena memang benar baik Bryan dan Billy sedang menatapnya heran


“Van, bagaimana keadaanmu sekarang?”. Dengan cepat Sebastian mengalihkan pembicaraan agar tidak ada kesempatan untuk Bryan dan Billy bertanya


“Uncle Bas pasti tau bahwa aku akan bertanya tentang apa itu malam pertama” ucap Billy dengan raut wajah penasaran


Plakk


“Hei, sakit Bry”


“Kau sudah besar dan tidak tau malam pertama?”


“Lalu? Apa kau mengetahuinya?”

__ADS_1


“Malam ke-satu”


“Hah?”


*****


“Jadi, bagaimana? Apa Vania akan mengirimkan surat perceraian?”. Pertanyaan Daniel sontak membuat semua orang terkejut bahkan Vania pun menatap sang kakak dengan heran


“Hei, kau gila?!” ketus Varel dengan kesal seraya menatap Daniel dengan tatapan mengerikan


“Aku hanya ingin bertanya bagaimana kelanjutan hubungan kalian” ucap Daniel santai


Vania hanya tersenyum tipis seraya menggenggam erat tangan suami dan dibalas dengan tatapan yang sulit diartikan.


Saat melihat Varel beranjak dari tempat tidur, reaksi Vania benar-benar terkejut karena suaminya ingin pergi. Ia pun menatap suaminya seolah bertanya apa yang akan ia lakukan.


Siapa sangka, ternyata Varel berjalan mendekati Papa Lyno dan Mama Kusuma lalu bersujud dihadapan kedua orang tua istrinya.


“Nak, apa yang kau lakukan?” tanya Papa Lyno terkejut


Mama Kusuma pun tak kalah terkejut saat menantu lelakinya bersujud dihadapannya. “Rel, berdirilah nak”


“Varel ingin meminta maaf kepada Papa dan Mama karena kebodohan Varel lah, rumah tangga Varel berantakan. Izinkan Varel untuk menebus semua kesalahan Varel dengan membahagiakan putri Papa dan Mama.”


“Sial. Aku hanya bercanda, bodoh” gerutu Daniel ketika melihat sahabatnya bersujud dihadapan kedua orang tuanya setelah ia menanyakan kelanjutan hubungan mereka.


“Berdirilah, Rel”


“Varel sangat amat menyesal, Pa. Maaf karena sudah membuat putri Papa menderita selama empat bulan terakhir. Varel benar-benar meminta maaf”


“Jika kau menyesal maka bahagiakanlah anak Mama” ucap Mama Kusuma tersenyum tipis.


“Mama mertua mu benar, Papa hanya ingin putri Papa bahagia dan Papa yakin kau lah orangnya. Masalah bukan hal yang sulit jika dilalui bersama, dan umur pernikahan kalian masih muda. Jadi, bersiaplah akan masalah yang terjadi kedepannya.”


Varel bersyukur dan benar-benar bersyukur ketika bertemu dengan mertua yang tak pernah menyudutkannya ketika ia disalahkan, malah Papa Lyno akan bersikap bijaksana dan tegas seperti Papa kandungnya sendiri.


Jauh dalam lubuk hati Varel, ia akan berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang bijaksana seperti almarhum Papa dan Papa mertuanya. Ia akan berusaha untuk membahagiakan istri dan juga anak-anaknya. Dan ia akan berusaha untuk memprioritaskan keluarganya dalam segala hal.


Sungguh, jika kau melihat pria yang sedang bersujud itu, kau tidak akan pernah menyangka bahwa pria itu adalah Varel, Presdir Fernandez Group yang katanya dingin namun akan berubah menjadi sangat manja dihadapan sang istri.


“Sekarang berdirilah. Lanjutkan kehidupanmu dan selesaikan masalah yang sempat membuat rumah tangga mu berantakan. Kau dan istrimu perlu ruang sendiri untuk membahasnya.”


Setelah mengatakan itu, Papa Lyno mengajak semua yang ada disana untuk pergi karena memang Vania dan Varel butuh ruang untuk pembicaraan yang serius.


“Pa, seharusnya Varel juga meminta maaf kepada El” gerutu Daniel ketika melihat Varel yang hanya berjalan melewatinya

__ADS_1


“El..”


“Mama pun akan merinding jika mendengar kalian berbicara hal yang serius”


Semua orang yang tersisa disana tertawa mendengar lelucon yang keluar dari mulut Mama Kusuma.


“Pa, biarkan saja Varo dan Lista disini.. Mereka juga sudah tidur” ucap Vania saat melihat Papa Lyno mendekati ranjang dimana Varo dan Lista sudah tertidur pulas


“Baiklah, Papa dan Mama pulang dulu. Cepat sembuh, Sayang”


Setelah semua orang berpamitan, tersisalah pasangan suami istri yang masih berdiam diri hingga akhirnya tangisan baby El memecahkan keheningan.


“Sayang, bagaimana ini? Apa El lapar?” tanya Varel panik ketika mendekati box baby dimana wajah baby El sudah memerah akibat tangisannya.


Vania benar-benar ingin tertawa sekarang melihat wajah panik suaminya. “Bawakan kemari. Apa kau bisa menggendongnya?”


Akhirnya, dengan perlahan Varel menggendong baby El kedalam pelukannya lalu membaringkannya dengan sangat hati-hati diatas dada sang istri.


“Wow, suamiku memang bisa diandalkan” ucap Vania bangga ketika ia melihat cara Varel menggendong baby El


“Kau tau? Aku belajar untuk bisa menggendong mereka” ucap Varel terkekeh pelan ketika mengingat hari-hari dimana ia diam-diam belajar dan bekerja keras untuk belajar mengurus bayi.


“Sayang, lihatlah, Al memang sepenuhnya mewarisi ku. Ketika adiknya menangis saja, dia tidak bergerak sama sekali”. Varel benar-benar kagum dengan telinga anaknya yang sangat kuat mendengar tangisan adiknya dan tidak bergeming sama sekali


Vania terkekeh pelan ketika melihat Varel yang benar-benar mengagumi anaknya. “Aku harus mulai membiasakan diri dari sekarang”


“Hei, memangnya kenapa jika Al mewarisi ku?” tanya Varel heran karena istrinya seolah tidak ingin anak-anaknya mewarisi sifatnya


“Sayang, bagaimana jika aku kedinginan? Sudah cukup Varo mengikuti mu, jika Al dan El juga sepertimu maka aku benar-benar tidak habis pikir”


“Hahaha.. Biarkan saja, mereka akan menjadi pria dingin yang menjaga Mommy nya”


“Dan jangan lupakan putri kecilmu”


Seketika, Varel berjalan mendekati Vania yang masih memberikan ASI kepada baby El. Tangan Varel bergerak untuk mengelus rambut anaknya yang tumbuh dengan sangat lebat.


“Ada apa, Sayang?” tanya Vania yang heran ketika suaminya tiba-tiba mendekatinya saat ia membicarakan tentang Lista


Varel menghela nafas berat sebelum menatap manik mata sang istri. “Maaf..”


“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Vania mengerutkan keningnya


“Maaf, Lista menderita karena ku..”


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2