Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Kecurigaan


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Sekretaris Dim benar-benar terkejut ketika ia melihat jelas wajah Varo dalam berkas yang dibawakan oleh Bram.


"Kau tidak salah? Ini Tuan Kecil!"


Bram menggeleng pelan. "Saya sangat yakin, Tuan."


"Bagaimana bisa, Bram?!" tanya Sekretaris Dim yang masih tidak percaya.


Bram menyerahkan foto-foto pertemuan Varo dan Dion juga beberapa bukti dari hasil teror yang Varo lakukan pada Aurora selama ini.


"Dion?! Kurang ajar! Bagaimana bisa dia menjadi kaki tangan Varo selama ini?!"


"Dion dan Mike selama ini membantu Tuan Kecil meneror Aurora sehingga semuanya terlihat seperti teror yang biasa saya lakukan, Tuan. Saya belum mendapat alasan mengapa mereka membantu Tuan Kecil dan membiarkan Tuan Kecil terjerumus dalam hal kotor seperti ini. Saya akan menyelesaikan ini semua."


Sekretaris Dim menggeleng pelan. "Kau fokus saja dengan acara pernikahan mu. Aku akan menyelesaikannya."


Tak lama kemudian, ponsel Bram pun berdering menandakan sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya.


"Ada apa?"


"................"


"Berita apa?"


"............................"


"Baiklah."


Panggilan pun terputus.


"Ada masalah baru?" tebak Sekretaris Dim.


Bram tidak menjawab namun tangannya bergerak memberikan ponselnya kepada Sekretaris Dim.


Dilihat dalam layar ponsel tersebut beberapa artikel tentang skandal Aurora dengan beberapa pengusaha Indonesia hingga namanya menjadi trending dalam sosial media.

__ADS_1


"Sepertinya ini ulah Tuan Kecil, Tuan."


"Bagaimana bisa dia melakukan semuanya? Astaga, Varo!"


Sekarang, Sekretaris Dim dibuat pusing dengan berita yang baru saja ia dapatkan. Bagaimana jika Varel mengetahui bahwa anaknya sudah terjerumus dalam hal kotor? Dan bagaimana tanggapan Vania ketika melihat putra mereka melakukan hal kotor demi membalaskan teror yang diberikan kepadanya? Sungguh, saat ini keluarga Fernandez sedang sedih karena kedua bayi kembar yang tiba-tiba keracunan makanan. Bagaimana Sekretaris Dim menceritakan semuanya?


Setelah cukup lama mengobrol, Bram pun pamit undur diri karena Sekretaris Dim juga akan pergi ke rumah sakit sekarang. Ia akan menceritakan semuanya kepada Varel tanpa ingin menunda lebih lanjut.


Beberapa menit kemudian, mobil Sekretaris Dim terparkir di halaman rumah sakit membuatnya segera turun dan melemparkan kunci mobil ke salah satu pengawal yang berjaga disana.


Dengan segera ia berlari mencari keberadaan Tuan Muda yang dapat dipastikan bahwa majikannya sedang berada di ruang sang anak.


Tok tok tok


Dengan sopan Sekretaris Dim mengetuk pintu membuat Varel segera membukakan pintu untuknya.


Varel yang saat itu masih belum tidur pun terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu yang bisa ia pastikan bahwa itu adalah Sekretaris Dim karena tidak ada orang lain lagi yang bisa mengganggunya larut malam seperti ini jika bukan dari Sekretaris Dim yang membawa berita penting.


"Berita buruk, Dim?" tanya Varel to the point membuat sang sekretaris mengangguk pelan.


Varel menghela nafas berat. "Jangan keras-keras, Vania dan si kembar sudah tidur."


Sekretaris Dim lalu memberikan berkas yang ia bawa membuat Varel segera mengambil berkas tersebut lalu membukanya.


Tangan Varel bergerak menelusuri setiap lembar dalam berkas tersebut sehingga ia mendapatkan foto pertemuan Dion dan Varo juga bukti-bukti dari teror yang dilakukan Varo dengan bantuan Dion.


Saat melihat hal itu pun tidak ada reaksi yang diberikan Varel. Ia hanya menghela nafas berat hingga membuat Sekretaris Dim semakin susah mengerti.


"Dan, Kak Varel harus melihat ini" ucap Sekretaris Dim seraya memberikan iPad nya.


Terlihat di layar tersebut artikel-artikel yang sedang ramai dibicarakan dengan topik skandal antara Aurora dan para pengusaha. Cara yang sama yang dilakukan oleh Sekretaris Dim sebelum ia melemparkan Dinda ke desa terpencil.


"Bawakan Dion kepada ku besok pagi."


Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Tuan Muda membuat Sekretaris Dim kasihan karena ia tau Varel sudah cukup lelah menghadapi situasi ini.


Orang tua mana yang tidak marah sekaligus terkejut mendengar anaknya tiba-tiba terjerumus ke hal yang kotor bahkan sangat pandai dalam memainkan peran sebagai anggota mafia. Geng yang sangat kotor di muka bumi ini.


Varel pun sama halnya dengan orang tua pada umumnya yang pasti cukup kecewa melihat kelakuan Varo. Namun, ia kembali berpikir bahwa sang anak bisa saja menjadi seperti ini karena ulahnya.


Mempunyai geng mafia terbesar di Asia bukanlah menjadi impian Varel sejak dulu. Seiring waktu, ketika melihat keluarganya sering diganggu, ia akhirnya memilih untuk mengumpulkan semua orang yang ia jadikan sebagai anggota gengnya.


Varel hanya ingin melindungi orang yang ia sayangi walaupun dengan cara yang salah. Dan Varel sadar bahwa Varo juga seperti itu.

__ADS_1


*****


Pagi hari pun tiba, Vania terbangun dari tidurnya ketika mendengar baby Al tiba-tiba menangis dengan sangat keras.


"Sebentar, Sayang. Ada apa, Nak? Anak Mommy haus?"


Vania berusaha untuk menenangkan sang anak dengan memberikan ASI, namun tangisan baby Al semakin kencang hingga membuat Varel terbangun.


"Ada apa, Sayang?" tanya Varel dengan suara khas bangun tidur.


Vania menoleh sebentar. "Aku tidak tau. Al tiba-tiba menangis dan tidak mau minum ASI. Apa perlu meminta dokter Hendra kemari?" tanya Vania dengan raut wajah khawatir.


Varel yang melihat istrinya sedang kesusahan pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekat.


"Apa anak Daddy sedang merasakan sakit? Sebentar ya, Sayang. Daddy minta Om Hendra kemari" ucap Varel pelan seraya mengelus pucuk kepala sang anak.


Memang, sejak kejadian keracunan ASI hari itu, baby Al dan El benar-benar cerewet hingga membuat Vania sedikit susah untuk menangani mereka. Hati Vania sungguh sakit ketika melihat kedua anaknya yang masih sangat kecil sudah menderita.


Tak lama kemudian, dokter Hendra pun langsung datang bersama beberapa perawat untuk memeriksa keadaan baby Al.


"Sepertinya Al masih cukup trauma jika diberikan ASI. Aku tidak tau harus melakukan apa, mereka masih terlalu kecil untuk mengonsumsi obat-obatan dan aku tidak menganjurkan itu. Berikan saja ASI perlahan-lahan padanya agar bisa dicerna dengan baik. Maaf jika aku tidak bisa membantu."


Dokter Hendra sedikit merasa tidak enak karena ia tidak tau harus mengambil tindakan apa. Resiko yang ia hadapi sangat besar mengingat umur kedua anak Varel hanya berusia sekitar satu bulan lebih. Diberikan obat pun terlalu beresiko tinggi untuk mereka.


"Baiklah. Terima kasih, Hen."


Beberapa menit kemudian, setelah berusaha cukup lama akhirnya baby Al mau meminum ASI perlahan hingga tangisnya semakin mereda.


Klek


Pintu ruangan terbuka dan masuknya Varo bersama Dion dan Mike.


"Loh? Kenapa Koko kemari? Bukannya hari ini Koko sekolah?" tanya Vania mengerutkan keningnya heran.


Varo berjalan mendekat dan mencium pipi Vania. "Hanya ingin melihat mereka, Mom."


Varo menangkap momen itu, dimana ia melihat Varel menatap Dion dan Mike dengan tatapan penuh arti sehingga ia curiga bahwa ada sesuatu yang terjadi.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2