Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Pagi Yang Heboh


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH yađŸ„°đŸ˜...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading GuysđŸ„°đŸ˜˜!!!!


*****


Tak lama kemudian Bi Ijah masuk ke dalam kamar utama dengan beberapa pelayan yang membantunya membawa peralatan mandi untuk baby Al dan baby El. Sebenarnya, Varel ingin mempekerjakan perawat khusus untuk menjaga kedua anaknya namun Vania menolak karena ia ingin mengurus semuanya sendiri dan hanya dibantu oleh Bi Ijah dan Nike saja. Karena saat ini Nike sedang bersiap-siap untuk sekolah, jadilah Bi Ijah sendiri yang akan memandikan bayi kembar itu.


“Permisi, Tuan Muda” ucap Bi Ijah karena ia akan membuka pakaian baby Al dan mulai memandikannya.


Varel hanya diam namun matanya tak lepas dari baby Al yang sangat tenang bahkan ketika dimandikan. Karena melihat suaminya yang benar-benar fokus melihat proses pemandian bayi, Vania terkekeh pelan.


“Sayang, berilah jarak agar Bi Ijah bisa memandikan Al dengan tenang” tegur Vania ketika suaminya semakin mendekat.


“Ah, maaf Bi” ucap Varel terkekeh pelan.


Bi Ijah pun tersenyum. “Tidak masalah, Tuan. Tuan Besar juga seperti ini ketika Bibi memandikan Tuan Muda”


“Papa sangat penasaran? Bukannya Papa takut menggendong ku dulu?” tanya Varel antusias.


“Tuan Besar memang takut menggendong Tuan Muda dan Tuan Vandi namun Tuan Besar akan sangat antusias melihat Bibi memandikan bayi nya”


“Sayang, bisa tolong dorongkan aku agar mendekat?”


Dengan segera Varel mendekati istrinya dan mendorong kursi roda dengan baby El yang ternyata sudah kembali tidur.


“Kenapa Papa takut menggendong bayi?”


“Katanya takut jatuh” jawab Varel karena ia mengingat cerita Mama Melinda yang mengatakan bahwa Papa Hendrik memang tidak pernah menggendong anak-anaknya ketika berumur 0 bulan.


“Bi, apa wajar jika Al jarang menangis?” tanya Varel seraya menatap Bi Ijah yang sedang fokus memandikan baby Al.


“Sebenarnya wajar-wajar saja, Tuan. Karena umur Tuan Kecil belum satu minggu, masih suka tidur.”


“Bagaimana dengan El?”. Vania terkekeh karena mendengar suaminya yang sangat antusias bertanya.


“Tuan Kecil El juga wajar menangis karena mungkin saja ia merasa sedang tidak nyaman dengan posisi tidurnya atau karena lapar dan belakangnya basah.” Bi Ijah dengan sabar menjelaskan kepada suami yang baru saja menjadi seorang Ayah itu.


“Hei, dia membuka mata.” Varel heboh ketika melihat baby Al membuka mata saat dimandikan.


Bi Ijah tersenyum tipis. “Mungkin Tuan Kecil Al tau bahwa Tuan Muda sedang menanyakan tentangnya.”


“Tidak, Bi. Dia tidak bisa mendengar ucapan ku” ucap Varel tertawa.


Plak


Refleks Vania yang berada disebelahnya langsung memukul bahunya pelan.


“Aku bercanda, Sayang.”

__ADS_1


Vania mendengus kesal. “Kau ini, selalu saja membully anakku”


“Anak kita, Sayang” protes Varel tak terima.


“Anak kita anak kita, tapi kau selalu membully nya”


“Hei, aku hanya bercanda.”


“Sudah sana.”


“Aku belum melihat proses si bontot mandi” rengek Varel ketika Vania mengusirnya.


“Prosesnya sama saja. Sana, lihat Koko dan Cici.”


Akhirnya, mau tak mau Varel mengikuti ucapan sang istri untuk melihat kedua anaknya apakah sudah siap berangkat ke sekolah.


*****


Pagi ini, suasana di meja makan sangat meriah karena semua orang sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Sepertinya hanya Varel dan Vania yang belum berkumpul.


“Apa—”


Ucapan Bryan terpotong ketika ia melihat Angeline, Alea, dan Clara juga Raja masuk ke dalam rumah”


“Wow, Kakak Cantik. Kita bertemu lagi” ucap Bryan mengedipkan sebelah matanya ketika melihat Alea.


“Uncle, jangan merebut milik Papa El. Apa Uncle sudah bosan hidup?”


Astaga, ini salahnya jika mempunyai circle seperti circle ku.-Daniel.


“Ayo, Sayang. Duduklah”


Mereka pun mulai duduk bersama mengisi beberapa kursi yang memang kosong.


Tak lama kemudian, Varel dan Vania pun turun dari lantai dua dengan Vania yang masih berada di kursi roda. Sebenarnya Vania sudah boleh berjalan apalagi sudah beberapa hari yang lalu ia melahirkan. Namun, suaminya adalah Tuan Muda Varel.


“Vania”


“Hei, kalian sudah lama?” tanya Vania setelah mencium satu per satu sahabatnya.


Angeline dan Alea memang sedang sibuk mengurus bisnis mereka jadi baru bisa berkunjung sekarang sedangkan Clara juga sedang mengurus pernikahannya bersama Reza terlebih lagi kemarin Raja tiba-tiba demam membuatnya juga baru bisa berkunjung.


“Dimana anakku?” tanya Angeline antusias.


“Kan belum dibuat dengan Kak Hendra” celetuk Vandi yang membuat Sandra memukul lengannya.


“Maksudku baby Al dan El” ucap Angeline tersenyum canggung.


“Mereka masih tidur. Makan saja dulu”


Akhirnya mereka pun makan bersama dengan tenang. Ah ralat, dengan beberapa celetukan Lista, Bryan, dan Billy.

__ADS_1


“Mommy ku selalu tidak bisa berkumpul bersama” ucap Billy setelah mereka baru saja menyelesaikan sarapan paginya.


“Maksudmu Kak Cherry?”


“Memangnya Mommy ku ada berapa?” gerutu Billy yang membuat Bryan terkekeh.


“Bodoh, Kak Cherry kan sebentar lagi melahirkan. Kau ingin adikmu keluar saat di pesawat?”


“Tidak masalah, aku akan menamainya Sky karena dia keluar saat berada diatas langit.”


“Umur 16 punya anak no, umur 16 punya adek yes” ucap keduanya bersamaan.


Varel menggeleng melihat kelakuan Adik dan keponakannya itu yang benar-benar tidak bisa diam dan selalu berdebat namun mereka tidak bisa dipisahkan.


Melia mempunyai dua anak yang bernama Cherry dan Bryan. Anak perempuannya memang menikah muda sehingga saat ia melahirkan Bryan, anaknya juga melahirkan Billy, cucunya yang membuat Bryan dan Billy sekarang seumuran. Siapa sangka banyak yang mengira mereka adik dan kakak padahal faktanya mereka itu adalah uncle dan keponakan.


“Wow baby twins” ucap Alea ketika melihat Bi Ijah dan salah satu pelayan menggendong baby Al dan baby El.


“Van, aku ingin menggendongnya tapi takut karena aku tidak pernah menggendong bayi 0 bulan” ucap Alea yang selalu menatap kearah bayi.


Vania yang mendengarnya pun tertawa. “Coba saja, hitung-hitung belajar”


Akhirnya, Alea pun belajar menggendong baby Al yang sangat nyenyak dalam tidurnya.


“Wow, seperti ini?”


“Tanganmu harus berada dibawah pantatnya agar dia tidak jatuh.”


Semua terdiam ketika mendengar suara Daniel yang mengajarkan Alea cara menggendong bayi.


“Sayang, kau dengar kan?” bisik Vania tersenyum tipis.


Varel terkekeh pelan seraya mengelus pucuk kepala istrinya dengan kasih sayang. “Apa Mommy ingin menjodohkan mereka hm?”


“Sepertinya begitu. Jangan jauh-jauh mencari jodoh” ucap Vania tertawa.


Cup.


“Hei, k—”


“Tidak ada yang melihat, mereka fokus kepada baby Al dan baby El” ucap Varel seraya mengelap bibir sang istri membuat Vania tersenyum tipis.


Tanpa mereka sadari bahwa ada sepasang mata yang melihat pergerakan mereka.


“Oh My God, My Eyes!”


Skakmat.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2