Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Saling Merindu


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE dan KIRIM HADIAH ya🥰😍...


Follow Juga IG Author : @d.octrayin_


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Kamar Lista


Malam itu sekitar pukul 19.49 WIB, setelah memastikan cucu nya tertidur nyenyak, tiba-tiba terdengar dering telepon masuk yang membuat fokus Mama Melinda menatap benda kecil yang berada tak jauh darinya


"Telepon internasional?"


gumam Mama Melinda saat sudah berhasil mengambil ponsel dari atas meja


Dengan degup jantung yang berdetak cukup cepat dan dengan segala pikiran yang kalut, Mama Melinda akhirnya mencoba untuk mengangkat panggilan tersebut


"Mel"


Suara itu.


Suara yang dikenali oleh Mama Melinda, yaitu


Kusuma.


"Mel, hallo?"


Mama Melinda tersadar setelahnya lalu mencoba mengontrol degup jantung nya


"Ku-Kusuma?"


"Iya, ini aku Kusuma. Bagaimana kabar kalian disana?"


"Apa yang terjadi?"


tanya Mama Melinda to the point


"Bisakah kau berjanji satu hal?"


tanya Mama Kusuma


"Jangan mengatakan apapun kepada Varel?"


tebak Mama Melinda mengenai sasaran


terdengar helaan nafas diseberang sana


"Vania dan Varo sedang berada disini bersama kami. Mereka baik-baik saja, kandungan Vania juga membaik"


"Puji Tuhan. Kabar disini kurang baik.."


"Kenapa?"


tanya Mama Kusuma cepat


"Lista sedang sakit"


"Apa?!!"


"Tenanglah. Sekarang dia baik-baik saja setelah diberikan cairan infus dan obat yang ditangani oleh dokter Hendra sendiri"


"Sakit apa?"


"Dehidrasi dan mogok makan karena mengira semua orang meninggalkannya"


"Varel?"

__ADS_1


"Belum pulang sejak kejadian itu."


"Mel?"


"Kusuma, aku meminta maaf dengan apa yang terjadi. Tolong jaga menantu dan cucu ku disana"


"Dan aku juga meminta maaf karena anakku melepas semua akses keberadaan Vania dan Varo"


"Tidak masalah, aku mengerti bagaimana perasaan Daniel saat ini. Aku juga sudah menduga bahwa mereka tidak berada jauh darimu. Akan ku pastikan bahwa mereka akan kembali bersama"


"Terima kasih, Mel"


"Kita ini keluarga."


*****


Villa


"Tuan Muda-"


"Diam."


belum selesai sekretaris Dim berbicara, Varel lagi dan lagi memotong pembicaraan nya


"Berhenti menyakiti diri"


"Diam, kukatakan"


"Berhenti bersikap seperti orang bodoh"


"Ku bilang diam, Dim!!"


"Bagaimana bisa seorang adik hanya diam saat melihat kakaknya menyakiti diri? Kak Varel ingin melihatku seperti orang bodoh?"


detik berikutnya Varel terdiam tanpa berani mengatakan apapun


"Apa yang ada di pikiran kak Varel? Apa pernah memikirkan Varo? Lista? Bahkan si kembar?". Diam


"Atau pernah memikirkan bagaimana anak-anak kalian nantinya?". Diam


"Aku bertanya kak!!"


"Dim.. Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya di khianati dengan istri dan sahabat sendiri"


"Oh ya? Bagaimana kak Varel bisa menyimpulkan itu semua tanpa penjelasan dari kedua belah pihak?"


"Aku-"


"Hanya dengan mata kepala sendiri?"


Varel mengangguk.


"Lalu? Untuk apa Tuhan menciptakan telinga jika yang digunakan hanya mata? Bagaimana kak Varel bisa mengerti jika kakak hanya melihat apa yang terjadi tanpa tau kejelasannya?". Diam


"Kak, maaf jika lancang tapi kalau boleh jujur yang aku lihat sekarang adalah kak Varel yang belum bisa melupakan bayang-bayang masa lalu kakak dengan Dinda.."


Seketika Varel menoleh, tentu dengan tatapan yang mematikan


"Kenapa? Kak Varel tidak setuju dengan pemikiran ku? Itu yang akan dikatakan orang-orang jika mengetahui masalah ini, kak. Karena bayang-bayang masa lalu, kak Varel terjebak dan tentu dengan menyatukan masalah sekarang dan yang lalu.


Seperti yang terlihat sekarang saja, karena trauma pernah di khianati kekasih dan sahabat akhirnya kak Varel tidak memberikan kesempatan untuk kak Vania dan kak Bas mengatakan hal yang sebenarnya."


*****


10:37 waktu Amerika Serikat


Ruang Keluarga

__ADS_1


"Sayang, hari ini kontrol kandungan?"


tanya Mama Kusuma yang begitu bersemangat sejak kemarin sore hingga membuat senyum di wajah Vania


"Mama terlihat begitu bahagia"


ucap Vania tersenyum tipis


"Tentu, Mama bahagia karena sebentar lagi akan melihat cucu-cucu Mama"


ucap Mama Melinda yang membuat Vania tersenyum tipis seraya mengelus pelan perut buncit nya


"Nak, terima kasih sudah menjadi anak Mama yang sangat kuat"


Vania pun menoleh saat mendengar Mama Melinda berbicara seraya merasakan sebuah sentuhan di pucuk kepalanya


"Terima kasih sudah kuat untuk anak-anak mu"


"Ma.."


"Yang seharusnya mengatakan itu, Vania. Terima kasih Mama dan Papa sudah menerima Vania disini, jika tidak Vania tidak tau harus bagaimana untuk melanjutkan hidup"


"Sayang, hentikan. Berterima kasihlah kepada kedua orang tuamu yang sudah melahirkan gadis kecil kesayangan semua orang"


"Ayah dan Ibu? Vania merindukan mereka, merindukan Lista dan


Varel."


*****


Rumah Sakit


Saat ini, Vania dan Mama Melinda sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kandungan Vania yang sudah berjalan sekitar 5 bulan


"Apa kau takut?"


tanya Mama Melinda saat melihat raut wajah sang anak


"Tidak, Ma. Hanya saja Vania belum terbiasa dengan kehidupan disini terlebih biasanya Vania langsung diantar oleh dokter Hendra"


ucap Vania tersenyum tipis


"Dan Varel, kan?"


Tanpa menjawab pun, Mama Melinda tau jawabannya, Mama Melinda tau jika Vania merindukan sosok itu


sosok Varel Andreas Fernadez.


*****


"Vania"


gumam Varel pelan


Saat ini dirinya sedang berada di balkon kamar di sebuah villa yang jauh dari kota, menatap langit malam yang sangat indah


Varel tidak akan pernah bisa mengelak, bohong jika dirinya mengatakan bahwa ia tidak pernah memikirkan Vania, nyata nya saat tidur pun ia sering mengigau menyebut nama Vania dan merindukan pelukan hangat istri cantiknya


Jika ditanya apakah Varel percaya dengan kejadian yang dilihatnya secara langsung? Jawabannya singkat, he don't know. Ia tidak tau, tidak tau harus melakukan apa, pikirannya sangat kacau dan saat ini ia hanya merindukan sosok wanita nya, merindukan saat dimana ia dan istrinya masih baik-baik saja, bahkan merindukan keluarga kecilnya


Tak jarang Varel menitikkan air mata saat mengingat itu semua namun tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya, hanya helaan nafas berat seolah mengatakan bahwa dirinya butuh pelukan, bahwa dirinya tidak baik-baik saja


Varel merindukan mereka, merindukan perdebatan kecil antara Lista dan Varo, merindukan teriakan Lista yang sedang marah, merindukan kalimat-kalimat polos Varo dan merindukan


Vania.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2