Menikahi CEO?

Menikahi CEO?
Bertengkar Hebat


__ADS_3

Jangan lupa untuk VOTE ya🥰😍...


Happy Reading Guys🥰😘!!!!


*****


Masih di Kamar Utama


"Sebotol pil?"


Lalu Varel membaca tulisan di botol pil tersebut hingga membuatnya sangat emosi


"Mengapa kau mengkhianati ku, Vania?!" lirih Varel menahan amarahnya.


*****


Taman Belakang


"Nona Muda, Tuan Muda meminta Nona Muda untuk kembali ke kamarnya" ucap Pak San menunduk sopan


"Baiklah Pak San, Bi Ijah tolong jaga Varo dan Lista ya" ucap Vania lalu berpamitan dan berjalan menuju lantai atas


*****


Kamar Utama


"Sayang, ada apa kau memanggilku?" tanya Vania heran


Plak


Sebuah tamparan keras yang Varel berikan membuat Vania sangat terkejut


"Mengapa kau melakukannya?" teriak Varel mencengkeram kuat dagu Vania


"A-apa yang kau katakan, Sayang? Aku tidak mengerti" gumam Vania pelan


Lalu Varel melepas cengkeramannya di dagu Vania dengan kasar dan melemparkan sebotol pil tepat mengenai kaki Vania lalu pil-pil kontrasepsi tersebut berhamburan keluar membuat Vania sangat terkejut


Aku sudah tau bahwa saat ia mengetahuinya ini akhir dari hidupku.-Vania


"Mengapa kau melakukannya hah?!" teriak Varel tidak bisa menahan emosinya


Sedangkan Vania hanya menunduk diam karena ia tak tau harus mengatakan apa


"Apa sangat menjijikkan jika kau mempunyai seorang anak dariku?!" bentak Varel yang membuat tangan Vania bergetar


Karena hanya inilah pertama kalinya Vania melihat amarah Varel dan inilah pertama kalinya mereka bertengkar hebat setelah menjalani pernikahan selama tiga bulan


"Jawab aku, Vania" teriak Varel mencengkeram kuat dagu Vania


"A-aku hanya takut" lirih Vania menahan air mata yang hendak keluar


"Takut?! Apa kau menikah dengan hantu?!" gumam Varel pelan namun penuh penekanan


Sedangkan Vania hanya menggeleng pelan tanpa mengangkat wajahnya karena ia sangat takut untuk melihat wajah suaminya yang sedang marah


"Aku menyuruhmu menjawab dengan ucapan bukan dengan menggeleng atau pun mengangguk" bentak Varel


Tiba-tiba

__ADS_1


Tok tok tok


"Apa kau sangat membenciku hingga kau tidak ingin hamil dan melahirkan anakku?" tanya Varel penuh penekanan


Tok tok tok


"Jawab aku, Vania" teriak Varel yang membuat air mata Vania lolos keluar


"Jangan keluarkan air mata murahan mu itu" bentak Varel


Tok tok tok


"Brengsek" ketus Varel kesal yang membuat Vania terkejut karena baru pertama kali ia mendengar Varel menyumpah kasar


"Ada apa?" tanya Varel dingin berusaha menahan amarahnya saat melihat Pak San mengetuk pintu


"Nyonya Besar memanggil Tuan Muda dan Nona Muda untuk berkumpul bersama" ucap Pak San lalu menunduk sopan


Nona Muda? Mengapa ia menangis? Apa Tuan Muda dan Nona Muda sedang bertengkar? Habislah aku jika aku mengganggu mereka.-Pak San


"Katakan kepada Mama, aku tidak mau" jawab Varel kesal lalu membanting pintu dengan kasar membuat Pak San bahkan Vania sangat terkejut


"Jika kau ingin bebas silahkan pergi dariku" ucap Varel penuh penekanan membuat air mata Vania mengalir bertambah deras


"Apa yang kau tangisi hah?" bentak Varel lalu keluar dari kamar disusul Vania yang berlari mengejarnya.


*****


"Sayang, maafkan aku" lirih Vania yang berlari mengejar Varel


"Aku akan mengurus surat perceraian kita" ucap Varel dingin


"Sayang" lirih Vania yang menunduk menangis


"Sayang? Bahkan ucapan itu sangat menjijikkan ditelinga ku" ucap Varel dingin


"Varel, ada apa ini, Nak?" tanya Mama Melinda lembut berusaha meleraikan


"Aku ingin bercerai" ucap Varel dingin lalu pergi dari rumahnya.


*****


Sky Black Evil


"Tumben kau meminta ku untuk kesini?" tanya Sebastian yang heran karena Varel tiba-tiba mengajaknya ke sebuah klub terkenal


"Butuh penenang" jawab Varel santai seraya meneguk wine


"Pasti ada masalah" jawab Sebastian malas


"Dari pada kau mengoceh terus, mending minum saja" ketus Varel kesal


Beberapa jam kemudian, Varel sudah meminum habis dua botol wine dan sudah mulai merasa mabuk berat sedangkan Sebastian sedang menggoda para wanita malam karena itu sudah kebiasaannya


Varel hendak pergi dari klub tersebut namun ia tidak menemukan keberadaan Sebastian, jadilah ia berjalan sendiri sempoyongan hingga masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarai mobilnya menuju ke apartemen miliknya


"Vania, kau benar-benar membuatku kacau" ucap Varel yang sudah mabuk berat.


*****

__ADS_1


Varel melajukan mobilnya dengan santai hingga ia melewati sebuah jalan sepi, tiba-tiba mobilnya dicegat oleh mobil lain. Seorang pria bertubuh tinggi menariknya dengan kasar untuk keluar dari mobil


"Dasar brengsek" bentak pria tersebut lalu meninju perut dan wajah Varel yang sudah mabuk berat


"Lo nggak pantas hidup"


Lalu pria tersebut menusuk perut Varel dengan pisau membuat Varel tersadar seketika


"Brengsek" ucap Varel namun pria tersebut malah menendangnya dan pergi


Entah mendapat kekuatan darimana, Varel berusaha merogoh sakunya dan menelfon sekretaris Dim


"Halo, Tuan Muda" ucap sekretaris Dim di seberang


"Dim...to..long...a..ku...su..dah...ti..dak...ku..at..."


"Halo, Tuan Muda?! Ada apa?! Tuan Muda ada dimana sekarang?!" tanya sekretaris Dim terkejut


"Ce..pat..lah...ke..mari..-tutt tuttt tutttt"


Ponsel Varel tiba-tiba mati sebelum ia menyelesaikan ucapannya


Untunglah sekretaris Dim selalu melacak ponsel dan mobil Tuan Muda sehingga tidak sulit baginya untuk menemukan Varel yang sudah tergeletak pingsan di pinggir jalan


Tak lama kemudian sekretaris Dim beserta para pengawal dan ambulance datang ke tempat dimana Varel tergeletak pingsan dengan darah yang mengalir deras


Lalu mereka semua dengan bergegas membawa Varel ke rumah sakit VA&F yang tak lain adalah milik si Tuan Muda Varel.


*****


Kamar Mama Melinda


Mama Melinda mengajak Vania untuk ke kamar nya agar Vania bisa menjelaskan semuanya tentang pertengkaran hebatnya dengan sang suami sedangkan Vandi, Casandra, Alea beserta Angeline disuruh Mama Melinda untuk menemani Varo dan Lista agar mereka tidak mengetahui pertengkaran Mommy dan Daddy mereka


"Sayang, bisa kah kau jelaskan kepada Mama?" tanya Mama Melinda lembut sedangkan Vania hanya menangis dan terus menangis


"I-ini salah Vania, Ma" lirih Vania menunduk


"Kau melakukan apa hingga Varel marah besar?" tanya Mama Melinda pelan


"Vania tidak ingin memiliki anak darinya, Ma" lirih Vania yang membuat Mama Melinda terkejut


"Jadi kau meminum pil kontrasepsi lalu Varel mengetahuinya begitu?" tanya Mama Melinda berusaha tenang


Vania pun mengangguk pelan membuat Mama Melinda menghela nafas


"Sayang, Mama tau kau mempunyai alasan hingga kau berani melakukannya" ucap Mama Melinda mengelus pucuk kepala Vania


"Vania takut jika suatu saat Varel akan membuang Vania dan anak kami karena kembali kepada Nona Dinda. Maka dari itu Vania menolak keras mempunyai anak darinya karena Vania tidak ingin nantinya anak Vania kekurangan kasih sayang dari ayahnya"


"Mengapa kau selalu mengira bahwa mereka akan kembali, Sayang?"


"Karena mereka saling mencintai, Ma" jawab Vania menatap lesu sang Mama.


*


*


*

__ADS_1


__ADS_2