Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Kembali


__ADS_3

Bagas Tentu saja tidak terima ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Aulia itu, karena menurutnya jika sebenarnya istrinya itu tidak perlu harus merespon Terlalu berlebihan jika hanya membuat pusing.


Hanya saja pria itu tidak mungkin berkomentar langsung di hadapan Rahayu takut nantinya wanita itu bakalan tersinggung dengan apa yang ia katakan, jadi Bagas memilih untuk bersikap santai saja tidak terprovokasi dengan keadaan apapun.


"istriku ini memang lebih mementingkan orang lain daripada suaminya sendiri yang jelas-jelas berjuang untuk rumah tangga yang kami, kalau seperti begini terus kira-kira bakalan nyambung tidak ya kami berdua kalau tinggal dalam satu atap? "batin Bagas penasaran dan hanya bisa menatap sendu ke arah Aulia yang dari tadi selalu saja menghindari kontak mata dengan dirinya .


"Hati-hati ya Beb! Ingat sampai di sana jangan lupa untuk menelponku, kalau ada manusia kurang ajar yang berterbangan di sekitar kamu jangan lupa kasih info biar kita berdua bantu melenyapkan manusia-manusia seperti itu agar tidak berkeliaran di mana-mana! "Sindir Nina kepada pegas dan juga Dimas yang dari kemarin sudah memancing emosinya dan juga sudah membuat Aulia harus memilih untuk kembali pergi.


Dimas menghembuskan nafasnya kasar karena dirinya tahu arti dari ucapan Nina barusan itu, dan yang membuat ia sangat tidak menyukainya adalah Kenapa wanita itu malah ikut campur dengan urusan orang lain.


"Kalau begitu terima kasih selama ini sudah membiarkan istri saya tinggal di sini dan keselamatannya juga bisa terjamin, Maaf kami harus langsung pergi Soalnya kami rencananya bakalan pergi bulan madu ke Maldives seperti keinginannya. "pamit Bagas sambil meraih tangan Aulia yang terlihat sangat membenci sikap pria itu yang masuk romantis dihadapan semua orang Padahal Aulia bisa jalan sendiri tidak perlu harus dituntun seperti itu.


"Ya sudah kalau begitu kalian hati-hati ya dan tidak masalah jika Aulia menginap di sini karena dia sudah kami anggap seperti anak sendiri, yang penting intinya hanya satu yaitu tolong jaga dia sebaik mungkin dan Kalau ada masalah di dalam rumah tangga kalian bicarakanlah secara baik tidak perlu harus pakai emosi! "ujar Perdana memastikan agar Bagas tidak terlalu main tangan dan juga memperlakukan Aulia seperti para istrinya yang lain.


Nina mengantar Aulia sampai di depan pintu taksi yang sedang menunggu, Padahal di dalam tadi Bagas dan juga yang lainnya sudah lebih dari 2 jam. Tetapi karena segala sesuatu masalah bisa selesai dengan uang, makanya sopir taksi itu tetap berada di tempat tidak bergerak sedikit pun.


"kamu hati-hati ya Beb jangan lupa pesanku itu dan juga jangan menyerah dengan apapun yang terjadi, ingat kalau aku selalu bakalan tetap ada di samping kamu dan juga tidak akan pernah meninggalkan kamu sampai kapanpun. "ujar Nina dengan nadanya yang begitu lemas karena tidak percaya jika teman satu servernya bakalan pergi meninggalkannya begitu cepat padahal Ia belum puas bermain dan juga bercengkrama serta curhat segala macam cerita kehidupannya kepada sahabatnya yang satu itu.


"kamu dari tadi hanya memberikan pesan seperti itu, Memangnya kamu pikir Setelah dia sampai di rumah saya bakalan membuat dia jadi perkedel?"tanya Bagas Jengah tetapi Nina memilih untuk tidak peduli sama sekali.


Aulia tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobil karena dirinya tidak ingin memberikan kata-kata perpisahan yang nantinya bakalan terasa begitu menyakitkan, karena menurutnya Nina itu adalah temannya yang paling mengerti yang selalu ada di saat ia butuh dan juga tidak pernah membeda-bedakan status sosial mereka.


"Kamu duduk di depan dengan asisten Sialan kamu itu, dan kamu duduk di samping saya tetapi harus di pintu jangan pernah bergeser ke arah Tengah! "perintah Aulia kepada Bagas dan juga memberi kode kepada Andra agar duduk dengannya di belakang tetapi dalam jarak yang begitu jauh dan tidak boleh ada namanya kontak fisik ataupun saling tetap menatap.


Bagas Tentu saja tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu, masa iya ia ikhlas jika membiarkan Andra dan juga Aulia berduaan saja di belakang.


"lah kok gitu? Seharusnya kita berdua dong yang duduk dekat-dekatan bukan kamu sama dia, Kalian berdua itu orang asing dia tidak boleh berduaan di belakang? "ujar Bagas yang Tentu saja tidak terima dengan keputusan yang diambil oleh istrinya itu.

__ADS_1


"Kamu mau pilih yang mana sesuai dengan keputusanku atau aku bakalan naik taksi yang lain saja, dan Kalau kamu masih ngeyel ya Aku bakalan tetap melakukan seperti yang kukatakan tadi? "sinis Aulia tidak mau kalah membuat Bagas akhirnya pasrah dan membiarkan istrinya itu duduk berduaan dengan antra di belakang serta mengutuki kebodohannya karena bisa-bisanya membawa Andra ikut serta dan alhasil pria itu menang banyak.


"Kenapa tadi harus mengajak dia ikut lihat kan sekarang istriku bahkan lebih memilih dia daripada aku, kamu juga tidak bisa memberikan solusi sebagai asistenku mungkin dengan begitu masalah aku bakalan sedikit lebih ringan? "tanya Bagas setengah berbisik kepada Dimas yang kali ini tidak terima jika dirinya disalahkan karena Andra.


"Maaf Nyonya sepertinya Andra itu alergi dengan wanita soalnya dia selama ini selalu bergaul dengan pria, katanya kalau dia berdekatan dengan wanita maka semua kulit-kulitnya itu bakalan kena cacar air dan tidak akan pernah bisa disembuhkan! "Andra membulatkan matanya sempurna ketika mendengar kebohongan yang diberikan oleh Dimas itu dan tidak percaya harga dirinya sebagai seorang pria benar-benar dijatuhkan seperti saat ini.


Aulia menatap penuh selidik kearah Andra untuk memastikan jika apa yang dikatakan oleh Dimas itu hanyalah sebuah kebohongan, karena asistennya itu pasti bakalan mendukung jika Bagas duduk berdekatan dengan dirinya.


Andra yang sebenarnya tidak suka dengan alasan yang diberikan oleh Dimas mau tidak mau menyetujuinya saja, ketika melihat tatapan membunuh dari Bagas itu yang sepertinya membujuk agar dirinya juga ikutan setuju dengan perkataan Dimas tadi.


"Iya benar sekali Nyonya saya itu merupakan tipe pria bertulang lunak kalau saat dibutuhkan, Jadi sepertinya Anda tidak cocok duduk dekat dengan saya gimana kalau dengan Tuan Bagas saja? "tanya Andra memastikan.


Aulia tidak tahu lagi harus berbicara apa tetapi Intinya kalau disuruh duduk berdekatan dengan Bagas otomatis ia bakalan menolaknya, maka dari itu dirinya tersenyum ketika sudah mempunyai solusi yang paling tepat dengan masalah yang tengah mereka hadapi saat ini.


"Kalian bertiga duduk saja di depan barengan sama Pak Sopir itu terserah mau berdempetan atau mau saling berpangkuan itu terserah, karena aku bakalan sendirian di sini tidak ada yang boleh menemani Siapa suruh dikasih solusi terbaik Kalian bertiga malah ngeyel! "ujar Aulia sambil tersenyum Devil karena tidak masalah dong kalau mengerjai ketiga pria itu yang jelas-jelas entah nanti Bagaimana nasib mereka ketika duduk berhimpitan seperti itu.


Bagas tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan dari istrinya itu, kalau Aulia menyuruh dirinya dan juga kedua pegawainya itu duduk berdempetan dalam satu bangku penumpang karena itu rasanya pasti sangat tidak nyaman.


"Tetap saja harus sesuai dengan keinginan tidak perlu harus memaksakan diri supaya terlihat sama-sama, Jadi kalau aku merasa tidak nyaman Sepertinya kamu juga harus paham Karena tidak semua yang kamu inginkan bakalan terwujud. "Aulia tidak peduli dengan segala macam penolakan yang dilakukan oleh Bagas karena menurutnya kenyamanannya itu adalah hal yang paling utama karena belum tentu pria itu di luar sana bakalan terus memikirkan setiap saat.


Akhirnya meskipun dalam keadaan terpaksa Bagas memilih mengikuti kemauan istrinya itu, dan Percayalah yang tersiksa di sini adalah Andra dan juga Dimas karena kursi yang berada di samping pengemudi mobil itu ukurannya hanya untuk satu badan kalau terpaksa ya dua badan boleh tetapi kalau tidak tiga Oh sungguh itu sangat tidak bisa diterima oleh Nalar.


"Sepertinya nanti kami menyusul Pakai taksi yang lain saja Tuan, soalnya tidak mungkin kan kita berdosa kan di depan kursi seperti ini yang ada nanti anda yang merasa tidak nyaman! "tawar Dimas.


"Ya sudah lakukan seperti yang kalian inginkan itu tetapi usahakan secepat mungkin karena kita tidak ada singgah di tempat lain lagi, soalnya hari ini juga kita bakalan langsung pulang dan juga saya tidak ingin mendengar ada namanya penolakan dari manapun!"tegas Bagas..


Aulia hari ini memilih untuk menutup pintu maafnya kemudian pintu hatinya untuk merasa kasihan, karena kemarin-kemarin ia sudah mencoba untuk bersabar tetapi sepertinya suaminya itu tidak paham maka dari itu hari ini dirinya harus memberikan pelajaran.

__ADS_1


Taksi yang membawa pasangan suami istri itu sudah pergi ke arah bandara Husein Sastranegara, keduanya pergi tanpa membawa asisten dan juga pegawainya Bagas akibat Aulia yang keras kepala jika tak ingin duduk berdampingan dengan suaminya itu.


Sepanjang perjalanan gagasannya menatap ke arah spion yang terlihat istrinya di bangku belakang sedang sibuk dengan ponselnya, wanita itu bahkan tidak membuka obrolan sama sekali dengan Bagas seolah-olah mereka berdua itu adalah orang asing yang baru pertama kali bertemu.


"Kalau kamu lapar kita bakalan singgah makan dulu karena aku yakin restoran ada yang buka sampai 24 jam, daripada nanti saat sudah jalan kamu tidak bisa memakan apapun lagi? "tawar Bagas dan terlihat Aulia mengambil sesuatu dari dalam tas selempang yang ia pakai yaitu sebungkus roti yang bungkusannya lumayan besar pertanda bahwa dirinya tidak perlu diperhatikan oleh Bagas karena ia bisa mengurus diri sendiri.


Bagas hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar karena ternyata tawarannya tadi itu memang tidak digubris sama sekali oleh istrinya, buktinya sekarang wanita itu Tengah memakan sesuatu untuk mengganjal perut tanpa menjawab pertanyaannya Ataupun mungkin sekedar berbagi kepada suaminya sendiri.


Sopir dari tadi itu memilih untuk diam saja karena sebenarnya Baru kali ini ia bertemu dengan pelanggan yang sepertinya baru saja terjadi konflik besar di antara mereka, karena ia mendengar dengan jelas penolakan yang dilakukan oleh Aulia tadi ketika Bagas menawarkan diri untuk duduk di sampingnya.


"mimpi apa aku semalam sampai pagi ini mendapatkan pelanggan seperti mereka? Sudah begitu wajah istrinya itu sangat menakutkan lagi, untung juga istriku di murah senyum kalau tidak jantungku bisa terlepas saat itu juga!"batin sopir tersebut.


Dimas dan Andra kini tengah menunggu taksi tepat di depan rumahnya keluarga Nina, kedua pria itu yakin jika kendaraan roda empat sepertinya jarang melewati area tersebut karena buktinya mereka menunggu selama 15 menit yang lalu lalang itu hanya kendaraan pribadi bukan kendaraan umum.


"Tadi kenapa tidak Biarkan kita berdempet-dempetan dengan bos? Soalnya kalau kita di sini lihatkan sekarang sudah seperti gembel, kalau kamu tidak mengatakan alasan yang konyol dia pasti sekarang kita sudah sampai di bandara!"omel Andra karena dari tadi itu kakinya rasa-rasanya sudah tidak bisa dibengkokkan lagi karena berdiri terus tidak ditekuk ataupun duduk.


Dimas mendengar Andra memarahinya Itu otomatis tidak terima dong, karena menurutnya Ia melakukan semua itu demi keamanan dan juga kenyamanan semua orang.


"dalam jarak berjauhan dengan Tuan Bagas saja kita selalu disalahkan, apalagi kalau jaraknya hanya berapa centi saja memangnya kamu bisa yakin dia tidak bakalan memarahi kita sepanjang jalan ? "tanya Dimas lalu memilih untuk berjalan sedikit ke arah jalanan umum karena mereka sekarang itu berada di perumahan elit jadi sangat mustahil ada kendaraan pribadi yang lewat kalau parah orang yang tinggal di situ tidak menghubungi.


"Iya benar juga sih kalau misalnya aku dekat dengan Tuan Bagas sepertinya nafasku bakalan tidak akan pernah keluar lagi dari tempatnya, soalnya setiap kali berbicara dengan dia nadanya itu tidak pernah menghargai orang lain!"batin Andra lalu memilih untuk menyusul Dimas yang sudah lebih dahulu meninggalkannya.


Saat masih dalam perjalanan menuju ke bandara Bagas mendapat panggilan dari pengacaranya yang mengurus perceraian antara dirinya dan juga Safira, sebenarnya pria itu mengurungkan niatnya untuk mengangkat telepon tetapi karena pengacaranya itu menghubunginya berulang kali mau tidak mau ia meresponnya meskipun di tempat itu ada Aulia.


"Ya Pak Heru Ada apa ya ? "tanya Bagas penasaran.


"maaf kalau Boleh saya tahu apakah Tuan Bagas hari ini bisa ke kantor, Soalnya ada sesuatu hal yang penting yang harus kita bahas tentang perceraian anda dengan Nyonya Safira? "tanya Heru memastikan.

__ADS_1


Bagas menghela nafasnya kasar karena otomatis permintaan dari pengacara nya itu sepertinya tidak dapat ia lakukan, kalau jarak mereka dekat Ya tidak masalah tetapi Bayangkan saja Bandung Jakarta memakan waktu dan membuat dirinya benar-benar kelelahan.


"Tapi sih ada di luar kota Pak! kalau ingin disampaikan sesuatu ya sampaikan saja lewat telepon tidak masalah kok, Yang penting intinya gugatan yang sudah saya layangkan sudah ditandatangani oleh wanita itu tanpa berbelit-belit! "ujar Bagas membuat Aulia mengerutkan keningnya.


__ADS_2