
Davina yang terlihat menyusul putrinya itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara perlahan, ketika pintu kamar Aulia dikunci dari dalam oleh Indira.
Wanita itu sebenarnya ingin marah Tetapi kalau dirinya bertambah keras kepada Indira, yang ada anaknya itu bakalan tambah membangkang dan juga susah sekali diatur.
"Indira buka pintunya Nak! kamu mau telat ke sekolah, terus nanti kalau Bunda Aulia datang marah-marah karena kamu suka boleh Ayo siapa yang bakalan tanggung jawab coba? "bujuk Davina karena dirinya yakin juga membawa-bawa nama Aulia pas di Indira bakalan menurut kepadanya meskipun faktanya dirinya lah yang melahirkan Indira ke dunia ini bukan Aulia.
Indira yang tahu kalau sebenarnya Mamanya itu sedang berbohong kepadanya tidak bisa juga membantah ketika nama Aulia dibawa-bawa, karena memang jika sampai Aulia tahu bahwa dirinya tidak sekolah Takutnya nanti Bundanya itu yang terkenal galak bakalan menghukumnya dan juga tidak akan pernah pulang lagi karena sangat membenci anak yang keras kepala.
"Ih Mama ini kok bisa-bisanya sih bawa-bawa Bunda, padahal Bundaku itu kan orangnya paling manis tidak suka marah-marah dianya itu kalau marah sama orang yang selalu saja menggangguku! "sungut Indira tetapi tetap keluar dari dalam kamar Aulia untuk bertemu dengan ibunya.
Indira memasang wajah cemberutnya untuk bertemu dengan Davina Tetapi wanita itu memilih untuk tidak mempedulikan reaksi putrinya itu, karena menurutnya anak kecil itu suka sekali berekspresi sesuai dengan suasana hati mereka jadi lebih baik dibiarkan saja nanti dulu bakalan baik sendiri.
" Sudah jangan pasang wajah cemberut seperti itu nanti kelihatan jelek loh, masa iya kalah sama kakak kamu Andhara yang gayanya Selalu saja kece badai membahana?"ujar Devina yang sebenarnya bukan untuk membanding-bandingkan anak-anaknya melainkan hanya ingin agar mereka itu lebih punya motivasi untuk berbeda dan juga punya tantangan tersendiri dalam hidup agar lebih baik lagi daripada orang-orang yang ada di sekitar mereka.
"ih kak Andara itu kan sudah besar mau pakai lipstik kek mau pakai bedak terserah tetapi aku kan belum boleh, orang pergi sekolah saja selalu dipakaiin Bunda pakai bedak bayi kok! "tolak Indira yang tidak ingin disamakan dengan Andara yang sudah lebih dulu besar Dari Dirinya .
Davina tertawa ketika mendengar nada sungut dari putrinya itu karena memang berasal dari Indira lah tawanya bisa keluar di rumah itu, kalau bersama Bagas itu merupakan sebuah hal mustahil karena pria itu lebih mementingkan pekerjaannya setelah itu pulang langsung tidur tidak lagi ingin mengobrol ataupun sekedar menanyakan kabar dan juga kegiatan.
"Wah itu artinya anak mama sepertinya tidak bisa besar soalnya hobinya ngambekan terus! coba saja kalau kayak kakak Andara yang lebih sabar kemudian tidak suka marah-marah, dia sekarang saja sudah bebas toh mau memakai alat make up apapun soalnya kan sudah besar kalau kamu mah masih bau minyak telon! "ejek Davina membuat Indira mendengus kesal dan pergi ke kamarnya.
Davina hanya mengekor kepergian Indira dari belakang untuk memastikan Apakah putrinya itu akan bersiap atau tidak, karena Sekarang sudah pukul 06.00 lewat Takutnya nanti Indira bakalan telat ke sekolah dan alhasil bakalan Kena hukum dari gurunya dan setelah itu menjadi korban bullyan bagi teman-temannya.
"Mama enggak usah temani aku karena aku itu sudah besar bisa mengurus diri sendiri! Mama lebih baik Turun ke bawah kemudian panggil ke Andara Soalnya kan nanti dia itu yang paling suka bangunnya telat, anak kesayangan Mama itu memang sangat menyebalkan apalagi moncongnya Yang kalau lagi marah sungguh membuat Indira capek! "begitulah perkataan anak-anak zaman sekarang yang gaya berpikir mereka itu terkadang lebih luas entah didapatkan dari mana tetapi Satu yang pasti tidak pernah salah mereka kalau ngomong Kebanyakan nyindirnya daripada lucunya namun terkadang itu merupakan hiburan tersendiri bagi orang-orang yang tidak mempermasalahkan hal itu.
"Kakak Dara kan semalam sudah kembali ke rumah eyang! Soalnya kamu tahu sendiri kan dia lebih betah tinggal di sana, entah ada magnet penarik Apa yang membuat dia itu sampai melupakan keberadaan kita berdua ?" jelas Davina.
"Oh ya Kak Andara sudah ke sana ya? kalau aku mah tidak akan pernah pergi meninggalkan rumah ini, jadi kalau ke Andara mau pergi ke rumah eyang ya sudah biarkan saja!" ujar Indira yang sebenarnya Dulu ketika Andara pergi ke rumah eyang selalu dirinya ikut tetapi sekarang sejak ada Aulia dirinya memilih untuk tetap tinggal di rumah bersama Bundanya itu.
__ADS_1
Devina mengerutkan keningnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya barusan itu, karena selama ini Indira selalu saja mengikuti kemanapun kakaknya itu pergi.
"Kamu yakin tidak ingin ke rumah eyang, untuk main bareng sama ke Andara? Soalnya di sini kan kamu tidak ada temannya, Mama juga repot ke sana kemari? Kemudian nenek kamu juga pergi urus arisannya itu, kalau soal Papa kamu mah jangan ditanya lagi dia itu kan pergi pagi pulangnya malam?"tanya Davina penasaran dengan alasan yang dimiliki oleh Indira untuk tetap bertahan di rumah itu.
"Sekarang kan sudah beda mama! Kalau dulu aku bakalan main sendiri sekarang itu kan aku bakalan main dengan Bunda, hanya saja bunda juga kapan sih pulangnya aku nungguin dari kemarin tidak muncul-muncul juga?"tanya Indira yang sedang sibuk mengurus rambutnya karena gadis kecil itu meskipun usianya baru memasuki angka 7 tahun tetapi dirinya sudah bisa mandiri karena itu yang selama ini diajarkan oleh Davina.
"Oh jadi gitu ya alasannya? Ya sudah nanti kalau Bunda pulang kamu bakalan bermain terus sama dia hanya sekarang Bunda sepertinya ada urusan di luar, kamu harus jadi anak penurut dan juga jangan membuat Bunda kamu itu emosi karena dia juga punya kesibukan yang lainnya bukan hanya mengurus kamu saja loh! "jelas Davina yang tidak ingin merasakan kecemburuan ketika anaknya itu lebih memikirkan orang lain.
...****************...
Bandung***
Aulia sebenarnya dari tadi itu merasa heran dengan salah satu taksi yang terparkir tepat di depan jalan rumahnya Nina, pada setahu nya di dalam keluarga itu punya mobil masing-masing Jadi tidak mungkin mereka harus menghentikan taksi seperti itu.
kalau urusan belanja biasanya Rahayu yang mengerjakannya jadi otomatis memakai kendaraan umum rasanya sangat tidak mungkin, membuat wanita itu sedikit merasa was-was takutnya jangan sampai itu merupakan orang suruhan dari Bagas untuk memata-matai dirinya yang sudah pria itu ketahui keberadaannya saat ini.
"Itu mobil kok dari tadi parkir di situ ya ? Apa jangan-jangan itu adalah suamiku yang sudah tahu kalau aku tinggal di rumah Kamu, makanya Sekarang dia sedang mengirim mata-mata supaya ketika ada peluang untuk membawaku pergi maka mereka bakalan melakukan hal itu? "tanya Aulia kepada Nina yang kebetulan baru selesai mandi.
"Apa aku tanya sama papa dan juga mama ya jangan sampai itu merupakan taksi pesanan mereka, soalnya mereka kalau mau pergi ke luar negeri Terus kalau sopir keluarga lagi tidak sempat untuk mengantar biasanya menggunakan taksi ? "tawar Nina.
"Memangnya sopir taksi keluarga ini ada di mana, perasaan setiap majikan kalau mau jalan bakalan selalu siap dan tidak ada alasan apapun itu,l? Jadi aneh dong kalau sampai kamu ngomong seperti tadi, dan juga sangat tidak masuk akal?"Aulia tidak mengerti dengan arah pemikiran dari keluarga Kusuma yang menurutnya terlampau baik atau mungkin terlampau pengertian.
"Sebenarnya setiap weekend sopir keluarga di sini itu selalu pulang kampung, mungkin perjalanannya itu bisa memakan waktu 4 jam pulang pergi! Maka dari itu terkesannya kita terlalu tidak mengerti dengan keadaan orang lain kalau sampai memaksa dia harus mengantarkan pergi lagi, soalnya perkara menyetir sebuah mobil itu bukanlah hal yang mudah apalagi selama berjam-jam! "jelas Nina membuat Aulia begitu bangga karena ternyata sahabatnya itu memiliki keluarga yang sangat pas dan juga sangat mengerti dengan keadaan orang yang lebih kastanya di bawah dari mereka.
"Nina! Kalian kalau mau keluar ya keluar saja ya karena Papa sama Mama mau pergi ke kantor, Soalnya ada acara di sana!"pamit Rahayu membuat Nina segera berlari ke arah pintu untuk memastikan Apakah orang tuanya itu pergi dengan taksi yang sedang menunggu itu atau tidak.
"Mama sama Papa mau pergi pakai taksi?"tanya Nina penasaran membuat Rahayu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"kamu itu tidak masuk akal sekali pertanyaannya? Masa iya ada mobil begitu banyak di dalam garasi kami malah memilih untuk naik taksi, sudah begitu kan sopir keluarga sudah pulang dari kampung ya sekalian saja dia mengantarkan kami ke sana! "ujar Rahayu sambil tersenyum karena merasa bahwa pertanyaan putrinya itu seperti orang yang tengah mengigau atau baru bangun tidur.
"Nah tuh kan kamu dengar sendiri kalau Papa sama Mama itu bakalan pergi menggunakan taksi! Kalau begitu orangnya di depan itu sebenarnya siapa sih, kok bisa sekali memarkirkan mobil di depan jalanan rumahnya orang, jadi lebih baik kita pergi ngomong sama papa supaya mengecek kira-kira Sebenarnya manusia Siapa yang sedang berada di dalam mobil itu supaya kita tidak bertanya-tanya lagi kan? "tawar Nina.
wanita itu segera berlari menyusul kedua orang tuanya untuk memastikan kira-kira manusia Siapa yang sedang mengintai kediaman mereka, karena biar bagaimanapun Ketika menemukan sebuah keganjilan harus segera diurus agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.
"Mama taksi di depan itu siapa sih? Soalnya dari tadi terparkir di situ sedangkan di depan rumah kita kan tidak ada tetangga sama sekali, Jadi tidak mungkin dong kalau kita yang memesan mobil itu? "tanya Nina memastikan membuat Rahayu menatap ke arah Perdana yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Papa nanti cek dulu ya bareng sama abang sopirnya! Soalnya kita bakalan tinggalkan Nina sama Aulia sendirian di sini, jangan sampai orang yang ada di dalam mobil itu merupakan penjahat ? "tawar Rahayu kepada suaminya yang Tentu saja tidak akan menolak permintaannya karena Biar bagaimanapun keselamatan anak-anaknya merupakan sebuah hal yang sangat penting di dalam pikiran Perdana saat ini.
"Ya sudah nanti kamu tunggu saja di dalam mobil, Biar aku sama sopir yang mengeceknya! Terus Kalian tidak boleh keluar rumah sama sekali sebelum Papa memberikan informasi kepada kalian, itu juga tergantung kalau memang mereka tidak punya maksud jahat terhadap kita. "perintah perdana dan otomatis Nina tidak mungkin membantahnya karena memang seharusnya begitu.
Aulia tengah melihat dari dalam jendela kamarnya Nina untuk memastikan, Apakah orang yang ada di dalam mobil itu dirinya kenal atau tidak.
"semoga saja itu tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan, karena kalau sampai benar-benar pria Kurang ajar itu maka ke mana lagi Aku harus lari! "pinta Aulia dalam hati karena memang tidak ingin lagi berhubungan dengan Bagas.
Bagas yang kebetulan masih setia menunggu sampai hari sedikit terang sudah dibangunkan oleh Dimas, karena ia melihat kalau pagar rumah itu sedang dibuka oleh seseorang dan sepertinya pemiliknya bakalan keluar.
"maaf tuan sepertinya mereka mau pergi keluar! Jadi lebih baik kita mencegah dan juga memastikan secara langsung, daripada saya yang sudah terbang jauh-jauh akhirnya tidak sesuai dengan harapan!" jelas Dimas yang takutnya karena amukan dari Bagas karena sudah mengganggu ketenangan pria itu.
"Ya sudah ayo kita keluar! "ajak Bagas lalu merapikan penampilannya dan memilih untuk menunggu apa saja yang keluar dari rumah itu maka ia bakalan langsung menghentikannya.
Betapa terkejutnya Bagas ketika yang muncul itu adalah orang yang sangat ia kenal dan juga baru kemarin dijumpainya, keduanya pun terlihat saling terkejut seolah-olah perjumpaan sekarang itu tidak pernah direncanakan sebelumnya dan juga tidak terduga sama sekali.
"loh Anda kan Tuan Perdana Kusuma?"tanya Bagas penasaran membuat Perdana tertawa karena pria di hadapannya ini mungkin karena terlalu banyak masalah sampai-sampai melupakan dirinya yang jelas-jelas baru bertemu dengan Bagas kemarin.
"Ya benar sekali ini adalah saya dan apa gerangan ya, tuan Bagas pagi-pagi sudah berada di depan pagar rumah? Soalnya tadi anak saya ngomong kalau ada mobil mencuriga kan yang sedang terparkir di depan, Maka dari itu saya ingin memastikan secara langsung tetapi ternyata adalah orang yang saya kenal! "jelas Perdana sambil tertawa sedangkan istrinya hanya tersenyum saja soalnya dirinya Tidak mengenali Bagas sama sekali.
__ADS_1
Berbicara soal anak membuat Bagas merasa posisinya saat ini sangat menguntungkan, karena dirinya bisa bertanya-tanya tentang Nina kalau memang rumah itu merupakan rumahnya wanita itu.
"ini pagi-pagi sekali mau ke mana ya sudah rapi semuanya? Padahal saya ada keperluan penting loh ingin bertemu dengan Tuan perdana, sekalian silaturahmi karena Kebetulan saya ada proyek di sekitaran sini jadinya tidak sopan kalau tidak mampir Itu pun kalau tidak keberatan!"ujar Bagas mulai Mencoba untuk bisa masuk ke dalam rumah itu dan memastikan ada Aulia atau tidak.