Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Percuma


__ADS_3

jantung Aulia berpacu begitu cepat ketika mendengar nama yang disebutkan oleh perdana barusan, wanita itu tidak percaya jika orang yang sempat ia pikirkan kalau bukan Bagas ternyata memang benar adalah pria itu.


Nina pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Aulia saat ini, kalau sebenarnya tadi itu Papanya bertemu dengan Bagas dan dirinya merasa was-was jangan sampai pria itu menceritakan rumah tangganya di hadapan orang lain.


"Papa kok bisa kerjasama dengan manusia satu itu? "tanya Nina dengan nada bicara yang begitu kesal.


Aulia memilih untuk menundukkan kepalanya karena tidak percaya jika Nina saat ini keceplosan seperti itu, dan lihatlah tatapan keheranan semua orang ketika Nina sepertinya tidak menyukai jika Perdana bekerja sama dengan Bagas.


"Kamu kenapa ngomong seperti itu? Bukankah bagus perusahaan papa kalau sampai bekerja sama dengan Bagas, itu artinya kita bakalan lebih dikenal oleh dunia karena perusahaan pria itu kan sudah diakui oleh semua pengusaha yang lain? "tanya Rahayu heran dengan pola pikir putrinya itu yang sepertinya sangat dangkal dan pilih-pilih dalam memilih rekan bisnis seharusnya mencoba dulu kalau memang tidak sesuai barulah berhenti di tengah Jalan.


"Ya bukan seperti itu sih maksudku! Tetapi kalau ada orang lain yang lebih bagus dari dia Kenapa harus pilih dia tanda kau mau mengurus istrinya saja tidak bisa masa iya dia bisa mengurus perusahaan ? "tanya Nina tidak terima.


"Jangan menyamakan orang antara masalah pribadi dan juga masalah perusahaan! Orang yang memiliki tingkat profesional tinggi kebiasaan mereka tidak pernah membawa masalah pribadi ke dalam masalah pekerjaan, biasanya mereka akan tetap seperti biasanya yaitu mengurus pekerjaan Lalu setelah itu kembali ke rumah baru akan mengurus soal masalah rumah tangganya! "Kevin menimpali perkataan Nina tadi karena menurutnya pemikiran sepupunya itu terlalu picik sampai-sampai membuat semua orang itu pola pikirnya sama saja.


Nina Tentu saja tidak terima ketika orang lain membanggakan Bagas padahal sebenarnya pria itu yang sudah menyakiti sahabatnya, seharusnya mereka semua sadar kalau sebenarnya Bagas itu tidak bagus-bagus amat dan juga tidak perlu harus dibanggakan juga.


"kalian kayaknya terlalu menjunjung tinggi pria yang bernama Bagas itu? Aku heran sebenarnya apa sih yang sudah dia kasih selama ini sampai-sampai semua seperti membela dia, pokoknya aku sangat tidak menyukai pria yang bernama Bagas Sanjaya atau apapun itu karena apapun yang menyangkut dia itu semua sangat menjengkelkan! "tegas Nina lalu memilih untuk pergi dari situ tetapi perkataan Perdana langsung membuat Gadis itu mengurungkan niatnya.


"Kalau kamu bisa sampaikan Alasannya kenapa Papa tidak boleh bekerja dengan Bagas, dan alasan itu bisa diterima maka papa akan mengikuti apa yang kamu inginkan! Akan tetapi jika itu hanya alasan internal yang tidak pernah kamu bisa ceritakan kepada orang lain, maka jangan harap Papa juga bakalan mengikuti apa yang kamu inginkan. "tegas perdana membuat Nina menatap ke arah Papanya Itu sebelumnya meminta maaf kepada Aulia.


"Nina tolong jangan membuat orang tua kamu kecewa dengan sesuatu yang menurutku sangat tidak penting, jika kamu memang sayang kepada orang tua kamu ikuti saja kemauan mereka karena mereka lebih tahu apa yang terbaik buat perusahaan! "sebelum Nina menyampaikan sesuatu yang membuat malamnya tidak bisa tidur dengan tenang maka lebih baik Aulia membantah kemauan wanita itu terlebih dahulu.


Nina langsung lemas ketika mendengar penolakan yang dilakukan oleh Aulia kepadanya tadi, Padahal niat hatinya ingin membantu meringankan masalah sahabatnya itu dan tidak ada lagi yang membanggakan Bagas di hadapannya.


"Ya benar sekali pujaan hatiku! kalau kita itu jangan pernah menilai seseorang hanya dari masalah pribadinya, jangan sampai ketika berbicara soal profesionalitas pria itu adalah orang yang paling terbaik dibandingkan kita semua ? "tanya Kevin kepada semuanya dan memang Aulia akui hal itu kalau suaminya jika menyangkut pekerjaan biasanya ia lakukan dengan sepenuh hati tidak ada yang namanya setengah-setengah.


Nina yang mendengar perkataan Aulia otomatis tidak bisa membantahnya, karena menurutnya Aulia lebih berhak menentukan pilihan Mau ia mengatakan tentang suaminya di hadapan semua orang atau memilih untuk diam.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih kayaknya tidak suka dengan Bagas itu? Padahal kenal saja tidak dan juga masalah pribadi dengannya juga kayaknya tidak mungkin, jangan ngadi-ngadi deh kamu soalnya nanti bisnis Papa kamu yang bakalan bermasalah kalau respon kamu selalu seperti itu! "Rahayu memang tidak paham dengan arah pemikiran putrinya itu.


"ya tadi itu kan respon kaget sepertinya tidak masalah kan soalnya kan aku tidak ngomong di depan orangnya langsung, jadi lanjutkan saja makannya Jangan memikirkan apa yang aku katakan tadi Anggap saja tidak pernah terjadi! "sahut Nina yang tidak mungkin jujur Kalau iya paling tidak suka dengan yang namanya Bagas.


sejauh mana pun wanita itu melangkah pasti akan ada orang yang mengenal suaminya, karena memang pengusaha sukses seperti Bagas itu namanya Pasti sangat tidak asing dan juga pasti dikenal oleh banyak orang.


nafsu makan Aulia yang tadi begitu bahagia ketika melihat bakso mercon kesayangannya mendadak langsung hilang, seolah makanannya itu merupakan makanan yang selama ini ia santap setiap hari jadi terlihat begitu membosankan.


"Kamu kenapa kayaknya tidak ada nafsu makan seperti itu, padahal katanya ini merupakan kesukaan kamu membuat aku juga langsung menyukainya? Apa kamu sakit, kalau sakit lebih baik kamu selesaikan makan dan istirahat saja? "ujar Rahayu yang dari tadi memperhatikan Apa yang dilakukan oleh Aulia. baru


"aku baik-baik saja kok tante, makanan ini juga sangat enak! mungkin hanya perasaan tante saja karena melihat aku tidak terlalu merespon semuanya, maklum karena masih menyesuaikan keadaan di sini dan juga masih mencoba untuk berbaur di lingkungan yang baru! "Aulia tidak tahu lagi harus menjawab apa karena tiba-tiba otaknya langsung ngeblank tidak bisa berpikir dengan jernih.


Rahayu tersenyum karena memang maklum Aulia itu sedang ada masalah, Jadi jika dirinya bisa berpikir dengan jernih itu mungkin sebuah kebetulan.


"Sudahlah tidak apa-apa yang penting intinya kamu lebih rileks lagi jangan terlalu memikirkan apapun, kalau ada yang ingin kamu bicarakan katakan langsung saja kepada Tante dan tenang saja tante tidak akan membiarkan kamu sendirian di sini!"jelas Rahayu karena memang Ia juga merasa nyaman dengan keberadaan Aulia yang menurutnya lebih dewasa dan juga tenang pembawaannya.


Nina tahu apa yang ada di pikirannya Aulia saat ini, Namun Ia juga tidak bisa berbuat banyak karena sekarang mereka sedang posisi di meja makan tidak mungkin harus membahas hal pribadi yang disembunyikan oleh Aulia di hadapan semuanya.


Hanya saja pria itu mencoba untuk tidak terlalu kentara bahwa ia sedang memikirkan apa yang Nina lakukan tadi, supaya Aulia juga tetap tenang tidak merasa bersalah ataupun lain sebagainya.


"Nina nanti setelah makan kamu bisa ikut Papa ke ruang kerja, Soalnya papa ingin menanyakan sesuatu yaa tidak terlalu penting juga sih!"ujar Perdana tentu saja Nina tidak akan menolak permintaan dari Papanya Itu.


"Oke Pah nanti tunggu saja Nina di sana, soalnya Nina pengen temani Aulia sebentar! "sahut Nina.


Aulia mendengus kesal ketika mendengar jawaban yang diberikan oleh sahabatnya tadi, karena menurutnya Nina itu sudah memperlakukannya seperti anak kecil padahal jelas-jelas Ia bisa mengurus diri sendiri dan juga bukan cengeng jadi harus butuh belaian.


"Kamu tuh ada-ada saja deh, memangnya siapa sih yang minta ditemani sama kamu? Sudah nanti kamu temani Om ke ruang kerjanya Siapa tahu yang dikatakan Om itu penting? Aku bisa jaga diri dengan baik kok Lagian ini di dalam rumah bukan di tengah Samudra!"ujar Aulia yang menolak dan juga sangat tidak setuju dengan tawaran yang diberikan oleh Nina tadi.

__ADS_1


Bagas yang sudah pulang kembali ke hotel memilih untuk menginap di sana, terlihat tidak ada nafsu makan sama sekali padahal seharian pria itu bertemu klien tanpa ada niatan untuk memakan sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.


Perceraiannya dengan Safira pun tidak ia pikirkan sama sekali soalnya itu semua sudah diurus oleh Dimas, dirinya tinggal terima bersih dan juga menunggu status barunya yaitu sebagai seorang dudanya Safira.


"kamu di mana sih ini sudah dua hari dua malam tanpa melihat wajah kamu, Apa kamu benar-benar marah dan berniat pergi serta tidak ingin kembali lagi? Aku bahkan sudah dua kali bermasalah dengan kedua orang tua kamu dan aku tidak ingin ada yang ketiga kalinya lagi, soalnya aku yakin kalau ketiga kalinya maka mereka akan memisahkan kita jika hal itu terjadi maka aku lebih baik mati saja! "Bagas yang sekarang terlihat begitu Mellow seolah-olah Aulia merupakan sebagian nafas kehidupannya yang dititipkan Tuhan melalui wanita itu.


"Kalau aku salah Oke aku minta maaf dan aku bakalan melakukan apapun yang kamu inginkan bahkan meminta satu dunia pun, hartaku adalah miliknya kamu kalau kamu mau mengambilnya pun tidak masalah tetapi aku mohon Tolong kembalilah dan Bicaralah denganku! "Bagas bahkan tidak ada niatan untuk naik ke atas ranjang yang sebesar itu karena takutnya jangan sampai di luar sana Aulia sedang sengsara mengingat sampai saat ini dirinya tidak pernah memberikan nafkah kepadanya.


Davina yang berada di rumah besar pun ikutan kena imbasnya ketika biaya bulanannya tidak diberikan sama sekali oleh Bagas kali ini, pada pria itu setiap bulannya tidak pernah telat mengirimkan uang bulanan untuk kebutuhan anak-anak Entah mengapa sekarang pria itu seolah melupakannya?


Nella juga kena imbasnya Akibat apa yang terjadi dengan Aulia dan juga Bagas, selama ini wanita itu bertahan hidup dari pemberian putranya karena Ia memang tidak bisa bekerja sama sekali di usianya yang sudah senja itu.


"Mama sudah dapat transferan dari Mas Bagas bulan ini? "tanya Davina penasaran.


"Belum! Entah apa yang terjadi kepada anak itu biasanya tidak telat sih, semoga saja kalau memang dia punya masalah cepat beres karena kasihan dia tidak pulang ke rumah sudah dua hari! "sahut Nella yang stress karena rencana dahulu ingin menikmati hari tuanya dengan ketenangan ternyata tidak didapatkannya sama sekali Akibat Pernikahan Bagas yang tidak henti-hentinya itu dan juga masalah yang datang silih berganti.


"Sebenarnya tidak masalah sih kalau dia mau telat mengirimkannya tetapi aku punya cicilan mobil loh, Kalau dia sampai telat mengirimkannya bisa ditarik kembali sama dealer dan aku bisa rugi uangnya selama ini sudah dikeluarkan! "ujar Davina gusar membuat Nella yang biasanya santai saja kepada menantu tertuanya itu mendadak berubah menjadi kesal kepadanya.


"Kalian itu sebenarnya ingin mobil yang seperti apa sih? Perasaan mobil milik kamu sudah dua loh di dalam garasi Kenapa masih harus tambah lagi, kalian sadar tidak anak saya itu kerja siang malam sampai-sampai tidak kenal istirahat hanya untuk menutupi gaya hidup kalian yang sialan itu! "Nella terlihat begitu kesal batas kesabarannya pun sudah habis.


Devina menatap heran ke arah mertuanya itu karena menurutnya selama ini Nella tidak pernah ikut campur dengan urusannya, kenapa sekarang mempeributkan soal dirinya yang beli mobil lagi padahal Bagas sebagai suaminya saja tidak pernah mempertanyakan pengeluarannya selama ini.


"Mama ceritanya tidak suka kalau aku beli mobil lagi, sekarang pertanyaannya masalahnya itu ada di mana coba ketika Mas Bagas aja tidak pernah protes ? "tanya Davina Ketus.


"Saya bukan protes juga ataupun merasa tidak suka hanya saja selama ini kiriman uang pasti selalu lebihkan, yang kamu pakai uang itu dulu lah mungkin kali ini pemasukan di perusahaan tidak stabil kan kita tidak tahu? "ujar Nella yang memilih untuk pergi dan membiarkan Davina sendiri berpikir kira-kira perkataannya itu masuk akal dan juga bisa dipahami oleh wanita itu atau tidak.


Davina menatap ke arah Nela yang sudah masuk ke dalam kamarnya itu dengan tatapan tajamnya, wanita itu tidak terima ketika ada orang lain yang mengatur soal kehidupannya sebab kehidupan di dalam rumah besar itu saja dirinya tidak ikut campur sama sekali.

__ADS_1


Berapa kali pun Bagas menikah Davina tidak pernah protes, karena menurutnya suaranya itu tidak pernah didengar oleh siapapun. Maka dari itu ketika ia ingin membeli sesuatu ya Otomatis, Bagas harus membayarnya karena selama ini ia tidak pernah melakukan apapun yang membuat pria itu merasa emosi ataupun malu.


"Aku itu menantu tertua di rumah ini tetapi sepertinya tidak dianggap sama sekali, dan aku juga punya anak tetapi sepertinya anakku itu tidak dihiraukan oleh siapapun termaksud Papa kandungnya! "batin Davina yang sebenarnya kasihan ketika anak-anaknya itu lebih dekat dengannya daripada Bagas sebab pria itu selalu pergi pagi pulangnya malam ketika anak-anak sudah tidur dan juga tidak pernah menghampiri mereka ketika sedang belajar ataupun ketika Bagas sedang libur di rumah tidak pada kegiatan sama sekali di kantor.


__ADS_2