Menjadi Yang Ke-3

Menjadi Yang Ke-3
Deni Murka


__ADS_3

Bagas sunggu Dibuat mati kutu oleh sikap Deni Yang sepertinya sangat tidak menyukai keberadaannya, padahal dirinya merupakan notabene menantu dari pria tersebut entah dendam kesumat apa yang disimpan Deni kepadanya sampai sikap pria itu seperti itu.


Padahal maksud dirinya datang ke tempat ini tidak ingin mencari masalah tetapi ingin menyelesaikan masalah yaitu dengan cara menemui istrinya, hanya saja apa yang ia lakukan pasti bakalan selalu salah di mata Deni hampir sampai dirinya pun kebingungan sebab perkara orang tidak menyukai dirinya baru saja ia alami yaitu Deni yang melakukannya.


Santi yang merasa Jengah karena suaminya yang sengaja mengabaikan kehadiran Bagas itu langsung menyentil kuping suaminya, karena jika dirinya tidak melakukan hal itu otomatis Bagas tidak akan pernah bisa mengutarakan niat datang ke tempat itu karena dia ini tidak merespon kehadirannya.


"kamu kalau mau main ponsel terus nanti besok Umi bakalan pergi cari lowongan kerja di pabrik pembuatan ponsel, supaya Terserah kamu mau otak-atik seperti apapun yang penting intinya Wajah kamu tidak kelihatan di sini!"Deni tahu Ketika istrinya sudah mengatakan aku atau kamu otomatis wanita itu pasti bakal sedang merasakan emosi kepadanya.


"ya Terus mau ngapain coba? Kan dia datang ke sini yang ada perlu bukan kita jadi otomatis dia yang harus ngomong lebih dulu, kalau dia tidak mau ngomong sampai dia pulang pun Abah tidak akan pernah peduli dengan kehadirannya di tempat ini! "jelas Deni yang jelas-jelas tidak akan pernah mau berbicara lebih dahulu Kalau bukan Bagas yang memulainya.


Bagas hanya bisa menghela nafasnya kasar ketika mendengar ultimatum yang diberikan oleh Deni barusan, makanya dirinya akhirnya mulai untuk berbicara menjelaskan duduk perkaranya kenapa sampai Ia datang ke tempat ini.


"Maaf sebelumnya Abah sama Umi jika saya mengganggu waktunya dengan datang ke sini tanpa memberi kabar lebih dahulu, dan saya juga yakin pasti kalian bertanya kan apa saya datang ke sini tanpa membawa Aulia sebab memang tujuannya saya datang ke sini yaitu untuk mencari dia! "jelas Bagas dengan suaranya yang begitu lantang Terserah Kalau dia ini mau menganggap apa yang penting intinya tujuannya baik yaitu mencari keberadaan istrinya.


Deni yang mendengar perkataan Bagas itu mengerutkan keningnya karena yang ia pikirkan tadi itu masalah kedua manusia itu sudah selesai, ternyata berlarut-larut sampai sekarang dan otomatis pasti Bagas belum bertemu dengan Aulia yang katanya menginap di hotel.


Pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala karena tidak menyangka tubuh Bagas itu hanya menang besar dan juga kekar tetapi tidak ada gunanya sama sekali, masa iya hanya menemukan istrinya ditumpukan hotel di ibukota pun tidak bisa Percuma dong mempunyai uang banyak kalau sampai tidak bisa menyewa orang untuk membantu mencari.


"Jadi maksud kamu Aulia yang tadi minggat itu belum kamu temukan sama sekali, atau bagaimana soalnya saya kurang paham dengan isi otak kamu ini bukannya kamu itu punya uang Ya otomatis bisa dong menyewa orang untuk mencari dia? "tanya Deni sambil mengerikan keningnya karena mengira bahwa memang Bagas belum bertemu dengan putrinya itu.


Bagas menghela nafas nya kasar ketika mendengar pertanyaan dari Abah itu, entah nanti bagaimana respon pria paruh baya itu ketika dirinya menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.


"Memangnya kalian berantem dan belum baikan sampai sekarang, apa sih yang kalian ributkan bukannya pengantin baru itu harus masih hot-hotnya ya? "Santi Sebenarnya masih gagal paham apa sih yang membuat Bagas dan Aulia bertengkar.

__ADS_1


"Aku sudah bertemu dengan dia tadi di hotel karena kebetulan dia juga menginap di hotel milikku, dan kami berdua sempat bertengkar akhirnya aku menampar dia karena mengucapkan kata cerai! "penjelasan Bagas itu sebenarnya pelan dengan suara yang begitu mendayu Tetapi dia ini mendengar dengan jelas apa yang dikatakan itu membuat darahnya seketika mendidih karena memang tidak terima sama sekali dengan sikap Bagas terhadap Aulia.


"Apa kamu bilang tadi? Kamu baru menikah dengan Putri saya dalam hitungan hari loh tetapi kamu sudah berani mengangkat tangan kepada dia yang membesarkan dia dari orok sampai sekarang menyentilnya saja tidak pernah tetapi kamu bisa ya melakukan itu? "tanya Deni yang sudah dalam posisi berdiri Jangan tanya lagi gaya pria itu sekarang Seperti apa kira-kira dia lagi stand kuda-kuda kuat untuk mengajak Bagas berduel.


Bagas hanya bisa terdiam dan tidak mempermasalahkan jika sekarang Deni memarahi dirinya habis-habisan , karena memang dia salah sudah melakukan hal yang tidak pernah dirinya pikirkan selama hidupnya yaitu menyakiti wanita yang jelas-jelas merupakan istrinya.


"Maafkan saya Abah dan Umi karena sudah menyakiti Aulia, tetapi sumpah saya sudah berusaha menahannya hanya dia selalu saja mengulang kata cerai setiap kali kami berdebat dan saya sudah tidak tahan lagi! "Bagas Bagas mengeluarkan Apa yang membuat dirinya merasa sesak selama ini Ketika selalu berdebat dengan Aulia dan kata-kata itu yang selalu wanita itu ucapkan.


"Menurut kamu anak saya tidak boleh mengucapkan kata cerai ketika kondisinya terjepit ataupun terdesak seperti begitu, dan ketika kamu menunjukkan sikap Arogan kamu dia harus tenang sambil tersenyum begitu? "tanya Deni dengan tatapan matanya yang melotot tajam ke arah Bagas seolah-olah bakalan keluar dari dalam rongganya.


"Bukan begitu maksud saya Abah Tapi maksud saya itu....


"Saya sudah berusaha Sabar dari tadi dengan tidak mengusir kamu sebab gelagat kamu dari tadi sudah saya baca dengan jelas, kalau kamu pasti melakukan hal yang menyakiti putri saya sampai-sampai kebingungan dia di mana sekarang! Kalau sampai Aulia cedera sedikit saja ataupun tergores karena apapun itu meskipun bukan karena kamu, tetapi saya pastikan Kalau kamu bakalan berhadapan langsung dengan saya dan saya tidak akan segan-segan untuk melawan kamu!"tegas Deni dengan nada yang penuh ancaman sebab kalau menyangkut Aulia pria itu rasa-rasanya ingin menghabisi satu dunia pun dirinya sanggup melakukan.


"Maafkan saya Abah Maafkan saya juga Umi, Sungguh saya memang benar-benar tidak ada niatan untuk menyakiti dia tetapi tadi itu saya refleks karena....


Bughhh


Bughhh


Santi langsung bangkit dan menggapai tubuh menantunya itu yang terkapar lemas tidak berdaya sebab menurutnya Deni itu sudah sangat keterlaluan, seharusnya masalah itu diselesaikan dengan kepala dingin karena Biar bagaimanapun Bagas itu merupakan menantu mereka bukan orang lain jadi harus pakai kekerasan.


"Abah kamu kenapa? Dia memang menghajar anak kita tetapi jangan kamu hajar balik dong, kalau sudah seperti begini mau bagaimana lagi dengan rumah tangga mereka?"tanya Santi yang merasa bingung dengan sikap suaminya itu yang sedikit-sedikit selalu terbawa emosi sedikit-sedikit mau saja menghajar orang sedikit-sedikit mau saja ingin meluapkan segala-galanya itu pakai kepala yang keras.

__ADS_1


"Umi Lebih baik diam sebelum Abah marah lebih parah! kalau ini menyangkut orang lain Abah masih bisa ngomong dengan kepala dingin dan juga secara perlahan, Tetapi kalau ini menyangkut anak kita Aulia dan juga orang yang melakukan itu sudah sampai melakukan tindak kekerasan maka jangan harap Abah untuk diam dan mendengar! "tegas Deni yang benar-benar tidak ingin Santi membela Bagas ataupun menyuruh dirinya Tetap tenang tidak usah marah-marah karena itu tidak akan pernah dirinya lakukan.


"Maafkan saya Abah tetapi saya berjanji saya bakalan menemukan Aulia meskipun dirinya sembunyi di manapun, Saya berjanji bakalan kembali membawanya ke rumah ini dalam keadaan utuh dengan tidak ada tergores sedikitpun karena jika sampai itu terjadi saya siap menerima hukuman dari Abah! "setelah mengatakan hal itu Bagas pun membungkukan badannya Seraya memberi hormat kepada Ketuanya itu lalu berlalu pergi dari situ dengan kedua sudut bibirnya itu terlihat sedikit memar.


Ya iyalah jelas Bagas Bonyok meskipun yang memukulnya itu merupakan pria paruh baya yang kelihatan dari jauh fisiknya lemah tetapi jangan coba dengan kekuatan tenaga dalamnya, karena Deni itu merupakan jawara Kampung tersebut dan juga sekaligus pelatih perguruan taekwondo yang sudah ia Rintis saat awal menikah dengan Santi.


"Pergi sana tidak usah kembali lagi sebelum anak saya ditemukan dan setelah anak saya ditemukan bahwa dia pulang ke sini saya bakalan mengurus perceraian kalian, dasar pria tidak berguna hanya bisanya menghitung uang tetapi menjaga para istrinya tidak bisa menyesal saya menikahkan anak saya kepada kamu!"teriak Deni yang mengiringi langkah kaki Bagas sampai masuk ke dalam mobil membuat pria itu hanya bisa memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya secara perlahan berusaha menetralkan perasaannya kini.


" Pantasan saja anaknya berani dan juga tukang marah-marah Abahnya lebih mengerikan daripada itu, memang buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya dan aku sudah berhadapan langsung dengan pohonnya tersebut Kalau buahnya sih sedang dalam proses untuk membujuk ya salah maksudnya pencarian! "gumam Bagas lalu segera melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahnya Deni yang sambil diawasi oleh tatapan tajam pria tua bangka itu.


"Abah lain kali tidak perlu harus pakai memukul seperti tadi itu bisa kan Karena jarang ada menantu yang datang untuk mengakui kesalahannya, karena yang ada itu mereka bakalan malas tahu membuat anak kita itu sudah seperti gembel dan bisa dibilang mungkin mereka bakalan menganiaya sampai sepuas hati!"bujuk Santi agar suaminya itu lebih dewasa lagi meskipun ia tahu awal pernikahan itu sudah dilalui dengan cara yang tidak baik tetapi setidaknya sebagai orang tua mengajarkan hal yang terbaik agar anak-anak itu bisa merasa kita ini menghargai keberadaan mereka dan akhirnya mereka juga bakalan menghormati kita sebagai orang tua.


"Abah tidak akan pernah melakukan hal seperti tadi kalau dia hanya cukup memarahi Aulia saja akibat mengucapkan kata cerai yang terlalu Tempo, hanya saja yang Abang tidak sukai ya itu dia berani main kekerasan dengan anaknya Abah satu-satunya sebiji doang di dunia ini Maka dari itu dia juga harus mendapatkan rasa yang sama! "jelas Deni yang tentu otomatis tidak akan pernah berubah pikiran jika menyangkut dengan Aulia.


"Ya Umi tahu kalau memang apa melakukan semua itu karena semata ingin memperjuangkan hak anak kita, tetapi tidak perlu harus pakai kekerasan juga kan lihat tadi wajahnya hancur begitu!"Santi benar-benar tidak tahu lagi harus berkata apa lagi agar suaminya itu paham kalau kekerasan itu bukan merupakan jalan keluar dari sebuah masalah melainkan menuju ke masalah yang baru.


"Terserah Kalau Umi mau mendukung dia seperti apapun yang penting intinya dia jangan berbuat kelewat batas soal Aulia, karena Aulia tidak akan membalasnya melainkan Abah yang bakalan membalas secara langsung menggunakan tangan Abah! "setelah mengatakan hal itu Deni pun masuk ke dalam rumah karena dirinya tidak ingin Nanti gantian dirinya yang bakalan bertengkar dengan istrinya Sebab di sini yang merupakan biang masalahnya Bagas tetapi pria itu kan sudah pergi masa iya sekarang giliran dirinya dan Santi yang berdebat.


"Hubungan kalau dimulai dengan dendam pasti bakalan susah untuk disatukan kecuali kedua belah pihak itu yang ingin bersatu, Aulia Maafkan Abah sama Umi karena terlalu egois Akhirnya kamu yang kena batunya seperti ini nak!"lirih Shanti sambil menerawang jauh memikirkan Bagaimana nasib putrinya saat ini.


Aulia kini sudah pulang bersama dengan Silvia menuju ke apartemen wanita itu yang kebetulan masih bujangan ya Otomatis tinggalnya Sendirian dong, kondisi apartemen Silvia bisa dibilang lumayan mewah karena mungkin gajinya sebagai seorang manajer hotel bukan kaleng-kaleng karena hotel yang tempat dirinya bekerja merupakan Hotel* 5.


"Apa Saya tidak merepotkan kamu? Sebab yang mempunyai masalah antara saya dan juga Bagas bukannya dengan kamu tetapi di sini saya malah merepotkan kamu, yang jelas-jelas kamu tidak ada sangkut paut dengan masalah yang sedang kami hadapi saat ini!"Aulia tidak enak hati karena selama ini dirinya tidak pernah mengenal Sivia dan baru hari ini mereka berdua bertemu dan parahnya dirinya malah menumpang di apartemen wanita itu yang jelas-jelas membutuhkan privasi.

__ADS_1


Silvia tersenyum mendengar pertanyaan dari Aulia barusan Karena memang tadi Ia yang menawarkan kepada wanita itu, maka otomatis dirinya memang tidak merasa keberatan makanya melakukan hal itu Jadi kalau Aulia Tidak enak hati tidak masalah karena memang semua orang mempunyai yang namanya urat malu.


"santai saja Nyonya, di sini juga saya tinggal sendirian jadi otomatis Saya tidak merasa terganggu dong malah lebih senang karena punya teman ngobrol! Hanya saja Maafkan saya karena tempatnya seperti begini tidak bisa kasih lebih karena maklumlah hanya seorang manajer, tetapi saya harap Nyonya betah di sini dan kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk meminta langsung kepada saya karena saya pasti bakalan mengabulkannya!"Silvia Bukannya ingin menjilat agar bisa diberikan posisi yang lebih tinggi lagi hanya Memang begitulah cara seorang tuan rumah menjamu tamunya yang datang ke tempat tinggalnya itu.


__ADS_2